MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Tiba...


__ADS_3

"Rumahnya lumayan mewah," ujar Reyhan setelah memasuki halaman rumah Mr.Rudolf.


"Apa Aden akan mengincarnya?" tanya Redro.


"Itu tergantung istriku, tapi kalau dia menolak. Apakah kau mau?" tanya Reyhan balik.


"Itu tergantung calon istriku," jawab Redro.


"Sejak kapan kau mulai mengikuti perkataanku?" tanya Reyhan.


"Tapi kalau Siska tidak suka akan aku jual. Lumayan untuk membangun bisnis pribadi," lanjut Redro tanpa menjawab pertanyaan Reyhan.


"Apa pendapatanmu kurang? Berhentilah bermimpi, kau tidak akan pernah berpisah denganku." Membuka pintu mobil merasa kesal dengan jawaban Redro. Di luar rumah telah berdiri Mr.Rudolf beserta para pembantu yang menyambutnya.


"Tidak jauh kan Tuan," ujar Mr.Rudolf yang langsung direspon Reyhan dengan anggukkan kepalanya.


"Silahkan masuk." Merangkul pundak Reyhan yang diikuti oleh Redro dari belakang. Redro memperhatikan tatapan genit para pembantu Mr.Rudolf, ada yang mengedipkan mata serta ada pula yang menjulurkan lidahnya. Benar kata Erick tubuh Redro memang menjadi incaran para perempuan bule.


"Rumah Anda sangat mewah Mr.Rudolf selain pembantu apakah ada penghuni lain yang menemani Anda?" tanya Reyhan sekedar basa-basi.


"Tentu saja, saya punya dua orang putri Miranda dan Cecil. Mereka mungkin sedang beristirahat di kamar masing-masing. Apa Tuan mau berkenalan atau-"


"Tidak Mr.Rudolf urusan saya hanya dengan Anda. Tapi kalau sudah menyangkut orang lain itu sangat berbeda," jawab Reyhan.


"Hahaha saya hanya bercanda. Tapi tadi saya sempat berpikir kalau Tuan Muda tertarik pada salah satu-"


"Saya lupa mengatakan kalau saya sudah menikah." Reyhan menunjukkan cincin putih yang melingkar di jarinya.


"Apa?"


"Iya, saya menikah di usia muda. Maklum saya juga manusia biasa yang takut kekasihnya direbut orang lain." Mencoba mencairkan suasana.


"Hahaha, aku tidak menyangka ada orang seperti Anda. Saya sangat terpukau dengan kepribadian Anda Tuan." Tertawa semringah.


"Baiklah kalau begitu ini berkas-berkasnya. Tolong dibaca kalau Anda setuju bisa tanda tangan disini." Memberikan sekumpulan kertas-kertas yang bertumpuk rapi.


Dengan segera Redro mengambil berkas tersebut.


"Silahkan diminum, ini anggur kiriman teman dari Prancis sangat manis. Saya yakin Anda akan menyukainya." Mengangkat gelas berisikan minuman anggur berwarna hitam.


"Maaf Mr.Rudolf, bukannya tidak menghormati Anda tapi tuan muda kami tidak menyukai minuman anggur." Redro menimpali.

__ADS_1


"Daddy, besok pesta ulang tahunku. Jangan bilang kalau Daddy melupakannya." Seorang gadis berambut blonde datang dan langsung duduk di dekat Mr.Rudolf tanpa melihat di sekitarnya.


"Iya daddy ingat kok sayang, bisa tidak bahas ini nanti saja. Daddy sedang ada tamu." Tersenyum canggung, merasa malu melihat anak gadisnya yang tidak memiliki sopan santun itu.


"Apa? Hai aku Cecil Rudolf. Oh wow you very handsome." Menatap kagum kepada Reyhan.


"Baiklah Mr.Rudolf saya pamit dulu. Sudah sangat malam." Tanpa mempedulikan Cecil, Reyhan bangkit dari duduknya.


"Wait! Are you coming to my party?" tanya Cecil berlari mendekati Reyhan. Namun lagi-lagi Reyhan mengabaikannya hingga membuat Cecil kesal dan menjauh.


"Maaf Tuan, besok putri saya akan mengadakan pesta. Apakah Anda bersedia datang?" tanya Mr.Rudolf.


"Akan saya pertimbangkan, kalau begitu saya pamit dulu." Membungkuk lalu berjalan keluar diikuti oleh Mr.Rudolf dari belakang. Reyhan pun masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi.


"Daddy i like him. please help me for get him," ujar Cecil merenggut manja di bahu Mr.Rudolf.


"Of course baby, so tomorrow you have to look beautiful." Mengusap-usap rambut putri keduanya itu.


****


"Sudah kali lihat tu poto. Enggak bosan apa ya?" Mengerutkan dahinya menatap aneh pada Lyra yang tak berhenti memperhatikan potret Reyhan.


"Apaan sih, kamu ini sibuk banget ngatain aku. Urus tu mata sudah ngantuk juga tapi enggak tidur-tidur." Menyentil kening Siska.


"Kamu ini ada-ada saja, Rick. Oh ya ceritakan dong tentang pertama kali bertemu Reyhan hingga menjadi sahabat sampai sekarang," ujar Lyra dengan wajah yang penasaran.


"Dulu papaku dan papa Reyhan berteman dekat hanya saja papa Reyhan sangat pintar jadi ya dia menempuh pendidikan tinggi sedangkan papaku merintis bisnis kakekku, mereka terpisah. Tapi, mereka bertemu lagi kala itu aku dan Reyhan masih sama-sama bayi, papa Reyhan meminjam sejumlah uang pada papa. Papa sangat mempercayainya tentu saja papa berikan meskipun saat itu bisnis papa juga tidak berjalan lancar."


"Lalu bagaimana?" tanya Siska penasaran.


"Di dalam dunia bisnis jatuh bangun itu sudah pasti, itulah yang dialami om Reygan. Akan tetapi semangatnya tidak pernah surut, dan benar saja ia perusahaannya perlahan tapi pasti pun mengalami kenaikan ia mulai menuju kesuksesan. Tapi sayangnya...."


"Sayangnya kenapa?" tanya Lyra.


"Ya kecelakaan itu terjadi membuat om Reygan pergi untuk selamanya serta Reyhan mengalami trauma selamanya. Itu sebabnya Reyhan tidak bisa mengendarai motor. Akan tetapi aku punya sebuah rahasia besar kenapa waktu Kak Lyra membawanya dengan mengendarai motor dia justru terlihat senang karena sebelumnya dia selalu terlihat sangat ketakutan."


"Sebenarnya aku juga bingung, dia trauma tapi menikmati saat aku membawanya."


"Setiap kali Kakak membawanya dia selalu mengkonsumsi berbagai macam obat penenang, agar perasaan traumanya tertutupi." Memelotot serius.


"Ra, sampai sebegitunya si berondong terhadapmu. Kalau cowok lain mah ogah Ra," ujar Siska.

__ADS_1


"Jujur ku katakan Reyhan adalah tipikal orang yang sangat kejam tapi kalau terhadap orang-orang yang dicintainya dia akan menjadi seekor anak kucing yang imut. Dia sangat mencintaimu Kak, walau terkadang dia menyebalkan tapi dibalik itu semua dia memiliki sisi kelembutan yang luar biasa." Tersenyum kepada Lyra.


"Tapi bagaimana kalian bisa menjadi sahabat melihat sikapmu yang berbeda jauh dari Reyhan." Siska menatap penasaran.


"Jujur saja, dulu dia tidak sedingin sekarang jadi aku mendekatinya dengan mudah. Kami bermain game bareng, mengerjakan PR bersama bahkan sering tidur bersama. Dia sering menginap di rumahku kala itu juga kedua orang tuaku sudah berpisah alias bercerai. Reyhan selalu berusaha memberiku semangat. Akan tetapi beberapa tahun kemudian om Reygan malah pergi untuk selama-lamanya. Jadi kami berdua sama-sama terpuruk kala itu. Hanya saja aku berpikir kalau hidunya Reyhan jauh lebih memilukan daripada aku karena semenjak kepergian om Reygan, tante Marta mulai mengabaikannya." Menatap Siska yang serius mendengarkan.


"Reyhan lebih cendrung berdiam diri di kamar, dia bahkan mengabaikan aku hingga suatu hari...."


"Suatu hari..., apa?" Lyra memelotot penasaran.


"Kami berdua sama-sama masuk rumah sakit, ya aku kebingungan bagaimana caranya agar Reyhan mau menjadi sahabatku lagi. Jadi, aku mengiris tanganku begitu aku tahu dia sengaja mencelakakan dirinya sendiri. Dia ingin tante Marta datang menemuinya tapi tetap saja tante Marta tidak datang." Menunduk sedih.


"Jadi bagaimana tanggapan Reyhan tentang kamu mengiris pergelangan tanganmu itu?" tanya Siska.


"Awalnya dia tidak peduli hanya saja aku tidak sengaja mendengar percakapan antara papa dengan Reyhan di dalam kamar pasien kalau tidak salah papa memohon padanya agar mau menerimaku sebagai sahabatnya lagi dan menganggap itu sebagai pelunasan hutang om Reygan kepada papa. Perlahan tapi pasti Reyhan mulai membuka hatinya padaku. Kami bersahabat kembali deh, hingga sekarang. Tamat!" seru Erick.


"Tapi bagaimana dengan si Fero itu? Bukannya dia sahabat kalian juga?" tanya Siska.


"Aah untuk apa membahas orang jelek itu? Setiap kali aku mendengar namanya ingin rasanya aku menjambak rambut gelombangnya itu. Karena perempuan dia meninggalkan kami sahabat macam apa itu. Kami tidak punya sahabat bodoh seperti itu." Raut wajah Erick berubah seketika ia sangat kesal setiap mendengar nama Fero disebut.


"Iya deh iya, tapi aku sangat penasaran bagaimana bisa seorang Reyhan menjadi kuat dan ditakuti orang banyak padahal dia masih sangat kecil?" tanya Siska lagi.


"Maaf kalau itu rahasia, biarkan Reyhan menjelaskannya. Lagipula seharusnya kakak menanyakan tentang Redro bukan Reyhan," jawab Erick.


"Ye..., padahal aku penasaran sama tentang Reyhan kalau Redro mah aku sudah tahu. Tapi kalau Reyhan masih sedikit yang kehidupannya aku ketahui, aku sangat penasaran karena dia itu cukup misterius," ujar Siska.


"Sudahlah Sis, mending kita tidur saja biar pas turun dari mobil tubuh kita tidak encok." Lyra membaringkan tubuhnya dan menarik selimutnya.


"Baiklah Rick, aku tidur dulu lain kali jangan lupa ceritakan tentang Reyhan lagi ya," ujar Siska lalu menarik tirai pembatas antara dia dan Erick.


"Ya..., padahal ada cerita menarik tentang Redro malah menanyakan orang lain. Dia tidak takut apa kalau sahabatnya itu mengamuk karena membahas tentang suaminya terus. Dasar kak Siska aneh," gumam Erick pelan.


****


Reyhan memeluk gulingnya dengan erat pikirannya kacau ia dihantui rasa bersalah kharena mengabaikan istrinya kemarin dan saat ini dia sangat merindukan Lyra.


Lyra. Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar sangat merindukanmu. Batin Reyhan sambil menatap langit-langit kamarnya.


Reyhan mengambil laptopnya dan mulai memperhatikan persentase rapat yang akan ia bawa besok berharap melupakan Lyra sejenak tapi lagi-lagi pikirannya dihantui oleh Lyra. Berulang kali ia berusaha menutup mata namun tak kunjung berhasil.


****

__ADS_1



__ADS_2