
Vica memandangi pantulan wajahnya di cermin, ia terus memperhatikan setiap inci wajahnya.
"Reyhan mengajakku ketemu? Ada apa ya? Apa mungkin dia? Entahlah. Tapi yang pasti sekarang harus terlihat cantik dulu, bukan?" gumam Vica sambil mengoles lipstik ke bibirnya.
Dua puluh menit berlalu, Vica sudah berada tepat di hadapan Reyhan yang terus memandangi selebaran kertas yang menorehkan gambar desain miliknya.
"Sejak kapan kau belajar desain?" tanya Reyhan.
"Sejak aku divonis terkena kanker otak," jawab Vica.
"Tapi waktu kau meminta jabatan sebagai asisten, bukankah kau bilang kalau kau tidak bisa menjadi staf bagian desain?" tanya Reyhan lagi, lalu meletakkan berkas tersebut.
"Itu aku...."
"Apakah di matamu aku orang yang gampang dibohongi?" tanya Reyhan lagi, membuat Vica merasa ketakutan.
"Aku tidak bermaksud membohongimu," jawab Vica.
"Jadi, apa alasanmu?"
"Aku...."
Aku menyukaimu Rey! Tapi apa kamu bisa menerima alasan ini? Batin Vica.
"Aku menerimamu karena mengingat betapa baiknya kedua orang tuamu kepada orang tuaku dari masa lalu hingga sekarang. Jadi aku harap jaga jaraklah denganku, karena biar bagaimanapun masa pertemanan kita dulu tidak akan bisa terulang lagi. Dan masalah Fero, aku tidak ingin terlibat dengannya lagi. Sudah cukup dia menjauhiku hanya karena salah paham belaka." Menyeruput minumannya.
"Fero? Bisakah kamu egois sebentar Rey?" tanya Vica dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa maksud kamu?" Reyhan menatap bingung.
"Bisa tidak pembicaraan kita jangan mengarah pada orang ketiga terutama Fero. Pikirkan tentang kita Rey!" tegas Vica.
"Kita? Aku rasa di antara kita selain pernah berteman tidak ada hal lain yang mau dibahas. Sebenarnya apa maksudmu?" tanya Reyhan lagi.
"Aku..., aku tidak pernah menyukai Fero. Dari awal hingga sekarang aku hanya menyukaimu Rey." Menatap dalam ke arah Reyhan.
"Kau membohongiku?" Memelotot marah.
"Rey, aku ingin mengatakannya. Akan tetapi kamu selalu ingin mendekatkan aku dengan Fero. Aku tidak pernah memandangnya, aku hanya menginginkanmu hingga sekarang. Aku mengejarmu sampai saat ini, aku berada di hadapanmu karena ingin selalu ada di sekitarmu meskipun kamu tidak pernah menganggapku ada," jelas Vica dengan bulir air mata yang mulai saling bergelintir di pipinya.
Reyhan terdiam, ia memijat pelipisnya karena perkataan Vica barusan membuatnya pusing.
"Perlu kau ketahui kalau aku adalah pria yang sudah menikah." Menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Apa?" Vica memelotot kaget tubuhnya terperojok menatap cincin yang bersemayam di jari tangan kanan Reyhan.
"Aku ingat mengundang dokter Fiona, tapi dia tidak datang tanpa kabar sama sekali," tutur Reyhan.
__ADS_1
"Bagaimana bisa Rey? Bagaimana denganku." Tubuh bergetar, mata memelotot. Vica tidak menyangka Reyhan yang ia kenal sebagai sosok yang dingin itu justru telah menyandang status suami orang lain.
"Aku tidak peduli dengan kisah hatimu tapi yang pasti aku tidak akan pernah menyukaimu. Dan akan aku kembalikan persenan saham milik kedua orang tuamu. Pergilah!" Reyhan bangkit dari duduknya dan hendak akan pergi.
"Aku tidak akan menyerah. Maksudku, perasaanku padamu akan aku perjuangkan hingga kamu menerimaku!" teriak Vica.
Reyhan memandangi wajah Vica yang memelas, Gadis itu benar-benar terobsesi memilikinya.
"Jika kau merugikan kehidupanku nanti. Kau tahu, nyawamu tidaklah berharga bagiku. Aku tidak akan segan-segan membunuhmu. Hidupku sekarang sudah jauh lebih bahagia. Aku peringatkan kau jangan pernah mengusikku." Beranjak keluar.
Tidak ini tidak benar 'kan. Menikah! Tidak mungkin! Hanya aku yang boleh menikah dengannya. Batin Vica sambil mengepalkan tangannya.
***
Lyra menatap jam dinding yang mengeluarkan detaknya yang tajam di telinga. Wanita itu terus merenggut sambil terus menatap ke arah pintu.
"Sudah jam lima sore, Reyhan kenapa belum balik ya?" Memangku wajah dengan kedua tangannya.
Ceklek!!!
"Sayang, kamu sudah kembali." Berjalan ke arah Reyhan yang sedang merangkul tas berbentuk persegi.
Bukannya menjawab, Reyhan justru mempercepat langkahnya menghindari Lyra.
Ya Tuhan, ngambek lagi. Batin Lyra sambil menggigit jarinya.
Lyra keluar dari kamar berjalan menuju dapur. Ia mengaduk-aduk sup daging yang baru ia masak kemudian menghidangkannya di atas meja.
"Tunggu di sini saja deh, nanti dia pasti nyusul," gumam Lyra sambil memainkan ponselnya.
Drrrrrrrrrrrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrrrrrrt
Ponselnya bergetar, Erick menghubunginya dan cukup mengejutkannya karena ini pertama kalinya Erick meneleponnya.
"Halo, Rick," ujar Lyra.
"Kak, Reyhan sudah pulang belum? Mau main nih bosan di rumah terus." Suara Erick di seberang.
"Mending enggak usah deh Rick, lagi ada masalah nih. Dari tadi wajahnya cemberut mulu," jawab Lyra.
"Hah? Kok bisa? Masalah kerjaan ya?"
"*Entah Rick, dari tadi aku juga dicuekin dan dia belum juga keluar dari kamar. Apa enggak bingung coba."
"Hmmm ngeri juga ya. Begini saja Kak, coba diemin balik kalau semakin dibujuk semakin melunjak dia*."
"Ya..., enggak berani Rick takutnya dia emosi lagi."
__ADS_1
"Enggak akan Kak. Percayalah Reyhan bukan sosok yang seperti itu. Aku sangat mengenalnya."
"Baiklah nanti aku coba deh, terima kasih ya sarannya."
"Kalau begitu aku tutup dulu Kak, kalau dia tahu kita teleponan takutnya semakin berabe deh."
"Iya, bye!"
Lyra pun kembali memperhatikan ponselnya, namun sesekali melirik ke arah pintu kamar yang tak kunjung terbuka. Ia pun beranjak dari duduknya mencari tahu apa yang dilakukan suami kecilnya itu.
Ya ampun, aku menunggunya untuk makan malam. Dia dengan santainya malah tidur. Benar-benar menyebalkan. Batin Lyra berjalan menuju ranjang.
"Sayang, kita makan yuk. Aku masakin kamu sup daging lho." Mengelus lembut kepala Reyhan.
Reyhan masih diam, ia langsung menggerakkan tubuhnya memunggungi Lyra. Akan tetapi, Lyra dengan sabarnya masih berusaha membujuk suaminya itu.
"Sayang, kamu ada masalah ya. Cerita dong sama aku. Jangan diam enggak jelas begini." Menyentuh pundak Reyhan.
Akan tetapi, lagi-lagi Reyhan tidak bergeming. Ia membiarkan istri sabarnya itu mengoceh yang tidak ia dengar sama sekali.
"Sayang, kamu mau aku pijitin enggak?" tanya Lyra lalu menyentuh kaki Reyhan.
"Sudah cukup, aku mau tidur. Tolong jangan diganggu." Suara Reyhan membuat Lyra semakin bersemangat.
Mulai berbicara, semakin dipijat enggak apa-apa 'kan. Batin Lyra menyentuh kaki Reyhan lagi.
"Kamu dengar enggak, aku mau tidur." Suara Reyhan mulai meninggi, membuat Lyra memelotot terkejut dan ketakutan.
"Ma-maafkan aku." Berlari keluar dari kamar.
Reyhan memijit kepalanya seolah menyesali perbuatannya. Dengan segera ia pun menyusul Lyra yang bisa ditebaknya pasti sedang menguraikan air mata.
"Lyra, maafkan aku. Hari ini aku sangat lelah jadi tidak bisa mengontrol emosiku," ujar Reyhan pelan.
Lyra terdiam, ia bungkam jantungnya masih shock karena perkataan Reyhan tadi.
"Lyra tolong jangan balas mendiamiku, itu sangat menyiksa." Mengerutkan dahinya, mulai frustasi.
Lyra berjalan menuju kamar, ia mengambil bantal, guling dan selembar selimut. Lalu kembali ke sofa ruang tengah, sementara itu Reyhan dengan sejuta kebingungan hanya menatapnya dengan penuh penyesalan.
"Lyra, jangan seperti ini. Ayo kembali ke kamar?" Menarik tangan Lyra.
Akan tetapi tidak digubris oleh Lyra, wanita itu benar-benar sakit hati sekarang membuat suaminya pusing bukan kepalang.
"Baiklah kalau begitu, aku tidur dulu. Terserah kamu mau tidur di sini. Dasar kekanakan." Beranjak berjalan menuju kamarnya.
Lyra tidak mempedulikan Reyhan yang berjalan meninggalkannya. Ia pun menutup matanya yang perlahan-lahan membawanya ke mimpi yang indah.
__ADS_1