MY BERONDONG

MY BERONDONG
BUCIN MAKSIMAL


__ADS_3

Cahaya mentari yang setengah berwarna orange menyentuh wajah Lyra. Membuat wanita itu terlihat bersinar di tengah-tengah hari yang mulai gelap.


Ya, hari ini Reyhan membawa Lyra ke pantai. Tadi malam tanpa sepengetahuan sang istri, Reyhan mencari lokasi tempat yang ramai dikunjungi. Kali ini, berbeda Reyhan tidak menyewa tempat itu melainkan bergabung seperti pengunjung lainnya.


"Kamu suka?" tanya Reyhan sambil memakaikan bando ke kepala Lyra. Mencegah rambutnya berantakan karena dibelai oleh angin pantai yang lumayan kencang.


Lyra tersenyum lebar, "iya terima kasih, Rey," jawabnya antusias.


Tiba-tiba suara sorakan pengunjung terdengar. "Satu, dua, tiga!"


Sunset pun tenggelam dan digantikan oleh bulan serta kerlipan lampu menambah keindahan pantai.


"Kapan kamu memikirkan ini semua?" tanya Lyra sembari meneguk minumannya.


"Tadi malam," jawab Reyhan yang sambil menyuapi Lyra dengan potongan buah apel yang baru dikupasnya.


Lyra tertawa bahagia, "untuk apa?"


"Tentu saja untuk membahagiakanmu," jawab Reyhan.


Kini tawa Lyra semakin menggema, tak sadar sebulir air mata membasahi pipinya. "Memilikimu saja sudah lebih dari cukup membuatku bahagia," jawabnya lirih.


Reyhan mengusap air mata Lyra, "tapi, aku ingin memberikan lebih dan lebih banyak kebahagiaan untukmu. Lyra itu alasanku, bahagiamu menjadi bahagiaku. Apapun itu, termasuk memiliki anak."


Lyra menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Kamu tahu aku.... "


Tadi malam, setelah memastikan tempat yang akan Reyhan jadikan tempat kejutan pada Lyra, Reyhan diam-diam mengambil ponsel Lyra lalu membuka laman pencarian wanita itu di gigle. Dan tak disangka Lyra sedang melihat kumpulan foto-foto bayi lucu.


Reyhan mendesah, "bagaimana bisa kamu memendamnya sendiri?"


Tawa Lyra menghilang, ia mulai canggung untuk membahas hal itu. "Aku merasa sudah cukup semua yang kamu berikan. Dan aku rasa aku terlalu egois jika meminta anak darimu," jawab Lyra.


"Kenapa? Apa aku terlalu kekanak-kanakan untuk jadi seorang ayah?" Memangku wajahnya.


Lyra menggeleng, "bu-bukan begitu. Kamu ingat nggak sih dulu kamu bilang tidak terlalu suka anak-anak? Jadi, aku merasa-"


"Bukan berarti aku tak ingin menjadi seorang ayah." Jawaban Reyhan membuat Lyra terdiam seribu bahasa.


"Sepulang dari sini, kita akan melakukan program," jawab Reyhan lagi.


Kedua mata Lyra memelotot, "beneran Rey?"


Reyhan mengangguk, mengiyakan. Kebahagiaan Lyra sudah mencapai ke ubun-ubunnya hingga tak bisa ia bendung lagi air mata yang sudah ia pendam.


Reyhan tak henti-hentinya mengusap air mata Lyra yang sudah membanjiri pipinya.


Drrrrrrrrrrttt Drrrrrrrrrttt Drrrrrrrttt


Reyhan mengerutkan dahinya dikala melihat nama kontak yang tengah meneleponnya.

__ADS_1


"Kenapa nggak diangkat?" tanya Lyra melihat Reyhan yang bimbang.


Reyhan menghubungkan panggilan tersebut. Lelaki itu pun pergi menjauhi istrinya.


Hampir satu jam Reyhan, teleponan. Ia pun kembali pada Lyra yang terlihat sudah mengantuk.


"Apa kita pulang sekarang?" tanya Reyhan yang langsung diangguki Lyra.


"Tapi tunggu dulu, aku ingin mengambil beberapa poto kita di sini." Lyra mengambil ponselnya. "1,2,3 pose!"



"Eh, kenapa menatapku begitu?" tanya Lyra, salah tingkah. Wanita itu pun memasukkan ponselnya ke dalam saku.


Reyhan menggaruk punggungnya yang tidak gatal, "kamu juga kenapa menatapku?" tanyanya yang juga salah tingkah.


"Tunggu dulu, itu ada noda," ujar Reyhan seraya menunjuk hidung Lyra.


Lyra mulai meraba-raba hidungnya, "udah belum?"


Reyhan mendekat, "ini!" Mengecup hidung Lyra. Lelaki itu pun tersenyum nakal.


Lyra mengerutkan dahi, "ih apa sih? Orang udah serius juga," menepuk pundak Reyhan.


Mereka lalu berpegangan tangan menuju mobil.


***


Redro membelikan rumah dengan dua lantai di sebuah kompleks perumahan yang cukup elit dan fasilitas lainnya memiliki satu mobil dan motor. Mereka juga dibekali dengan sebuah butik dan tempat jahit karena sang ibu mertua sangat gemar menjahit.


Bukan hanya itu, Redro juga menyewa jasa pembantu serta 2 orang security khusus berjaga-jaga.


Siska tak menyangka, pria yang sempat dibencinya itu justru yang membahagiakannya.


"Kenapa menangis?" tanya Redro, ketika melihat kumpulan tisu yang berceceran di lantai.


"Maaf, karena aku dan keluargaku kamu jadi-"


"Mereka juga keluargaku!" Suara Redro penuh penekanan.


Siska mengerti maksud Redro, mengingat Redro yang tak punya keluarga kecuali Reyhan.


"Kalau begitu, aku juga mau memberikan hadiah untukmu," ujar Siska sembari memeluknya dari belakang.


Redro tidak bergeming, ketika istrinya itu mulai membuka satu persatu resleting kemeja putih yang ia pakai.


Wanita itu mulai menciumi bahu Redro dengan lembut. Membuat suaminya mencengkeram seprai. Tak tahan dengan sentuhan di bahunya, Redro dengan cepat memindahkan Siska ke pangkuannya.


Ia pun mencumbu bibir Siska dengan panas, sambil tangannya meraba masuk ke dalam pakaian istrinya itu.

__ADS_1


*******-******* pun memenuhi kamar yang mereka tinggal seminggu yang lalu.


Drrrrrrrttt Drrrrrrrrrttt Drrrrrrrrrttt


"Beb, ada yang nelpon," ujar Siska dengan napasnya yang tak beraturan.


Redro berhenti sejenak, lalu melihat nama Reyhan. Semula pria itu ingin bergegas tapi mengingat kejadian beberapa hari yang lalu pria itu mengurungkan niatnya.


Maafkan saya, Den. Tapi, kali ini biarkan saya bertugas sebagai suami untuk istri saya.


***


Sementara di tempat lain, Reyhan terlihat merenggut heran pada Redro yang menolak panggilan teleponnya. Pikirannya tak tenang. Lyra menghampiri dengan nampan berisikan secangkir susu serta roti.


Reyhan mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah. Ya, lelaki itu baru saja selesai berenang dan duduk sejenak di atas kursi santai di tepi kolam.


"Ini, minumlah," ujar Lyra sembari menyodorkan segelas susu.


Reyhan mendesah, "Redro menolak panggilanku," jawabnya lalu meneguk habis susu tersebut.


Lyra tertawa, "baru sekali dia menolaknya kamu sudah kepanasan," ujar Lyra.


Reyhan mendesah panjang, "aku khawatir terjadi sesuatu padanya."


"Sudah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Redro nggak apa-apa kok paling lagi istirahat. Sudahlah jangan diganggu, cukup kemarin-kemarin kamu merebutnya dari istrinya," jawab Lyra.


Reyhan terkejut, "Aku? Merebut?"


Lyra mengangguk, Reyhan terdiam ia lalu teringat betapa kerja kerasnya sang bodyguard melayaninya ditambah lagi baktinya pada mertuanya.


Baiklah. aku tidak akan mempermasalahkan hari ini.


Byurrr! Lyra dengan setelan tanktop dan rok mini mulai berenang hingga ke tepi. Wanita itu pun melihat hamparan kota yang luas sambil membiarkan air kolam membelai tubuhnya.


Reyhan tersenyum, ia lalu lompat ke kolam menemui sang istri. Ia pun memeluknya dari belakang menikmati pemandangan hamparan kota.


***


Malam itu, tak satu pun dari mereka yang mengeluarkan kecuali denting sendok yang bersahutan dengan piring.


Ada mencuri hati Marta yaitu sang putra dan menantunya makan hanya dengan satu tangan tanpa menggunakan garpu.


Namun, yang lebih mencengangkan Reyhan makan menggunakan tangan kiri. Ke mana tangan kanannya?


Sebaliknya, ke mana tangan kiri Lyra?


Marta menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil tersenyum pelan, seolah tahu apa yang dilakukan pasutri yang bucin maksimal tersebut.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2