
Reyhan memasuki ruang kerjanya. Menyenderkan tubuh lalu meneguk habis minumannya. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing luar biasa sesekali mengeluarkan bulir-bulir keringat. Wajahnya merah padam, ia mencengkeram benda yang berada di sekitarnya.
Apa yang terjadi padaku? Aku kepanasan. Ah, rasanya sangat pusing sekali. Batin Reyhan sambil mencoba meraih ponselnya.
"Redro, di mana kau?"
"Saya sedang berada di bengkel mobilnya mogok. Apa kliennya mengeluh?" tanya Redro dari seberang.
"Kembali sekarang! A...,aku sedang sekarat!" Mencampakkan ponselnya ke sembarang tempat.
Tiba-tiba seseorang masuk. Ia Miranda, memasang senyuman nakal lalu berjalan mendekati Reyhan.
"Kau!" Memelotot kaget sekaligus marah.
"Tuan Reyhan, kenapa kau terlihat menggoda. Pantas saja adikku yang bodoh itu mengejarmu mati-matian." Duduk di hadapan Reyhan yang berusaha menahan kesakitannya yang tiba-tiba.
"Keluar!" teriak Reyhan.
"Aku kemari hanya ingin membantumu tidak lebih. Aku tahu kamu butuh bantuan." Mendekatkan wajahnya ke arah Reyhan.
Sial! Apa ini efek minuman tersebut. Apakah wanita ini pelakunya. Batin Reyhan sambil terus melotot pada Miranda yang sedari tadi berusaha menggodanya.
Kata si penjual obat. Dia akan melihat wujud orang yang dicintainya ada di dalam diriku. Sepertinya belum bereaksi. Menunggu berapa lama lagi. Batin Miranda memperhatikan mimik wajah Reyhan yang terlihat marah sekaligus kesakitan.
Reyhan bangkit dari duduknya. Akan tetapi, baru saja melangkahkan kakinya ia sudah ambruk. Ia terus berusaha bangkit tetapi tetap saja tidak bisa.
Ada apa denganku? Kenapa kaki ku terasa kaku. Seperti lumpuh. Racun apa yang dia gunakan. Batin Reyhan berusaha bangkit namun tetap tidak bisa.
Tak sampai disitu, tiba-tiba nafas Reyhan terdengar sesak hingga membuatnya hilang kendali. Miranda berjalan mendekatinya.
"Jangan mendekat! Keluar kau!" teriak Reyhan.
Tiba-tiba telepon berdering. Dengan segera Miranda mengangkatnya, agar tidak ada yang curiga.
"Halo, iya tuan Reyhan sedang sibuk. Aku..., cleaning service yang baru. Lyra dia-"
"Lyra." Begitu mendengar nama istrinya disebut dengan kecepatan maksimal Reyhan berusaha bangkit. Miranda segera meletakkan gagang telepon itu kembali.
"Lyra, dia pasti orang yang-"
"Sayang, kenapa kau hanya duduk saja. Bantu aku. Aku ah! Aku menginginkanmu." Tiba-tiba pandangan Reyhan terhadap Miranda berubah. Kali ini Reyhan mengeluarkan desahan-desahan yang tak bisa ia tahan. Ia berusaha meraih pegangan kursinya lalu kembali duduk.
Lyra, kau wanita yang beruntung biarkan aku menggantikan posisimu. Kau sudah lama hidup dengannya. Jadi, biarkan dia bersamaku hingga akhir. Ya, memiliki keturunan darinya akan membuatku bahagia. Reyhan kita kau harus menjadi milikku. Batin Miranda.
"Ah sayang, kenapa kamu hanya tersenyum? Ah ah aku sudah tidak tahan. Jangan menyiksaku seperti ini ah ah ah," ujar Reyhan desahan mengiringi setiap perkataannya. Melonggarkan dasi dengan kasar dan menyenderkan tubuhnya.
"Wajahmu memang sangat tampan, hartamu banyak dan kau juga begitu setia."
"Sejak kapan kamu lancar bicara pakai bahasa Inggris. Mendekatlah! Aku kedinginan. Sangat kedinginan!" teriak Reyhan.
Sial! Dia terus menerus menggunakan bahasa Indonesia. Mana aku tahu dia bilang apa. Obatnya sepertinya sudah bereaksi. Dan juga, dia menyebutkan nama Lyra saat memandangku. Sudah saatnya bersenang-senang. Batin Miranda, membuka sepatu serta stoking panjang berwarna hitam nan tipis.
Klak!
Pintu terbuka terlihatlah sosok Lyra yang sedang membawa bekal. Miranda yang terkejut sontak saja jatuh ke lantai. Pandangan Lyra mengarah pada Reyhan yang sedang meringis kesakitan.
"Apa-apaan ini? Rey, kamu kenapa?" Menggoyang-goyangkan tubuh lemah Reyhan.
"Sayang, kenapa kamu ada dua? Dia bukankah kamu." Menunjuk ke arah Miranda. Sementara itu, Miranda terlihat linglung karena tidak mengerti kalimat yang Reyhan ucapkan.
Ada yang enggak beres. Sepertinya Reyhan diberi obat perangsang dan pelakunya adalah dia. Batin Lyra sambil menatap tajam Miranda lalu berjalan mendekatinya yang tak kunjung bangkit.
"Who are you?" tanya Lyra dengan mata yang memelotot.
"Iam Layra," jawab Miranda memundurkan wajahnya.
__ADS_1
Layra Layra dasar bule sedeng. Batin Lyra sambil terus mendekati Miranda.
"Who are you?"
"Iam Layra."
"Who are you?"
"Iam Layra."
"Who are you?"
"Iam Miranda!"
Plak! Plak! Plak!
Tamparan Lyra berkali-kali mendarat di pipi Miranda. Ya, wanita itu tidak berhenti sedetik pun hingga membuat Miranda pingsan. Lyra memperhatikan tangannya yang memerah karena terus-menerus menampar Miranda.
Drrrrrrrrrrrrrtttttttt Drrrrrrrrrrrrrrttttttttt Drrrrrrrrrrrttt
Ponsel Reyhan berdering, dengan segera Lyra mengangkatnya.
"Halo, Redro kamu dimana?" tanya Lyra.
"Nona sedang dengan Reyhan sekarang. Apa terjadi sesuatu?"
"Aku tanya kamu dimana?" tanya Lyra dengan suara meninggi.
"Saya sedang di dalam lift menuju ke sana."
"Cepatlah! Bantu aku membereskan seseorang."
Lyra memutuskan panggilan telepon, tak butuh waktu lama Redro sudah berada tepat di dalam ruangan.
"Apa yang terjadi?" tanya Redro terkejut dengan pemandangan dalam ruangan Reyhan.
"Dia putri sulung Mr.Rudolf." Memandangi wajah Miranda.
"Apa?"
"Mr.Rudolf tadi pagi datang kemari. Dia membawa serta kedua putrinya. Sebenarnya kami sudah bisa membaca taktik Mr.Rudolf tetapi karena ada urusan dengan klien dari Berlin, saya diutus den Reyhan untuk pergi menemuinya. Saya sempat khawatir hanya saja dia bilang ingin menemui nona sekaligus menjenguk nyonya Marta. Tidak disangka akan ada kejadian seperti ini," ujar Redro.
"Oh begitu. Sekarang kamu bawalah wanita ini, sebelum aku menambah tamparan di wajah peyotnya itu," jawab Lyra. Redro menurutinya segera ia menggendong tubuh Miranda keluar dari ruangan itu.
"Ah! Rey kamu membuat aku kaget!" teriak Lyra karena Reyhan tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Dapat! Sekarang kamu tidak bisa kabur lagi. Ah ah, tolong jangan berusaha kabur lagi. Aku lelah, sangat lelah."
Lyra membalikkan tubuhnya, dipandanginya Reyhan yang terus menerus mendesah serta napas sesaknya. Itu sangat menyiksa suaminya itu.
"Maafkan aku sayang. Terima kasih karena tidak menyentuh wanita tadi. Aku hampir saja kehilanganmu." Memeluk tubuh Reyhan yang semakin terasa panas.
Tubuhnya panas sekali. Mungkin ini efek obat tersebut, aku tidak tahu apapun tentang jenis obat ini. Mungkin mandi saja dulu. Batin Lyra sambil membantu membawa Reyhan masuk ke dalam kamar pribadinya.
Lyra mendudukan Reyhan di ujung ranjang lalu membuka dasinya serta kancing bajunya. Setelah itu, Lyra melepaskan ikat pinggang Reyhan, hendak membuka celananya.
Tiba-tiba Reyhan menarik tubuh Lyra hingga tersender di atas tempat tidur. Reyhan membalikkan tubuhnya hingga mereka pun berganti posisi.
Reyhan meraih bibir Lyra lalu mengulumnya dengan tempo pelan. Dengan kekuatan yang ia miliki, ia berhasil mengoyakkan pakaian Lyra, membuat wanita itu terkejut tidak melihat aksi suami kecilnya itu.
Tepat pukul 14.20 siang itu pun berakhir dengan kebuasan Reyhan menghajar Lyra berkali-kali.
***
Lyra memandangi bagian-bagian pakaiannya yang berserakan di atas lantai. Sementara itu, kaki Reyhan mengunci kedua kaki Lyra membuatnya tidak bisa bangkit.
__ADS_1
"Sayang lepaskan aku," ujar Lyra pelan. Ya, tubuh gadis itu kini melemah suaranya seakan habis karena terus berdesah setelah berkali-kali dihajar Reyhan.
"Mau kemana?" tanya Reyhan dengan mata yang masih tertutup. Ia enggan membuka kedua matanya karena kepalanya masih terasa pusing.
"Mandi," jawab Lyra singkat.
"Nanti saja, baringlah lagi." Menarik tubuh Lyra lalu memeluknya.
"Kalau nanti, kita lama pulangnya. Kasihan Siska pasti lelah menjaga mama," jawab Lyra membuat mata Reyhan terbuka sempurna.
Tanpa berkata apapun Reyhan langsung menggendong tubuh polos Lyra menuju kamar mandi.
Semenit kemudian.
"Rey, aku bisa pakai sabun sendiri!"
"Tenanglah, aku hanya berniat membantumu saja!"
"Aku tidak butuh bantuan dari orang mesum sepertimu!"
"Aku suamimu!"
"Apakah ada alasan lain?"
"Seluruh milikmu adalah milikku!"
"Jangan memencetnya!"
***
"Dari tadi siang kamu belum makan apapun. Aku akan menggantikanmu menjaga mama." Menyentuh lembut pundak Reyhan.
"Aku tidak lapar," jawab Reyhan.
"Berhentilah menyakiti aku Rey, aku sudah lelah."
"Menyakitimu? Aku tidak pernah sedikitpun-"
"Pandang aku, aku ini istrimu pendamping hidupmu. Bukankah kamu sudah berjanji untuk membahagiakan aku? Tetapi, malah menyakiti aku. Kemarin kamu mogok makan sekarang tidak nafsu makan besok dan seterusnya apa lagi Rey. Perlakuanmu itu yang membuat aku sakit Rey. Aku lelah menjadi orang tidak berguna, berada di sisimu aku layaknya sebuah kerikil yang tidak berguna." Melangkah hendak pergi namun Reyhan berhasil menariknya hinggal Lyra terduduk di pangkuannya.
Reyhan memandangi wajah istrinya itu dengan teduh.
"Tidak berguna, layaknya kerikil. Bodoh, berhentilah mengucapkan kata itu. Sejauh perlakuanku padamu seluruh dunia juga tahu begitu berharganya dirimu bagiku. Jangan pernah mengatakan itu lagi atau kamu akan ku hukum hingga tidak bisa berjalan lagi. Kamu tahu kan aku lebih buas dari singa. Jadi, patulah." Mencium pipi Lyra.
"Tolong jaga dia, aku mau makan. Lapar sekali! Masakan istriku pasti sedang menantiku." Berjalan keluar dari kamar. Ya, kini Marta dirawat di apartemen Reyhan. Tubuh kritisnya memang tidak cocok untuk tinggal di rumah sakit terlebih lagi Marta sangat benci suasana rumah sakit. Oleh karena itu, ia meminta untuk memindahkan Marta ke tempatnya.
"Mama, lihat kan tadi, betapa manjanya putramu padaku. Terima kasih telah melahirkannya untukku. Wajah mama memang sangat cantik aku yang masih muda saja kalah jauh. Ma, aku sangat bahagia bertemu denganmu. Aku memang sempat membencimu, itu kesalahan terbesarku." Mengusap rambut Marta yang acak.
"Mama sangat bahagia memilikimu. Aku tidak memiliki ibu, bertemu denganmu rasanya aku memiliki ibu kembali. Apalagi setiap mendengar kalimat 'putriku' rasanya sangat tulus sekali. Aku sangat senang mendengarnya, Siska juga bilang begitu. Aku dan Reyhan hampir memiliki nasib yang sama. Ya, sama-sama merasakan kasih sayang seorang ibu akhir-akhir ini. Jadi, bisa tidak untuk tinggal bersama kami, kasihanilah kami membutuhkanmu Ma." Air mata mengalir dengan derasnya mengiringi setiap kalimat yang dilontarkan Lyra.
"Kami sudah lama menderita. Tolonglah tinggal bersama kami. Aku tidak tahu apa lagi yang akan dilakukan Reyhan jika Mama...."
"Aku, Reyhan, Redro dan Siska masih membutuhkanmu. Tolong berikan kami kesempatan untuk memperlakukanmu dengan baik. Biarkan anak-anak kami memiliki nenek cantik sepertimu. Kami semua mencintaimu. Jangan seperti ini, tolong!"
Reyhan yang ternyata berada di balik pintu mendengar semua perkataan Lyra. Batinnya seolah tersentak, begitu sayangnya Lyra terhadap Marta.
Terima kasih sudah memperlakukan ibuku seperti itu. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Tetapi kedewasaanmu membuatku semakin mencintaimu. Batin Reyhan sambil menyenderkan tubuhnya ke dinding depan kamar.
"Reyhan!" teriak Lyra dari dalam kamar, dengan segera Reyhan masuk.
"Ada apa?"
"Mama Rey."
BERSAMBUNG...
__ADS_1