MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Lyra dan Reyhan....


__ADS_3

Lyra membenamkan tubuhnya di dalam selimut hingga menutupi lehernya dan yang tersisa hanya permukaan wajahnya. Sesekali ia menoleh ke arah kanan yang terdengar rintikan air.


"Dia mandinya lama banget, apa ada yang sedang ia kerjakan," gumam Lyra.


Tiba-tiba ia teringat kejadian 20 menit yang lalu.


Flash Back On


"Ah hak sepatu ini lumayan tinggi, kakiku sangat kram sekarang," gumam Lyra sambil melepaskan sepatunya dan menyenderkan tubuhnya di sisi sofa.


Tiba-tiba Reyhan mengecup bibirnya dan itu membuatnya sangat terkejut. Reyhan melepaskan jasnya dan melonggarkan dasinya.


"Sayang, kita baru saja sampai. Apa kamu tidak lelah?" tanya Lyra menahan serangan Reyhan pada lehernya.


Reyhan tidak menjawab, ia terlalu diburu nafsu. Dengan cepat ia berhasil menyingkirkan gaun yang dipakai Lyra bahkan ia berhasil menanggalkan benda yang menutupi dada Lyra, ia pun menyunggingkan senyuman nakalnya ketika melihat dua gundukan milik Lyra yang kian hari semakin membesar dan itu karya Reyhan.


"Sayang bisakah tunggu aku mandi," ujar Lyra dengan wajah memerah melihat Reyhan yang sedang menatap serius pada payudaranya.


"Sayang, kamu dengar enggak? Kita mandi dulu yuk." Mencengkram punggung Reyhan yang bermain di dadanya.


"Sayang! Ahh geli. Hmmm ahh. Aku." Desahan Lyra mulai terdengar jelas begitu Reyhan menyentuh tubuhnya dengan lembut. Wanita itu mengeluarkan kata-kata yang semakin tidak jelas, cengkramannya semakin kencang. Lyra menggeliat hebat di atas sofa panjang.


"Sayang, berhenti!" teriak Lyra dengan sangat kuat.


Reyhan pun menghentikan aktifitasnya, barulah terdengar bahwa napasnya juga tersenggal-senggal. Lyra yang sudah bugil itu memegangi bagian bawah perutnya dan langsung berlari ke dalam toilet.


Reyhan yang kebingungan menghampirinya di depan toilet. Cukup lama ia menunggu wajahnya mulai panik dan beberapa pertanyaan bersarang di pikirannya.


"Lyra! Kenapa lama sekali? Kamu kenapa?" Mengetuk pintu toilet namun Lyra tak kunjung memberikan jawaban.


"Lyra, kamu masih sadarkan! Tolong buka pintunya dan katakan apa yang terjadi." Mengetuk pintu dengan kencang.


Tak lama kemudian Lyra membuka pintunya, wajahnya begitu lusuh, ia pun terlihat lemas.


"Kamu, sakit ya? Tunggu sebentar aku akan menelepon dokter pribadi mama," ujar Reyhan.


"Tidak! Jangan Rey. Aku tidak apa-apa. Ini sudah biasa terjadi," jawab Lyra yang langsung berlari dan menutupi tubuhnya dengan handuk.


"Biasa terjadi? Sebenarnya apa maksud kamu? Aku benar-benar bingung." Berjalan mendekati Lyra yang merasa kebingungan untuk menjelaskannya.


"Itu aku..., aku datang bulan," jawab Lyra tersipu malu.


"Datang bulan? Tapi aku tidak pernah merasakan apa itu datang bulan." Mulai frustasi karena tidak mengerti apa yang Lyra katakan barusan.


"Tentu tidak sayang, kan kamu laki-laki ini berlaku pada wanita saja," jawab Lyra sambil memegangi pinggangnya yang mulai kram.

__ADS_1


"Seperti apa datang bulan itu? Kenapa hanya wanita yang merasakannya?"


"Ya ampun sayang. Kamu tetap tidak mengerti ya. Datang bulan itu menstruasi fase dimana wanita mengalami masa subur. Benarkah kamu Reyhan yang pintar itu?"


"Kamu tidak mengatakan kalau kamu menstruasi. Kalimat datang bulan itu terdengar aneh bagiku. Saat kamu bilang itu hanya berlaku pada wanita aku hampir saja merasa iri, setelah aku tahu arti yang sesungguhnya aku bersyukur tidak merasakannya. Katakan apa kamu butuh sesuatu?"


"Iya, aku butuh pembalut sekarang."


Dengan cepat Reyhan langsung bergegas pergi ke toko terdekat mencari benda yang dibutuhkan Lyra. Tak butuh waktu lama Reyhan menemukan sebuah supermarket yang terletak di sekitar area apartemennya.


Begitu ia masuk seperti biasa seluruh mata karyawan beserta pengunjung menatap ke arahnya. Dengan cepat ia langsung mencari area tempat pembalut akan tetapi begitu ia menemukannya, Reyhan tahu jenis dan ukuran yang Lyra butuhkan.


Tanpa pikir panjang Reyhan langsung memasukkan seluruh merk pembalut dan bergegas pergi menuju kasir.


"Halo, pria tampan bolekah kita berkenalan?" tanya kasir tersebut.


Reyhan tidak menggubrisnya ia malah mengeluarkan belanjaannya dari keranjang dengan tempo yang cepat. Orang yang melihat tampak kebingungan dengan belanjaan Reyhan.


"Oh wow kau memborong semua jenis pembalut. Apakah kau sangat membutuhkannya?" tanya Seorang wanita dewasa.


"Ini untuk istriku," jawab Reyhan singkat.


"Kau benar-benar pria yang romantis ya. Melihat wajahmu yang tampan begini aku jadi penasaran pada rupa istrimu," ujar wanita itu lagi.


"Di mataku dia wanita yang paling cantik. Saya permisi dulu." Bergegas pergi khawatir pada Lyra.


Reyhan keluar dari kamar mandi, Lyra tampak semakin gugup. Reyhan duduk di sisi tempat tidur tepat di sebelah Lyra.


"Apa masih sakit?" tanya Reyhan sambil menyentuh lembut perut Lyra.


Lyra mengangguk pelan, matanya sedikit memerah.


"Tadi waktu di pesta Mr.Rudolf aku meminum minuman yang bercampur es jadi perutku kembung ditambah lagi nyeri datang bulan lengkaplah sudah," jawab Lyra memelas.


"Apa perlu aku menghukum Mr.Rudolf kalau bukan karena minuman yang itu pasti kamu tidak merasa sesakit ini," ujar Reyhan dengan mimik wajah serius.


"Tidak maksud aku bukan begitu sayang. Ini kesalahanku karena lupa tanggal hari ini."


"Kamu tidak boleh disalahkan. Apapun alasannya Mr.Rudolf yang tetap salah." Mengusap pelan rambut Lyra.


"Sayang, maaf tadi menyusahkanmu membeli pembalut," ujar Lyra dengan wajah memelas.


Reyhan berbaring dan mengarahkan tubuhnya ke arah Lyra. Dia menatap lekat wajah istrinya yang masih merasa nyeri itu.


"Beneran tidak perlu ke dokter?" tanya Reyhan.

__ADS_1


"Hmmm, ini sudah mendingan kok. Besok akan normal kembali. Oh ya waktu beli pembalut tadi apa ada orang yang memperhatikanmu?" tanya Lyra.


"Hampir semua mata menoleh ke arahku. Tapi kenapa kamu malah menanyakan mereka? Apa sebegitu pentingnya?" Mengeryit bingung.


"Kamu ini, aku bertanya begitu saja sempat pula cemburu. Aku mengkhawatirkanmu tahu enggak sih."


"Benarkah? Kalau begitu aku akan menceritakan kejadian di dalam toko tadi. Kamu mau mendengarnya tidak?"


"Begitu kamu menemui toko tersebut, kamu langsung masuk sontak seluruh mata menoleh padamu. Kamu tidak mempedulikannya kamu hanya fokus pada tujuanmu yaitu membeli pembalut. Karena bingung pembalut model apa serta ukuran berapa kamu memborong semua merk yang tertera di sana. Lalu mendorong troli menuju kasir untuk melakukan transaksi pembayaran. Si kasir pasti menggodamu, bukan? Tapi kamu tidak mempedulikannya dan segera pulang karena khawatir padaku. Apakah tebakanku benar sayang?"


Reyhan memelotot bingung ke arah Lyra yang menebak kejadian yang ia alami beberapa jam yang lalu.


"Hampir semua benar. Akan tetapi, aku sempat mengobrol dengan seorang wanita dewasa, dia mengomentari semua belanjaanku. Kenapa kamu bisa menebak hampir sedetail itu, tidak mungkin kamu mengikutiku, kan?" Menatap heran pada Lyra.


"Karena dimanapun kamu berada, aku ada disini." Menunjuk ke arah hati Reyhan.


"Dengan wajah begini aku sangat yakin dimanapun kamu berada pasti selalu menjadi pusat perhatian. Hanya saja aku sempat berpikir kalau aku punya wajah yang rupawan sepertimu mungkin aku akan menjadi seorang playboy. Hahaha..., angan-angan macam apa ini," lanjut Lyra sambil terkekeh.


Reyhan meraih wajah Lyra dan memperhatikan lekat wajah istrinya itu.


"Kamu cantik tapi kamu tetap setia. Ucapanmu barusan tidaklah benar kamu." Mencium kening Lyra.


"Aku tidaklah cantik Rey. Hanya saja pandanganmu mengenaiku berbeda dari laki-laki lain. Kalau menurut fisik, kita berdua tidaklah cocok. Oleh karena itu, wanita lain akan selalu berusaha mendekatimu sebab mereka merasa aku bukanlah saingan yang pantas." Beradu pandangan dengan Reyhan.


Reyhan memelotot pada Lyra, dengan segera ia meraih bibir istrinya tersebut dengan begitu lembut membuat Lyra tak bisa berkata-kata lagi.


"Apa kamu tahu, di mataku kamu begitu indah. Kamu memiliki sepasang mata yang orang lain tidak miliki, memiliki bibir yang orang lain tidak miliki postur tubuh yang orang lain tidak miliki. Bahkan nama yang orang lain tidak miliki. Melihat bagaimana Fardan mengejarmu dulu, memikirkannya saja cukup membuat darahku mendidih. Lyra, tolong berhenti mengatakan kita tidak cocok karena aku mengejarmu dengan perjuangan. Tetaplah di dekatku hingga kita menua, aku memang tidak romantis tapi aku akan berusaha menjadi suami yang penurut untukmu." Menatap serius.


"Suami yang penurut? Maksud kamu apa?" tanya Lyra bingung.


"Ya kalau kamu butuh katakan saja, seperti melakukan itu aku akan segera membuka pakaianku. Begitulah aku akan menjadi selalu suami yang penurut."


Lyra yang tadinya memasang wajah serius pun dibuat kesal oleh Reyhan, ia langsung berbalik dan memunggungi Reyhan.


"Hei, ada apa dengan ekspresimu barusan?" tanya Reyhan.


"Lyra kenapa kamu diam?"


"Lyra kenapa kamu membelakangiku?"


"Lyra singkirkan guling itu dari pelukanmu!"


Malam itupun berakhir dengan manis.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir silahkan tinggalkan like dan hujatannya.



__ADS_2