
Lyra memperhatikan halaman yang terhampar luas di depan perusahaan Almirza grup. Ya, Lyra mendatangi Reyhan ke tempat kerja.
"Ini sih luar biasa kerennya," ujar Lyra sambil memandang takjub dengan lemperan gedung-gedung yang menjulang tinggi.
"Hari ini den Reyhan sedang ada jadwal turun langsung ke ruang produksi dan untungnya saya tidak dibutuhkan jadi bisa menjemput nona," ujar Redro yang sedang menyetir mobil.
"Maaf ya Redro, gara-gara saya kamu jadi bolos beberapa jam. Tolong jangan salahkan Siska dia berbohong seperti itu karena saya," jawab Lyra merasa bersalah. Redro hanya menganggukan kepalanya pelan.
FLASH BACK
Siska menatap Lyra yang tidak fokus mendengar ceritanya. Tatapannya kosong seakan sedang memikirkan hal lain.
"Kamu kenapa? Enggak enak badan ya," tanya Siska sambil memegang dahi Lyra yang tidak panas.
"Tidak, aku cuma merasa kangen sama Reyhan saja. Entahlah rasanya kangen berat," jawab Lyra seperti bingung dengan perasaannya.
Siska tersenyum nakal, segera ia ambil ponselnya dan mulai mengetikkan beberapa kalimat yang ditujukan pada Redro.
"Tenang, sebentar lagi Redro akan membawamu kesana," ujar Siska sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
"Apa? Jadi kamu menyuruhnya menjemputku. Jangan Sis, itu akan mengganggu pekerjaannya." Memelotot bingung kepada Siska yang nekat.
"Tenanglah, biasanya kalau perempuan berada di posisimu pasti ada yang sedang tidak beres disana. Kamu mengerti 'kan apa maksudku?"
"Enggak." Lyra menggelengkan kepalanya membuat Siska langsung menepuk jidatnya sendiri.
"Ya ampun Lyra, itu tandanya ada PELAKOR. Kamu tahukan apa itu PELAKOR. Perebut laki orang, kalau bukan dicegah sekarang kapan lagi. Jangan beri kesempatan kepada mahluk itu, Ra. Karena Reyhan tetaplah manusia biasa," ujar Siska.
"Sekarang bersiap-siaplah sebentar lagi Redro akan sampai, dandalah sedikit biar terlihat segar," lanjut Siska.
"Tapi, aku?"
Siska masuk ke dalam kamarnya lalu kembali dengan berbagai jenis benda untuk merias. Tanpa basa-basi ia pun mulai merias Lyra hingga terlihat sangat cantik.
"Nah, beginikan baru enak di pandang. Sekarang tinggal menunggu Redro deh," ujar Siska.
"Aku kok gugup ya," jawab Lyra.
"Kenapa? Pasti kamu sudah enggak sabar mau bertemu suami ya. Hahaha jadi pengen cepat-cepat nikah," ujar Siska.
__ADS_1
"Bukan itu Sis, tapi aku malah gugup ketemu Redro," jawab Lyra membuat Siska terdiam.
Ting! Tong!
"Itu dia, sudah datang. Aku buka pintu dulu ya," ujar Siska sambil beranjak ke arah pintu.
Pintu pun terbuka tampak Redro dengan napas tersenggal-senggal serta mata yang mulai kelelahan.
"Beb, kamu kenapa?" tanya Siska mulai panik.
"Bagaimana diaremu." Bukannya menjawab Redro justru menanyakan keadaan Siska yang tanpa sepengetahuannya telah berbohong padanya.
"Aku? Aku enggak diare. Maaf aku berbohong sama kamu," jawab Siska merasa bersalah.
"Apa?"
FLASH BACK OFF
Redro membawa Lyra masuk ke dalam perusahaan, seluruh mata tertuju kepada mereka, sebagian ada yang berbisik dan sebagian ada yang menatap curiga.
"Sebentar lagi jam waktu makan siang, biasanya den Reyhan terlebih dahulu sebelum menuju lantai depan tempat ia makan siang. Jadi Nona tunggulah disini, itu ruang kamar pribadi den Reyhan. Maaf karena saya ada pekerjaan lain jadi saya tinggal dulu." Menunduk lalu beranjak keluar.
Lyra duduk di atas kursi kekuasaan milik suaminya, pandangannya tertuju pada potret Reyhan yang mengenakan setelan jas rapi dengan senyum polos di wajahnya. Sedangkan di sebelah kiri tampak foto Reygan, mertuanya. Ia pun menyandingkan potret kedua orang yang saling memiliki ikatan darah itu.
"Benar-benar tidak bisa dipungkiri dua orang ini terlihat sangat memikat." Meletakkan kedua poto tersebut berdekatan tepat di tengah-tengah meja.
Lyra pun bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar pribadi Reyhan yang lumayan besar. Diletakkannya bekal yang ia bawa di atas nakas, ia pun berbaring di atas tempat tidur tersebut.
"Kasurnya nyaman banget, aku jadi mengantuk," gumam Lyra lalu memejamkan kedua matanya.
***
Reyhan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tepat menunjukkan pukul 12.00 waktunya makan siang.
"Baik meeting sampai disini, silahkan bubar. Saya undur diri terima kasih untuk waktunya dan selamat siang," ujar Reyhan sambil beranjak pergi.
Reyhan berjalan menuju lantai atas, ruangan pribadinya. Ia pun mengaktifkan ponsel yang sedari tadi tidak aktif. Alih-alih berharap mendapat pesan dari Lyra ia justru tidak mendapat pesan dari apapun.
Lyra, kamu mengabaikan aku lagi. aku mengikatmu dalam pernikahan. Tapi tetap saja kamu mengabaikan aku. Aku bingung harus berbuat apa lagi agar kamu mencintaiku, seperti aku mencintaimu. Batin Reyhan lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.
__ADS_1
Reyhan memasuki ruangannya dan langsung menuju ke kamar pribadinya. Tiba-tiba...
Hup!
Lyra menyambutnya dengan pelukan, Reyhan terkejut bukan main. Jantungnya seolah berhenti berdetak mendapati istrinya yang menyambar langsung kepelukannya.
"Sayang, kamu pasti kaget banget ya," ujar Lyra sambil menepuk-nepuk pipi Reyhan.
"Ka-kamu kenapa ada disini?" tanya Reyhan seolah tidak percaya istrinya berada di depannya.
"Kejutan! Ye..., aku kangen banget sama kamu jadi aku datang kemari. Maaf enggak ngasih kabar, kata Redro kamu sedang sibuk jadi ya, aku enggak mau ganggu kamu," jawab Lyra sambil menatap ke arah Reyhan yang masih memelotot karena kaget.
"Kamu kangen, kamu merindukan aku?" tanya Reyhan.
"Iya, aku kangen sama kamu, enggak tahu kenapa aku se-lebay ini. Maaf aku-
"Aku enggak butuh kata maaf. Aku senang kamu merindukan aku," jawab Reyhan yang tanpa sadar tiba-tiba mengeluarkan air mata.
Lyra mendekat kepada suaminya yang ternyata sedang menunggu kabarnya tapi justru memberikan kejutan kepadanya.
Lyra meraih bibir Reyhan lalu mengulumnya dalam tempo pelan, mereka berdua begitu menikmatinya. Lyra mendorong tubuh Reyhan tepat di atas ranjang, lalu membuka setelan jas yang membalut tubuh suaminya itu. Kali ini Lyra yang berinisiatif dan dia sangat agresif sementara itu Reyhan hanya diam merasa tidak percaya istrinya yang memulai penyatuan tersebut.
Kini tubuh mereka benar-benar tidak memakai sehelai benang pun yang menutupi. Lyra yang sudah tersulut napsu itu berada tepat di atas tubuh Reyhan. Lelaki itu hanya menatap istrinya yang sedang memanjakannya.
Lyra menciumi bibir Reyhan, menciumi lehernya seperti orang kerasukan. Reyhan yang menikmati serangan istrinya itu pun mulai mengeluarkan suara-suara desahan.
***
Reyhan memandangi wajah Lyra yang tergeletak di dadanya. Derasan keringat membanjiri tubuh mereka ditutupi selimut putih.
Dia merindukan aku. Lyra aku sudah berprasangka buruk, aku kira dia enggak peduli padaku lagi. Ternyata dia mendatangi aku. Batin Reyhan lalu menciumi kening istrinya itu.
Reyhan pun bangkit dari tempat tidur, ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Senyuman menghiasi wajahnya, ia benar-benar dibuat bahagia oleh Lyra.
Beberapa menit kemudian ia pun keluar dari kamar mandi dengan piyama putih, ia pun menghubungi Redro yang bisa ia tebak sedang menikmati waktu istirahatnya.
"Halo, bawakan aku setelan jas berwarna abu tua serta pakaian wanita dengan warna senada untuk Lyra. Ukurannya jangan sampai salah, aku tahu kau hebat dalam menebak ukuran lekuk tubuh wanita, cepatlah! Aku membutuhkannya." Memutuskan panggilan tersebut.
__ADS_1