MY BERONDONG

MY BERONDONG
RINDU 2....


__ADS_3

"Aku bilang ajari aku cara memuaskan istri." Tatapan tajam dan suara lantang Reyhan mulai menyerang Erick bertubi-tubi.


"Lu sakit ya," ujar Erick sambil memegang dahi Reyhan.


"Singkirkan tanganmu sekarang dan lakukan yang aku perintahkan!" Suara Reyhan bertambah besar.


"Ada setan apa lu tiba-tiba bahas itu lu gak keserupan kan, Rey." Masih tidak habis pikir kemana hilangnya akal sehat Reyhan yang biasanya lebih di atas rata-rata orang waras itu.


"Mau sampai kapan kau akan bertanya, lakukan apa yang aku katakan. Ajari aku!" suara bentakan Reyhan membungkam ocehan Erick.


Seluruh badan Erick terasa kaku dan berusaha mencari kata yang enak didengar Reyhan. Dilema bercampur takut mengacaukan pikirannya. Erick menghela napas panjang seolah itu napas terakhirnya meski jantungnya dilanda debaran yang berantakan dia harus tetap melakukan perintah Reyhan.


"Hmm nafsu wanita itu dimulai dari kelembutan sebenarnya itu intinya apa yang mau lu lakuin itu harus dengan kelembutan itu cara memanjakannya,


apalagi waktu dia sedang sedih, gundah dia paling butuh belaian tuh." Tatapan serius Erick dibalas tatapan tajam Reyhan.


Beneran nih gua lanjutin, takutnya belum apa-apa ni anak tiba-tiba tonjok gua lagi karena jijik. Batin Erick.


"Lu cium dahinya nih ya sambil lu elus rambutnya lakukan itu dengan lembut. Cobalah untuk senyum ramah pokoknya rubah tu tatapan lu jangan kayak ke gua ya bisa-bisa pingsan dia. Lu cium pipinya terserahlah sekedar basa-basi atau apalah itu." Terdiam kehabisan kata-kata.


"Lalu!" gertak singkat Reyhan membuat Erick berpikir cepat.


"Ya elah Rey ngomong juga butuh tenaga siapin minuman kek, dari tadi gua disini gak ada apa-apa padahal gua kan tamu dan tamu adalah-


"Permisi Den, ini minumannya maaf agak lama karena toko terdekat tutup karena lock-down. Jadi ini nyarinya agak jauh," ujar bik Na memotong perkataan Erick.


"Kapan lu pesannya Rey, dari tadi gua gak lihat lu megang hp dan lu juga gak keluar kamar?" Erick melongo heran lalu menyeruput minuman bersoda kesukaannya.


Reyhan menunjuk monitor laptopnya, Erick hanya terbelalak dan terlihat semakin kagum pada Reyhan.


"Lanjutkan."


"Ehm, lu elus lembut telinganya perlahan lu baringkan dia pokoknya harus lembut mulai dah tu lu beralih ke telinganya dan cium lembut kalau perlu keluarkan lidah lu. Ketika dia sudah mengeluarkan desahan kecil balik lu ke wajahnya tapi kali ini bibirnya lu ***** lembut jangan langsung ekstrim. Ketika dia agak sedikit tenang lu mulai dah balik ke lehernya pelan dan benamkan kecupan lu ke lehernya biasanya gua pakai lidah sih hahaha jadi ingat gua." Omongan Erick terhenti ketika terbayang kenangan bersama mantannya.


Reyhan yang serius mendengarkan pun kesal dia menghentakkan sebuah roll berukuran sedang ke atas meja mengagetkan serta membuyarkan pikiran kotor Erick yang sudah melayang-layang tinggi.


"Eh iya sorry gua lanjutkan ni, di sudut lehernya lu cium lembut jangan sampai meninggalkan bekas karena itu sakit banget tapi ada saatnya sih dia suka. Tapi itu lu lakuin waktu lu dan dia nyatu lu pahamlah maksud gua. Saat lu mendengar desahan lagi, lu elus tuh buah dadanya pokoknya lu elus lagi dan setelah itu lu buka penghalangnya terus lu-


"Berhenti, kau boleh pulang sekarang." Wajah datar Reyhan yang berusaha terlihat normal memotong perkataan Erick yang semakin membuatnya tak bisa bernapas membayangkan melakukan hal kotor itu dengan Lyra.


"Lah ini kan belum selesai," ujar Erick yang masih bersemangat.


"Aku bilang berhenti ya berhenti aku tak butuh komentarmu." Reyhan berusaha semaksimal mungkin terlihat normal seperti biasa.


Kenapa lagi ni anak tiba-tiba nyuruh berhenti, tadi macam singa yang mengancam hidup mangsa saat gua berusaha nolak. Sekarang dah kayak raksasa ngusir gua dari sarangnya, atau jangan-jangan ni anak bernafsu lagi, gua godain ahh. Batin Erick sambil tersenyum licik.


"Rey, kok lu keringatan," ledek Erick berbohong.


Reyhan langsung meraba-raba wajahnya membuat Erick tertawa terpingkal-pingkal. Reyhan mengepalkan tangannya terlihat jelas urat saraf dan membuat Erick ketakutan tentunya.


"Oke gua pulang nih ya sabar-sabar," Erick melangkahkan kakinya keluar.


Reyhan menarik napas panjang dari napasnya yang sedari tadi berburu bersamaan pikiran kotornya.


"Rey, itu lu bangun ya." Bisikan Erick mengagetkan Reyhan, dia bangkit ingin mengejar Erick namun ia berpikir itu hanya akan membuang tenaganya karena napasnya yang terasa sesak sudah membuatnya lelah.


Reyhan mendekati tempat tidurnya yang luas king big size kapas empuk desainnya sendiri. Diraihnya remote yang tergeletak di atas meja lalu memencetnya seketika pintunya terkunci otomatis serta lampunya padam.


Diambilnya ponsel yang sudah berada di dekat bantalnya lalu disentuhnya layar ponsel tersebut.


Seharian aku sengaja tidak memberinya kabar, kenapa dia ikut-ikutan tidak memberi kabar. Apa dia sama sekali tidak merindukanku? Atau dia punya kesibukan lain atau Fardan datang ke rumahnya? Tidak mungkin dia kan menyukaiku dia pasti menjaga hati batin Reyhan.

__ADS_1


Saat dia memandangi poto Lyra seketika wajahnya merah padam, napasnya kembali memburu membuatnya meletakkan kembali ponsel tersebut.


Hanya melihat fotonya saja sudah buat aku gila begini gimana orangnya nanti ahhh!!! Cobaan untuk seseorang yang berusia 18 tahun dan baru mengalami pubertas apa harus separah ini, ini terlalu kejam bagiku. Batin Reyhan mengerang tersiksa.


DI LAIN SISI...


Lyra menatap ke arah luar jendela sinar mentari yang memerah pertanda senja akan berlalu membuatnya terbayang senyuman Reyhan yang menghiasi hari-harinya selama mereka pacaran.


Aku yang sudah pantas menikah ini kenapa tiba-tiba merasa seperti masih berumur 18 tahun efek kelamaan jomblo kali ya. Jadi sekali pacaran langsung berbunga-bunga terus, sangat bertolak belakang dengan usiaku atau mungkin karena aku berpacaran sama berondong. Batinnya mengacaukan pikirannya.


"Hei lagi-lagi bengong mikirin apa sih?" Siska mengagetkan Lyra.


"Reyhan." Jawaban yang tidak disengaja pun keluar.


"Cie-cie ada yang rindu rupanya," goda Siska.


"Iya-iya aku rindu puas," kesal Lyra merasa dipojokkan Siska.


"Ra, waktu aku ke rumah Reyhan nyariin kamu yang waktu itu diculik. Aku kan cuma sampai pagarnya doang tuh serius aku kaget banget lihat halamannya super luas. Tamannya hanya ada pohon pinus dan bunga berjenis daun-daunan tak terlihat bunga mawar atau bunga indah lainnya tapi itu sih aku lihat dari luar saja, tahu lah pak satpam langsung main cegat. Pas Reyhan datang, baru deh aku masuk ke halaman rumahnya ternyata masih jauh lagi, air pancur doang nampak kecil saking jauhnya. Yang lebih kagetnya aku pas melihat para pengawal Reyhan belum lagi Erick dan itu pertama kali aku jumpa sama Redro ya ampun dia paling muda dan sangat tampan karismanya waktu menghadap Reyhan itu masih terngiang jelas di kepalaku." Siska menghentikan ceritanya gambaran Redro memenuhi pikirannya.


"Sebenarnya inti dari cerita kamu tentang Redro ya." Lyra menggeleng-menggelengkan kepala melihat sahabatnya yang jatuh cinta untuk kesekian kalinya itu.


"Haha, sorry anggap saja tadi iklan sakit kepala, sebenarnya aku penasaran dengan isi rumah Reyhan," lanjut Siska.


"Jadi."


"Kamu sudah pernah masuk ke dalam rumahnya 'kan ceritain dong penasaran nih," rengek Siska.


Lyra tersenyum, ia menormalkan kembali cara duduknya yang tadinya sedikit tengkurap.


"Rumahnya biasa aja kok ada kamar dan kamar mandi serta dapur." Ucapan Lyra membuat Siska kesal karna terlanjur sangat penasaran.


Siska yang sudah sangat penasaran tak kalah memelotot.


"Apa?" tanyanya singkat.


"Letak kolam buayanya." jawaban Lyra sontak membuat Siska melompat karna terkejut.


"Serius Reyhan punya peliharaan mahluk mengerikan itu." Siska tipekal penakut pada binatang buas terutama buaya, tapi enggak tahu kalau sama buaya darat ya šŸ˜….


"Tepatnya 7 ekor buaya Sis dan kamu tahu dia pernah ngasih manusia sebagai santapan untuk buaya kesayangannya itu." Lyra semakin berbicara serius tatapannya membuat Siska merinding.


"Apa dia sudah gila ya. Banyaknya hewan peliharaan di dunia ini misalnya kelinci kenapa harus pilih buaya sih yang sewaktu-waktu bisa memakannya," protes Siska.


"Dan yang paling mengejutkanku dia bilang buaya itu imut apalagi dia sangat iri dengan buaya yang bernama Kooki." Lyra melanjutkan ceritanya yang bahkan dirinya sendiri merasa ngeri setiap kalimat tentang peliharaan Reyhan itu ia ceritakan tapi apalah daya sudah terlanjur.


"Ah segitu sayangnya dia sampai ada namanya, benar-benar berondong aneh," kata Siska sedikit kesal.


"Kooki, Chimmy, Tata, Mang dan lain-lain aku enggak tahu lagi," ujar Lyra sambil mengacak-acak kasar rambutnya merasa frustasi.


"Ra, aku enggak menyangka akhirnya kamu dapat Reyhan yang tampan, kaya dan sangat sayang sama kamu. Kamu itu bagaikan cinderella dikehidupan nyata. Tapi aku nggak merasa iri sama sekali karena kamu sahabatku dan sejauh aku mengenalmu, kamu sangat pantas mendapatkannya. Tuhan sangat adil padamu." Tak terasa air mata terharu Lyra jatuh ia tatap lekat wajah Siska karena orang yang paling setia di dekatnya setelah kepergian orang tuanya itu adalah Siska, sahabatnya.


Lyra melambungkan pelukannya pada Siska dan tangisnya semakin pecah, membuat Siska melepaskan pelukannya.


"Sudah-sudah itu ingusmu jatuh. Joroknya." Siska mengerutkan dahinya berpura-pura merasa jijik.


"Ah kamu kira aku percaya apa," ujar Lyra sambil menghapus air matanya yang masih menetes.


"Sudah gelap, kita makan malam yuk tadi aku buatin kentang balado dan tumis bayam enak banget," ajak Siska.


"Aku enggak suka itu aku maunya steak dan spaghetti," ujar Lyra dengan nada memelas.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu aku habiskan ya? Jangan nyesal." Siska berjalan menuju dapur.


"Tidaaaaaak!" teriak Lyra sambil berjalan cepat ke dapur.


DI SISI LAIN...


Para ART berdiri tegak memperhatikan Reyhan dan Redro yang sedang makan sambil berhadapan. Mereka dipisahkan oleh meja panjang dan duduk di 2 sudut.


"Bik Na tinggalkan kami berdua," ujar Reyhan memecahkan keheningan yang sedari tadi terjadi.


"Baik Den, ayo kita ke belakang." Bik Na berjalan menuju ke belakang dan diikuti 4 ART lainnya.


"Kau boleh bicara," ujar Reyhan sambil mengangkat tangannya bertumpu di atas meja.


Redro meletakkan sendok dan garpunya dan menatap ke arah Reyhan.


"Den, Fardan adalah putra dari pak Harun Handoko orang yang pernah Aden depak dari RZ grup karena membuka Satwa ilegal di Kota bagian Barat," jelas Redro sambil berjalan ke arah Reyhan dan menunjukkan beberapa foto dari masa kecil Fardan hingga sekarang sebagai bukti.


"Hah, dari awal aku sudah menebaknya tatapan ramahnya hanyalah sebuah topeng belaka. Dan yang lebih parahnya dia menyukai Lyra." Reyhan menatap tidak suka.


"Apa kita habisi saja dia," saran Redro.


"Tidak perlu, intinya kau awasi dia dan usahakan menjauhkan kak Siska darinya dan untuk sementara kau ubahlah identitasmu menjadi tidak berhubungan apapun denganku. Mulai malam ini kau tinggallah di apartemen kembali tidak terlihat, agar dia tidak curiga dan tidak akan menggunakan Siska bahkan Lyra sebagai ancaman, jadilah orang biasa," jawab Reyhan.


"Jadi seperti apa Den? Saya paling tidak bisa akting apalagi merubah identitas saya," jawab Redro.


"Sejak kapan kau meminta pendapatku dalam masalah seperti ini." Tatapan tajam Reyhan seolah mengancam Redro.


"Baiklah, saya akan cari cara untuk mengubah semua menjadi tidak terlihat." Raut wajahnya tampak terlihat santai meski dalam hatinya belum mendapat ide untuk mengubah identitasnya seperti yang Reyhan katakan.


Reyhan tersenyum tipis seolah tahu kegundahan hati Redro yang dipersulitnya.


"Redro, apa kau mau ku beri saran?" tanya Reyhan.


"Saya mengerti Den, secepatnya akan saya ubah." Redro merubah raut wajahnya yang terbaca oleh Reyhan tersebut.


"Jadilah pacarnya Siska," ujar Reyhan sambil menyandarkan tubuhnya.


"Apa?"


"Perlu ku ulangi lagi." Tatapan Redro semakin tajam.


Redro menggelengkan kepalanya, mengerti perkataan Reyhan merupakan gertakan halus untuknya.


"Mintalah bantuannya itu tidak terlalu sulit bukan, dan lagi ini menyangkut keamanannya sendiri, bukankah aneh kalau dia menolak, kecuali...."


"Kecuali apa Den?"


"Kecuali dia suka sama kamu, entahlah aku hanya asal bicara saja benar-tidaknya aku tidak bisa jamin. Kirimkan 3 orang untuk berjaga-jaga di sekitar rumah Lyra jangan sampai terjadi apa-apa padanya. Kalau itu terjadi nyawa sekalipun sudah tidak berharga." Tatapan tajam kali ini benar-benar membuat Redro kelabakan dia tidak menjawab apapun selain anggukan pertanda mengerti.


"Kembali ke kursimu dan lanjutkan makan malammu, kau terlihat kurus akhir-akhir ini." Reyhan beralih meninggalkan Redro sendiri di ruang makan.


Redro masih bingung memikirkan perkataan Reyhan yang berpura-pura menjadi pacar Siska.


Bukankah itu hanya akan menyakitinya. Batinnya bergumam dan dilema.


BERSAMBUNG....


TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR JANGAN LUPA LIKE, KOMENNYA YA.....


__ADS_1


__ADS_2