
Siska dan Vanes membopong Lyra masuk ke dalam mobil yang terpisah dengan Reyhan menuju lokasi acara tempat diadakannya resepsi.
"Hahaha kamu lihat nggak wajah Reyhan tadi. Itu imut banget tahu," ujar Siska sambil tertawa.
"Oh, jadi kalian sengaja ya?" tanya Lyra.
"Nggak Kak, kami hanya menjalankan tugas saja," sanggah Vanes.
"Yups, itu mama yang perintahkan, mama hanya ingin melihat ekspresi Reyhan ternyata dia memang tidak bisa jauh dari kamu bahkan sedetik pun. Ah jadi ingat pada papa Reyhan ekspresinya sama hanya saja dia tidak protes sedikit pun. Tetapi di dalam hati beda lagi ceritanya. Jadi kangen masa-masa indah itu," jawab Marta yang dengan sengaja mengerjai anaknya sendiri dan tiba-tiba teringat kenangan masa lalu bersama almarhum suaminya.
"Mama sudahlah jangan mengingat hal itu lagi kasihan papa di surga," ujar Lyra sambil menyentuh punggung tangan Marta.
"Benar Tante om pasti sedang melihat Tante dari atas sana," sambung Siska.
"Ah benar juga aku tiba-tiba ingat, Reyhan pernah bilang kalau dia tidak ingin aku terlihat jelek di samping Lyra nanti. Ah untungnya make up ku tidak luntur." Marta langsung tersadar bahwa bukan saatnya ia larut dalam kesedihan di hari bahagia anaknya.
"Permisi, apa semuanya sudah lengkap?" tanya pak Mat yang tiba-tiba datang.
"Lho, besanku dimana toh Pak?" tanya Marta sambil melihat ke sekeliling mobil.
"Anu Nyonya, mereka berangkat dengan Sadiq, bareng mbok Sum dan yang lainnya," jawab pak Mat sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita berangkat!" seru Marta sambil mengangkat kedua tangannya yang membuat Lyra, Siska dan Vanes menatap heran dengan tingkah lakunya yang terlihat seperti anak kecil.
***
"Sudahlah Rey, jangan cemberut mulu. Kak Lyra itu nggak akan lari kok. Ayo dong smile," ujar Erick mencoba menghibur Reyhan yang duduk di kursi belakang mobil.
"Diamlah, aku sedang tidak ingin bercanda." Reyhan menyandarkan tubuhnya sambil memijat pelan kepalanya.
"Sejak kapan lu punya waktu untuk bercanda, iya nggak Redro?" Menatap Redro yang sedang memakai seat belt.
"Den Reyhan benar." Kalimat singkat keluar dari mulut Redro.
"Belain terus tuh tuan tercinta lu. Oke boy dimata lu memang Reyhan yang paling terbaik. Oke baik, manjain terus dia," Erick menyandarkan tubuhnya serta mengerutkan dahinya pertanda kesal terhadap Reyhan dan Redro.
"Erick, apa kau masih ingat alamat rumah Rania?" tanya Reyhan.
Erick tidak menjawab ia mengalihkan pandangannya ke luar mobil. Reyhan mengerti kekesalan yang dialami sahabatnya itu, tapi itu bukan berarti apa-apa baginya.
"Redro tendang dia keluar!" perintah Reyhan dengan santainya.
"Eeh iya-iya gua tahu iya gua ingat kok. Lu ya Rey, memang enggak ada rasa kasihan sama sekali gua ini 'kan sahabat lu," protes Erick.
"Jawab saja apa yang ku tanyakan." Tanpa mau mendengar omelan Erick.
"Gua enggak tahu tuh nama alamatnya. Tetapi gua ingat di jalan mana, memangnya kenapa sih lu tiba-tiba ingat sama tuh cewek dia kan pacarnya Fardan si psikopat itu?" tanya Erick heran.
"Den Erick salah, dia itu yang telah membantu nona Lyra untuk kabur. Dia bersedia menggantikan nona Lyra menjadi pengantin Fardan." Redro menyanggah perkataan Erick.
"Hah? Serius lu benaran Rey. Ya elah tahu gitu gua enggak akan diam saja waktu dia bilang terima kasih ya ampun, kejam amat gua jadi cowok ya." Mengusap kasar wajahnya.
Reyhan menyandarkan tubuhnya tiba-tiba ia teringat akan pembicaraan yang ia dan Lyra lakukan pada 3 hari yang lalu.
FLASH BACK
__ADS_1
"Rey, boleh aku tanya sesuatu. Ah tidak, lebih tepatnya semacam minta tolong?" tanya Lyra sedikit ragu.
"Selama aku sanggup tentu saja," jawab Reyhan memandangi Lyra yang tidak jadi turun dari kursi mobil.
"Itu, kamu ingat Rania 'kan itu lho temanku yang waktu itu disekap juga oleh kak Fardan?" tanya Lyra dengan serius, berharap Reyhan menjawab iya."
"Sampai sekarang kamu masih begitu mesra memanggilnya. Apa dia sebegitu spesialnya ya dihatimu. Hah! Kak Fardan?" Reyhan tersenyum tipis berusaha menahan emosinya.
"Maaf kami sudah lama kenal jadi aku tidak bisa mengubah panggilan itu. Tetapi kamu tenang saja aku akan berusaha sekuat tenaga dan pikiranku untuk mengubahnya," jawab Lyra meyakinkan Reyhan.
"Baiklah lanjutkan cerita yang tadi. Ini sudah sangat malam kamu butuh istirahat." Melirik jam mini yang melingkar di tangannya.
"Hmmm, Rey aku mau kita temui dia. Aku ingin berterima kasih atas pertolongannya. Kemarin aku terus dihantui rasa bersalah Rey," jawab Lyra.
"Berterima kasih untuk apa? Bukankah seharusnya dia yang mengatakan itu? Karena kitalah yang membantunya keluar dari cengkraman Fardan?" tanya Reyhan menatap bingung.
"Enggak Rey, justru dia lah yang suka rela menggantikan aku tanpa diiming-imingi hadiah sebagai balasannya. Dia bersedia menolongku karena melihatku menangis dipaksa menikah. Dia gadis yang baik Reyhan." Lyra menjelaskan sikap Rania yabg sesungguhnya waktu itu.
"Baiklah, kita akan menemuinya nanti akan aku tanyakan pada Erick karena hanya dialah yang tahu dimana alamat Rania."
Lyra mengangguk pelan tapi seketika wajahnya terlihat sedang berpikir sejenak ada hal lain lagi yang masih mengganjal di benaknya.
"Ada permintaan lain lagi?" tanya Reyhan.
"I-iya tetapi ini kalau kamu mau sih," jawab Lyra dengan sedikit ragu.
"Apapun itu untukmu, jika kamu mau meminta dunia akan aku berikan. Cobalah untuk tidak sungkan, Lyra aku ini calon suamimu jadi terbukalah tanpa rahasia apapun." Reyhan meyakinkan Lyra agar mau mengatakan hal lain yang sedang ia pikirkan.
Mendengar perkataan Reyhan barusan membuat Lyra merasa cukup lega, sebelum mengatakan hal itu. Dia sesekali menarik napasnya agar merasa sedikit tenang.
"Rey, maukah kamu mengangkat Rania menjadi adik kamu?" tanya Lyra pelan.
"Aku sudah menduganya. Tetapi tolonglah Rey, aku ingin kamu menjadikannya adik angkat please?" Lyra memohon dengan sangat.
"Sebenarnya apa lagi tujuanmu Lyra? Jika kamu ingin bilang tentang pemberian hadiah berapapun itu akan aku berikan. Tetapi untuk adik angkat, bukankah itu sangat berlebihan?" Memelotot bingung menolak halus permintaan Lyra.
"Bukan begitu Rey, dia bekerja keras untuk neneknya yang sedang sakit-sakitan dikarenakan orang tuanya yang lepas tanggung jawab terhadap mereka. Tolonglah Rey, kalau bukan karena dia mungkin saat ini aku sudah menjadi milik Fardan atau mungkin aku sudah mati karena akan memilih bunuh diri, sebelum dinikahi olehnya." Lyra berusaha menjelaskan semua isi pikirannya yang beberapa hari ini mengganggunya, bulir air mata mengiringi setiap kalimat yang ia lontarkan.
"Iya-iya Lyra baiklah tapi tolong jangan menangis aku tidak sengaja membuatmu menjadi emosional begitu." Dengan panik, Reyhan berusaha menenangkan Lyra yang sudah terlanjur menangis.
"Jadi bagaimana apa kamu bersedia?" tanya Lyra yang sudah sesenggukan.
"Iya baiklah aku mau. Tetapi kita harus menanyakan hal ini pada mama karena dia berhak tahu tentang ini," jawab Reyhan.
Lyra mengangguk senang wajahnya yang tadi sendu dan sedih itu langsung berubah bagaikan membalikkan telapak tangan.
"Pulang dan istirahatlah ingat untuk tidak begadang," ujar Reyhan.
"Oke deh, kamu hati-hati ya nyetirnya. Aku pergi dulu dahhh!" Lyra menutup pintu mobil lalu berlari masuk.
"Apa dia sesenang itu? Hah adik angkat." Reyhan kembali menyetir mobilnya setelah memastikan Lyra masuk ke dalam rumah.
FLASH BACK OFF
"Rey sudah sampai nih. Lu mau melamun sampai kapan? Tadi cemberut terpisah dari Lyra tiba mau jumpa lagi malah melamun kerasukan baru tahu rasa lu," ujar Erick.
__ADS_1
Redro membukakan pintu mobil untuk Reyhan. Reyhan pun turun ia mengerutkan dahi heran melihat gedung yang baginya sedikit berubah.
"Ini tetap gedung yang sama kok Rey cuma kita lewat pintu belakang. Kalau dari depan bisa-bisa lu dipijak lagi oleh para tamu belum lagi wartawan yang mulai kepo dengan kehidupan lu." Erick menjelaskan seakan tahu isi hati Reyhan yang kebingungan.
"Baiklah ayo kita masuk." Reyhan berjalan terlebih dahulu lalu diikuti oleh Erick dan Redro dari belakang.
"Ah ternyata gua tampan juga enggak kalah jauhlah dari Cha Eun Woo," ujar Erick sambil melakukan gerakan ala model di cermin.
"Cha Eun Woo? Apa kau mengenalnya?" tanya Reyhan yang sedari tadi hanya duduk manis.
"Hmmm kenal dekat sih enggak, cuma pernah nyapa doang waktu itu 'kan gua nemenin nyokap menghadiri event di Korea. Kebetulan dia salah satu bintang tamunya, selain aktor ternyata dia juga bergabung dalam grup boyband yang bernama Astor atau apalah itu lupa gua. Gerakannya itu luwes banget kurang lebih kayak gini set, set, set," jawab Erick sambil menggerakkan tubuhnya.
"Hentikan itu kau terlihat seperti kambing yang menahan buang air besar," ujar Reyhan.
"Sekalian saja kambing kawin Rey, biar lu puas. Jadi, teman enggak ada baik-baiknya lu bikin kesal aja." Erick menghentikan gerakan tersebut dan duduk menahan kekesalannya terhadap Reyhan.
"Permisi Den, ini jas yang harus dipakai Den," ujar Redro sambil memberikan satu set jas lengkap.
Reyhan pun masuk ke dalam ruang ganti yang hanya dipisahkan dengan tirai saja. Tak butuh waktu lama ia pun kembali keluar dengan memakai jas yang diberikan oleh Redro tadi.
"Permisi ini ya ruangan mempelai prianya. Eh kamu ya bernama Reyhan Almirza wah rumor itu ternyata benar kamu sangat tampan." Seorang wanita dengan balutan pakaian yang cukup sexy, tanpa dipersilahkan masuk langsung berjalan mendekati Reyhan.
"Maaf tapi sepertinya kami-"
"Eh dasinya ini salah sayang, sebentar ya aku rapikan." Tanpa mendengar perkataan Erick ia mulai menyentuh dasi Reyhan.
Redro dengan cepat langsung menghentakkan tangan wanita itu hingga membuat tubuhnya jatuh tersungkur di bagian kaki kursi.
"Kau sudah berbuat yang tidak sopan. Keluarlah! Sebelum aku menendangmu," kata Redro.
"Hei kau kasar sekali aku ini seorang wanita lho!" teriak wanita itu yang sudah berdiri meski tidak seimbang karena kakinya sedikit keseleo.
"Kami sudah memperlakukanmu dengan lembut, tangan jalangmu itu sudah melakukan kesalahan besar. Jadi, sebelum dia menghabisimu disini aku sarankan pergilah dengan tenang," ujar Erick sambil tersenyum tipis.
"Dasar psikopat gila!" teriak wanita itu lagi sambil berjalan keluar dengan sempoyongan.
Tok! Tok
Siska mengetuk pintu spontan membuat mereka menoleh secara bersamaan dan membuat Siska merasa lucu.
"Rey, acaranya segera akan dimulai kamu turunlah lewat li**ft, kami akan membawa Lyra lewat tangga," jelas Siska sesekali menatap ke arah Redro.
"Kenapa dia harus melewati tangga sedangkan aku menggunakan lift?" Reyhan tampak bingung dengan aturan pernikahannya.
"Karena dialah ratu sehari yang akan mencuri hati para tamu. Begitu ia menuruni anak tangga semua mata tertuju padanya," jawab Siska.
"Widih mantap Rey, kenapa gua enggak pernah lihat pesta pernikahan sebelumnya ya. Menyesal banget gua." Menyentuh pundak Reyhan.
"Kalau tidak ada pertanyaan aku pergi dulu ya." Siska berjalan pergi.
Sesuai yang dikatakan Siska, Reyhan beserta Redro dan Erick turun menggunakan lift sedangkan Lyra yang dituntun oleh Siska dan Vanes menuruni anak tangga dan benar saja Lyra menjadi pusat perhatian para tamu. Mereka tampak begitu terkesima melihat detail riasan wajah Lyra serta gaun indah yang membaluti tubuhnya.
Mereka berjalan bak putri raja yang anggun di seberang tampaklah Reyhan yang sedang berdiri tegak menunggu istri cantiknya itu. Dengan hati yang berdebar-debar Lyra berjalan menuju pangeran tampannya yang tersenyum menyambutnya.
Mereka berdua pun dipersilahkan untuk duduk.
__ADS_1
Rangkaian acara pun berjalan lancar tanpa kurang satu pun jua. Pernikahan mewah mereka pun menjadi trending topik. Hanya saja Reyhan berusaha menghindar dari kejaran media yang ingin meliput kehidupan pribadinya.
BERSAMBUNG....