
Reyhan memandangi Redro yang sedang serius memperhatikan cincin-cincin yang dikeluarkan dari kotak kaca oleh anak buah Chang Hi pemilik toko perhiasan mewah yang Reyhan datangi kemarin.
Aku tidak menyangka nafsumu lebih menggebu-gebu dibandingkan denganku. Hah ciuman entah darimana kau mempelajarinya. Batin Reyhan sambil terus memandangi Redro dengan serius.
"Maafkan kejadian kemarin ya tuan muda Reyhan, saya secara pribadi sudah mencabut saudara Sucipto serta Yessi putrinya dari list pelanggan," ujar Chang Hi sedikit canggung.
"Sebenarnya itu tidak perlu, urusanku dengan dia saat itu memang berada di areamu tapi kalau kau juga sampai turun tangan, aku tidak enak hati juga," jawab Reyhan sambil tersenyum tipis.
Chang Hi semakin canggung terhadap Reyhan dan merasa semakin direndahkan tapi dia sangat mengerti dan sangat mengenali Reyhan dengan baik.
"Kau sudah datang Chang Hi?" Marta menuruni anak tangga.
"Iya Nyonya Marta, sudah lama ya di Indonesia?" Menatap tak percaya.
"Hmmm, kalau nggak salah sih belum genaplah sebulan." Tersenyum dan berjalan mendekat.
Chang Hi adalah mantan karyawan yang pernah bergabung dengan grup Almirza. Hanya saja ia lebih menekuni bidang desain perhiasan. Reygan dan Marta mendukungnya bahkan memberikan biaya tambahan untuk merintis bisnisnya yang sekarang sudah jauh terkenal hingga ke luar negeri itu.
"Redro, aku melihatmu memegangi cincin itu hingga berjam-jam. Apa kau menyukainya?" tanya Reyhan.
"Ah saya hanya merasa bingung dengan warnanya yang terlalu mencolok Den," jawab Redro lalu meletakkan kembali cincin tersebut ke dalam kotak.
"Itu namanya fatamorgana galaksi, kami mengerjakannya lumayan lama sih sekitar tiga bulan dengan lima orang pekerja. Kami harus berpikir keras untuk bahannya. Selama itu aku selalu melewatkan jam makan siangku." Chang Hi menjelaskan.
"Kalau kamu mau cincinnya ambil saja agar kelak kamu punya pacar lamar pakai cincin ini saja pasti dia suka," ujar Marta sambil mengeluarkan kembali cincin tersebut.
"Tapi kalau memang sudah punya pacar ada baiknya kalau langsung lamar saja. Jangan tarik ulur hati nanti dia pergi lho?" Reyhan menyindir Redro yang mengerti bahwa sindiran itu tertuju padanya.
"Redro sudah punya pacar?" tanya Marta memelotot.
"I-iya Nyonya saya-"
"Ini harus dirayakan akhirnya Redro kecil kita tahu juga membedakan mana cewek dan mana cowok." Marta menepuk pelan punggung Redro yang wajahnya sudah memerah karena malu.
Triiing...
Sebuah pesan masuk ke ponsel Reyhan yang berasal dari Lyra.
Aku sudah di depan rumahmu ini, bisa jemput aku tidak jangan bertanya lagi kenapa aku nggak masuk.
Reyhan tersenyum menanggapi pesan Lyra, dengan langkah yang cepat ia keluar dari rumah menemui Lyra yang sudah menunggunya di luar halaman.
"Sudah lama menunggu?" tanya Reyhan sambil membukakan pagar besi nan tinggi itu untuk Lyra.
"Ma-maafkan saya Den tadi-"
"Saya tahu, tidak apa-apa kembalilah bekerja." Melambaikan tangan kanannya.
"Tadinya aku mau masuk tapi karena aku sudah lama nggak ke sini jadi agak ragu, Rey." Mengerutkan dahinya dan memelas.
"Aku mengerti, ayo kita masuk mereka sudah menunggu." Menarik pelan tangan Lyra.
"Eh Lyra, putriku sudah datang." Memeluk lembut tubuh Lyra.
"Putrimu?" Memelotot heran.
"Iyalah sebentar lagi kamu dan dia akan menikah, kamu kan anakku dan otomatis dia akan menjadi putriku. Aku terlalu malas menyebutkan kata-kata menantu atau mertua, soalnya itu terlalu sensitif kalau dibahas." Marta menjelaskan.
Semua yang tadinya keheranan melihat tingkah laku Marta yang barusan pun mulai tersenyum perlahan. Pertanda mengerti dengan penjelasan Marta.
"Apa Nyonya Marta yang akan memilihkannya untuk Nona ini?" tanya Chang Hi ramah.
"Ya tentu saja itulah makanya kenapa aku di sini." Memperhatikan detail desain setiap cincin yang ia pegang.
"Ah jadi ingat bagaimana dulu Nyonya mempromosikan perhiasan dari toko. Itulah awal yang membuat aku sukses banyak investor luar negeri yang menawarkan kerja sama, aku jadi sulit bernafas karena rentetan telepon yang harus kujawab tanpa non-stop, untungnya Almarhum tuan Reygan memberiku beberapa pekerja tempatku berbagi beban," jelas Chang Hi lalu tersenyum mengenang masa lalu keterpurukan yang membawanya kepada masa depan yang cerah.
"Ah aku tidak sebaik itu," ujar Marta kepada Lyra yang sedang menatapinya dengan sendu.
"Maaf Kak Redro itu untuk Siska ya?" Pertanyaan spontan dari Lyra membuat Redro terpaksa harus menahan malu ketika mendengar nama kekasihnya disinggung.
__ADS_1
"Siska? Teman kamu yang itu ya. Redro berpacaran dengannya ya?" tanya Marta memelotot kaget penasaran.
"Iya Nyonya," jawab Redro singkat sambil menganggukkan kepalanya.
"Wah ini sangat menakjubkan dua pria polos yang mirip dengan kulkas ini jatuh cinta kepada dua sahabat yang periang. Dunia ini memang kecil sekali ya. Apa ini musim bunga cinta? Aku terlalu bahagia untuk ini." Tersenyum senang.
Reyhan dan Redro hanya bisa menatap heran pada tingkah laku Marta yang terlihat seperti anak remaja yang sedang mengalami masa pubertas.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Lyra terus menatap Reyhan yang sedang serius menyetir dan tentu saja Reyhan tahu kalau dia sedang ditatap oleh Lyra.
"Enggak nyangka banget ya kalau sebentar lagi kita akan menikah," kata Lyra sambil tersenyum tipis.
"Kamu benar, tapi jodoh kan memang nggak bisa ditebak kapan datangnya, apa yang kamu rasakan saat ini?" Menatap ke arah Lyra.
"Ya tentu saja aku bahagia, kamu tahu nggak Rey-"
"Tidak."
"Ih dengerin dulu." Menatap kesal.
"Aku kira kamu bertanya, makanya aku jawab." Berpura-pura tidak mengerti.
"Aku kira pertemuan di rumah sakit adalah pertemuan terakhir kamu ingat nggak waktu itu aku panggil kamu dengan sebutan adek hahaha itu lucu banget nggak sih, Rey." Tertawa sambil menepuk-nepuk dadanya.
"Apa bagimu itu lucu?" tanya Reyhan dengan ekspresi datar.
Sadar akan reaksi Reyhan yang tak sama dengannya, Lyra pun langsung menghentikan tawanya yang menggelegar tadi.
"Kamu memang nggak punya selera humor sama sekali Rey. Kamu sangat menyedihkan." Mengejek Reyhan.
"Setelah menikah, kamu ingin bulan madu kemana?" tanya Reyhan tidak menanggapi ejekan Lyra barusan.
"Bulan madu? Kamu sudah ada planning ke sana, Rey." Memelotot kaget.
"Iya, sebentar lagi aku akan mengambil alih perusahaan papa. Kemungkinan dalam sebulan aku akan ke Amerika, banyak yang harus aku pelajari karena menurut para pemegang saham di sana aku ini masih tergolong sangat muda. Jadi, mereka sepertinya sangat meremehkan aku bahkan saling memperebutkan kursi kepemimpinan. Ya begitulah manusia kursi teratas akan jadi incaran. Sebab itulah aku sangat malas berhubungan dengan perusahaan tapi sepertinya takdir berkata lain," jelas Reyhan.
"Aku tidak bermaksud meninggalkan kamu di sini sendirian. Tetapi di sana aku akan sangat sibuk dan kemungkinan aku tidak akan pulang. Apa kamu mau aku tinggal-tinggal terus? Aku hanya berpikir di sini kamu masih punya teman untuk menghabiskan waktumu sedangkan di sana?" Mencoba menjelaskan.
"Aku tidak masalah dengan itu. Aku hanya ingin tetap berada di samping suamiku kemanapun dia aku akan ikut, itu sudah kewajibanku Rey."
"Baiklah aku lega mendengar jawabanmu, aku kira kamu akan memilih untuk tetap di sini tapi ternyata pemikiran kita sama, ternyata kamu membutuhkan aku juga." Tersenyum lalu menatap dalam pada Lyra.
"Iyalah karena aku juga ingin jalan-jalan ke luar negeri." Lyra bergumam pelan.
"Apa?"
"Ah tidak ada, oh ya kapan kita ke Amerika-nya?" Memegang pundak Reyhan.
"Hmmm kemungkinan lima hari setelah pernikahan." Tampak sedang berpikir.
"Baiklah, apa aku harus belajar bahasa Inggris dari sekarang. Aku sangat buruk dalam hal itu Rey." Memanyunkan bibirnya.
"Tidak perlu, andalkan aku saja." Sambil mengunyah permen karet.
"Tapi kalau aku mau jalan-jalan bagaimana? Aku kan juga pasti sangat suntuk Rey, aku akan-"
"Sudah ku duga akan seperti ini. Sebelum semuanya terlambat putuskan dari sekarang jika kamu butuh teman mending tinggal di sini saja, aku tidak mau membebanimu ikut aku dengan terpaksa."
"Ya sudahlah, aku akan menunggumu, aku tidak akan keluar dan akan patuh aku janji Rey." Sambil menunjuk dengan kelingkingnya pertanda sedang meyakinkan Reyhan akan ucapannya barusan.
Reyhan yang dengan terpaksa pun membalasnya, Lyra langsung tersenyum lebar.
***
"Satu, dua, tiga ah tiga hari lagi kamu akan melepas masa lajangmu, Ra aduh kenapa aku yang deg-degan begini ya?" Menyentuh bagian detak jantungnya.
"Aku malah galau, Sis." Mengerutkan dahinya tampak sedih.
__ADS_1
"Kenapa lagi Neng, jangan berpikir yang lain-lain deh fokus dong Ra." Mengusap-usap rambut Lyra.
"Sehabis menikah aku akan ikut Reyhan ke Amerika. Dia mau mempelajari cara memimpin perusahaan almarhum papanya, Sis aku jadi sedih karena harus ke sana tanpa kamu." Menatap Siska dengan sendu.
"Lyra, ternyata itu masalahnya mulai sekarang jangan memikirkan aku. Ingat setelah menikah kamu hanya milik Reyhan seorang, aku hanya akan sebagai yang kesekian Ra. Tetapi setelah mendengar penuturan barusan aku jadi sadar ternyata aku spesial juga di hatimu." Tersenyum senang.
"Ye, memangnya Redro doang yang boleh, oh ya tadi Redro-"
Tok Tok
Seorang pria yang tampak familiar muncul di hadapan mereka yaitu Redro Aldwin. Ia tampak hanya memakai kaus oblong keluaran brand dari channel serta memakai celana levis hitam yang panjangnya hanya selutut. Ia sangat terlihat berbeda tanpa memakai setelan jas yang selalu menutupi tubuhnya.
"Maaf, Siska apa kamu ada waktu aku-"
"Tentu saja, Ra aku pergi dulu ya dah...." Melambaikan tangannya lalu berjalan keluar bersama Redro.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Ada apa? Kenapa kamu sangat terlihat murung sekali?" tanya Siska bingung.
"Aku akan ke Amerika dalam waktu sebulan apa kamu sanggup pacaran jarak jauh?" tanya Redro balik.
"Kamu mau menemani Reyhan kan di sana karena sebentar lagi dia akan menjadi pemimpin perusahaan papanya." Menggenggam tangan Redro.
"Pasti Lyra sudah cerita banyak ya, maaf ini pekerjaanku aku terpaksa harus mening-"
"Ssst, aku sangat bangga melihatmu begitu setia pada pekerjaanmu. Tetapi ingat ya, selama di sana jangan macam-macam kalau bisa saat berjalan di muka umum kamu tutup mata saja. Ingat! Aku selalu ada di sini." Menunjuk ke arah dada bidang Redro mencoba memberi ancaman.
Redro tersenyum membuat Siska terkejut untuk kesekian kalinya melihat pacar kulkasnya itu perlahan menjadi seseorang yang hangat. Redro mendekati Siska lalu mengecup dahinya membuat Siska tak bisa bicara apa-apa lagi, ia hanya memberi reaksi memelotot terkejut.
"A-aku pulang dulu kamu hati-hati di jalan!" teriak Siska sambil berlari tanpa menoleh ke arah Redro.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Redro, apa kau sudah menyiapkan semua file pembelajaran untukku?" tanya Reyhan dengan pandangan yang serius.
"Sudah Den, apa mau lihat sekarang?" Menunjukkan Amplop coklat yang berisikan berkas
"Tidak usah, aku butuhnya nanti saja acara pernikahanku jauh lebih penting." Menyandarkan tubuhnya ke sisi sofa.
"Den sebentar lagi akan menikah, tapi apakah nona Lyra tahu kalau Aden akan sibuk nantinya?" tanya Redro lalu duduk di sofa depan Reyhan.
"Ya aku sudah banyak cerita padanya dari A-Z dia sudah memahaminya, bagaimana denganmu sampai kapan kamu akan menggantungkan anak orang, ingat umurmu sudah tidak muda lagi begitu juga dengan kak Siska dia pasti sangat ingin kau nikahi." Memelotot serius.
"Aku sudah mempertimbangkannya Den kemungkinan selisih lima bulan saja, tapi aku memang belum membicarakan hal ini dengan Siska, aku tahu dia pasti menunggu kata-kata manis dariku untuk mengajaknya menikah." Tersenyum tipis.
Melihat Redro yang tersenyum manis di depannya tiba-tiba ia teringat acara radio yang pernah dihubungi oleh Siska.
"Sejauh mana hubunganmu dengan kak Siska, apa memang sudah sangat serius?" tanya Reyhan.
"Ya, seperti Aden dan nona Lyra, memangnya ada apa Den?" tanya Redro yang heran dengan sikap Reyhan yang biasanya cuek dengan kehidupan pribadi Redro apalagi mengenai persoalan percintaannya.
"Ini sudah berbeda bentuknya." Sambil menunjuk bibirnya.
"Apa? Memangnya ini terlihat mencolok ya." Memelotot kaget mendengar penuturan Reyhan yang menyinggung ciumannya.
"Hmmm, ternyata dalam hal ini kau lebih mahir dariku ya," goda Reyhan.
"I-itu saya."
"Ya sudahlah santai saja mungkin aku yang terlalu kolot dalam hal ini. Aku mau istirahat dulu kau kurangilah begadangmu ingat mengistirahatkan wajah itu sangat penting." Mulai bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamarnya.
"Kenapa den Reyhan bisa tahu?" Redro bertanya-tanya.
BERSAMBUNG.....
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA MAAF BARU UP, KURANG ENAK BADAN SOALNYA LUV U READERS KU
JANGAN LUPA HUJATANNYA YA.
__ADS_1