
Malam itu, Lyra tidak bisa tidur. Bayangan perkataan Vica sewaktu pidato mengganggu pikirannya. Ditatapnya lekat wajah Reyhan, wajah tampan dan manis yang memikat setiap mata kaum hawa yang melihatnya.
Lyra mendesah, 'ada apa denganku? Kenapa aku tiba-tiba menjadi takut begini,' batinnya.
Perlahan mata Reyhan terbuka, disingkirkannya guling pemisah dirinya dengan sang istri. "Kali ini apa lagi yang mengganggumu?" tanyanya seraya mendekati wajah istrinya.
Bukannya menjawab, Lyra justru dibuat terkejut dengan wajah Reyhan yang menurutnya kian hari semakin tampan.
Reyhan mengerutkan dahinya, disentuhnya hidung Lyra. Segaris senyuman Lyra membuat Reyhan bertanya-tanya. "Lyra, kamu tahu kan, kalau aku paling tidak suka ada sesuatu yang mencuri perhatian dan pikiranmu. Bukannya aku cemburu, tapi-"
Cup!
Kecupan Lyra mendarat di bibir Reyhan membuat remaja itu membelalak kaget.
"Bagaimana bisa kamu setampan ini? Aku sampai capek melemparkan pujian itu," ujar Lyra.
Reyhan mencium puncak kepala Lyra. "Haruskah aku mengganti wajah ini menjadi buruk?" tanya nya.
Lyra menggeleng, "aku takut suatu saat nanti kamu akan berpaling dan membuangku. Maaf, rasa cintaku membutakan pikiranku. Aku takut setiap membayangkan tatapan mereka yang terlihat jelas ingin memilikimu."
Reyhan mengeratkan pelukannya. "Apa perlu kita membuat perjanjian? Jika aku berani mencintai wanita lain harta, tahta dan nyawaku di bawah kendalimu," jawab Reyhan membuat mata Lyra membulat sempurna.
Lyra menggeleng, "maaf, akan aku coba untuk tidak peduli lagi. Maaf, aku sempat meragukan kejujuranmu. Rasanya sangat tidak mungkin seorang Reyhan jatuh cinta padaku. Tapi, aku akan percaya. Ya, harusnya aku percaya." Meletakkan kepalanya ke arah dada bidang Reyhan yang sedikit terbuka.
"Sekarang kamu terkenal ya," ujar Lyra.
"Ah masa?" Reyhan berpura-pura tidak tahu.
"Kamu jadi topik pembicaraan di negara lain, aku yakin begitu kita tiba di Indonesia para wartawan akan memburumu."
Reyhan mendesah, "sudah, berhenti bicara omong kosong. Ayo tidur," ujar Reyhan.
Lyra menarik napasnya, selang beberapa detik ia menutup matanya. "Lyra," panggil Reyhan membuat wanita itu kembali membuka matanya.
"Apa?"
"Apa hal terindah yang pernah kamu rasakan di dalam hidupmu?"
"Tumben kamu kepo dengan itu."
"Bukan kepo, aku hanya memastikan saja," jawab Reyhan.
"Alasanmu tidak masuk akal. Hal yang terindah yang pernah aku rasakan yaitu berlibur dengan kedua orang tua sewaktu di pantai."
"Kamu merindukan mereka?"
Lyra terdiam, ia sedih jika kenangannya bersama kedua orang tua diungkit. "Iya, kamu benar aku merindukan mereka," jawabnya lirih.
Reyhan mengecup keningnya, "kalau begitu, lusa kita akan pulang." Perkataan Reyhan membuat mata Lyra membulat.
"Benarkah, kita akan pulang?" tanya Lyra memastikan.
"Tentu saja, kan aku sudah pernah bilang aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia," jawab Reyhan sambil memangku wajah Lyra dengan kedua tangannnya.
Lyra tersenyum senang, dipeluknya tubuh Reyhan. "Kamu memang suami terbaik, Rey. Terima kasih telah mencintaiku," ucap Lyra tanpa sadar mengeluarkan air mata.
Tak terasa pernikahan Lyra dan Reyhan memasuki usia satu tahun. Dan hari yang paling ditunggu-tunggu pun tiba. Yaitu, kembali ke tanah air, Indonesia.
"Apa kamu senang?" tanya Reyhan memperhatikan Lyra yang sedari tadi menyunggingkan senyumannya.
"Tentu saja, aku senang banget! Aku merindukan paman, tante dan Vanes. Enggak sabar bertemu mereka." Melompat-lompat, saking senangnya. Reyhan terkekeh melihat betapa semangatnya sang istri.
__ADS_1
Marta berjalan menghampiri mereka. "Sudah siap semuanya? Siska dan Redro kemana?" Melingkarkan tangannya ke pinggang Lyra.
"Katanya ke toilet sebentar. Mama cantik banget, jadi iri." Mengelus pipi kenyal milik Marta.
"Sudah tua dan keriput juga. Putriku, kamu jauh lebih cantik jiwa tuaku mulai meronta-ronta ingin kembali ke usia muda. Hahaha!" jawab Marta yang dibarengi suara tawa membuat Lyra ikut tertawa.
"Itu nona Siska, Nyonya," ujar bik Na yang sedari tadi duduk menyaksikan adegan yang ditampilkan oleh menantu dan mertua tersebut.
Erick berlari sambil menarik kopernya. "Lu ya, tega banget sih nggak tunggu gua padahal cuma pamit doang sama cewek-cewek itu," ujarnya dengan napas yang tersenggal-senggal.
Reyhan menatap tajam. "Siapa suruh kau tidak mengakui statusku yang sudah menikah. Kau tidak lihat mata nakalnya mengarah padaku saat kau menyatakan aku masih lajang!" bentak Reyhan membuat Erick menunduk malu.
"Ada apa ini?" tanya Siska keheranan.
"Enggak ada, enggak apa-apa. Reyhan memang begitu, suka mengarang cerita. Sudah, jangan dibahas lagi, 40 menit lagi waktunya terbang." Erick mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Beb, bisa kamu ceritakan kalian ngapain saja tadi pagi?" tanya Siska.
Redro berdehem. "Tadi pagi...."
Flash Back
Erick mendatangi Redro mengajaknya untuk membeli oleh-oleh untuk orang tuanya di Indonesia. Seperti biasa Redro selalu menolak, namun Siska yang sudah terlanjur kasihan pada Erick yang terus memohon pun membujuk Redro. Dan dengan terpaksa Redro mengikutinya dengan syarat Reyhan harus ikut.
Mereka berdua menuju apartemen Reyhan. Dan tentu saja, Reyhan menolaknya dengan wajah dingin dan angkuhnya. Lyra yang memiliki sifat lembut dan menjanjikan 'sesuatu' membuat Reyhan setuju.
Mereka bertiga mendatangi pusat perbelanjaan yang terbesar di Wangshington DC tersebut. Sepasang mata para pengunjung menyoroti mereka, berbondong-bondong mengekori kemanapun ketiga lelaki itu melangkah.
Reyhan berjalan dengan sesantai mungkin, Erick melemparkan senyumannya sedangkan Redro tampak tidak nyaman berjalan sejajar dengan Reyhan.
"Waktuku tidak banyak. Ada hal lain yang harus kukerjakan di rumah. Belilah apapun dengan cepat atau kau kutinggal." Menatap Erick tajam.
"Bos lu galak amat Redro. Lihat matanya itu sudah seperti sabit. Mengerikan!" sindir Erick.
"Ah, lu berdua ini ya. Berhenti bilang istri, istri dan istri. Gua muak tahu enggak. Mereka sudah mengubah situasi yang dulunya indah berubah buram. Lu berdua enggak asik tahu nggak." Erick berjalan cepat, ia benar-benar dibuat kesal oleh Reyhan dan Redro.
Reyhan melirik Redro. "Apa yang kau tunggu? Kejar bocah itu," ujarnya. Dengan cepat Redro berlari mengejar Erick.
"Hah! Tahu begini, mending aku tidur di rumah. Redro tugas ini (membujuk Erick) aku serahkan padamu saja. Dibandingkan Erick, Lyra lebih gampang aku tangani karena Erick bukan manusia." Reyhan tetap berjalan santai. Orang-orang yang berlalu lalang mulai mendekatinya dan terpaksa Reyhan berlari menghindari mereka.
Alangkah terkejutnya Reyhan melihat Erick yang ditemani Redro dari belakang sedang mengobrol dengan tiga cewek-cewek bule.
Inilah alasannya kenapa aku tidak ingin pergi kemanapun dengan Erick tanpa Lyra. Aku bagaikan pengkhianat. Erick, akan kubunuh kau. Batin Reyhan sambil berjalan menghampiri
FLASH BACK OFF...
Siska menatap Erick dengan tajam, ia mendekatinya membuat remaja itu ketakutan.
"Bukan, kak Siska Redro berbohong," ujar Erick terus menerus.
Tak ada jawaban dari bibir Siska, ia malah menjewer telinga kanannya hingga Erick mengadu ampun. Tak lama kemudian Siska melepaskan jewerannya. "Makanya, lain kali mikir dulu kalau mau bawa orang yang sudah menikah jalan-jalan." Siska kembali ke tempat semula, dekat Redro.
"Ih kak Siska kasar banget. Kak Lyra saja nggak protes tuh," ujar Erick.
"Siapa bilang, Rick. Ini kamu rasakan," jawab Lyra sambil menjewer telinga kiri Erick. Dan kali ini selain ampun, Erick bahkan berteriak kesakitan.
Lyra tersenyum, Erick terus mengusap-usap kedua telinganya yang kepanasan. Mereka semua serempak mentertawakan Erick yang kesakitan.
***
Lyra menyenderkan tubuhnya ke kursi pesawat. Perjalanan panjang akan dimulai. Sementara itu, Reyhan terus memandanginya dengan seksama.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Lyra keheranan.
"Harusnya kita ambil yang VIP, bukan ekonomi?"
"Apa itu sangat menyiksamu?" tanya Lyra.
"Paling tidak VIP aku bisa mendapat pelayanan lebih," ujar Reyhan.
Lyra mendesah, "sayang, pelayanan mereka juga baik kok. Kita bisa duduk santai dan-"
"Bukan pelayanan mereka yang aku inginkan, tapi darimu," ujar Reyhan memotong perkataan Lyra.
"Apa?"
"Sudah lupakan saja, paling tidak ini akan menyiksaku sehari. Tiba kita mengganti pesawat nanti, aku mau yang VIP. Akan kuhajar kau saat itu juga," jawab Reyhan sambil menutup kedua matanya.
Gila, bisa-bisanya dia seperti ini di dalam pesawat. Menghajarku? Kata-kata andalan yang selalu membuatku merinding. Batin Lyra lalu kembali menyenderkan tubuhnya.
Siska menyenderkan kepalanya di pundak Redro.
"Apa kepalamu pusing?" tanya Redro.
"Ya, begitulah," jawab Siska singkat.
"Maaf, aku membangunkanmu tengah malam."
"Tidak apa-apa, itu kewajibanku," jawab Siska lagi.
Siska menatap nakal wajah Redro.
"Ada apa? Apa kamu lapar?" tanya Redro.
Siska menggeleng, "Tidak, aku hanya merasa aneh saja padamu yang terus bergairah. Aku jadi curiga jangan-jangan kamu mengkonsumsi obat kuat?" tanya Siska menyelidik.
Redro menarik nafas panjangnya menanggapi pertanyaan polos Siska.
Erick mengipas-ngipas telinganya yang perih akibat jeweran Lyra dan Siska. Sementara Marta yang sedang di dekatnya tampak cekikikan memperhatikan sahabat putranya itu.
"Ah Tante, pakai ketawa lagi. Sakit banget nih," ujar Erick.
"Salah kamu sendiri mengajari suami orang untuk berselingkuh," jawab Marta.
Erick berdesis, "wajah Reyhan itu tampan banget jauh dari Erick. Jadi, Erick rasa mereka mau memberikan nomor kontar mereka jika Reyhan yang minta," jawab Erick menyela.
"Erick, kalau mau memiliki seorang pasangan carilah yang baik tanpa harus melibatkan orang lain."
"Hari gini mencari yang baik ke mana Tante? Sekarang duit yang mengatur," jawab Erick.
Marta menggeleng, "kamu salah Erick, semua tergantung dirimu sendiri, jika kamu menyodorkan mereka uangmu jadi perempuan yang kau dapati bukanlah perempuan yang mencintaimu dengan tulus. Sebaliknya, jika kamu menjadi dirimu sendiri, Tante jamin perempuan yang kamu idamankan pasti akan kau dapatkan. Semua tergantung diri kita sendiri."
"Tidak heran, Reyhan sepintar itu ibunya saja sepintar ini. Baiklah Tante, nanti Erick coba," jawab Erick sambil tersenyum.
Pesawat pun melakukan penerbangan yang lancar tanpa kendala.
__ADS_1