
"Tepat di Kota Srengseng hancurkan semua yang sedang melakukan Syuting dan pemotretan lainnya buat mereka menghadap padaku," ujarnya penuh amarah.
"Permisi, apakah Anda keluarganya pasien?" tanya seorang dokter.
"Iya Dok, saya suaminya," jawab Reyhan.
"Oh saat ini pasien harus istirahat luka di punggungnya itu termasuk serius apalagi saat dia terjatuh. Tunggu sebentar lagi kita akan lakukan rontgen tulang punggung. Kita berdoa saja semoga tidak ada yang patah kalau itu terjadi dapat menyebabkan trauma pada saraf tulang belakang dan itu sangat fatal, dia akan merasakan nyeri setiap bergerak meskipun hanya bergerak ringan," jelas dokter sambil menepuk pelan punggung Reyhan.
Reyhan hanya bisa diam bulir-bulir keringat mengucur di wajahnya, dia mengepalkan tangannya dan tetap
berusaha meredam amarah yang semakin memuncak.
"Masuklah, saya mau permisi dulu," kata dokter itu lalu beranjak pergi.
Reyhan pun masuk dilihatnya Lyra yang terbaring lemah wajahnya tampak pucat Reyhan teringat betapa kuatnya rintihan tangis Lyra yang berusaha menahan sakit yang di punggungnya tadi. Reyhan menggenggam tangannya dia menangis sejadi-jadinya merasa menyesal tidak berada di samping Lyra membuatnya marah pada diri sendiri.
"Mereka harus hancur, siapapun yang berada disana tidak akan aku maafkan." Kalimat yang dilontarkannya bak seorang pendendam sejati.
"Drrrrrrt Drrrrrt Drrrrt." Getaran berasal dari ponsel Lyra membuat Reyhan mengangkatnya yang tak lain dari Mely.
"Lyra, kau hanya berpura-pura sakitkan aku hanya mendorongmu pelan kau menyuruh sekolompok orang untuk menghancurkan lokasi syuting lihat saja akan ku balas kau!" teriak Mely membuat Reyhan semakin marah.
"Jadi kau orangnya lihat bagaimana aku menghancurkan keluargamu nanti!" Reyhan membalas teriakan Mely membuat Mely yang di seberang langsung mengakhiri teleponnya.
Reyhan langsung menghubungi Erick yang berada di lokasi syuting.
"Cari yang bernama Mely seret dia kalau perlu pakai kekerasan!" teriak Reyhan lalu mematikan ponselnya.
Diperhatikannya wajah Lyra yang masih belum sadar, sesekali dia mengelusnya lalu menciumnya.
"Maafkan aku yang terlambat, maafkan aku yang selalu membuatmu merasakan sakit dan maafkan aku yang tidak becus sama sekali." Lagi-lagi isak tangis Reyhan terdengar dan kali ini semakin besar.
"Drrrrrt Drrrrrrt Drrrrrrrt" Getaran ponsel Reyhan pertanda panggilan dari Erick di seberang.
"Rey mereka semua sudah ada di gudang lu mau langsung kemari atau bagaimana?" tanya Erick.
"Tunggu disana, aku akan datang," jawab Reyhan.
Panggilannya pun terputus Reyhan melihat ke arah Lyra ia mencium dahinya tiba-tiba pandangannya terarah pada bibir Lyra saat ia hendak mengecupnya tapi lagi-lagi diurungkan olehnya. Reyhan keluar dari kamar pasien menuju gudang tempat Erick berada.
Sesampainya disana Reyhan yang baru sampai bergegas keluar dari mobil dengan wajah yang masih dipenuhi amarah dan langsung masuk ke dalam gudang yang dipenuhi sejumlah kru, sutradara serta yang lainnya termasuk Mely.
Reyhan duduk tepat di depan Erick dan sejumlah pengawal Erick. Mely hanya menunduk tubuhnya bergetar ketakutan.
"Katakan! Bagaimana kejadian yang sebenarnya?" tanya Reyhan pelan. Ya, suaranya mulai serak karena selama diperjalanan isak tangisnya tak bisa dipendam sama sekali.
Tak seorang pun dari mereka yang menjawab dan itu membuat Reyhan berteriak keras.
"Tidak ada yang bicara! Erick kau tahu apa yang kau lakukan," ujar Reyhan.
Erick mengangguk. "Bawa cambuk dan mulailah lakukan pekerjaan kalian!" teriak Erick.
Mereka masih tidak berani bicara dan tetap menunduk ketakutan.
"Hentikan Erick aku tidak minta cambukan tapi timah panas yang saat ini aku butuhkan!" teriak Reyhan.
Kali ini semua terlihat panik dan semakin takut termasuk sang sutradara yang mulai beranjak dari tempatnya yang semula.
"Ampuni saya Rey saya sama sekali tidak tahu menahu tentang kejadiannya karena saat itu kita berada di dalam tenda, tolong lepaskan saya tidak punya salah." Sutradara bersimpuh berharap Reyhan melepaskannya.
__ADS_1
Reyhan menatap tidak suka diangkatnya wajah Sutradara yang membuatnya muak itu. "Setelah kau membohongiku dengan mengambil lebih banyak potoku kau mengaku tidak punya salah perlu kukatakan aku benci dibohongi dan kalian semua pembohong!" teriak Reyhan membuat mereka mulai gontai dan semakin ketakutan.
"Dimana Lyra!" teriak Siska dari luar dan diikuti Redro.
"Saat ini dia dirawat di Puskesmas karena sesuatu terjadi membuat lukanya kambuh kembali," jelas Erick.
"Kejadian apa? Ceritakan yang jelas?" tanya Siska.
"Mereka menganiayanya." Menunjuk ke arah para staf dan kru.
Mereka ketakutan dan akhirnya mereka menuduh Mely lah pelakunya. Siska berjalan ke arahnya lalu menarik kerah baju Mely.
"Katakan apa alasanmu menyentuhnya?" tanya Siska.
Mely tidak bergeming dia berusaha tidak mengatakan apapun, Siska marah ia pun menampar pipi Mely berulang kali hingga memar. Mereka yang melihatnya tak kuat namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Tak lama kemudian isak tangis Mely terdengar ia pun merintih kesakitan langsung bersimpuh memohon ampun.
"Lyra mengatakan kalau dia dan Reyhan pacaran membuatku marah karena yang aku tahu mereka hanya berteman tolong ampuni aku," jerit Mely.
"Oh jadi benar kau yang melakukannya dasar kau wanita laknat salah apa Lyra padamu hah! Dia dan Reyhan memang pacaran apa urusanmu, rasakan ini!" teriak Siska menambah tamparannya.
"Aku salah! Aku menyukai Reyhan dan tidak tahu hubungan mereka sejak awal tolong berhenti ini sangat sakit!" jeritan Mely semakin menjadi-jadi.
Siska berhenti menampar Mely ia berjalan ke arah Redro.
"Ayo kita ke Puskesmas kasihan Lyra enggak ada yang menemani," ujarnya yang dibalas Redro dengan anggukan lalu mereka pun pergi.
"Ba-bagaimana dengan kami Rey?" tanya salah satu kru.
"Kalian berada disana tidak melakukan apa-apa selain hanya menonton menurut kalian hukuman apa yang pantas untuk kalian?" tanya Reyhan sambil memelotot tajam membuat mereka tak berani berkutik.
"Jadi Rey apa yang akan lu lakuin pada mereka?" tanya erick.
"Ayahnya bernama Tony Alan bekerja di sebuah bar dan ibunya salah satu pasien di Rumah Sakit Jiwa," jelas Erick.
Mely memelotot kaget setelah nama ayahnya disebut dan status ibunya yang sakit jiwa membuat orang lain bertanya-tanya.
"Buat mereka hancur!" teriak Reyhan.
"Tidak jangan, tolong ini salahku jangan melibatkan kedua orang tuaku mereka tidak tahu apa-apa!" teriak Mely.
"Bisa kau ceritakan alasan kenapa kau menghajar Lyra setelah kau tahu mereka pacaran?" tanya Erick.
"Aku cemburu, aku menyukai Reyhan saat pertama kali kami berjumpa," jawab Mely sambil sesenggukan.
"Kenapa kau cemburu denganku? Bukannya pada sutradara yang dikelilingi wanita lain selain dirimu. Aku tahu jelas kalian memiliki hubungan kotor," ujar Reyhan membuat orang-orang heboh sedangkan sutradara hanya bisa menahan malu.
"Aku sangat menyesal, tolonglah aku. Aku akan melakukan apapun, aku mau menjadi pembantu tanpa dibayar," ujar Mely berusaha memohon kepada Reyhan untuk melepaskan kedua orang tuanya.
"Menjadi pembantu tanpa dibayar? Apa orang yang mengerikan sepertimu pantas berada di sekitarku? Kau bukanlah manusia, kau monster!" teriak Reyhan.
"Rey kalau gua boleh kasih saran sih sebaiknya tu cewek lu penjarain aja. Kan lu tahu Lyra enggak akan tega melihat orang lain terlibat apalagi ini menyangkut orang tua cukup miris Bro," bisik Erick.
Reyhan berpikir sejenak kemudian memutuskan untuk mengikuti saran dari Erick.
"Kau yang atur semua aku ingin melihat Lyra dulu dan kau tunggulah berita NM ENTERTAINMENT akan tamat tepat besok pagi," ujar Reyhan sambil menunjuk kepada sutradara.
Reyhan pun berjalan keluar lalu menyetir mobilnya menuju Puskesmas tempat Lyra dirawat.
__ADS_1
Di Lain Sisi....
"Lagi-lagi harus dirawat baru kemarin sakit sekarang sakit lagi, Lyra sepertinya kau iri padaku yang tidak pernah sama sekali rasanya dirawat, disuntik dan meminum obat," ujar Siska membuat Lyra tersenyum pelan.
"Kenapa tidak kamu pukul saja si Mely jelek itu, please jangan lembek dong," ujar Siska lagi.
Lyra menghela napas. "Aku hanya berusaha tenang saat itu, tapi siapa sangka responsnya seperti itu menghardikku lalu menarikku hingga tersungkur," jawab Lyra yang masih membayangkan kekejaman Mely terhadapnya.
Siska memeluk Lyra dan mengelus-elus kepalanya.
"Sudahlah paling tidak aku sudah memberinya pelajaran," ujar Siska.
"Benarkah?" tanya Lyra.
"Tentulah, aku menamparnya dengan kuat wajahnya langsung memar dan tak berbentuk lagi. Itu lucu banget tahu," jawab Siska heboh.
Lyra mengerutkan dahinya tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu.
"Iya-iya aku tahu kamu marah tapi siapa suruh membuatmu celaka seperti ini, sekarang mereka semua sudah dalam genggaman Reyhan doakan saja mereka aman," ujar Siska.
Reyhan turun dari mobil lalu masuk ke dalam puskesmas dilihatnya Redro yang duduk di depan kamar Lyra. Saat melihat Reyhan, Redro langsung berdiri Reyhan mengabaikannya dan beranjak masuk ke dalam kamar, Siska dan Lyra yang sedari tadi mengobrol terkejut karena kedatangan Reyhan yang tiba-tiba.
"Aku keluar dulu ya," ujar Siska sambil tersenyum. Lyra pun mengangguk.
Siska keluar dan menutup pintu kamar. Sementara itu Reyhan hanya berdiri tegak dengan tubuhnya yang mulai kaku.
"Kemarilah kamu pasti sudah lelah 'kan, harus bolak-balik dan juga dari tadi kamu belum makan," ujar Lyra sambil melambai tangannya memanggil Reyhan.
Reyhan langsung berlari ke arah Lyra dan memeluknya yang masih terbaring dan tidak bisa duduk.
"Kamu selalu membuatku khawatir, tolong jangan seperti ini aku akan semakin membenci diriku yang tidak bisa berbuat apa-apa," ujar Reyhan.
Lyra tersenyum. "Maaf aku tidak berniat membuatmu khawatir tapi aku tidak bisa membalas kejahatan dengan kejahatan tapi melihatmu seperti ini aku akan lebih berhati-hati lagi," jawab Lyra.
Reyhan melepaskan pelukannya dan lagi-lagi air matanya jatuh sontak membuat Lyra terkejut.
"Ini kedua kalinya kamu menangis jangan cengeng dong," ujar Lyra sambil mengusap lembut wajah Reyhan.
Reyhan hanya diam perhatiannya tertuju pada Lyra yang sedari tadi membuatnya khawatir.
"Kalau kamu menangis ketampananmu berkurang kalau kamu tidak tampan siapa lagi yang mau denganmu," ujar Lyra lagi.
"Kalau aku tidak tampan lagi apa kau akan berpaling?" tanya Reyhan.
"Menurutmu bagaimana?" tanya Lyra balik.
Reyhan tidak menjawab kali ini perhatiannya tertuju pada bibir Lyra yang yang sedari tadi seakan menggodanya.
"Lyra jika aku punya uang banyak dan memiliki usaha tetap kamu mau kan menikah denganku, menunggu aku selesai wisuda kuliah rasanya tidak masuk akal." Reyhan menatap lembut ke arah Lyra.
"Maksud kamu apa sih? Aku bingung ini?" tanya Lyra.
"Setelah lulus sekolah ayo kita menikah," jawab Reyhan.
"Apa?"
__ADS_1
BERSAMBUNG....
TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR, JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE NYA GUYS šššš