
Reyhan menatap serius ke layar ponselnya yang kosong tanpa adanya tanda-tanda panggilan atau pesan dari Lyra.
"Hah! Ternyata hanya segitu saja, sampai kapan aku menunggu melihatmu mencintaiku. Mencintaiku seperti aku mencintaimu," gumam Reyhan.
"Permisi Den, bagian komunikasi mengatakan seorang investor yang bernama Mr.Rudolf ingin bertemu Aden. Apakah Aden bersedia?" Redro yang baru masuk menyerahkan berkas berisikan profil sosok yang baru ia katakan barusan.
"Kau sudah membacanya?" tanya Reyhan tanpa menyentuh berkas tersebut.
"Sudah Den," jawab Redro singkat.
"Jadi kalau kau jadi aku, apakah kau bersedia bertemu dengannya?" tanya Reyhan lagi.
"Iya Den."
"Kalau begitu aturkan jadwal pertemuan kami," jawab Reyhan sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi goyang miliknya.
Redro mengangguk lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Tring!!!
Sebuah pesan masuk ke tablet berukuran sedang milik Reyhan, melihat nama Lyra dengan cepat ia membukanya. Dan benar saja Lyra mengirimkan sebuah potret dirinya sendiri dan beberapa pesan yang ditujukan untuk Reyhan.
Lyra: Sayang, aku tidak punya kata-kata mutiara
agar kamu bisa memaafkan aku, tapi selama nafas masih terhembus dan jantungku berdetak aku akan berusaha memanjatkan doa dengan menyelipkan namamu. Aku mencintaimu♥.
Reyhan terdiam, dia memperhatikan potret istrinya yang memakai pakaian terbuka dengan riasan sederhana namun terlihat sangat cantik.
Tok!!! Tok!!!
Seseorang mengetuk pintu ruangan Reyhan, karena menyangka itu Redro, Reyhan langsung menyuruhnya masuk.
"Permisi Tuan, saya kemari ingin menunjukkan hasil desain saya hari ini." Vica pun masuk lalu memberikan berkas berisikan gambar desain pakaian buatannya.
Reyhan memasang sorot mata tajam, ia mencampakan berkas tersebut dengan kasar.
"Apakah ini pekerjaanku? Apa aku yang bertanggung jawab untuk ini? Kalau ini tugasku lalu untuk apa aku mempekerjakanmu!" teriak Reyhan dengan wajah yang memerah.
"Sa-saya...."
"Berhenti mendekatiku, kita bukan orang yang dekat. Dan jangan mendatangiku!" Kali ini Reyhan benar-benar marah, tangannya mengepal seperti orang yang ingin meninju.
Vica bangkit dari duduknya, ia memunguti kertas yang berserakan di lantai, diiringi dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Maafkan saya Tuan, permisi." Berjalan keluar dari ruangan Reyhan.
__ADS_1
Reyhan mengusap kasar rambutnya, amarahnya masih belum terlampiaskan.
****
Jakarta. INDONESIA.
08.00 WIB
"Nona, ini bekal sambal cumi buatan bibik. Takutnya selama di pesawat Nona lapar tapi makanannya enggak enak jadi ini bisa menambah nafsu Nona nanti." Salah satu ART memberikan toples kaca mini berisikan sambal kepada Lyra.
"Terima kasih Bik, ini enak banget. Oh ya bik Sum kemana? Kok dari tadi saya enggak lihat," tanya Lyra.
"Bik Sum sedang tidak enak badan tapi tadi sudah dibawa ke dokter kok. Biasalah bik Sum kepikiran bik Na, oh ya tadi bik Sum nitip ini untuk bik Na ginseng kering." Memberikan toples lain lagi.
"Siip! Oh ya kalau nanti ada telepon dari Reyhan jangan diangkat ya. Soalnya saya mau buat kejutan. Saya berangkat dulu ya Bik," Tersenyum dikala ketiga ART tersebut melambungkan pelukan mereka ke tubuh Lyra.
"Tolong jaga bik Na dan bocah ajaib kami ya Nona." Mengeluarkan air mata.
"Iya tenang saja. Jangan pikirkan apapun fokus saja pada bik Sum," ucap Lyra.
"Permisi Nona, mobil sudah disiapkan dan juga tuan Erick baru sampai diantar supirnya," ujar pak Mat.
Lyra mengangguk, ia dan Siska pun berjalan keluar menuju mobil yang sudah terpakir di halaman depan diikuti ketiga ART tersebut.
"Sudah lengkap semuanya, kita berangkat!" seru Erick yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil milik Reyhan.
Lyra dan Siska pun masuk ke dalam mobil, melambaikan tangan mereka ke arah luar jendela mobil dan dibalas dengan lambaian tangan para ART sambil mengusap-usap air mata. Mobil pun melaju dengan cepat mengejar waktu pemberangkatan pesawat.
***
"Menurut google jarak tempuh Jakarta ke Amerika memakan waktu 24 jam. Ah capeknya?" Siska menyenderkan punggungnya ke kursi yang tersedia di pesawat.
"Sudah tenang saja Kak, nanti kita singgah kok di Dubai nggak langsung ke Amerika. Lagipula kita kan duduk di first class enggak terasa kok," jawab Erick sambil tersenyum mendengar keluhan Siska.
"Aku sih enggak tahu Rick, naik pesawat saja baru sekali ini. Kalau Siska mah sudah sering ya Sis," sahut Lyra lalu melirik ke arah Siska.
"Iya sih, tapi paling dua sampai tiga jam tapi kalau dua puluh empat jam mah bisa mati kaku ini badan." Mengotak-atik layar mini yang menempel di depannya.
"Tadi kita berangkat pukul 08.40 sampai ke Dubai paling pukul 16.40 menurut jam kita sih tapi kalau jam Dubai masih pukul 12.40 karena rentang waktu Indonesia lebih cepat tiga jam dibandingkan Dubai" Erick menjelaskan.
"Jadi dari Jakarta ke Dubai memakan waktu delapan jam dong," ujar Siska setelah menghitung penjelasan Erick tentang tempuh waktu dengan jarinya.
"Yups tepat sekali, Kakak cantik." Mengacungkan jempolnya.
"Berarti kalau dari Dubai ke Amerika memakan waktu enam belas jam dong." Lyra menimpali.
"Ya tepat sekali, tapi kita tidak tahu keadaan Dubai saat ini semoga saja tidak delay jadi kita bisa berangkat secepatnya dan sampai dengan cepat juga!" seru Erick sambil menggerakkan tubuhnya saking senangnya bertemu dengan Reyhan.
__ADS_1
"Aku paling malas yang namanya delay," jawab Siska sambil merenggut kesal.
Sayang, bersabarlah aku akan datang. Batin Lyra sambil tersenyum menatap potret Reyhan di layar ponselnya.
Washington DC. AMERIKA SERIKAT.
20.00 PM
Reyhan berjalan bolak-balik terlukis kegelisahan di wajahnya. Kegelisahan melanda sang remaja, memikirkan istrinya yang tak kunjung memberikan kabar.
"Kenapa tidak aktif? Apa yang dia lakukan di sana? Oh Tuhan, aku tahu aku salah karena mengabaikannya tapi bisakah berikan aku keajaiban," gumam Reyhan sambil terus menghubungi Lyra melalui ponselnya.
"Permisi Den, ini catatan jadwal besok, Mr.Rudolf bersedia bertemu dengan Aden," ujar Redro.
Reyhan tidak menanggapi perkataan Redro dia terus pontang panting dengan ponsel yang di genggamannya.
"Maaf, apa Aden mendengarkan saya?" tanya Redro bingung melihat tingkah tuan kecilnya itu.
"Apa menurutmu aku tuli." Menghentikan langkahnya, menatap tajam ke arah Redro.
"Tidak, Den." Menggelengkan kepalanya.
"Kak Siska, apa kau tidak menghubunginya?" tanya Reyhan.
"Tadi pagi dia mengatakan bahwa sinyal di Jakarta akan mengalami gangguan dan itu dimulai hari ini tidak tahu kapan akan berakhir," jawab Redro.
"Lyra, dia menghubungiku tapi tidak aku angkat. Kenapa sekarang justru aku yang merasa tersiksa." Mengusap kasar kepalanya.
"Karena Aden terlalu jual mahal Den." Spontan menjawab ocehan Reyhan.
"Apa? Kau bilang apa?" tanya Reyhan.
"Tidak, maafkan saya," jawab Redro.
Di perusahaan kau terlihat menjadi pemimpin yang tegas tapi kalau masalah rumah tangga kau tetap masih kekanakan. Dasar anak-anak. Batin Redro.
"Redro, jangan mengumpatku dengan ocehan hatimu itu, karena aku akan mengetahuinya," ujar Reyhan seolah tahu apa yang ada di dalam benak Redro.
Redro mengangguk sesaat ia termangu karena sebelumnya Reyhan juga pernah menebak isi hatinya yang lagi-lagi mengumpat pada Reyhan.
Reyhan mendesah lelah. "Kau keluarlah, aku mau istirahat. Dan satu lagi tolong antarkan bik Na ke tempat mama. Aku ingin bik Na yang membantu mengurus pola kesehatan mama," ujar Reyhan.
"Baik Den, saya permisi dulu." Berjalan keluar dari kamar Reyhan.
Dan lagi-lagi drama kegalauan Reyhan pun dimulai ia terus bergumam tak jelas kepada potret Lyra hingga ia terlelap sambil memeluk tablet miliknya.
__ADS_1
****