MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Kedatangan Erick....


__ADS_3

Tok!!! Tok!!!


"Permisi Den, nona Vica ingin bertemu," ujar Redro.


"Suruh dia masuk," jawab Reyhan sambil terus menatap foto Lyra yang terpampang di laptopnya.


Masuklah Vica, dengan pelan ia duduk di hadapan Reyhan yang tetap serius menatap ke arah monitor laptopnya. Tak bosan-bosannya, remaja itu menatap potret istrinya yang ia jadikan sebagai walpaper.


"Permisi, tuan muda Reyhan terima kasih sudah mau bertemu denganku," ujar Vica sedikit gugup.


"Iya, sama-sama," jawab Reyhan sambil memperhatikan kumpulan foto-foto Lyra yang tersimpan di dalam file pribadinya.


"Bukankah sangat tidak sopan jika berbicara dengan seseorang kita justru mengalihkan pandangan dari lawan bicara kita tersebut?" sindir Vica yang mulai kesal dengan sikap Reyhan yang sedari tadi mengabaikannya.


"Itu tergantung pandangan lawan bicara orang tersebut," jawab Reyhan singkat tanpa melihat ke arah Vica.


Bak terhentak kuat Vica tetap berusaha sabar menghadapi Reyhan yang bersikap dingin kepadanya.


"Saya kemari untuk membicarakan hal serius pada tuan muda, saya harap Tuan mendengarkannya."


"Katakan saja," jawab Reyhan.


"Saya ingin menjadi salah satu pekerja di perusahaan ini dan saya harap tuan menerima saya."


"Tentu saja karena kedua orang tuamu salah satu pemegang saham terbesar," sindir Reyhan.


"Baiklah, saya ingin menjabat sebagai-"


"Pemimpin bagian desainer, aku tahu kemampuanmu dan hanya bagian itu saja yang masih kosong," potong Reyhan.


"Tapi bukankah bagian asisten dan sekretaris pribadi Tuan masih kosong. Saya berniat melamar jabatan ini," jawab Vica sambil tersenyum tipis.


"Anda benar tapi Anda tidak memiki kriteria dijabatan yang Anda inginkan tersebut." Tetap menatap poto-poto Lyra.


"Kenapa? Bukankah nilai jurusan saya belum mencukupi?" tanya Vica yang mulai frustasi menghadapi sikap Reyhan yang masih dingin terhadapnya.


"Anda benar tapi...."


"Tapi, apa Tuan Muda Reyhan?"


"Anda bukan laki-laki, syarat utama dan yang paling penting dia harus berjenis kelamin laki-laki. Sekarang terserah anda mau terima silahkan dan tidak terima juga silahkan," jawab Reyhan.


Vica terdiam sebenarnya ia sangat ingin menjadi asisten atau sekretaris pribadi Reyhan. Namun, setelah mendengar jawaban tak masuk akal dari Reyhan cukup membuatnya tidak berharap lebih. Akan tetapi, ia tidak menyerah begitu saja, ia semakin bersemangat untuk menghadapi Reyhan dan berusaha membuat Reyhan jatuh ke pelukannya.


"Baiklah, kalau begitu selamat bekerja sama," ujar Vica sambil mengulurkan tangannya. Reyhan pun berdiri bukannya membalas uluran tangan Vica ia justru menundukkan kepalanya hingga membuat Vica langsung menurunkan tangannya dan berbalik lalu berjalan keluar.


Reyhan kembali duduk ia menatap potret istrinya yang sedang terlelap.


Aku akan segera kembali, aku sangat menyayangimu istriku sayang. Batin Reyhan.


_______________________________


Jakarta, INDONESIA.


09.00 WIB.


"Ada angin apa kamu menyuruh aku mengambil foto, kamu sehat kan Ra?" tanya Siska menatap bingung pada Lyra yang memakai gaun hijau dan mulai berpose di bawah teriknya matahari yang membuat kecantikannya bertambah terpancar.

__ADS_1


"Aku tidak ingin mendengar ocehan apalagi pertanyaanmu itu sobatku, ikuti saja permintaaan kecil sahabatmu ini," jawab Lyra sambil menyenderkan tubuhnya pada pagar balkon depan rumah.


"Iya-iya satu, dua, ti...,ga."


CEKREK!!!



"Apa kamu ingin melihatnya?" tanya Siska.


"Tidak, aku tahu aku cantik," jawab Lyra singkat.


"Apa? Hei sejak kapan kau jadi pede kayak gini. Sumpah geli banget ih." Siska mengerutkan dahinya menatap heran pada Lyra yang sudah mulai narsis itu.


"Karena yang memotretku juga cantik jadi nular gitu deh," puji Lyra sambil tersenyum tipis membuat Siska sedikit malu.


"Kamu ngomong kadang suka benar, ah jadi malu aku," jawab Siska sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Sekarang kamu turun gih, sebentar lagi aku nyusul kita sarapan bareng," ujar Lyra sambil mengambil ponselnya dari tangan Siska.


"Siap Tuan Putri." Berbalik lalu keluar dari ruangan tersebut.


"Oke sekarang kita kirim ke Reyhan, tinggal klik beres deh hahaha. Kita akan lihat reaksinya sebentar lagi," gumam Lyra.


"Satu, dua, tiga."


Drrrrrrrrrrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrrrt


"Hmmm lumayan cepat juga."


"Ini pemberian mama, aku melihatnya ada di lemari pakaianku jadi ini milikku bukan. Ah bahannya bagus adem banget buatan Italia lagi." Tersenyum semringah.


"Tidak, kamu tidak boleh memakainya di luar rumah. Ganti sekarang juga!"


"Kenapa tidak? Ini bagus banget lho sayang, lihat ini," jawab Lyra dengan nada yang manja lalu menunjukkan setengah leher jenjangnya hingga bahunya yang terlihat.


"Lyra aku tidak main-main aku sangat serius." Wajah merah padam Reyhan membuat Lyra bertambah gemas.


"Aku juga kok sayang, apalagi kalau belahan dadanya terlihat mirip Selena Gomez nggak, artis Hollywood itu lho, ah aku sangat semangat sekali. Aku sadar ternyata tubuhku lumayan mulus juga. Jadi mau pamer sedikit bolehkan sayang?" Suara manja Lyra pun muncul kembali.


"Kamu boleh memakainya jika aku ada di sampingmu, dan saat ini aku melarangnya keras. Menurutlah! Ini perintah dariku selaku suamimu."


"Sayang, emmuachhh emmuachhh emmuachhh lihat ini bagus nggak." Menunjukkan belahan dadanya yang sedikit terlihat.


Panggilan pun terputus sontak membuat Lyra tertawa puas melihat reaksi suami tercintanya itu.


"Aku juga mana mau pakai ini keluar rumah, wajahnya sangat imut, hah aku jadi semakin merindukannya. Baiklah, sekarang waktunya mengganti pakaian. Siska pasti sudah menunggu dengan kerutan di wajahnya karena kesal," gumam Lyra sambil bergegas mengganti pakainnya.


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


Washington DC. AMERIKA SERIKAT.


22.20 PM.


"Ada apa dengannya? Kenapa aku merasa dia sengaja menggodaku. Hah hah hah ini sangat menyiksaku," ujar Reyhan sambil berlari menuju kamar mandi untuk menidurkan sesuatu yang sudah terbangun.


20 menit pun berlalu, Reyhan keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang mulai lemas. Ia pun menjatuhkan tubuhnya dengan keras ke atas tempat tidur. Tiba-tiba suara Lyra di telepon tadi muncul seolah-olah Lyra sedang ada disana.

__ADS_1


"Sayang, suamiku sayang emmuach emmuachhh emmuachhh aku mencintaimu suamiku emmuachhh." Bayangan Lyra dengan balutan pakaian yang ia kenakan tadi muncul terlihat seperti nyata semakin membuat Reyhan frustasi dan kembali ke kamar mandi karena lagi-lagi ia diburu oleh nafsu.


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Kamu kenapa sih? Dari tadi senyam senyum ada yang lucu ya?" tanya Siska kebingungan melihat tingkah Lyra yang berada di depannya.


"Tidak, nggak ada apa-apa kok aku baik-baik saja kamu tuh ya sensi banget. Apa-apa yang aku lakuin kamu selalu merasa heran. Aneh banget deh," jawab Lyra sambil terus mengunyah makanannya.


"Nona Lyra, tadi kami teleponan sama bik Na katanya disana dingin banget. Jadi pengin kesana apalagi pas musim salju huh kayaknya bagus banget," ujar salah satu ART yang sedang sarapan di samping Lyra.


"Hush, bik Na disana bukannya senang dia langsung terkena demam, dinginnya bukan main tahu," sahut ART yang di sebelahnya.


"Bik Sum kok diam? Kangen bik Na ya?" tanya Lyra lirih.


"I-iya Nona, saya khawatir pasti dia kurang istirahat apalagi den Reyhan tidak bisa makan makanan luar. Bik Na pasti sedang berusaha menyembunyikan penyakitnya saya tidak tega Non," jawab bik Sum sedih.


Lyra terdiam ia tahu jelas apa yang dipikirkan oleh wanita yang berusia senja di sebelahnya itu.


"Nanti akan saya cari solusinya ya Bik, sekarang jangan dipikirkan lagi. Ayo lanjutkan makannya Bibik juga harus jaga kesehatan disini," jawab Lyra berusaha memberi semangat.


"Permisi Nona, di ruang tengan ada tuan Erick yang sedang berkunjung. Katanya ada hal penting yang ingin ia bicarakan denga Nona," ujar salah satu pengawal.


"Baiklah Bibik semua lanjutkanlah makannya, saya menjumpai Erick dulu," kata Lyra sambil bergegas pergi.


"Tunggu! Aku ikut," sahut Siska sambil berlari pelan mengikuti Lyra dari belakang.


"Hai Rick, sudah lama banget nggak jumpa. Kamu apa kabar?" sapa Lyra tersenyum semringah.


"Baik kok Kak, Kakak apa kabar?" tanya Erick balik.


"Ya, seperti inilah sehat wal-afiat," jawab Lyra lalu duduk di sofa panjang di samping Siska yang memilih diam dan tidak menyapa Erick. Erick mengerti maksud dari sikap dingin Siska terhadapnya, itu disebabkan oleh video bokep yang semula ingin dikirimnya pada Reyhan tapi malah Lyra dan Siska yang menerimanya.


"Syukurlah..., aku dengar Reyhan pergi ke Amerika. Dia sengaja tidak memberitahukan aku. Mungkin takut aku menyusahkannya," tutur Erick dengan senyumannya yang sedikit canggung membuat Lyra dan Siska terkekeh.


"Ya enggaklah kamu tahu jelas kamu salah satu orang penting baginya. Jadi sangat mustahil sekali dia berpikiran seperti itu, Rick," jawab Lyra sambil tersenyum.


"Hmmm iyalah? Oh ya tujuan kedatanganku kemari adalah ingin mengajak serta Kak Lyra kalau mau sih ke Amerika bareng. Soalnya aku akan pergi kesana bosan di Indo tanpa Reyhan enggak seru banget," ungkap Erick.


"Oh aku sangat mengerti perasaanmu tapi-"


"Disana banyak banget lho godaannya Kak," ujar Erick berusaha membujuk Lyra.


"Sudahlah Ra, terima saja kan kamu bisa masakin Reyhan. Kasihan bik Na yang sedang demam." Suara Siska pun membuat Lyra berpikir keras, karena ada benarnya juga dengan perkataan Siska barusan.


"Baiklah kapan kita berangkatnya?" tanya Lyra.


"Lusa deh Kak, tapi kak Siska ikut nggak?" tanya Erick sambil melirik ke arah Siska.


"Enggak deh, aku malas kesana," jawab Siska sedikit sinis.


"Hah Kakak gak takut ya Redro digoda wanita bule. Disana wanita bule itu be...., cantik-cantik banget apalagi tubuh Redro yang tinggi dan tampan tipe mereka banget lho Kak." Berusaha merayu Siska agar mau menerima ajakannya.


"Iya-iya aku ikut."


"Nah gitu dong." Terkekeh melihat tingkah Siska.


__ADS_1


__ADS_2