MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Saling Melepas Rindu....


__ADS_3

"Kamu benaran tidak ke kantor?" tanya Lyra setelah mendengar percakapan antara Reyhan dan Redro melalui sambungan telepon. Ya, Reyhan membatalkan rapat dadakan yang seharusnya diadakan hari ini.


"Ini hari libur jadi tidak ada alasan bagiku untuk menganggu mereka, bukan." Reyhan meletakkan ponselnya di atas meja ruang tamu, lalu menarik Lyra ke pangkuannya.


"Kenapa melihatku seperti itu, aku malu tahu?" tanya Lyra dengan pipi yang sudah memerah. Bukannya menjawab pertanyaan Lyra, Reyhan justru membenamkan wajahnya ke dada istrinya itu sambil tersenyum.


"Nanti malam kita akan menghadiri pesta ulang tahun putri rekanku, apa kamu lelah? Aku bisa menghubunginya sekarang." Mulai menggesek-gesekkan kepalanya di sela-sela bicaranya.


"Lelah? Tentu tidak sayang. Aku ikut." Tersenyum.


"Bagus, tapi apa kamu butuh gaun?" tanya Reyhan lagi tetap melanjutkan aksinya, kali ini dia masuk ke dalam pakaian Lyra dan bermain dengan dadanya.


"Ah, iya eh maksudku tidak. Aku sudah punya banyak dan itu ah hadiah a-apa yang akan kita bawa untuk mere...,ka dan aah Rey." Mengerang seiringan dengan sentuhan Reyhan terhadap tubuhnya.


Reyhan tetap melanjutkan aksinya, dia semakin agresif tanpa memberikan Lyra jeda untuk mengambil napas panjang. Erangan Lyra, justru membuatnya semakin semangat.


"Rey!" Berdiri menjauhi Reyhan.


Reyhan hanya diam menatap Lyra yang ngos-ngosan karena permainan Reyhan kepadanya.


Tatapannya itu harusnya aku mengerti bahwa dia menginginkan aku tapi kenapa lagi-lagi aku justru menolaknya. Batin Lyra beradu pandangan dengan Reyhan.


Reyhan berdiri tepat di depannya, perlahan-lahan ia mengecup bibir Lyra yang tertutup namun semakin lama Lyra membukanya. Reyhan mengangkat tubuh Lyra menuju kamar. Dia mulai menyentuh lembut lekuk tubuh Lyra hingga membuat wanita itu mendesah hebat.


"Sayang, ahh geli." Dengan mata tertutup Lyra menikmati setiap sentuhan yang Reyhan lakukan pada tubuhnya.


Tanpa sadar pakaian Lyra satu persatu berhasil disingkirkan Reyhan. Begitu juga dengan Reyhan tubuh mereka menyatu tanpa penghalang.


"Aah sayang, hemm ahh Rey ahh geli." Mengangkat wajah Reyhan.


"Aku mencintaimu," tambah Lyra.


Siang itu pun tepatnya di tengah-tengah kota Washington DC. Dua insan itu melakukan pelepasan kerinduan setelah berpisah lima hari lamanya.


****

__ADS_1


Dua jam kemudian.


"Ah!" Reyhan terbangun dari mimpinya yang mungkin membuatnya terkejut.


"Aku tidak minta apapun tetaplah disini, di sampingku." Mengecup kening Lyra yang sebagian tubuhnya terbenam ke dalam pelukannya dengan balutan selimut putih karena saat ini mereka sedang tidak memakai apapun. Keringat yang tadinya mengalir deras di tubuh mereka perlahan mengering.


Merasa ada yang memperhatikan, Lyra membuka matanya dan benar saja Reyhan terus memandanginya dengan kedua bola mata yang serius.


"Apa aku terlihat jelek atau aku ileran ya?" tanya Lyra setengah panik.


"Tidak? Kamu terlihat sangat cantik, kalau tidak bagaimana bisa aku menyukaimu segila ini." Mengusap rambut Lyra dengan lembut.


"Sayang apartemen ini sangat besar sekali. Aku sangat menyukainya," ujar Lyra dengan nada manja.


"Jika kamu mau sekarang apartemen ini milikmu, jadi aku hanya penumpang sekarang," jawab Reyhan.


"Benarkah? Berarti aku akan memperlakukanmu sesuka hatiku dong." Menatap wajah Reyhan.


"Tentu saja, termasuk membuka pakaianku, memandikanku dan menciumiku. Itulah yang biasa dilakukan tuan rumah. Sebagai penumpang aku hanya akan pasrah menerimanya." Tersenyum melihat raut wajah Lyra yang semula tersenyum seketika mengerutkan dahinya karena kesal.


"Aish! Itu mah kamu yang sangat diuntungkan," kata Lyra sambil merenggut kesal membuat Reyhan gemas.


"Aw Rey, geli hahaha berhenti menggelitiku. Nanti aku bisa pingsan!" teriak Lyra dari dalam kamar mandi.


"Tenanglah ini sudah sangat pelan, aku tidak menggelitikmu sabunnya membuat tanganku licin," jawab Reyhan.


"Kamu sangat pintar cari alasan. Reyhan jauhkan tanganmu dari payudaraku!" teriak Lyra lagi yang untungnya mereka tinggal di apartemen kedap suara.


****


Siska memperhatikan betapa handalnya Redro memasak di dapur. Sementara itu pandangannya masih kabur, bayangan yang melelahkan sewaktu di pesawat membuat kepalanya pusing serta perut mual.


"Kamu sudah bangun?" tanya Redro ke arah Siska yang meletakkan kepalanya di atas meja.


"Iya. Aah sudah jam berapa sekarang?" tanya Siska dengan mata yang terlihat kecil.

__ADS_1


"Tepatnya pukul dua belas siang kalau di Indonesia pasti sudah malam." Membawa semangkuk bubur ayam ke hadapan Siska.


"Pantas saja kepalaku terasa pusing. Jangan khawatirkan aku, pergilah bekerja," ujar Siska.


"Hari ini kami libur. Sebenarnya kemarin den Reyhan sudah mengatur jadwal rapat dadakan, tapi dikarenakan nona Lyra datang jadi dia membatalkannya dengan secara mendadak juga. Namun hal itu justru membuat para staf merasa senang." Memberikan Siska minuman hangat.


"Haha Reyhan sampai segitunya. Menurutmu berapa ronde yang mereka lakukan hari ini?" tanya Siska tanpa sadar.


"Apa maksudmu?" tanya Redro sambil menatap wajah pacarnya yang memerah malu karena menanyakan itu padanya.


"Tidak! A-aku lapar. Apa itu untukku?" tanya Siska mengalihkan pembicaraan.


Redro tidak menjawab ia malah menyodorkan sesendok bubur hangat ke mulut Siska.


"Aku bisa sendiri kok," ujar Siska tapi tidak ditanggapi Redro. Ia terus menerus menyuapi sesendok demi sesendok bubur ke mulut Siska hingga habis.


"Bersiaplah mandi aku akan membawamu jalan-jalan," ujar Redro sambil beranjak mencuci mangkuk beserta alat masak lainnya.


Dia ini, kemarin waktu di telepon bilang rindu begitu aku sudah disini malah cuek. Ah sangat menyebalkan sekali. Batin Siska kesal sambil beranjak ke kamar menuruti perkataan Redro yang menyuruhnya mandi.


Aah dia imut sekali. Batin Redro menoleh ke arah Siska yang berlalu masuk ke dalam kamar.


"Ah oh ya ampun wanginya, lembut lagi." Mengoleskan lotion yang tersedia di kamar mandi ke seluruh tubuhnya.


"Baiklah hari ini harus berdandan secantik mungkin, Siska hari ini buat Redro tidak mengalihkan pandangannya ke arah wanita bule yang genit ayo kita buktikan produk Asia tidak kalah menariknya." Menatap tajam ke arah cermin meja rias sambil menyentuh make up yang ia punya.


"Selesai! Siska you're perfect girl. Bahasa Inggrisnya begitu kan, ya! Ah bodo amat lah." Memperhatikan pantulan dirinya di cermin.



"Mau datangi Redro ah! Pasti dia sudah pakai baju dan menungguku," gumamnya sambil berjalan menuju kamar Redro.


"Beb, buka pintunya. Aku sudah selesai nih. Eh enggak dikunci berarti boleh masuk dong. Permisi ya Beb." Membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar Redro.


"Wah kamarnya besar banget beda dengan kamarku, ah sesuailah dengan Redro yang-"

__ADS_1


Ceklek!!!


Redro yang baru selesai mandi keluar dari kamar mandi dengan handuk di atas kepalanya lalu bagaimana dengan bagian bawahnya?


__ADS_2