MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-PERTEMUAN....


__ADS_3

"Lyra." Seseorang dari belakang Lyra memanggil namanya dengan suara yang tidak asing.


Lyra pun menoleh tampak Reyhan berdiri tegap dengan raut wajah kebingungan.


"Reyhan, kenapa kamu ada disini? Bukannya kamu masuk rumah sakit." Menatap heran.


"Apa? Rumah sakit? Bukannya kamu yang-"


"Tunggu sebentar, ini tidak rencana kamu, kan?" Lyra menatap curiga.


"Apa kamu pikir aku tidak ada kerjaan lain? Untuk apa aku melakukan ini? Kamu kira aku kekanakkan seperti itu?" Memelotot kesal.


"Aku hanya bertanya tidak perlu marah seperti itu." Mulai berjalan pelan.


"Kamu mau kemana?" Berjalan pelan mengikuti Lyra.


"Aku mau mencari jalan keluar, aku enggak suka dikerjai seperti ini." Terus berjalan tanpa menoleh.


"Sumpah! Bukan aku yang melakukannya, tiba-tiba saja Erick meneleponku dan mengatakan kalau kamu kecelakaan." Mencoba menjelaskan.


"Hah Erick? Dan juga Siska mengatakan kamu masuk rumah sakit." Memelotot kaget.


"Jadi ini. Aish! Dasar Erick lihat saja kau." Mengepalkan tangannya.


"Jangan diam disana bantu aku cari jalan keluar. Aku mau pulang nanti paman mencariku." Terus berjalan dan menyusuri area pasar malam yang luas.


Tiba-tiba kembang api menunjukkan keindahannya di langit dengan warna-warni yang entah dari mana asalnya. Lyra berhenti wajahnya melongo menatap kagum dengan pemandangan yang indah di langit.


"Lyra," panggil Reyhan lembut.


Lyra menoleh, dengan tatapan yang kosong kebingungan, kesedihan dan kecemasan sedang merasuki pikirannya. Bingung dengan situasi sekarang, sedih mengingat masa lalu kehilangan kedua orang tuanya dan takut untuk menentang pamannya yang telah menjaganya setelah kepergian kedua orang tuanya.


"Lyra, kenapa kamu menatapku seperti itu. Apa aku terlihat begitu mengerikan?" Berusaha tenang.


"Hah, aku bingung Rey, harus bicara apalagi denganmu. Kita saat ini sangat terlihat seperti orang asing yang tidak saling mengenal." Menghela napas berusaha menahan air matanya.


"Maksud kamu apa?" Menatap bingung.


"Kita sudah berakhir, hubungan kita sudah berakhir dan yang kemarin terjadi hanya akan menjadi masa lalu. Rey aku harap suatu hari nanti kamu mendapatkan pengganti yang jauh lebih baih dariku." Berbalik membelakangi Reyhan, lalu mengusap bulir air mata yang mulai menderasi pipinya.


"Masa lalu, kamu bilang hubungan kita berakhir dan menjadi masa lalu, Lyra kenapa kamu begitu naif." Mendekati Lyra.


"Aku hanya tidak ingin menjadi anak durhaka dan juga karena kamu-"


"Karena aku yang menyebabkan kedua orang tuamu tewas, itukan yang mau kamu katakan." Menatap Lyra tajam.


"Baguslah kamu juga akhirnya sadar akan itu." Berusaha terlihat setegar mungkin.


"Hah! Jika aku mengatakan kalau mobil kedua orang tuamu lah yang menabrak kendaraan milikku. Apa yang akan kamu lakukan?" Tersenyum sinis.


"Kenapa kamu malah bertanya seperti itu, kamu terlihat seperti sedang membalikkan fakta." Mengerutkan dahinya dan mulai emosi.


"Bagaimana kelanjutan hubungan kita?" Mengalihkan pembicaraan.


"Bukankah tadi kamu mendengarnya aku bilang anggap saja sebagai masa lalu. Tidak akan ada kelanjutan hubungan apapun. Kita sudah berakhir Rey, berakhir!" Teriak Lyra lalu berjalan cepat.


"Pernakah kamu mencintaiku?"


DEG


Bagai datangnya suara gemuruh pertanyaan Reyhan sangat sulit untuk Lyra jawab. Lyra hanya terdiam. Sementara itu, Reyhan kembali berjalan mendekatinya.


"Kamu diam, Ra berarti kamu mencintaiku." Tersenyum tipis.


"Sekarang tidak lagi." Menatap Reyhan dengan sinis.


Lyra kembali berjalan berharap dapat menemukan celah jalan keluar.


"Apakah dimatamu aku terlihat seperti seorang pembunuh? Aku akui seandainya saja aku tidak memaksa papa untuk mengajariku membawa motor, mungkin keadaannya tak akan seperti ini. Apakah ini hukuman untuk manusia sepertiku? Setelah menyebabkan tewasnya kedua orang tuanya tiba-tiba takdir mempertemukan aku dengan anak perempuannya yang mampu membuat aku jatuh hati dan terjadilah seperti ini. Katakan Lyra! Apa aku dirundungi karma?"

__ADS_1


Lyra terdiam, air matanya terjatuh mendengar setiap kalimat yang dilontarkan oleh Reyhan.


"Lyra, kamu tahu jelas bahwa aku sangat menginginkanmu tapi kenapa kamu selalu menarik ulur hatiku? Apa aku tak pantas mendapatkanmu? Apa itu terlalu mahal katakan harus ku bayar berapa untuk itu?" Menatap tajam pada Lyra.


"Aku tidak pernah mengulur hatimu dan juga jangan sembarangan bicara seperti itu. Cintaku tidak bisa dihargai dengan uang yang kamu punya, kamu terlalu memandangku rendah." Mengalihkan pandangan dari tatapan Reyhan, lalu berjalan menjauh.


"Sekali lagi kamu melangkah ketauhilah aku akan ke Amerika untuk selamanya. Kali ini aku bersedia meninggalkanmu. Begitu kamu melangkahkan kakimu bahkan jika setelah kamu berbalik itu tidak akan merubah apapun!" teriak Reyhan berhasil menghentikan langkah Lyra.


"Lihatlah Lyra kamu mencintaiku dan aku tahu itu," sambung Reyhan sambil berjalan mendekati Lyra untuk ke sekian kalinya.


Lyra berlari kencang. Langkah Reyhan terhenti dan tiba-tiba hujan datang dengan sendirinya seakan mengerti perasaan Reyhan. Reyhan tetap berdiam diri tatapannya mengarah pada Lyra yang terlihat semakin jauh.


Diambilnya ponsel yang ada di dalam saku lalu menghubungi kontak Redro.


"Halo Redro, aturkan jadwalku besok, ya ke Amerika jangan bahas itu sekarang semua sudah kembali ke tempat semula." Memutuskan panggilan teleponnya.


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Hah, hah, hah." Napas Lyra tersenggal-senggal ia kemudian menoleh ke belakang tampak Reyhan yang sudah berbalik dan berjalan menjauh.


"Hey kamu keluarlah aku sudah melihatmu!" teriak Lyra.


"Hah, kenapa bisa tahu sih." Seorang pria yang bersembunyi di balik meja pun bangkit.


"Apa kau pikir ini sebuah drama. Ini privasi orang lain kamu bisa saja saya tuntut, karena telah menjadi seorang penguntit." Menunjuk kasar pada pria itu.


"Maaf Mbak saya juga disuruh sama tuan Erick, dia pemilik pasar malam ini saya nggak bermaksud mengintip. Tadi saya mau lari ke toilet kebelet soalnya, maaf Mbak saya sudah enggak tahan, permisi." Berlari ke arah toilet umum.


Lyra menggelengkan kepalanya merasa heran dengan situasi yang dialami pria tersebut. Lalu ia mengambil payung yang ada di atas meja kemudian matanya tertuju pada Reyhan yang sudah tidak terlihat. Lyra berlari dengan wajahnya yang terlihat panik dan cemas.


Sekali lagi kamu melangkah ketauhilah aku akan ke Amerika untuk selamanya. Kali ini aku bersedia meninggalkanmu begitu kamu melangkah.


Perkataan Reyhan terngiang-ngiang di telinga Lyra seiring dengan langkah kakinya.


Sementara itu, Reyhan berjalan pelan menelusuri jalan pasar malam dengan iringan hujan yang membasuh tubuhnya.



"Reyhan." Suara Lyra sontak saja membuat langkah Reyhan berhenti.


Reyhan terkejut lalu menoleh ke belakang. Mereka pun berhadapan di bawah derasnya hujan.


"Maaf, tadi aku melihat seorang pria disana dia-"


"Karena itu kamu berlari jauh dan mengabaikan peringatan dariku." Melipat kedua tangannya wajah yang terlihat sendu dan sedih tadi berubah menjadi angkuh.


"Aku enggak fokus aku benci dikerjai seperti ini makanya aku cepat-cepat menciduknya, maafkan aku." Menunduk merasa bersalah.


"Pria seperti apa yang membuatmu tidak fokus terhadapku, apa mungkin dia sudah bosah hidup sepertinya aku harus-"


"Dia tidak bersalah jadi jangan lakukan apapun padanya."


"Kamu membelanya?" Menatap tajam.


"Tidak! Sudahlah bukan itu yang dibahas sekarang." Mengerutkan dahinya dan menahan emosi. Bisa-bisanya Reyhan cemburu dalam keadaan genting.


"Bukankah kamu bilang sudah berakhir, jadi mau bahas apa lagi." Mengalihkan pandangannya.


Dia ini benar-benar paling bisa memojokkan orang lain dasar Reyhan jika kamu terus seperti ini aku tidak akan segan-segan melakukan itu padamu. Batin Lyra.


"Besok aku akan ke Amerika, kamu bahagia bukan. Aku tidak akan mengganggumu lagi dan juga kita akan menjalani hidup masing-masing."


"Apa kamu bisa menjamin bisa melupakan aku?" tanya Lyra lalu melipat kedua tangannya persis yang seperti Reyhan lakukan di hadapannya.


"Mungkin kamu sedang membanggakan diri karena seorang Reyhan menyukaimu, aku salutkan sisi dirimu saat ini." Tersenyum tipis.


"Kamu mencintaiku bagaimana bisa hidupmu bahagia tanpa aku disisimu. Reyhan kita itu sudah saling menyatu."


"Tadi aku sudah memperingatkanmu dan kamu mengabaikannya," ujar Reyhan.

__ADS_1


"Sepertinya kesalah-pahaman itu sudah dibahas jangan pura-pura ngambek deh dan jangan sok jual mahal begitu." Berdiri tepat di depan Reyhan.


"Aku bukan orang yang seperti itu, bukankah kamu yang-"


Lyra menarik pundak Reyhan yang kokoh dan...


CUP


Dia mengecup pipi Reyhan.


(Yah pada kecewa deh kirain bibirnya ya kann šŸ˜…šŸ˜… sorry gengs untuk status mereka yang hanya sekedar sebatas pacaran aku berusaha semaksimal mungkin untuk menulis kalimat-kalimat yang dibatas wajar, jadi jangan berharap lebih. Tapi setelah menikah nanti baru deh sampai jungkir balik pun ada šŸ˜… but warning!!!diharapkan bagi yang dibawah umur atau jomblo jangan pada baper itu bisa merusak akal. Oke! Terima kasih).


Reyhan memelotot kesadarannya menurun ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengejutkanmu aku hanya bingung agar kamu tidak membahas perkataanku tadi. Jujur aku bohong mengatakan tidak mencintaimu aku terlalu dibutakan kebencian paman yang tersulut dendam padamu." Menunduk malu.


"Tu-tubuhmu basah seperti itu, untuk apa kamu menggenggam payung yang tidak berguna itu." Dengan suara tersendat-sendat Reyhan berusaha terlihat senormal mungkin.


"Aku lupa memakainya waktu mengejarmu tadi aku terlalu panik dan takut kalau kamu benar-benar pergi." Suara Lyra memelas.


Reyhan tersenyum, ia mengangkat pipi Lyra dengan kedua tangannya.


"Sekarang apa rencanamu pada hubungan ini, lanjut atau berakhir."


"Kamu sudah tahu jawabannya, tapi masih bertanya dasar aneh." Melepaskan tangan Reyhan.


"Aku bingung mau bicara apalagi itu karena-"


Seranganmu yang tadi. Batin Reyhan.


Lyra tersenyum ia mengerti maksud perkataan Reyhan yang berhenti tiba-tiba itu. Ia pun meraih tangan Reyhan.


"Aku mau kita menikah dalam minggu ini."


"Apa? Kamu tidak bercanda, kan?" Berharap Lyra menjawab Ya.


Lyra mengangguk, lalu melambungkan pelukannya pada Reyhan.


"Aku mencintaimu, Rey!" teriaknya sekuat mungkin.


Reyhan tersenyum bahagia seiring dengan air matanya. Mereka pun menyusuri jalanan pasar malam hingga tibalah mereka di depan jalan keluar.


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Hatchi..., dan akhirnya aku pun demam Sis," ujar Lyra sambil mengusap hidungnya yang memerah.


"Maaf Ra, aku hanya berusaha menyelamatkan hubungan kalian, lagi pula kenapa enggak berteduh sih. Di sana 'kan banyak ruangan-ruangan juga. Gimana atuh si neng ini." Memberikan secangkir susu jahe hangat pada Lyra.


"Itu sudah tidak bisa kami pikirkan lagi situasi kami sangat genting, Sis." Meminum susu yang diberikan Siska.


"Hmmm, persis adegan drama Korea kalian terlalu mendalami Ra." Tersenyum senang.


"Kamu ini! Mendalami apanya? Yang ada cuma sedih dan sedih Sis." Menatap kesal.


"Jadi akhirnya bagaimana?" Memelotot penasaran.


"Kami akan menikah, Sis."


"Hah? Kapan? Ra," tanya Siska lagi.


"Minggu ini, Sis." Meminum kembali susu hangat yang di genggamannya.


"Reyhan berulang kali mengajakmu akhirnya kamu bersedia dan minggu ini pula." Tersenyum lega.


"Intrupsi, bukan Reyhan yang mengajak tapi aku."


"Apa?" Memelotot tidak percaya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


TerimaKasih sudah Mampir jangan lupa hujatannya maaf updatenya lama Lup u readers tercinta.


__ADS_2