
Washington DC. AMERIKA SERIKAT.
20.00 PM
Reyhan menggenggam ponselnya berencana menelepon istri yang sangat ia rindukan. Berulang kali ia menelepon namun tak kunjung di angkat.
"Mungkin dia masih tidur? Atau mungkin saja sedang sarapan atau...."
Drrrrrrrrrrrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrrrrrt
Panggilan masuk ke ponselnya dan itu dari istri yang sedari tadi ia tunggu kabarnya. Reyhan menghembuskan napasnya berharap Lyra tidak menggodanya dengan pakaian sexy seperti sebelumnya.
"Halo," ujar Reyhan sambil menatap ke layar laptopnya.
"Hai sayang, maaf aku baru saja bangun. Tadi malam aku sedikit begadang." Terlihat jelas wajah Lyra yang sebagian tertutupi rambutnya serta selimut putih yang membalut menutupi tubuhnya hingga sampai ke leher.
"Hal penting apa yang mengharuskanmu begadang?" tanya Reyhan dengan pelan. Sesekali ia mengusap rambutnya, salah tingkah karena terus-terusan diperhatikan oleh Lyra.
"Emmmuachhh!" Bukannya menjawab pertanyaan Reyhan, Lyra malah menyodorkan kecupan hingga membuat wajah Reyhan merah padam untuk ke sekian kalinya.
"Aku kangen sama kamu tahu nggak sih? Aku kesepian di sini jadi wajar saja aku begadang." Lanjut Lyra setelah berhasil membuat Reyhan terdiam kaku.
"Sudah cepat bangun, bersihkan tubuhmu agar terasa segar. Tidak baik tidur lama-lama nanti tubuhmu pegal semua. Jangan buat aku khawatir karena sakit pinggang seperti waktu itu," ujar Reyhan.
"Hmmm iyalah aku tahu, tapi sakit pinggang yang waktu itu kan karena kamu mengagetkan aku. Jadi, jelas-jelas itu salahmu dan wajar saja kalau kamu khawatir. Bertanggung jawablah!"
"Baiklah, bangun sekarang juga dan bersihkan tubuhmu. Aku tidak suka menyentuh tubuh yang dipenuhi kuman," ujar Reyhan memaksa Lyra untuk bangkit dari tidurnya dan segera mandi.
"Huwaaaaa..., Ah pegalnya." Lyra mengangkat kedua tangannya dan menggeliat-geliatkan tubuhnya. Terlihatlah setengah tubuhnya yang dibaluti tanktop putih dan transparan. Bagaimana dengan ekspresi Reyhan? Jangan ditanya lagi. Matanya memelotot tangannya bergetar. Dia benar-benar sudah kehabisan kata, tubuhnya juga sudah membatu.
"Sayang? Kok bengong. Kamu lapar atau-"
"Kamu sengaja ya?" tanya Reyhan memotong perkataan Lyra.
"Apa? Sengaja? Sengaja apanya?" Menatap kebingungan, tidak mengerti maksud dari perkataan yang disodorkan Reyhan padanya.
"Tidak, tidak usah dibahas lagi. Pergilah mandi. Aku masih ada urusan setelah mandi hubungi aku," jawab Reyhan dengan sedikit gugup.
__ADS_1
"Tunggu sebentar!" cegah Lyra saat Reyhan hendak memutuskan panggilan. Reyhan menurutinya ia tampak serius mendengarkan.
"Mengenai hadiah yang kamu bilang kemarin itu, bisa tidak kamu katakan apa arti dari lima belas? Aku sangat penasaran," tanya Lyra sambil meletakkan handuk di bahunya, bersiap-siap untuk mandi.
"Kamu carilah sendiri, anggap itu tugas penting. Aku ingin tes seberapa besar IQ mu." Tersenyum semringah melihat wajah istrinya yang sudah mengerutkan dahi serta memanyunkan bibirnya.
"Oh? Sepertinya suamiku ini sedang bermain teka-teki denganku ya. Baiklah akan aku buktikan kalau IQ yang aku miliki ini tidak bisa dianggap enteng. Sudah dulu ya, aku mau mandi. Lihat saja nanti." Tanpa basa-basi lagi Lyra segera memutuskan sambungan telepon, sontak membuat Reyhan tertawa terpingkal-pingkal karena sudah berhasil membuat istrinya itu kesal.
Anggap saja itu hukuman untukmu karena sudah menyiksaku memakai pakaian aneh selama aku jauh darimu. Batin Reyhan lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang empuk miliknya.
"Aah Lima belas? Aku benar-benar sangat menantikan jawabannya mengenai lima belas." Terkekeh sambil menggoyang-goyangkan kakinya ke atas.
****
Siska yang masih terlelap dalam tidurnya tiba-tiba dikejutkan oleh suara ponselnya. Dengan perlahan ia berusaha meraba-raba sekitar tempat tidur. Matanya yang masih begitu berat ia buka dengan paksa.
"Halo."
"Masih tidur." Terdengar jelas suara Redro dari seberang.
"Baiklah, kamu lanjutkan saja tidurnya," kata Redro.
"Ya kamu yang semangat ya, jangan mengeluh, jaga hatimu, ingat ada seseorang yang sedang menunggumu untuk dihalalin." Dengan suara yang begitu serak Siska berusaha mungkin berbicara yang jelas. Ia dan Redro memang sangat jarang berkomunikasi, Redro selalu mengutamakan Reyhan di dalam hidupnya. Oleh karena itu, ia selalu berusaha untuk menjaga tubuhnya sesehat mungkin agar tetap bisa diandalkan oleh Reyhan.
"Baiklah, aku cuma bilang kalau aku merindukanmu," jawab Redro dengan sedikit canggung.
"Tadi kamu bilang apa!" Bagai gemuruh, pernyataan Redro yang barusan langsung membuat Siska bangun dari tidurnya yang semula sangat sulit untuk ia membuka mata.
Tit!!! Tit!!!
Panggilan telepon terputus, Siska langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur kembali. Pipinya merona serta senyuman malu terlukis di wajahnya. Ia bangkit kembali melompat-lompat kegirangan sambil mulai mendendangkan lagu kesukaannya.
"Aku sedang ingin bercinta karena, mungkin ada kamu di sini aku ingin!" teriak Siska dengan begitu riangnya sambil menggerak-gerakkan tubuhnya mengekspresikan kebahagiaannya yang tiada tara itu.
"Aah jadi penasaran sama reaksinya begitu tahu aku menyusulnya. Amerika i'm coming...." Mengangkat kedua tangannya.
***
__ADS_1
"Dia mandi atau tidur sih, sudah setengah jam aku menunggu. Namun, tetap saja tidak ada telepon." Reyhan bergumam sedari tadi ia menunggu telepon dari Lyra tetapi sang istri tidak menghubunginya.
Reyhan pun keluar dari kamarnya, selang beberapa menit dia kembali lagi dengan membawa segelas susu dan meletakkannya di atas meja.
Ia pun menyentuh layar ponselnya tapi tak ada tanda-tanda adanya telepon dari Lyra. Sambil mengusap rambutnya, Reyhan menekan tombol ponselnya menghubungi Lyra terlebih dahulu.
"Halo sayang." Terdengar suara Lyra dari seberang, yang sangat ia tunggu kabarnya.
"Kemana saja? Kenapa lama sekali apa kamu-"
"Maaf sayang, aku sedang berdandan hari ini mau pergi jenguk Tika di rumah sakit, dia sudah melahirkan." Lanjut Lyra memotong perkataan suaminya.
"Apa? Berdandan? Kenapa harus berdandan? Tidak perlu melakukan hal seperti itu. Kamu hanya akan menghabiskan waktumu di depan cermin. Sudah berangkat sekarang sana. Dan dimana wajahmu?" Kecerewetan Reyhan pun bertubi-tubi ia sodorkan kepada istrinya yang sedang mempercantik diri.
"Hahaha, tadi aku salah pencet, ini aku di sini. Sudah selesai kok." Memutar kamera telepon lalu tersenyum semringah.
Tiba-tiba Reyhan membatu, mulutnya yang berbicara panjang lebar tadi terbungkam. Baru kali ini ia melihat Lyra dandan semaksimal mungkin dan itu bukan untuk dirinya melainkan menjenguk teman yang baru melahirkan.
"Sayang, kenapa diam saja? Bagaimana penampilanku? Cantik nggak," tanya Lyra dengan wajah yang penuh penasaran.
Dia berdandan untuk orang lain. Lyra, aku merasa kamu memperlakukan tidak adil. Batin Reyhan sambil terus memperhatikan wajah cantik Lyra.
"Sayang, kenapa bengong sih? Riasanku aneh ya."
"Riasanmu tidak aneh tapi cara berpikirmu yang aneh. Kamu berdandan untuk memuaskan mata orang lain sedangkan aku yang sudah menjadi suamimu saja tidak diperlakukan spesial seperti itu. Hahaha..., mungkin di sini hanya aku saja yang terlalu mencintaimu," jawab Reyhan.
"Lho, kenapa bicaranya seperti itu? Kamu nggak mungkin cemburu kan sama Tika dan Hadi."
"Cemburu? Kamu benar sekali, aku memang cemburu sangat cemburu. Sepertinya kamu lebih mencintai mereka dibandingkan aku. Aaah! Maaf aku sudah mengantuk, have fun ya." Tanpa permisi Reyhan memutuskan panggilan telepon. Dia tidak ingin menunjukkan kemarahannya kepada Lyra.
Apakah cemburu itu pertanyaan yang tepat untukku, harusnya dia bisa peka walaupun hanya sedikit saja. Batin Reyhan sambil menghentakkan tangannya ke dinding dengan keras, ia melakukannya berulang kali.
****
__ADS_1