MY BERONDONG

MY BERONDONG
S-2 KEJADIAN DI TOKO CINCIN....


__ADS_3

PLakkk!!!


Tamparan Lyra mendarat tepat di pipi kanan Yessi yang langsung memar.


"Beraninya kau menamparku!" Memelotot marah.


"Ya ampun bedak mahalmu menempel di tanganku. Maaf aku tidak bisa mengontrolnya, kau memang perlu diajarkan tata krama sih." Menepuk-nepuk tangannya.


"Kau!" teriak Yessi berusaha mencengkram leher Lyra tapi apalah daya sepatu tumit yang ia kenakan malah oleng hingga membuatnya terpental di lantai.


Orang-orang di sana mentertawakannya, yang tak bisa bangkit lagi dan hanya bisa mengusap kasar rambutnya seperti orang gila.


"Huuuuu, hahaha." Sorakan beserta tawa para pelanggan lain pun terdengar serempak.


"Ada apa ini?" tanya seorang pria paruh baya yang sontak membuat mereka berhenti tertawa.


"Papa, aku dibuat malu sama dia. Dia menyerangku Pa!" teriak Yessi sambil menangis sejadi-jadinya.


Pria paruh baya yang ternyata ayah Yessi tersebut pun berjalan mendekat. Wajahnya terlihat sangat murka ia pun mendorong Lyra hingga bagian kepala belakangnya tersentak pada salah satu sisi meja perhiasan.


"Beraninya kau membuat putriku seperti ini, kau sudah bosan hidup hah!" Teriak Pria tua itu.


"Maaf, Anda salah paham putrimu yang-"


"Kau masih berani mengelak!"


PLak!!!


Satu tamparan mendarat tepat di pipi Lyra namun tak sampai disitu saat ia akan menampar pipi Lyra yang satu lagi.


Bugh!!!


Serangan tendangan Reyhan lebih dulu tepat di tangan pria tersebut hingga membuat tubuh yang mulai lemah itu tersungkur.


"Kau, kalian hajar dia!" teriaknya pada kedua pengawalnya.


"Ma-maaf Tuan dia Reyhan Almirza," jawab mereka serempak dengan suara terbata-bata.


"Apa? Reyhan Almirza?" Menatap tidak percaya.


Reyhan mengangkat tubuh lemah Lyra lalu menuntunnya ke tempat duduk di sudut toko.


"Tunggu sebentar aku akan memberikannya hadiah." Tersenyum manis pada Lyra yang dibalas Lyra dengan kekhawatiran.


Bugh!!!

__ADS_1


Bagh!!!


Hanya dengan mendapat sekali tendangan dari Reyhan mampu membuat kedua pengawal ayah Yessi jatuh dan tak berdaya. Ia pun berjalan menuju ayah Yessi yang memelotot ketakutan, Reyhan terus berjalan cepat menujunya.


"Tolong, jangan sakiti papaku. Dia tidak salah aku yang bersalah pukul aku saja." Memegang tangan Reyhan sambil menangis tersedu-sedu.


Reyhan menghentakkan tangan Yessi hingga terjatuh, ia terus berjalan menuju ke arah ayah Yessi yang semakin ketakutan.


"Polisi di sini!" teriak seorang polisi sambil mengacungkan pistolnya.


"Jangan ada yang bergerak dan angkat tangan!" teriak polisi yang satu lagi.


"Kami baru saja menerima panggilan katanya di sini sedang terjadi pemukulan, dimana orangnya?" tanya polisi tersebut.


"Saya tadi yang menghubungi kantor polisi Pak, dan dia pelakunya," ujar Ayah Yessi sambil tersenyum semringah lalu menunjuk pada Reyhan.


Reyhan pun berbalik melihat ke arah polisi tersebut, kedua polisi itu memelotot kaget seolah sangat mengenali sosok Reyhan.


"Maaf Tuan sepertinya kau sedang bercanda. Ayo Wan kita balik." Menarik tangan teman polisinya tersebut.


"Apa! Hei kembali dia akan membunuhku!" teriak ayah Yessi semakin ketakutan melihat Reyhan yang mendekatinya.


"Apa kau ingat NM ENTERTAINMENT? Itu bisnis putrimu yang gedungnya besar dan terkenal di Jakarta tapi sayang sebagian stafnya sampah yang tak berguna. Dan hanya hitungan menit aku membuat gedung yang kalian banggakan itu tinggal debu, apa kau tahu apa penyebabnya? Itu karena ulah salah satu stafmu yang mengganggunya. Aku telah berbaik hati pada putri kesayanganmu itu dan tidak ikut menyandranya tapi kali ini bukan putrimu saja bahkan kau sendiri akan aku jadikan debu!" teriak Reyhan.


"Apa kau tega memukuli pria tua sepertiku, apa tidak ada rasa iba sedikit pun?" Menatap ketakutan.


Bugh!!!


Bagh!!!


Reyhan menendang bagian perut lalu wajah ayah Yessi lalu kembali lagi ke perutnya hingga mengeluarkan darah.


"Lyra tolong hentikan dia papaku bisa mati, aku minta maaf." Berlutut sambil menangis di kaki Lyra.


Lyra tidak menanggapinya, ia terus melihat ke arah Reyhan.


"Ampuni aku, tolong ampuni aku." Terus berjalan mundur merasa ketakutan.


Reyhan mulai hendak memukulnya namun tangannya langsung ditangkap oleh Lyra.


"Sudah, Rey tidak perlu berlebihan lagi kita pulang saja yuk," ujar Lyra lembut.


Reyhan pun memegang tangan Lyra. Ia menatap tajam pada ayah Yessi yang masih ketakutan.


"Malam ini terimalah kehancuran perusahaanmu, dan juga-"

__ADS_1


"Reyhan! Aku bilang tidak perlu, ayo kita pulang ini sudah sore." Terus menarik tangan Reyhan.


"Perusahaanmu segera musnah kubiarkan nyawamu berkeliaran. Anggap saja ini kesempatan terakhirmu untuk bernapas lega, ingat tidak akan ada lain kali." Menatap sinis.


Merekapun berjalan hendak keluar. Akan tetapi pandangan Reyhan tertuju pada sebuah lemari stainless mini yang berisikan berbagai macam jenis cincin yang tertata rapi. Ia pun berjalan mendekatinya.


"Katakan pada Chang Hi membawa desain Fatamorgana ke kediamanku," ujarnya pada karyawati yang melayani Lyra tadi.


Dengan tubuh yang bergetar karyawati itu pun mengangguk pelan namun memberikan 2 lollipop yang ada di depannya. Reyhan mengerti maksudnya ia pun menerimanya dan kembali berjalan ke arah Lyra.


"Tatak anteng atu mau dong opopnya." Seorang balita menarik kantong celana Reyhan.


Reyhan pun berjongkok, sambil tersenyum Reyhan memberikannya, dan langsung di ambil oleh balita tersebut.


"Kata mama tata anteng sekali, belkelahi pun jago atu mau punya pacal tayak tata," ujar balita perempuan tersebut.


"Bilang sama mamamu, carikan kakak ganteng yang lain karena kamu juga cantik." Tersenyum sambil mengusap kepalanya lalu memberikan lollipop yang satunya lagi ke tangan balita perempuan tersebut.


Balita itu pun berlari dengan riang menuju ke arah ibunya yang tersenyum malu. Lyra dan Reyhan pun keluar.


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Apa kamu marah?" tanya Lyra.


"Tidak, untuk apa?" Mengalihkan pandangannya ke langit-langit mobil.


"Ya siapa tahu karena aku menghentikanmu memukulinya tadi." Mengambil tisu yang terletak di depannya.


"Hampir saja! Tapi aku berpikir tidak mungkin kalau kamu menghentikanku karena ada perasaan padanya. Dia tua, jelek dan botak begitu itu bukan tipemu." Menyandarkan tubuhnya pada kursi mobilnya yang empuk.


"Apa? Jadi tadi kamu sempat cemburu padanya. Ya ampun Reyhan itu enggak mungkin banget memangnya kamu kira aku ini wanita bodoh, apa?" Tertawa mendengar pernyataan Reyhan.


"Aku hanya bilang hampir dan aku juga tidak melanjutkannya, karena aku ini pintar otakku langsung bekerja. Tidak mungkin kamu menyukai pria berusia senja itu." Berusaha berkilah.


Reyhan ternyata otakmu menjadi eror ketika kau melihat lelaki di sekitarku cemburumu sangat berlebihan. Aku jadi semakin gemas padamu, tadi kamu tampak begitu arogan tapi sekarang kamu malah membuatku tertawa seperti ini kamu ini benar-benar polos. Batin Lyra sambil tersenyum lalu mendekat kepada Reyhan.


"Kamu mau apa?" Berusaha bangkit namun terlanjur diapit oleh tangan Lyra.


"Ssst, tenanglah aku hanya menghapus keringatmu jangan berpikir negatif dulu." Menghapus keringat Reyhan dengan tisu.


Bagaimana aku mau tenang, kamu terlalu sering menyerangku tiba-tiba. Bukannya aku mau menolak tetapi kadang aku juga butuh persiapan agar terlihat sempurna. Batin Reyhan sambil menutup kedua matanya.


Dia ini biar sudah berkeringat deras seperti ini pun, aroma tubuhnya tetap wangi, aku yang perempuan saja kalah jauh. Batin Lyra sambil terus menghapus keringat Reyhan yang perlahan mengering.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir, silahkan hujatannya 😉😉😉Luv u readers.


__ADS_2