
"Aah!!!" Teriakan dua orang tersebut terdengar sangat kuat begitu pandangan mereka saling bertemu.
Tanpa berkata apapun Siska langsung keluar dari kamar dia merasa sangat malu. Dia duduk di atas sofa menunggu Redro keluar dari kamar.
Tak lama kemudian Redro pun keluar dengan setelan pakaian serba hitam. Wajahnya merah padam, menahan malu insiden barusan. Bagaimana tidak, Siska melihatnya dengan balutan celana dalam saja.
"Beb, maafin aku. Tadi aku enggak sengaja," ucap Siska sambil menggenggam tangan Redro.
"Sebentar, aku ambil kunci mobil dulu, kamu tunggulah diluar." Melepaskan tangan Siska lalu kembali ke dalam kamar mengambil kunci mobil.
Dia tidak marah kan, ah dasar Siska mesum sekali kau ngapain coba pakai masuk ke dalam kamarnya. Batin Siska kesal pada dirinya sendiri.
Lebih baik aku tunggu di luar saja, daripada marahnya semakin menggila. Bisa-bisa aku dicincang lagi sama dia. Muka boleh baik tapi hati siapa yang tahu. Batin Siska sambil keluar menuju luar apartemen. Dia memutuskan untuk menunggu Redro di parkiran.
"Ah sudah siang begini pun masih dingin, Amerika ini pemandangannya memang sangat bagus sekali," gumam Siska sambil menatap ke kanan dan kiri.
Redro pun berjalan menghampirinya, Siska tersenyum tipis namun diabaikan olehnya.
"Enggak naik mobil ya?" tanya Siska.
"Tunggu tukang parkir membawanya kemari," jawab Redro.
"Beb, aku minta maaf ya, tadi aku tidak sengaja lihat itu. Sebenarnya aku cuma-"
"Tolong lupakan masalah yang tadi, jangan dibahas lagi oke," jawab Redro yang langsung diangguki oleh Siska.
Tak lama kemudian mobil milik Redro pun menghampiri mereka.
"Thank you, Sir," ucap Redro.
"You're welcome," jawab pria bule paruh baya tersebut.
Dengan segera Siska masuk. Tanpa mendengar aba-aba dari Redro. Di dalam mobil mereka hanya diam dan diam Siska yang takut Redro marah dan Redro yang dihantui perasaan malu yang luar biasa.
Sampailah mereka ke sebuah pantai yang ramai pengunjungnya. Disana berhamparan pria serta perempuan bule yang bebas memakai apapun yang mereka pakai. Tapi, apa tujuan Redro membawa Siska kesana?
"Beb, kita-" Belum selesai Siska berbicara, Redro malah berjalan ke arah pantai tersebut, dengan sabar Siska mengikutinya.
"Hai baby, you are here." Seorang perempuan bule yang mengenakan setelan pakaian dalam beserta BH menghampiri Redro berniat memberikan cipika-cipiki namun langsung ditepis oleh Redro. Napas Siska seolah terhenti, ia tidak yakin bahwa Redro berteman dengan perempuan bule seperti itu.
Redro pun mengobrol panjang dengan mereka yang membuat Siska bingung karena tidak mengerti apapun yang mereka katakan.
"Aku ke toilet sebentar," ujar Redro pada Siska lalu beranjak pergi dari tempat tersebut.
"Hei, dari tadi kita belum berkenalan. Saya Marie dan ini Chloe mantan pacar Redro." Seorang perempuan bule mengenalkan dirinya beserta teman yang di sampingnya.
"Hai, aku Siska." Tersenyum canggung.
__ADS_1
"Kamu tahu enggak tujuan Redro membawamu kemari?" tanya Marie.
"Tidak," jawab Siska sambil menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya tadi malam, Redro menghubungi kami. Dia bercerita bahwa pacarnya datang jadi mengajak kami kemari. You know lah tujuannya apa?"
"Maaf sebenarnya kamu mau bilang apa?" tanya Siska bingung.
"Redro mau mutusin kamu. Dia mengajak Chloe kembali menjadi his girlfriend," jawab Marie sambil tersenyum tipis.
"Enggak mungkin! Redro tidak sejahat itu." Menggeleng tidak percaya.
"Sudahlah kalau tidak percaya, kalau saya jadi kamu. Pasti saya sudah pergi sekarang."
Siska bangkit dari duduknya mengingat sikap Redro yang sedari tadi diam dan tidak mempedulikannya cukup sebagai bukti untuk membenarkan perkataan Marie.
"Marie, what are you doing? She cries!" Chloe menatap bingung.
"Just let her go."
Beberapa menit kemudian, Redro kembali namun ia tidak menemukan Siska.
"Where is she?" tanya Redro dengan mata yang memelotot.
"I dont know, they had been talking from earlier," jawab Chloe yang langsung membuat Redro percaya karena setahu Redro, Chloe tidak bisa berbicara bahasa Indonesia.
"Marie, if something happens to her i'll kill you!" Mencengkram leher Marie lalu menghempaskannya hingga membuat wanita berambut pirang itu tersungkur.
Menghubungi ponsel Siska pun akan sia-sia Redro lupa mengganti sim milik Siska. Ia terus memperhatikan ke sekeliling mobil namun tetap saja sosok Siska tidak ia temukan. Hari semakin gelap, membuat Redro merasa menyesal, tepat di sudut jembatan Redro melihat seorang wanita persis dengan ciri-ciri serta outfit yang dikenakan Siska. Segera ia menepikan mobilnya, lalu berjalan mendekati wanita itu.
"Siska," panggil Redro.
Wanita itu pun menoleh, benar saja dia adalah Siska dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya sambil sesenggukan.
"Kamu kena-"
"Berhenti disana! Jangan mendekatiku, atau aku akan lompat," ujar Siska memberi peringatan.
Redro menuruti perkataan Siska, ia berhenti menatap sendu ke arah wanita itu.
"Dari awal bertemu hingga sekarang aku sangat mencintaimu. Aku terlalu senang begitu kau mengatakan bahwa kau merindukan aku makanya aku ikut Lyra kemari. Aku berusaha ada disini karena aku tahu rindu itu sangat menyiksa."
"Tapi apa yang aku dapatkan? Chloe, aku akui dia jauh lebih cantik daripada aku jadi wajar kau memilihnya. Tapi kalau tidak suka ya tinggal bilang putus kan selesai, tidak perlu menyakitiku seperti ini." Mengusap air matanya.
"Lagipula apa pantas aku dihinakan seperti ini? Tidak Redro! Karena biar bagaimanapun aku ini manusia. Aku tidak terima." Menangis sejadi-jadinya.
Redro perlahan-lahan berjalan mendekati Siska. Dia mengusap-usap rambut wanita itu. Siska mendorongnya hingga terperojok.
__ADS_1
"Aku sadar aku tidak secantik dan se sexy Chloe tapi bisakah kau memperlakukan aku sebagai manusia. Mulai sekarang kau tidak perlu lagi melihat wajah jelekku ini. Kita putus!" teriak Siska.
Redro berjalan mendekatinya mencium paksa bibirnya yang berusaha ia lawan namun kalah karena Redro pria yang jauh lebih kuat darinya. Redro terus mengulum bibir Siska hingga membuatnya tidak bisa bernapas. Perlahan tapi pasti Siska berhenti melawan tubuh Redro. Barulah Redro melepaskannya.
"Aku memang merindukanmu, tak ku sangka kamu datang beneran. Begitu aku mendengar tuan Erick mengatakan kalau dia membawamu ikut serta aku sangat senang. Itu sebabnya aku langsung memelukmu di bandara tadi malam."
"Chloe dan aku memanhmg pernah berhubungan cukup lama tapi kami ada di prinsip serta keyakinan yang berbeda. Setelah bertemu denganmu aku merasa hidupku penuh warna mendengar ocehanmu yang tanpa mengenal titik koma, tapi justru itu yang paling aku rindukan."
"Aku sengaja membawamu ke pantai aku ingin mengenalkanmu dengan Chloe karena beberapa hari yang lalu dia mengajakku balikan. Jujur aku merasa berkhianat setiap kali dia menyentuh tanganku memaksaku merajut kasih dengannya lagi. Makanya jauh lebih baik dia mengenalmu agar berhenti menggangguku. Marie temannya itu bukanlah orang yang baik-baik. Dari dulu hingga sekarang dia sosok wanita yang mengerikan. Dia menyukaiku hingga menghasut Chloe membuat kami selalu terlibat pertengkaran hebat dan sekarang dia beralih padamu, aku mohon walau apapun terjadi percayalah padaku." Menyentuh pelan pundak Siska.
Siska terdiam ia langsung membenamkan wajahnya ke dada bidang Redro.
"Beb, maafkan aku, Aku kira yang dikatakan wanita jelek itu benar makanya tanpa berpikir panjang aku langsung pergi. Lagipula dari tadi kamu diam terus jadi aku kira kamu beneran ingin membuangku dan akan balikan dengan Chloe."
"Dasar gadis bodoh, enggak akan. Tadi aku hanya sedang kesal kepada seseorang." Mengelus punggung Siska.
"Apa karena aku melihat 'itu' ?" tanya Siska sedikit canggung.
"Kamu terus membahasnya, jangan-jangan kamu suka lihat yang begituan ya," goda Redro.
"Apaan sih? Jadi kamu kesal pada siapa?" tanya Siska.
"Miss Anna, dia seorang desainer toko perhiasan. Tadi pagi aku memesan kalung permata putih namun tak kunjung tiba. Jadi waktu aku bilang pergi ke toilet sebenarnya aku bertemu dengannya disana membawa kalung yang aku pesan. Tapi waktu aku kembali kamu sudah tidak ada." Memakaikan kalung ke leher Siska.
"Maaf aku salah paham lagi, aku kira kamu beneran akan meninggalkanku. Apalagi setelah melihat Chloe aku minder banget cantiknya enggak ketulungan beda sama aku. Makanya itu, aku dengan mudahnya percaya dengan Marie wanita sialan itu," Mendekap erat tubuh Redro.
"Bisakah kau berjanji padaku, hanya cukup mendengar apa kataku dan berhentilah percaya dengan perkataan orang lain yang berkata jelek tentang hubungan kita."
"Iya, mulai sekarang aku berjanji akan percaya hanya pada Redro, si tampan yang menggoda!" teriak Siska.
"Si tampan yang menggoda?"
Tidak suka ya? Baiklah aku ganti. Aku Siska Rahma berjanji akan selalu percaya pada Redro, si tampan yang sexy!"
"Hei, kamu mau mati ya! Aku tidak sexy."
"Kau sexy!" terkekeh.
"Tidak!"
"Aku sudah melihatnya, itu sangat sexy."
"Aaaah!" Mulai frustasi.
"Hahaha...." Memeluk erat tubuh Redro.
__ADS_1
****