
"Siapa ya? Tunggu sebentar aku buka dulu," kata Siska sambil beranjak keluar.
"Hai Siska."
"Kak Fardan, ada perlu apa ya Kak?" tanya Siska keheranan.
"Ehm jadi sekarang kakak dilarang nih bertamu kemari," jawab Fardan.
"Oh enggaklah hahaha, tumben biasanya kan jarang eh baru 1 kali ya," jawab Siska, sambil memaksakan ketawanya.
"Kakak dengar Lyra pulang hari ini jadi kakak datang untuk menjenguk," sambung Fardan.
"Oh gitu."
"Jadi kakak enggak boleh masuk ya?" tanya Fardan.
"Oh ya ampun aku lupa hahaha silahkan masuk maaf ya berantakan Kakak mau minum apa? Teh, kopi atau-"
"Enggak perlu repot-repot kakak cuma mau bertemu Lyra kok sebentar saja," jawab Fardan.
"Hmm Lyra sih ada cuma dia sedang istirahat maklum kelelahan di jalan jadi enggak bisa diganggu," jelas Siska.
"Kok kamu enggak bilang dari tadi Sis, aku merasa akhir-akhir ini kamu menghindariku. Apa aku ada salah?" tanya Fardan, dengan tatapan tajam.
"Perasaan Kakak kali, aku merasa biasa saja enggak ada yang berubah," ketus Siska.
Fardan menghela napas menahan amarahnya melihat tingkah Siska yang membuatnya jengkel.
"Oke, kalau begitu aku pamit dulu kalau Lyra sudah bangun katakan aku datang menjenguk dan aku ingin mengatakan sesuatu padanya," ujar Fardan, sembari bangkit dari duduknya.
Saat akan keluar.
"Tunggu sebentar, sebenarnya apa yang ingin Kakak katakan lagi pada Lyra. Tolong jangan mengganggunya lagi, dia sudah bahagia dengan pacarnya, Mengertilah!" cetus Siska.
"Hah pacar hanyalah pacar apa bedanya dengan teman, bahkan jika Lyra menikah pun aku akan berusaha merebutnya, aku tidak perduli," jawab Fardan, lalu beranjak keluar.
"Kak Fardan aku tidak menyangka kau orang yang keras kepala," gumam Siska, lalu menutup pintu.
Reyhan duduk di ruang tengah rumahnya menyandarkan tubuh sambil mengusap dahinya berulang kali.
"Den, nyonya Marta sempat datang kemari hanya saja sesuatu terjadi di Amerika membuatnya kembali kesana. Akan tetapi Den tenang saja nyonya akan datang 2 minggu lagi tepat setelah ujian akhir nanti, jadi Den bisa merayakannya," ujar pak Mat, mencoba menghibur Reyhan.
"Pak Mat tidak perlu mencoba menghibur saya, saya sudah terbiasa dengan janji palsunya dan sekarang saya sudah tidak perduli lagi. Jadi tolong jangan mengungkit tentangnya pada saya, saya sudah sangat muak," jawab Reyhan menahan air matanya.
"Ba-baik Den bapak janji tidak akan mengungkitnya lagi kalau begitu bapak permisi dulu," jawab pak Mat, lalu pergi keluar.
"Hah Mama, apa aku pernah ada di pikiranmu?" gumam Reyhan sambil menatap langit-langit rumahnya.
****
PAGI
"Hmm harumnya, seperti masakan Lyra, ah iya ini masakan Lyra." Siska memaksa membuka matanya setelah mencium aroma ciri masakan Lyra, lalu bergegas ke dapur untuk memastikan.
"Lyra, ini jam berapa? Kok kamu sudah bangun?" tanya Siska keheranan.
__ADS_1
"Ah ini sudah jam 5 pagi lho Siska, nanti kamu telat jadi aku buatin bekal deh untuk kamu," jawab Lyra.
"Kesehatan kamu jauh lebih penting, istirahat yang cukup itu perlu atuh Neng," sambung Siska.
"Badanku pegal semua karena baring terus. Bosan Sis," jawab Lyra sambil memanyunkan bibirnya.
"Baiklah terima kasih ya Lyra yang cantik sudah buatin bekal enak ini. Aku sangat tersanjung," puji Siska sambil mengelus rambut Lyra.
Lyra tersenyum lalu melanjutkan masak.
"Lah kok ada 2 bekalnya?" tanya Siska sambil memelotot bingung.
"Ini untuk Reyhan, nanti setelah mengantar kamu ke sekolah aku mau mampir ke tempat Reyhan hari ini dia ada kegiatan pemotretan," jelas Lyra.
"Hah pemotretan? Maksud kamu apa sih?" tanya Siska kebingungan.
"Aku belum cerita ya, haha kemarin waktu di rumah sakit kami bertemu salah satu staf NM ENTERTAINMENT, dia menawarkan kerja sama dengan Reyhan untuk menjadi model majalah mereka," jelas Lyra lagi.
"Hah? Yang benar, itu kan agensi yang lagi naik daun. Mantap Reyhan langsung dapat tawaran model, berapa tu royalty nya?" tanya Siska semakin penasaran.
"Katanya sih 30 juta per 5 lembar foto, bagaimana menurutmu?" tanya Lyra balik.
"Alamak besar banget Lyra, ya ampun gaji berapa bulan itu," ujar Siska sambil membayangkan uang jatuh ke arahnya.
"Sudah jangan menghayal doakan saja biar lancar," kata Lyra sambil memberikan tas berukuran sedang tempat bekal Siska.
"Ehm, nanti bagi dong," goda Siska.
"Itu bukan uangku Siska yang cantik jangan menggodaku enggak baik mengambil sesuatu yang bukan milik kita," ujar Lyra.
Hah apa sebaiknya aku kembalikan saja ya, kalau Lyra tahu aku mengerjai pengawal pacarnya pasti bakalan mengamuk tuh, bingung dah. Batin Siska.
Beberapa saat kemudian.
"Oke sudah selesai kan cantik deh," puji Siska.
"Kamu ini ya, aku cuma mau bertemu Reyhan saja harus didandanin segala padahal dia udah terbiasa kali dengan wajah tembokku," ujar Lyra.
"Eits, kamu kira di lokasi itu enggak ada cewek sama sekali yang make up, wardrobe itu siapa kalau bukan perempuan belum lagi lawan modelnya si Reyhan ya pasti perempuanlah masa pedang sama pedang." Siska menyela.
"Tapi kan aku tidak ikut kesana Sis. Aku cuma mau mengantar bekal doang," sambung Lyra.
"Jadi orang jangan ngawur. Bisa enggak sih, jadi perempuan inisiatif sedikitlah, ingat ya laki-laki bisa selingkuh kalau diberi celah meskipun hanya setitik. Jadi selama pemotretan kamu harus temani dia kemana pun kecuali ke toilet dan pergantian celana karena itu enggak disarankan mengerti Tuan Putri," kata Siska sambil merapikan rambut Lyra.
"Baiklah! Sekarang mana kuncinya kita akan berangkat aku yang bawa motor," ujar Lyra.
"Enggak boleh, aku yang bawa."
"Siska, aku sudah lama enggak bawa motor jadi biar aku saja lagipula tiap kali kamu bonceng aku selalu jatuh."
"Itu udah lama banget lho."
"Lama apanya 4 bulan yang lalu lho."
"Pokoknya aku yang bawa."
__ADS_1
"Eh enggak bisa aku yang bawa."
Lyra menggenggam kunci motor ditangannya berjalan ke arah pintu saat akan membukanya sosok Redro membuatnya terkejut.
"Pokoknya aku yang bawa!" teriak Siska dari belakang, lalu terdiam setelah melihat Redro.
"Ada apa ya?" tanya Lyra.
"Maaf Nona saya diperintahkan den Reyhan untuk mengantar Non Siska ke sekolah," jawab Redro lembut.
"Siska pergilah bareng Redro," panggil Lyra.
"Aku mau naik motor saja bareng kamu, kamu yang bawa juga aku pasrah," ujar Siska pada Lyra.
"Kenapa gitu? Enggak baik lho, Redro sudah jauh-jauh datang malah diabaikan sejak kapan Siska menjadi kasar begini," kata Lyra mencoba membujuk Siska.
"Hmm oke aku mau tapi kamu juga harus ikut bareng kita dan kalau kamu mau mengantar bekal untuk Reyhan juga harus naik mobil jangan pakai motor bagaimana?" tanya Siska.
"Ya udah deh kita naik mobil saja, sebelumnya terima kasih sudah menjemput," ucap Lyra sopan.
Redro mengangguk dan membukakan pintu mobil.
Di Dalam Mobil...
Lyra menyenggol tangan Siska memberi kode agar menyapa Redro akan tetapi ditolak oleh Siska karena gengsi.
"Oh ya Mas Redro, Reyhan sudah bangun belum?" tanya Lyra mencoba memecahkan keheningan.
"Tadi saya lihat sudah Non tapi sepertinya baring lagi," jawab Redro.
"Oh kebiasaannya seperti itu ya ternyata," ujar Lyra.
"Den Reyhan berbaring sambil belajar Non, itulah kebiasaannya," sambung Redro.
"Pakai sabuk pengamanmu," bisik Lyra pada Siska.
"Enggak ah sesak, aku risih tahu." Siska menyela.
Siska melihat ke arah cermin mobil yang sedikit miring.
"Redro benerin kacanya dong, aku mau berkaca nih," ujar Siska.
Lyra memelotot pada Siska, berbeda dengan Redro yang langsung mengikuti permintaan Siska akan tetapi, tiba-tiba...
SHUTTTTTTTTTTT!
Redro mengerem mobil yang hampir menabrak tiang peringatan jalan, sontak saja membuat tubuh Siska yang dari belakang menerobos ke depan hingga tak sengaja memegang paha Redro.
Redro dan Siska saling berpandangan dan....
BERSAMBUNG......
Terima kasih sudah mampir jangan lupa Like dan Komen. Sehat selalu readers
__ADS_1