MY BERONDONG

MY BERONDONG
Menginap Di Hotel?


__ADS_3

Dari kejauhan, Siska melihat kedua sosok adiknya yaitu Irshad dan Bagas. Mereka tampak sedang meminum air putih dengan botol secara bergantian.


Siska mengusap air matanya yang mengucur. Sudah lama ia tak melihat kedua adiknya yang tumbuh semakin besar. Lyra menepuk pundak Siska, berusaha menenangkan sahabatnya itu.


"Lihatlah mereka Ra, dengan tubuh kecil begitu sudah bekerja keras. Sedangkan aku...aku bersenang-senang di Kota tanpa kabar." Siska menenggelamkan tubuhnya ke pelukan Lyra.


"Aku tahu Sis, tapi sekarang bukan saatnya untuk menyesali semuanya. Ya, sudah saatnya kamu merubah semua yang menyangkut kehidupan keluargamu!" Siska menatap kedua bola mata Lyra yang menyemangatinya.


Lyra mengangguk, "ayo kita temui mereka," ajak Lyra seraya mengusap air mata Siska.


Mereka pun berjalan menyeberangi jalan rambu lalu lintas yang kebetulan menunjukkan warna merah.


Ya, Lyra benar sudah saatnya keluargaku bahagia. Aku tidak boleh lengah, aku harus membahagiakan mereka, batin Siska seraya menatap kedua adiknya mendatangi satu persatu pengendara untuk menjajakan koran mereka.


Lyra melihat sebuah market, ia menarik Siska untuk masuk ke dalam. "Kenapa, kok malah masuk ke sini?" tanya Siska keheranan.


"Kamu masih ingat nggak apa kesukaan mereka?" tanya Lyra balik.


Dengan cepat, Siska menuju lemari dingin tempat es krim. Wanita itu mengambil empat buah dengan varian rasa yang berbeda yakni, cokelat, pisang, strawberry dan durian.


Lampu merah telah berganti menjadi hijau. Irshad dan Bagas kembali duduk di tepian jalan. Sementara itu, Lyra dan Siska berjalan mendekati mereka dari belakang.


Berkali-kali Siska mengusap air matanya. Sungguh tak bisa ia tahan melihat kondisi kedua adiknya.


"Irshad, Bagas," panggilnya lirih.


Kedua bocah itu menoleh, sejenak mereka tak mengenali Siska, "ini kak Siska ya?" tanya Irshad.


Sebulir air mata kembali membasahi pipi Siska, perlahan ia menganggukan kepalanya mengiyakan.


"Kak Siska!" seru Irshad dan Bagas seraya memeluk tubuh Siska.


Adegan yang mengharukan pun kembali terjadi, kali ini Lyra yang tak bisa menahan air matanya. Haru bercampur bangga terhadap Siska yang selama ini ia kenal dengan sifat cerianya. Lyra tak menyangka di balik sikap supel Siska memiliki cerita hidup yang rumit.


"Kak Siska ke mana saja? Kami kangen tahu," tanya Bagas dengan polos.


"Iya, Bagas juara satu lho Kak. Tapi...pialanya dihancurkan sama bang Toni," timpal Irshad.


"Toni...." Kedua mata Siska memelotot kaget, seolah trauma dengan sosok Toni tersebut.


"Iya, Kak waktu Kakak pergi...ayah dihajar sama kak Toni. Kasihan ayah perutnya ditinju sampai muntah-muntah Kak," lanjut Bagas.


Toni? Siapa dia? Siska terlihat takut begitu mereka menyebut namanya. Lyra mendekat sambil membawa bungkusan yang berisi es krim di tangannya.


"Sudah hampir gelap, kita pulang yuk," ajak Lyra.


"Ini teman Kakak namanya kak Lyra," jelas Siska ketika kedua adiknya menatapnya seolah bertanya tentang Lyra.


"Oh...hai kak Lyra aku Irshad dan ini adikku Bagas. Dia pintar banget lho, juara satu." Irshad merangkul tubuh Bagas si anak bungsu.


Lyra tersenyum, "oh ya, tadi kak Siska beli es krim. Siapa yang mau?" Menunjukkan isi bungkusan tersebut.


"Aku mau Kak, aku mau." Irshad dan Bagas serempak dan saling berebut.


***


Siska menatap bintang yang berhampar dengan kerlap-kerlip yang indah. Perkataan Irshad dan Bagas tadi sore menghantuinya.


"Hei!" Lyra memegang pundak Siska membuat wanita itu hampir terjungkal ke belakang karena terkejut.


"Hampir copot jantungku, Ra," ujar Siska sambil menepuk pundak Lyra karena kesal.


"Kan hampir Sis, belum terjadi," jawab Lyra sambil terkekeh.


"Oh...jadi, kamu mau jantungku copot beneran. Dasar tak berperikemanusiaan," ujar Siska.


"Hahaha, kamu ini ada-ada saja. Kalau itu terjadi, bagaimana dengan Redro, bisa-bisa dia mati bunuh diri untuk menemuimu," jawab Lyra.


"Ye... nggak gitu juga kali. Paling dia nikah lagi dengan perempuan lain. Di zaman sekarang, mana ada cowok se-setia itu Rara."


"Tapi, kecuali...." Siska menghentikan perkataannya, senyumannya tampak begitu nakal.


"Kecuali?" Lyra memasang wajah penasaran.


Siska terkekeh, "kecuali berondongmu itu. Kamu kan pacar sekaligus cinta pertama Reyhan. Gila sih nggak ada orang kayak Reyhan, Ra. Kamu sangat beruntung," jawab Siska.


Lyra mencubit pinggang Siska, kamu lebay banget, ih!"


Siska tertawa lepas, Lyra tersenyum senang melihat kesenangan Siska.


Tentang Toni, baiknya kutanyakan besok saja. Biarkan dia tenang dulu, batin Lyra.


Malam itu, Reyhan sama sekali tidak bisa tidur. Tempat tidur itu sangat sempit untuk ditiduri empat orang. Tak hanya itu, berulang kali kaki Bagas bertengger di atas perut Reyhan.


Tak tahan dengan situasi tersebut, Reyhan beranjak keluar dari kamar. Sekilas, ia melirik ke arah kamar Siska yang di dalamnya ada Lyra juga. Tangan Reyhan hendak mengetuk pintu, tetapi akhirnya ia memaksakan diri untuk tidak melakukannya.


Hah? Ini sangat menyiksaku. Aku tidak bisa, aku harus mencari cara. Batin Reyhan seraya membaringkan tubuh di lantai yang beralaskan tikar. Tak jau dari hadapannya, tampak Subono yang sedang tertidur pulas membelakanginya.


Seandainya papa masih hidup, mungkin dia akan bangga punya anak seperti Redro. Dan pastinya, dia tidak rela melihat besannya tinggal di tempat seperti ini.


Malam semakin mencekam terutama bagi Reyhan. Ya, tubuhnya terasa pegal ditambah lagi pendengarannya yang selalu terganggu oleh ringkikan suara jangkrik.


****


Pagi tiba, Lyra bangun karena kebelet buang air kecil. Wanita itu mendesah lega, setelah keluar dari WC.


Hah, kukira aku akan mati tadi karena menahannya terus, akhirnya lega juga, batinnya.


Lyra berjalan hendak kembali ke dalam kamar. Namun, sebelum itu matanya tak sengaja memandang ke arah dinding. Tampak suaminya yang sedang tidur dengan meringkuk membelakanginya.


Dia pasti nggak nyaman tidur di dalam kamar.


Lyra berjalan mendekat, disentuhnya kepala Reyhan yang bertumpu dengan tangannya.


"Sayang, bangun sudah pagi," bisik Lyra.


Akan tetapi, tak ada sahutan dari Reyhan. Lyra mengambil bantal dari kamar lalu meletakkannya di bawah kepala Reyhan.


Aku salut sama kamu Rey, meskipun terlihat dingin dan cuek... tapi, terlihat jelas kalau kamu sangat menyayangi Redro. Hah? Hubungan kalian susah ditebak.


Reyhan mengerutkan dahinya ketika tangan Lyra mengusap wajahnya. Lelaki itu membuka mata, dipandangnya Lyra dalam-dalam. Lyra menyunggingkan senyumannya. Reyhan langsung menarik Lyra ke dalam pelukannya.


"Sayang ini sudah pagi tahu. Nanti ada yang lihat," bisik Lyra sambil berusaha melepaskan dirinya.


Reyhan yang masih mengantuk tak menjawab. Ia menahan Lyra di pelukannya. Sementara itu, Lyra mulai lelah dan berhenti bergerak. Cuaca yang dingin berganti kehangatan dari tubuh Reyhan. Ditambah lagi dengan hembusan napas Reyhan yang terus menggelitik di telinganya.

__ADS_1


Reyhan mengusap punggung Lyra yang berposisi menindih tubuhnya. Setelah mencium pipi Lyra, Reyhan pun melepaskan pelukannya. Dan kali ini, Lyra yang enggan untuk bangkit. (Sudah nyaman guysπŸ˜…)


Reyhan tersenyum nakal, "apa kamu tidak malu kalau ada yang lihat?" bisiknya pelan.


Lyra segera bangkit, "su-sudah pagi," jawabnya dengan pandangan salah tingkah.


Reyhan mengangguk lalu tersenyum, Lyra membalas senyuman Reyhan. Wanita itu pun membalikkan badan hendak pergi. Akan tetapi, baru beberapa langkah wanita itu berbalik kembali. Dan...


Cup!


"Aku mencintaimu Sayang," bisiknya lalu berlari masuk ke dalam kamar karena malu.


Reyhan tersenyum lebar, dia sangat menggemaskan.


Reyhan memutuskan keluar dari rumah. Menikmati udara dingin yang menusuk kulitnya. Lelaki itu terus berdiri hingga matahari naik dan sinarnya menghangatkan tubuh Reyhan.


Kokokkan ayam para tetangga mulai terdengar saling bersahutan. Tentu saja, Reyhan merasa asing dengan suasana tersebut, tetapi dia sangat menikmatinya.


"Hei! Itu siapa?" Seorang perempuan yang tak jauh dari rumah Siska bertanya pada temannya tentang sosok Reyhan.


"Entah, kulitnya putih sekali. Tapi, aku dengar-dengar Siska sudah pulang dan mungkin saja dia...eh, nggak mungkin dia pacarnya Siska. Ganteng gitu!" jawab teman perempuan itu.


Mereka berdua adalah Sita dan Aulia. Usia mereka sama dengan Siska, tetapi mereka tidak akrab dengan Siska karena status keluarga Siska yang terlampau miskin. (Pengalaman Gua NihπŸ˜…πŸ˜‘πŸ˜₯)


Mereka berdua terus menceritakan hal-hal yang menyangkut Siska. Hal-hal buruk pastinya.


Saat Reyhan menikmati sinar mentari pagi. Tiba-tiba, ia dikejutkan dengan tangan Bagas menyentuh pinggangnya.


"Kamu!" Kedua mata Reyhan memelotot.


"Kakak lagi apa?" tanya Bagas sambil menyipitkan matanya karena silau.


Reyhan tidak menjawab, dan kembali fokus pada sinar matahari. Bagas menarik baju yang dikenakan Reyhan.


"Masuk sana, jangan mengganggu," ujar Reyhan


Tetapi, Bagas menggeleng tidak mau.


"Masuk atau kau-"


"Kakak jangan galak-galak nanti kak Lyra aku ambil lho," potong Bagas sambil masuk ke dalam rumah.


Reyhan terlihat geram, beraninya kau bocah kecil. Batinnya.


Reyhan menyenderkan kepala, merasa kenyang setelah sarapan berlangsung. Begitu pun dengan yang lain. Sedangkan Lyra asyik bermain dengan Irshad dan Bagas. Dia merasa sangat dekat dengan kedua adik Siska tersebut.


"Hari ini, kita semua akan menginap di hotel." Pernyataan Reyhan membuat semuanya tercengang, hanya Irshad dan Bagas yang memberi tanggapan di luar dugaan.


"Yeah, hotel hotel...ada kolam renangnya kan Kak?" tanya Bagas dengan polosnya pada Lyra.


Lyra tersenyum canggung, lalu menatap Reyhan dengan kebingungan.


"Lho, hotel itu mahal lho...satu malam saja-"


"Aku tidak peduli!" Dengan sigap, Reyhan memotong perkataan Subono.


Subono mengangkat kedua alis matanya, "baiklah ayo kalau begitu," jawabnya pasrah.


Yang lain kembali diam, Reyhan segera beranjak keluar rumah. Siska menyentuh siku Lyra memberi kode untuk mengejar suaminya. Lyra memutar bola matanya, lalu bangkit.


"Ya, kak Lyra mau ke mana?" rengek Bagas.


Di luar, tampak Reyhan yang sudah berjalan memandangi sekitaran rumah Siska. Lyra berlari, lalu menyentuh tangannya. Lelaki itu terkejut kemudian salah tingkah. (Takut dimarahin Coy gegara minta nginap di hotelπŸ˜…).


"Sayang, kita jalan-jalan yuk," ajak Lyra.


"Hmmm," jawab Reyhan singkat. (Halah padahal ini bocah kesenangan, sok jaim lo Rey🀣)


"Oh ya, mengenai menginap di hotel-"


"Keputusanku sudah bulat!" Reyhan masih terus memperjuangkan keinginannya.


Lyra tertawa kecil melihat betapa gemasnya suami kecilnya tersebut, "aku nggak melarang kamu kok. Aku justru senang bisa tidur dengan suamiku sendiri, nggak terpisah lagi."


"Benarkah? Kamu nggak marah?" tanya Reyhan.


"Hmmm...ya nggak lah, ntah kenapa aku merasa rindu padahal kita masih berdekatan. Mungkin karena biasanya kita tidur bersama jadi rasanya lain." Lyra menatap dalam pada Reyhan.


Benarkah? Kukira dia merasa nyaman tidur tanpaku. Karena setiap aku meminta itu, dia terlihat tidak senang. Dan sekarang dia merindukanku?


"Sayang...lho kok malah melamun?" Lyra menyentuh dahi Reyhan.


"Ah tidak, aku hanya-"


"Wajah kamu memerah, kamu malu ya?" goda Lyra membuat lelaki itu semakin salah tingkah.


Mereka berjalan menyusuri perkampungan. Para warga hanya menatap mereka merasa asing dengan sosok Lyra dan Reyhan.


"Di sini adem banget ya," ujar Lyra sambil menarik napasnya.


"Ya, karena tempatnya tak jauh dari hutan," jawab Reyhan.


Tiba-tiba seorang pengendara pria yang dipeluk anaknya dari belakang melintas dari hadapan mereka. Lyra tampak terkesima dengan pemandangan tersebut. Matanya tampak lirih merasa sedih dan tidak semangat.


"Ada apa?" tanya Reyhan.


Lyra menggeleng, "ah nggak apa-apa," jawabnya.


"Jangan bohong," ujar Reyhan.


"Seandainya kita punya anak pasti rasanya sangat bahagia sekali," jawab Lyra.


"Apa denganku kamu masih kurang bahagia?" tanya Reyhan.


"Bukan begitu, Sayang maksudku hidup kita akan terasa sempurna. Aku justru memikirkanmu, pasti banyak yang bertanya-tanya tentang keturunan. Aku tahu kamu pasti sedih," jawab Lyra.


Reyhan menarik napasnya, "aku tidak pernah peduli pada tanggapan orang lain. Yang aku pedulikan hanyalah dirimu semuanya tentangmu tanpa terkecuali. Lyra jika kamu sangat ingin memiliki anak aku bisa mengumpulkan beribu dokter untuk menanganinya. Tapi, jangan beralasan karena ingin membahagiakanku. Karena aku sudah sangat bahagia melihatmu di sisiku."


Lyra tersenyum lalu memeluk Reyhan. Reyhan mencium dahi istrinya itu. Tiba-tiba...


Tiiiiiiin....!


"Woi, kalau pacaran jangan di tengah jalan dong!" teriak seorang pengendara.


"Kau!" Reyhan memelotot hendak mengejar si pengendara.

__ADS_1


Lyra terkekeh, "sudah, Sayang ayo kita pulang untuk menjelaskan detail rencana mengenai menginap di hotel tadi," ajaknya sambil menarik tangan Reyhan.


****


Semua berkumpul, dengan suasana hening hanya cekikan Irshad dan Bagas yang terdengar. Kedua bocah itu asyik saling menggelitik satu sama yang lainnya.


"Sebelumnya, maaf Bapak dan Ibu...suami saya mengajak semua keluarga untuk menginap di hotel dikarenakan-"


"Rumah ini akan segera diratakan," potong Reyhan membuat semua memelotot kaget.


"Maksud saya, Redro berencana mau membangun rumah yang lebih layak untuk ditinggali oleh Bapak dan Ibu sekeluarga. Bukankah begitu, Redro?" Reyhan mempertajam tatapannya. Redro yang tidak tahu apa-apa menganggukkan kepala.


"Bebeb, kamu ini romantis banget sih," puji Siska seraya mencubit pelan tangan Redro.


"Terima kasih Nak, maaf kami tidak punya rumah yang nyaman untuk ditinggali. Jadi, membuat nak Redro dan yang lainnya merasa tidak nyaman," sahut Nuri.


"Tapi, menginap di hotel itu memakan biaya yang tidak sedikit. Jadi menurut bapak, sebaiknya kita menginap di sini saja selama pembangunan," ujar Subono.


"Tenang saja Pak, semua bisa diatasi oleh suami Siska," jawab Siska.


Subono menghela napas pasrah, "baiklah kalau begitu kita bersiap-siap sekarang, bagaimana?"


Phakkk!


"Bersiap-siap ke mana Pak Subono, buru-buru amat!" Seorang lelaki dengan tato di seluruh tubuhnya mendobrak pintu rumah Subono.


Semua keluarga Siska terkejut bukan main. Dia lah Toni, sosok yang membuat keluarga Siska tersiksa. Rentenir sekaligus penipu seluruh warga di sana.


"Wah makan enak nih Bos, ada ayam goyeng," ujar Apit, salah satu anak buah Toni.


"Betul, betul, betul," sahut kembaran Apit yang bernama Apat.


"Eh Siska...cantik sekali!" teriak Toni.


"Maaf nak Toni, kan perjanjiannya hutang dibayar setiap tanggal lima sedangkan sekarang-"


Toni menutup mulut Subono dengan telunjuknya, "ssst, bapak Subono yang terhormat. Itu uang saya, jadi suka-suka saya minta kapan. Bukankah begitu?"


"Betul Bos!" seru Apit dan Apat bersamaan.


Toni terkekeh, tiba-tiba matanya melirik ke arah Lyra. "Eeh...siapa itu, cantik sekali? Wah wah...ternyata pak Subono diam-diam punya putri selain Siska ya."


Toni berjalan mendekati Lyra yang ketakutan. Akan tetapi, tiba-tiba...


Zhasss!


Toni terjatuh, hingga wajahnya terkena makanan yang masih tersisa.


"Ah! Panas!" teriak Toni, dikala wajahnya terkena air sup yang masih hangat.


Reyhan menarik tubuh Toni dengan tangan kanannya. Sedangkan Redro adu tonjos dengan Apit dan Apat. Lyra dan Siska membawa Irshad dan Bagas yang masih ketakutan. Subono dan Nuri terlihat sangat panik, pasalnya masalah itu akan berbuntut panjang setelah kejadian ini.


Seluruh warga tak berani memisahkan keduanya. Bahkan dari mereka tak ada yang mau menghubungi polisi, melihat keadaan Toni yang babak belur.


"Beraninya kau menatap istriku dengan mata busukmu!" Reyhan terus melayangkan bogemnya ke wajah Toni hingga mengalirlah darah segar dari permukaan wajahnya.


Sementara itu, Apat dan Apit tergeletak tak berdaya sehabis dihajar Redro.


"Itu mereka, Pak!" teriak salah satu anak buah Toni yang lainnya.


Riwan, ayah Toni dengan tubuh besar tinggi menatap marah. Ia menangkap tubuh Toni yang melayang setelah dihajar Reyhan. "Toni," panggilnya. Akan tetapi, hanya hembusan napas yang tersesak yang terdengar.


"Hajar mereka!" teriak Riwan.


Delapan pemuda pun berlarian ke arah Reyhan dan Redro. Tak butuh waktu lama, semuanya terjatuh di tanah sambil meringis kesakitan.


Tubuh Riwan bergetar, akibat darahnya yang berdesir. Pria itu berjalan menuju Reyhan dan Redro. Reyhan membiarkan Redro maju lebih dulu. Redro melayangkan tinjuannya akan tetapi, Riwan dengan gampangnya menangkis lalu meninju perut Redro. Redro tersungkur, Riwan mengangkatnya lalu kembali memukul Redro berkali-kali.


"Beb!" teriak Siska seraya berlari mendekat.


"Tolong berhenti memukulinya, kami minta maaf. Tolong-" Perkataan Siska terhenti ketika Riwan menarik dagunya.


"Aku tidak butuh maaf apapun dari kalian semua," jawab Riwan dengan tatapan sinis. Ia kembali mengepalkan tangan hendak memukul Redro.


"Tolong hentikan! Apa yang Anda inginkan? Uang, kami bisa memberikannya tapi tolong jangan ampuni kami." Lyra memohon dengan air mata yang sudah berderas.


Reyhan melangkah mendekat, ia ingin menarik Lyra dari sana. Akan tetapi, Riwan yang melangkahi Redro langsung mendekati Lyra.


"Boleh saja, tapi sayangnya aku tidak butuh uang. Bagaimana jika diganti dengan tubuhmu? Aku akan sangat bersedia." Riwan menarik lengan pakaian Lyra yang dengan gampangnya tersobek.


Reyhan berlari, ia tampak sangat marah. Lyra yang melihat Reyhan sangat panik. Karena menurutnya Reyhan tidak akan bisa melawan Riwan.


"Bagaimana? Apa kau bersedia?" Riwan tersenyum nakal, tangannya hendak menjelajahi tubuh Lyra.


Akan tetapi, sudah terlambat tangan Reyhan dengan gampangnya membuat tubuh pria itu melayang lalu tersungkur. Reyhan melihat Lyra yang menangis ketakutan. Lelaki itu mendekati Riwan lalu melayangkan tinjuannya berkali-kali.


"Kau harus mati," bisik Reyhan dengan suara yang begitu tajam.


Kedua mata Riwan memelotot ketakutan. Tubuhnya bergetar parah. Seluruh warga terkejut dengan kekuatan Reyhan yang berhasil mengalahkan Riwan dengan mudahnya. Pasalnya, Riwan terkenal memiliki ilmu hitam, membuat tak seorang pun yang bisa mengalahkannya.


Tetapi, tidak bagi seorang Reyhan dengan gampangnya pria itu tersungkur tak berdaya. Seluruh warga pun mulai ikut menghajar para penjahat tersebut. Hingga terdengarlah suara letusan yang berasal dari pistol polisi.


BERSAMBUNG....


Hai semua, Author menyapa. Maafkan daku yang jarang update ya manteman. Tapi, aku pribadi mengucapkan banyak terima kasih atas kesetiaan teman-teman semuanya.


Seandainya kita berdekatan...ingin rasanya kupeluk satu persatu, selebay itulah diriku. Tapi inilah kenyataannya diriku gampang banget terharu.


Semoga sehat selalu, luv u Readers😍😍😍


Bagi yang menunggu Lyra hamil, kemungkinan dua episode mendatang ya. Sebenarnya penyebab Lyra belum hamil itu dikarenakan Author pribadi blm hamilπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ jadi maaf bila melampiaskannya pada Lyra hingga membuat semuanya merasa gemas.


Tapi, tenang pasti happy ending kok dengan keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warohmah seperti yang kita inginkan. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Reyhan Almirza



Lyra Nayra



Redro Aldwin


__ADS_1


Siska Rahma



__ADS_2