
Redro menyenderkan tubuhnya ke sisi sofa ruang tengah. Siska menghampirinya sambil membawa teh hangat.
"Ini minumlah. Aku mau tidur dulu," ujar Siska sambil meletakkan minuman tersebut di atas meja.
"Apakah kamu sudah mengantuk?" tanya Redro lalu menyeruput teh buatan Siska.
"Beb, ayolah ada apa dengan pertanyaanmu? Setelah berjalan jauh membuat kakiku cukup pegal jadi aku rasa berbaring akan mengurangi rasa sakitnya," jawab Siska.
"Berarti kamu tidak mengantuk, kemarilah!" Menepuk-nepuk sofa, memberi kode untuk Siska duduki.
Siska memelotot bingung, ia pun berjalan pelan menghampiri Redro dan duduk di sampingnya tepat yang Redro tepuk tadi. Redro meraih remot yang berada di atas meja mini yang berada di samping sofa kemudian menghidupkan televisi dengan channel yang sangat tidak disukai oleh Siska karena ia tidak paham bahasa Inggris.
"Beb, cari siaran yang lain dong. Aku bisa mati karena kebingungan ini," ujar Siska.
Redro tidak menjawab tetapi, ia menuruti perkataan Siska mengganti siaran lain. Namun, sebanyak apapun siaran yang terdapat di dalam televisi tersebut tetap saja Siska kebingungan karena semua siaran menggunakan bahasa asing. Dengan perasaan kesal Siska merebut remot tersebut dari tangan Redro dan langsung mematikannya.
"Sudahlah! Aku ke kamar saja." Bangkit dari duduknya dan hendak berjalan ke kamar namun tiba-tiba terhenti karena tangan Redro lebih cepat menahannya.
Siska yang menderah kesal menoleh ke arah Redro, beberapa kerutan terlukis di wajahnya. "Apa lagi sih. Kenapa menahanku?" tanyanya.
"Duduklah dulu," jawab Redro sambil menepuk-nepuk sisa sofa di sampingnya.
"Hah." Siska menghela napasnya dengan kasar sebenarnya ia pun bingung kenapa ia bisa menjadi sekesal itu. Dengan hati yang sedikit gundah gulana ia pun kembali duduk ke tempat semula.
Alangkah terkejutnya Siska ketika Redro mengangkat kedua kakinya dan meletakkannya di atas paha pemuda itu.
"A-apa yang kau lakukan?" Dengan wajah memerah Siska terperanjak di atas sofa tersebut. Gadis itu benar-benar malu dengan perlakuan Redro yang semakin intim terhadapnya.
"Bagian mana yang sakit?" Pertanyaan singkat keluar dari mulut Redro seraya mencari celah di kaki Siska.
"Pergelangannya," jawab Siska yang masih tersipu malu.
__ADS_1
"Kamu terlihat berbeda jika sedang malu. Aku jadi penasaran berapa banyak lagi ekspresimu jika aku melakukan hal lain." Mulai memijat pelan kaki Siska.
"Hei-hei Tuan, apa yang kau bicarakan? Aku malu? Hahaha..., itu bukanlah ciri-ciri dari seorang Siska, tahu." Tertawa canggung.
"Terserah kalau tidak mau mengakuinya." Serius memijat kaki Siska.
"Iya-iya aku mengaku! Perasaanku sangat malu sekarang. Puas!" Akhirnya ia pun mengalah dan mengakuinya.
"Bolekah aku bertanya sesuatu?" tanya Redro.
"Apa perlu bertanya lagi?" tanya Siska balik. Redro tidak menjawab ia memijat bagian pergelangan kaki Siska dengan wajah yang semakin serius.
"Iya deh. Tentu saja boleh Beby." Dengan suara yang dibuat-buat Siska mengalah untuk yang ke sekian kalinya.
"Ceritakan tentang keluargamu," ujar Redro.
"Apa? Keluargaku?" Memelotot kaget.
"Tidak ada yang spesial. Lupakan saja tentang mereka," jawab Siska sambil berusaha menurunkan kakinya, namun lagi-lagi Redro menahannya.
"Apakah aku tidak pantas untuk merasa dekat dengan mereka? Aku kira kau tipe orang yang suka berbagi kehidupan tapi kenapa seka-"
"Aku bukannya tidak suka kamu mengungkit hal tentang mereka tapi aku masih malu kalau tiba-tiba menangis lagi. Karena kehidupannku tidak seindah sekarang." Mengusap kedua matanya yang sudah dialiri beberapa bulir bening.
"Sepahit apapun kehidupanmu, ceritalah! Aku sangat penasaran kehidupan seperti apa yang telah dilalui kekasih cantikku ini," mengusap lembut kaki Siska.
"Keluargaku dulunya hidup lumayan akan tetapi usaha yang dikelola ayah dengan susah payah perlahan tapi pasti mengalami kebangkrutan. Waktu itu, aku yang masih SMA terancam tidak akan sampai tamat padahal cita-citaku sangatlah tinggi. Aku yang dahulu sangat berbeda dengan sekarang, aku sangat pemberani dalam segala hal," kenang Siska.
"Aku mendaftar siswi miskin agar mendapat bantuan dan bahkan belajar sambil menjajahi gorengan di sekolah. Hahaha aku tidak malu, aku justru bangga melakukannya. Apalagi mengingat wajah depresi kedua orang tuaku serta wajah polos kedua adikku yang masih duduk di kursi SD. Hidupku lumayan berjalan mulus saat itu hingga suatu malam, seorang pemuda yang terkenal dengan sifat tempramen buruk datang dengan kedua orang tuanya melamarku untuk dijadikan istri saat itu aku masih SMA kelas 1. Aku tidak tahu diam-diam ayah mulai main judi dan membuat kami terlilit hutang kepada keluarga kejam di kampungku itu." Air matanya semakin deras.
"Tengah malam ibu datang ke kamarku, dia memberiku sebuah kalung sebagai jalanku untuk pergi dari kampung dan melanjutkan sekolah di Jakarta. Ya, malam itu juga aku dengan seluruh keberanianku, aku pun merantau ke Jakarta. Sebenarnya aku sudah pernah hidup di Ibukota saat keluargaku masih mampu aku menghabiskan masa SMP ku dan dari sanalah aku mengenal Lyra. Aku sering memperhatikannya tapi dia tidak mengenalku sama sekali."
__ADS_1
"Sebelum mendaftar ke SMA baru, aku mengumpulkan dana terlebih dahulu. Dimulau mencuci mangkok bekas bakso, berjualan gorengan bahkan aku mulung botol bekas. Aku selalu melakukannya seharian penuh dan itu berlangsung setiap hari. Barulah aku mendaftar SMA, dan terkejutnya aku ketika mengetahui Lyra juga berada di sekolah itu lebih tepatnya di kelas yang aku masuki. Aku senang bukan main, kebetulan kursi di sebelahnya saat itu sedang kosong. Tidak ada siswi yang mendekati Lyra, dulu itu dia pendiam banget kedua orang tuanya mengalami kecelakaan belum lagi keluarga pamannya yang saat itu selalu berlaku tidak adil padanya."
"Aku pun berusaha mengenalnya lebih dekat, dari makan bareng di kantin, mengikutinya belajar di perpustakaan namun tetap saja dia mengabaikanku. Hingga suatu hari, dia melihatku yang sedang mencuci mangkok bakso dan bahkan dia mengikutiku mulung. Aku tidak tahu itu berjalan cukup lama hampir sebulan gitu lah. Seiring berjalannya waktu dia pun mulai mau menerimaku sebagai teman, dia bahkan sering membawa bekal lebih agar aku kebagian dan tidak membelanjakan uang lagi."
"Aku juga tahu dengan jelas kalau dia juga mengalami kesusahan dalam keuangan akan tetapi dia diam-diam membantuku membayar uang SPP sekolah yang rutin setiap bulannya. Aku sangat berhutang banyak pada Lyra, padahal dia sering cekcok dengan tante dan sepupunya yang kala itu belum baik seperti sekarang ini. Kami berteman lumayan lama, aku bahkan mengikutinya menjadi mahasiswi jurusan matematika padahal dulu aku ingin ambil jurusan bahasa Inggris. Alasannya sederhana saja karena aku ingin selalu di dekatnya." Mengusap kedua pipinya yang sudah deras dengan air mata.
"Ketika aku mengetahui dia pacaran dengan Reyhan, aku sangat senang sekali. Aku berpikir dengan kehidupan sosial yang dimiliki Reyhan pasti akan menjamin bahagianya Lyra. Bukannya karena aku matre, hanya saja menurutku Lyra berhak bahagia. Dan itu terbukti dimulai dari mereka jadian hingga sekarang dia jauh lebih bahagia dari sebelumnya. Dan aku juga ikut terkena begitu aku mengenalmu. Meskipun ya, kamu waktu itu sempat membuatku kecewa, hahaha." Terkekeh.
"Jadi bagaimana keadaan keluargamu sekarang?" tanya Redro.
"Ibu melarangku pulang, dan aku hanya bisa menurutinya. Dia bahkan melarangku mengirim uang. Entahlah, sebenarnya aku punya firasat yang tidak baik tetapi aku selalu berusaha untuk tidak memikirkannya." Menunduk sedih.
"Setelah urusan disini selesai, aku akan membawamu menemui keluarga sekalian aku meminta restu. Kalau perlu kita boyong mereka ke Jakarta." Mengusap kepala Siska yang sudah berada dalam pelukannya.
"Terima kasih," ucap Siska.
"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu, tapi aku ragu kamu mau atau tidak," ujar Redro.
"Katakan saja," jawab Siska.
"Bagaimana kalau kita menikah sederhana disini."
"Apa? Menikah?" Memelotot terkejut.
"Ya, maksudku menikah sederhana untuk resepsinya tunggu kita bertemu dengan keluargamu. Tapi kalau kamu tidak mau aku tidak akan memak-"
"Aku mau! Aku mau. Redro aku senang sekali." Memeluk Redro dengan erat.
****
__ADS_1