MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Ada Apa Dengan Marta?


__ADS_3

Reyhan menyundulkan wajahnya ke dinding panik dan cemas menyelimuti lelaki itu. Lyra terus menepuk lembut pundak suaminya itu, meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Sayang, tenanglah. Mama pasti bisa melewati fase ini. Dia orang yang kuat," ujar Lyra.


Reyhan membalikkan tubuhnya lalu menyandarkan wajahnya di pundak istrinya. "Apakah aku masih ada kesempatan untuk memperlakukannya sebagai ibu. Aku tidak ingin rasa penyesalan yang berkepanjangan. Aku tidak mau."


Lyra mengusap rambut suaminya, sesekali mendaratkan kecupan di kening Reyhan.


Tak lama kemudian sosok dokter Sherin pun keluar, ia membuka kacamata petak yang selalu ia pakai.


"Marta, dia...." Memegangi pelipisnya.


Reyhan yang masih di dalam pelukan Lyra tidak bergeming.


"Mama baik-baik saja kan Dok?" tanya Lyra.


"Masuklah, dia menunggu kalian." Perkataan dokter Sherin sontak membuat Reyhan melepaskan pelukannya lalu berlari masuk ke dalam kamar dan diikuti oleh Lyra.


Di dalam kamar tampak Marta yang masih berbaring serta mata yang masih tertutup. Hanya saja kulit pucatnya sudah berubah sedikit merona.


"Bangunlah, jangan tidur lagi," ujar Reyhan dengan nada datar.


Marta membuka kedua matanya. Samar ia lihat kilas wajah putra dan menantunya itu. Guratan di wajahnya pun muncul. Ia bahkan memanyunkan bibirnya dan kini ia terlihat seperti anak kecil yang menggemaskan.


"Aku masih ingin tidur, mimpiku masih indah untuk ditinggalkan," jawab Marta sambil menggoyang-goyangkan kakinya.


Reyhan dan Lyra duduk tepat di samping ranjang tempat Marta berbaring.


"Katakan padaku, kapan itu dimulai?" tanya Reyhan sambil melipat kedua tangannya.


Dia ini, bagaimana bisa bicara seperti itu kepada ibunya sendiri. Mulutnya lebih tajam dari belati. Batin Lyra menatap heran pada Reyhan.


"Apa sih? Lihatlah anak nakal ini menindasku?" rengek Marta sambil menarik punggung tangan Lyra.


Lyra mengelus tangan Marta, "Rey, kamu ini kemarin menangis parah, sekarang sinis seperti itu. Dasar tidak berperikemanusiaan." Menatap tajam pada Reyhan.


"Katakan padaku, apa tujuanmu?" Menatap Marta dengan tatapan tajam.


Marta bangkit, duduk membuat Lyra terkejut. Tubuh mertuanya itu terlihat jauh lebih baik sekarang.


"Ah aku lupa putraku tidak sebodoh itu. Tetapi, tidak kusangka kau jauh lebih pintar dari yang kuduga. Sepertinya akulah yang bodoh di sini." Jawaban Marta membuat Lyra semakin bingung. Ia menyentuh tangan Reyhan bertanya penjelasan atas semua ini.


"Tanyakan saja padanya." Menggenggam tangan Lyra. Tatapannya begitu tajam. Remaja itu membuat Marta tersenyum kikuk.


"Lyra, sebenarnya mama sudah dinyatakan sembuh. Mama tidak bermaksud membohongi kalian. Memberikan kejutan baik ini mama pikir itu ide yang bagus. Tetapi, tidak disangka kalian menganggapnya serius setiap kalimat yang kalian lontarkan sangat menyentuh. Aku bahagia mendengarnya terutama kamu. Aku beruntung memiliki putri yang tulus sepertimu. Reyhan aku sudah menduga kalau kamu akan mengetahuinya. Tetapi, aktingmu luar biasa. Kalimat yang kau susun membuatku hanyut, meskipun itu hanya sekedar untuk membalasku. Tetapi, terima kasih itu terdengar tulus." Menyunggingkan senyumannya.


"Mama kok bisa-bisanya berbohong. Padahal kami sangat mengkhawatirkan Mama." Lyra duduk di tepian ranjang lalu mengusap punggung Marta. Wajah paniknya berubah lega.


Marta yang sudah tidak enak hati, memilih bungkam. Ia tidak punya bahasa untuk diungkapkan karena pada kenyataannya memang ia telah berbohong. Meskipun, ia terpaksa melakukannya.


"Apa di matamu aku ini seorang bocah? Kenapa bisa-bisanya aku percaya. Hah!" Reyhan beranjak keluar, Langkahnya terdengar begitu kasar.


Lyra tersenyum, ia justru terlihat tidak mempermasalahkan hal itu. Ia pun membantu Marta untuk segera bangkit, lalu berjalan keluar dari kamar.


Marta menatap pintu kamar Reyhan yang tertutup rapat. Ia begitu menyesali perbuatannya, ia lupa jika Reyhan sangat sensitif dengan yang namanya kebohongan.

__ADS_1


Marta menyentuh jemari Lyra, lalu memberi isyarat untuk segera menghampiri Reyhan. Lyra tersenyum, ia segera beranjak masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Lyra mendapati Reyhan yang sedang duduk sambil memunggunginya. Banyak hal yang sedang dipikirkan suami kecilnya itu. Lyra segera mendekatinya lalu berjongkok tepat di hadapan Reyhan.


"Masih marah?" tanya Lyra sambil mengangkat dagu Reyhan.


"Tidak denganmu." Jawaban singkat Reyhan membuat Lyra terkekeh gemas.


Lyra semakin mendekatkan wajahnya membuat wajah Reyhan mundur perlahan." Lihatlah suami siapa ini? Terlihat imut sekali, jadi pengin menciumnya." Menatap serius inci wajah Reyhan. "Wajahmu selalu membuatku kagum, bagaimana bisa aku yang seperti ini mendapatkan lelaki sempurna ini?" Menahan wajah Reyhan dengan kedua tangannya.


Reyhan mengerutkan dahinya, karena lagi-lagi Lyra memujinya dengan berlebihan. "Sudah kubilang, jangan bicara seperti itu. Aku sudah-"


"Sayang, bisakah malam ini 3 ronde?" Lyra segera membuat Reyhan berhenti mengoceh.


"Apa? Sebenarnya kamu mau bilang apa?" tanya Reyhan keheranan. Wajahnya semakin serius, dikala Lyra mulai menyentuh lembut kedua pahanya.


Wajah nakal Lyra, kini berhasil menguasai pikiran Reyhan yang mulai terpancing dan hendak memberi respon dengan menciumi leher Lyra.


"Tapi, tunggu dulu...." Menjauhkan tubuhnya dari Reyhan membuat remaja yang sudah tersulut nafsu itu mendongak terkejut.


Sambil tersenyum, Lyra berkata "Di depan ada mama, aku tidak ingin permainan kita terganggu. Bisakah kamu menyuruhnya pulang?" Dengan nada suara yang manja dan wajah terlihat polos, Lyra membuat Reyhan semakin bernafsu.


"Maksud kamu, aku keluar lalu menyuruhnya pulang. Begitukah? Lupakan saja. Aku tidak akan melakukannya." Membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Lyra segera menaiki tubuh Reyhan sambil bergeliat manja. Membuat tubuh Reyhan semakin panas.


"Kalau begitu, bagaima 5 ronde. Aku sedang mengemis, bantu aku." Dengan suara lembut melebihi sutera tetap tidak bisa membuat Reyhan bergeming.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menemani mama pulang. Malam ini, aku menginap di sana." Mulai bangkit dengan cepat Reyhan menahan tangannya.


***


Reyhan menatap Marta, yang duduk tepat di hadapannya. Kepala menunduk serta bibir yang getar-getir Marta memang selalu kalah jika beradu tatapan dengan putra semata wayangnya itu.


"Aku sudah memaafkanmu. Pergilah, lupakan perkataan kasarku tadi," ujar Reyhan.


Marta mengangkat kepalanya, mata sendunya mengarah pada Reyhan. Segaris senyuman ia pantulkan meskipun hatinya masih gugup.


"Apa buktinya?" tanya Marta.


"Bukti?"


"Ya, kamu sudah memaafkan aku. Mana buktinya? Aku membutuhkan itu, siapa tahu kamu sedang membohongiku?" Melipat kedua tangannya membuat Reyhan kikuk.


"Jangan samakan aku denganmu. Aku tidak pernah berbohong dalam hal apapun."


"Oleh karena itu, aku butuh bukti. Apakah itu sulit?"


"Berhenti meminta hal konyol itu dariku. Aku sedang tidak ingin bermain." Bangkit dari duduknya lalu segera membalikkan tubuh. Kedua tangan Marta berhasil memeluk tubuh Reyhan dari belakang. Membuat Reyhan kikuk dan tak bergerak.


"Perut yang dulu buncit bagaimana bisa mengempis? Dulu kamu selalu merengek untuk menurunkan berat badan karena setiap papamu mengajak main basket kamu selalu terjatuh." Menyandarkan kepalanya ke punggung bidang Reyhan. "Papamu selalu berusaha mengatur pola makanmu, agar kamu bisa menurunkan berat badanmu. Tetapi, kamu selalu datang merengek minta makan padaku. Dan diam-diam aku memberikannya. Sesakit apapun dirimu, kamu selalu mencariku Rey. Karena biar bagaimanapun aku ini ibumu." Bulir air mata tak bisa Marta tahan.


"Aku iri pada Lyra. Perhatianmu selalu menuju padanya. Oleh karena itu, aku menarik perhatianmu dengan berpura-pura sakit. Tidak disangka, itu hanya menambah kesedihanmu. Maafkan aku, terima kasih punggungnya. Aku pergi." Mengusap air mata berjalan keluar.


Reyhan berbalik, sosok Marta tak lagi ia lihat. Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju kamar. Tampak Lyra dengan senyuman teduhnya menyambut Reyhan.

__ADS_1


"Aku mencintaimu." Mengecup pipi Reyhan lalu berpelukan.


***


Siska menatap Redro yang sedang serius dengan laptopnya. Piyama tembus pandang yang sengaja ia pakai untuk menarik perhatian Redro itu ia cengkeram dengan kesal.


Setelah malam pertama itu. Tidak adakah malam kedua. Dia bahkan mengabaikanku. Apakah setiap lelaki gampang bosan? Apakah Reyhan seperti itu. Redro kamu membuatku gila. Aku sudah berdiri di sini hampir 15 menit. Bagaimana bisa kamu tidak memandangku? Batin Siska sambil menatap Redro yang tidak meliriknya sama sekali.


Tring!


Sebuah pesan masuk ke ponsel Siska dan dengan segera ia membukanya. Nama kontak Lyra membuat moodnya semangat.


Lyra: Lagi apa?


Siska: Lagi mancing laki.


Lyra:Hahaha pasti nggak direspon.


Anak ini pakai mentertawakan aku lagi. Sabar Siska sabar.


Siska: Ya, begitulah! Kalau kamu lagi apa?


Lyra: Ini menyiapkan susu untuk Reyhan.


Siska:Maksud kamu mau ngasih nete dia.


Lyra:Hush! Pikiranmu kotornya. Ya susu hangatlah!


Siska:Oh begitu ya. Aku juga ah!


Lyra:Memangnya Redro suka susu?


Siska:Ye, emangnya laki eike anak kecil macam laki situ.


Lyra: Yang penting servicenya weeeeek....


Lagi-lagi aku diejek lagi. Sudahlah lebih baik buatkan Redro kopi saja. Takut dia mengantuk lagi, sepertinya pekerjaannya butuh makan waktu yang banyak. Batin Siska sambil beranjak ke dapur membuatkan kopi untuk suami tercintanya.


Siska mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya. Ya, wanita itu sudah tidak mood untuk mengganggu pekerjaan Redro.


"Beb, ini kopinya diminum dulu. Aku tidur duluan ya." Meletakkan kopi di dekat laptop, lalu mendaratkan kecupannya di kening Redro.


Saat akan melangkah, tangan Redro menahannya. "Aku sudah selesai." Siska berbalik menoleh ke arah Redro.


Segera Redro menggendong Siska menuju ranjangnya.


"Apakah suhunya terlalu dingin?" tanya Redro memandangi Siska yang mengeratkan selimut yang membalut tubuhnya.


Siska menggeleng. Kini ia malu untuk memperlihatkan tubuhnya yang memakai piyama tipis itu. Redro segera menyingkirkannya dan membuat rona malu menghiasi wajah Siska.


"Beb, you are so perfect." Tersenyum lalu mengulum bibir Siska.


BERSAMBUNG....


__ADS_1



__ADS_2