MY BERONDONG

MY BERONDONG
Erick dan Rania


__ADS_3

Erick menyusuri lorong kampus, yang dimana banyak para mahasiswa dan mahasiswi sedang bersantai. Senyum lelaki itu mengembang, ketika para mahasiswi mulai menghampirinya. Ya, Erick cukup populer meskipun lelaki itu orang Asia.


"Hai, Rick hari ini aku mengadakan party datang ya. Di rumahku tidak ada orang. Hanya kita berdua." Salah satu mahasiswi itu berbisik dengan suara lembut sekaligus nakal.


Erick tertawa, "Oh Sonia, bagaimana bisa kau menyebut itu sebuah party?"


Semua tertawa pada celetuk Erick.


"Erick, apartemenku kosong. Bisakah malam ini kita...."


"Maaf, Barbara aku takut kalau melihat apartemen yang kosong. Itu terlalu horor untukku," potong Erick membuat perempuan berkulit putih itu tercengang.


"Aduh kalian ini, datang kemari hanya untuk mengundangku ke rumah kalian ya?" tanya Erick yang langsung diangguki para mahasiswi tersebut.


Erick mendesah, "bagaimana aku yang hanya sendiri menghadapi kalian dalam waktu sehari. Aku tidak punya waktu untuk hal-hal gila. Aku beritahu ya, sekarang aku sudah punya seseorang yang mengisi ruang hatiku. Untuk itu, bertindaklah seperti orang normal pada umumnya karena kali ini aku tipe orang yang setia."


Timbul rasa kecewa, sekaligus marah dari hati terdalam mereka.


"Bagaimana kalau kalian semua saling mengundang. Kalian kan sesama mahasiswi bukankah harusnya saling mengenal? Kalau aku, tidak bisa lagi... Nanti seseorang cemburu. Cemburunya dia sangat berbahaya dan bisa mengancam nyawaku," jelas Erick sembari menatap ke arah jendela perpustakaan yang ternyata ada Rania yang tengah memandanginya. Namun, bukan itu masalahnya, kekasihnya itu sedang bersama seorang mahasiswa yang duduk berdekatan dengannya. Siapa mahasiswa itu?


Suara kekecewaan dilontarkan para mahasiswi, seolah enggan menerima saran Erick.


"Erick, aku mau-"

__ADS_1


"Lepaskan tanganmu," ujar Erick dengan tatapan dingin.


Segera mahasiswi itu melepaskan tangan Erick.


"Terima kasih," ucap Erick sembari tersenyum lalu beranjak dari sana.


Rania terlihat sibuk pada pelajaran kali ini. Lima tumpuk buku memenuhi mejanya. Gadis itu tengah berkutat dengan buku-buku tersebut menulis ringkasan lalu menghapalnya.


"Dosen kali ini benar-benar killer ya," ujar mahasiswa yang sedari tadi duduk di dekatnya.


Rania hanya mengangguk. Ya, gadis itu tidak pernah banyak bicara pada pelajar di kampus itu. Ia bahkan tak punya satu pun teman. Ia menatap ke arah jendela tampak Erick yang sepertinya menghampiri dirinya langkah demi langkah membuat degupan di hati gadis itu.


Tampan serta senyumannya tentu membuat orang terpana. Rasanya masih seperti mimpi orang seperti itu menyukai Rania gadis sederhana yang bahkan terlalu kaku dan pendiam. Begitulah yang tengah dipikirkan gadis itu. Sosok Erick yang populer itu miliknya kini. Meskipun, sudah jelas perasaan yang dilontarkan Erick, tapi rasanya Rania masih bimbang.


Tuk-tuk, tampak Erick yang sudah berada di depan Rania sembari mengetuk meja. "Perhatikan tanganmu anak muda, aku tidak bisa menjamin kalau besok kau masih memiliki tangan utuh," ujar Erick.


Seketika mahasiswa itu merinding pada perkataan Erick yang terdengar seperti psikopat. "A-aku... pergi dulu," ujarnya sembari melenggang kabur.


"Dasar bocah," ujar Erick, lalu memandang Rania yang sedang serius membaca buku. Lelaki itu pun berpindah tempat duduk menjadi tepat di samping Rania mengganti posisi mahasiswa tadi.


"Jangan dekat dengan lelaki lain ya, aku cemburu loh," bisik Erick.


Rania menatap Erick, "lalu, bagaimana dengan Kakak sendiri?" tanyanya.

__ADS_1


Erick tertawa, "oh, jadi kamu tahu cemburu juga ya"


Rania tidak menjawab, ia memasang wajah kesalnya.


"Ah, sial aku akan memperjelas hubungan kita," ujar Erick.


"Apa?" tanya Rania.


"Sebenarnya, aku malas harus menghubunginya tapi tanpa dia aku tidak punya wali untuk melamarmu," lanjut Erick.


Maksudnya om Chris ya?


"Demi hubungan ini, aku harus melakukannya kan? Bersiaplah nanti malam, bertemu dengan calon mertuamu. Pernikahan harus secepatnya diadakan." Setelah mengatakan hal itu, Erick pun melenggang pergi meninggalkan Rania yang memelotot tidak percaya.


Ca-calon mertua? Menikah?


Rania tercekat dan susah bernapas berusaha menelaah semua perkataan Erick yang diluar nalar.


Erick mendesah panjang, "tak disangka, akhirnya aku mengatakannya. Ah, tinggal menghubungi orang itu... Ah rasanya malas sekali, belum lagi yang satunya lagi yang kapan saja bisa menghilangkan nyawaku. Bagaimana aku menghadapinya ya?" Celoteh Erick sembari menatap sebuah pesan yang tidak ia balas.


Jangan macam-macam padanya... atau kau akan kubuat tinggal nama. Reyhan.


Erick mengusap wajahnya.

__ADS_1


Bagaimana bisa, dia menjelma menjadi seorang kakak laki-laki yang baik. Bak, pahlawan yang berusaha melindungi adiknya dari bajingan sepertiku? Haruskah, aku mengiriminya santet, agar aku diterima. Sungguh menakutkan!


__ADS_2