
"Apa! Lyra punya pacar?" tanya Fardan menatap tak percaya.
"Iya Kak, Lyra sudah punya pacar jadi maaf Kak, Lyra enggak bisa temani Kakak malam mingguan," sambung Lyra sambil tersenyum.
"Ah tidak mungkin. Kamu pasti bercanda, iya kan," kata Fardan berusaha menyela.
Siska hanya terdiam mendengar obrolan mereka yang seperti sebuah perdebatan itu.
"Sis, kamu percaya apa yang dikatakan Lyra?"
tanya Fardan.
"Lyra tidak berbohong Kak, dia memang sudah punya pacar," jawab Siska.
Fardan tampak gelisah dan kehabisan kata-kata diambilnya sebatang rokok namun ia letakkan kembali karena ia tahu Lyra tidak tahan mencium bau rokok.
"Baiklah kalau begitu, siapa pacar kamu? Apa aku mengenalnya?" tanya Lyra.
"Maaf itu privasi, lambat laun Kakak pasti akan mengenalnya," jawab Lyra.
"Oh, rahasia ya jadi penasaran tapi kalau seandainya kamu ketahuan berbohong bagaimana?" tanya Fardan berusaha memancing kejujuran Lyra yang dianggapnya bohong itu.
Amarah Siska memuncak melihat tingkah Fardan yang kekanakkan dan terus memojokkan sahabatnya.
"Kak kalaupun Lyra tidak ada pacar dan sudah ketahuan berbohong Kakak mau apa?" tanya Siska dengan pandangan serius.
"Aku-aku akan-" Fardan gugup.
"Menembaknya, harusnya Kakak sadar itu pertanda Kakak sudah ditolak di awal. Aku harap Kakak mengerti," jawab Siska.
Lyra menatap Siska dengan dalam.
Siska aku tahu kamu menyukainya tapi bukankah kamu sudah menyakitinya hanya untuk membelaku.
Batin Lyra sambil menatap haru pada Siska.
"Maaf sepertinya aku harus pulang. Lyra maaf atas sifatku yang memojokkanmu tadi semoga bahagia dengan kekasih pilihanmu. Siska terima kasih untuk teguran baikmu tetaplah seperti itu, aku permisi dulu," kata Fardan sambil beranjak keluar.
Siska dan Lyra duduk berhadapan tanpa saling melihat satu sama lain bahkan setitik suara pun tak terdengar.
Tiba-tiba bau gosong dari dapur berhasil memecahkan suasana hening tersebut.
"Hmm bau apa nih?" tanya Siska sambil menggerakkan hidungnya mencari arah bau tersebut.
"Oh ya Tuhan telur rebusku!" teriak Lyra. sambil berlari cepat kedapur.
Lyra dan Siska menatap kesal pada telur tersebut.
"Lyra sejak kapan kamu jadi pelupa seperti ini?" tanya Siska.
"Harusnya kamu juga pergi chek biasanya kamu langsung cuci muka kalau baru pulang darimana pun. Tapi kenapa hari ini kamu justru betah duduk di ruang tengah?" tanya Lyra balik.
"Apa urusannya dengan telur rebus gosong ini?" tanya Siska.
"Ya jelas ada dong kalau seandainya kamu tadi cuci muka ke kamar mandi kamu pasti melihat kompor menyala dan ada telur yang sedang direbus," jawab Lyra.
"Ih kok malah kamu yang nyolot sih, harusnya tetap kamu yang salah jangan balikkan fakta dong," kata Siska tidak mau kalah.
"Harusnya seperti itu tapi karena ada kak Fardan kamu rela untuk tidak mencuci muka dan malah duduk mendengar celotehnya tadi," jawab Lyra.
"Kamu bodoh! Kenapa kamu harus bilang kalau kamu sudah punya pacar?" tanya Siska.
__ADS_1
"Itu karena kamu yang tidak bisa menyatakan cinta padanya, jelas saja kamu yang lebih bodoh," kata Lyra.
"Tapi kamu pasti akan dibenci karena aku," kata Siska sambil mengerutkan dahinya.
"Aku tidak butuh sanjungan kecuali dari orang yang aku sayang biarlah aku dibenci orang lain tapi kamu tidak boleh," jawab Lyra.
"Ah so sweet sejak kapan kamu mulai seromantis ini?" tanya Siska sambil memeluk Lyra.
"Tapi tunggu dulu apa maksudmu mengirim pesan pada Reyhan agar aku menginap disana?" tanya Lyra.
"Ah itu...,aku cuma kabur!" teriak Siska sambil masuk kedalam kamarnya lalu menguncinya.
"Siska, beraninya kamu melakukan itu padaku!" teriak Lyra.
Malam pun berlalu...
*******
"Sudah selesai belum?" tanya Lyra.
"Iya ini lagi mengunci pintu!" teriak Siska.
Siska pun menaiki motor yang seperti biasa Lyra yang mengemudi.
"Here we go!" teriak Siska sambil membentangkan kedua tangannya.
"Oke go." Balas Lyra.
Ternyata Reyhan melihat dari kejauhan, ia tersenyum melihat tingkah mereka.
"Ehmmm yang senyam senyum melihat pacarnya," sindir pak Mat.
"Hmm jalan Pak." Reyhan langsung merubah mimik wajah serta suaranya.
Sesampainya di sekolah...
Lyra memakirkan motornya khusus parkiran motor dari kejauhan Lyra melihat Reyhan turun dari mobilnya.
*Kenapa jantungku berdetak kencang ya, tanganku juga gemetar. Kalau dipikir-pikir Reyhan itu sangat perfeksionis dalam hal apapun hanya saja dia di abaikan Ibunya sendiri,aku harus bisa lebih perhatian padany*a. Batin Lyra.
"Hei melamun mulu dari tadi ditungguin juga di kantin enggak nongol-nongol eh malah melamun disini," ujar Siska yang tiba-tiba datang.
"Ye siapa juga yang melamun aku tadi melakukan peregangan kaki," jawab Lyra mengelak.
"Eleh masih sempat bohong lagi," kata Siska.
"Ya sudah kalau enggak percaya aku ke kantin dulu laper nih," jawab Lyra sambil beranjak pergi
"Woy, tungguin dong disamperin malah pergi duluan, parah banget dah!" teriak Siska.
Di kantin.
"Tumben kantin terasa agak sepi ya, anak-anak pada enggak masuk kali ya?" tanya Lyra.
"Iya nih,sepertinya ada yang enggak beres nih," jawab Siska.
Reyhan membuka kotak bekal yang ia bawa dari rumah dan seperti biasa Erick datang menghampirinya.
"Hei Bro, sudah datang ya seperti biasa loe terlihat perfect," puji Erick.
"Diamlah! Aku sedang sarapan jangan membuatku hilang selera," kata Reyhan.
__ADS_1
"Loe merasa aneh enggak sih para siswi yang biasanya gangguin loe hilang kayak ditelan bumi," kata Erick sambil melihat kanan-kiri.
"Ya bagus dong, aku bisa bernapas sekarang," jawab Reyhan.
"Ya tapi enggak seru lagi kalau enggak dikelilingi cewek-cewek hidup terasa hampa," kata Erick.
"Ya sudah pergi sana godain tuh cewek-cewek," kesal Reyhan.
"Kan loe tahu gua enggak setampan loe siapa yang mau dekatin gue," jawab Erick sambil meneguk minumannya.
"Sadar diri juga ternyata," kata Reyhan.
Spontan Erick tersedak mendengar jawaban Reyhan.
"Tuh kan kenapa sih loe tega banget pakai bilang gua sadar diri lagi, dasar manusia es kaku dan tak punya hati," kesal Erick.
Reyhan mengabaikan perkataan Erick dan terus mengunyah sarapannya.
Bel pun berbunyi para siswa dan siswi berhamburan masuk ke dalam kelas.
"Pagi Adik-adik," sapa Siska.
"Pagi Kak," jawab mereka serempak.
"Baiklah kakak absen dulu ya," kata Siska.
"Tidak perlu Kak,hanya Berlian saja yang tidak masuk," jawab Cici memotong pembicaraan Siska.
"Berlian? kemana dia?" tanya Lyra.
"Ah anu Kak. Berlian masuk rumah sakit," jawab Cici.
"Rumah sakit? Memangnya dia sakit apa? Kenapa bisa sampai dirawat disana?" tanya Lyra.
"Itu Kak, dia dianiaya Feronica karena Berlian ketahuan punya foto bareng dengan Reyhan Kak," jawab Cici pelan.
"Apa? Foto bareng Reyhan?" tanya Siska dengan wajah yang penasaran.
"Ya foto waktu kita camping di puncak kemarin Kak, Feronica tahu semua dan saat itu dia langsung mengirim beberapa orang untuk menghajar Berlian hingga sekarang dia masih kritis," jelas Cici.
"Kenapa tidak lapor polisi? Ini sudah sangat fatal lho sampai kritis," tanya Siska.
"Percuma Kak, itu tidak berlaku ujung-ujungnya bakal hilang kasusnya cuma bikin sakit hati. Apalagi Berlian tidak punya orang yang kuat untuk dia andalkan seperti Feronica," jawab Cici.
Lyra melihat kearah Reyhan tubuhnya terasa gemetar dan tak dapat berkata apa-apa.
Drrrrrrrrrrrrrrrt........Drrrrrrrrrrrrrrrrt..........Drrrrrrrrrrrrrrt
Suara getaran ponsel Lyra pertanda pesan masuk.
*J*angan difikirkan aku akan menyelesaikan semuanya, karna ini masalahku dengan mereka.
Tidak bisa aku harus cari cara untuk melindungimu, masalahmu adalah masalahku juga. Batin Lyra.
BERSAMBUNG.....
Hy para readers tercintaku maaf kalau jarang up saya selaku author sibuk banget karena corona saya harus lembur terus dan holiday juga masuk maaf sudah mengecewakan .
Bagi yang sudah mampir jangan Lupa Like,Komen dan vote kalau ada poinnya sih
Jangan bosan-bosan ya i love u all
__ADS_1
ššššš