
"Maaf aku sudah menyakitimu," ujar Redro setelah meminum teh suguhan Siska.
"Kau sudah mengatakannya sebelum putus kemarin," jawab Siska sambil melipat kedua tangannya.
"Tapi ini berbeda." Menatap Siska dengan sendu.
"Tidak ada yang berbeda Tuan Redro. Tenanglah aku sudah memaafkanmu." Tersenyum tipis.
"Aku ingin kita balikan."
"Apa? Aku enggak salah dengar ya. Apa lagi rencanamu, alasan menjaga aku dan Lyra lagi begitu!" teriak Siska.
"Tidak, bukan begitu maksudku mari kita ulangi lagi masa-masa kemarin. Maaf aku yang telah membohongimu aku tidak punya pilihan lain. Kau terus menghindariku karena sifatku yang pendiam jadi hanya itu pilihan yang tepat agar kau tetap di sampingku. Percayalah aku hanya terpaksa berbohong." Memasang mimik wajah yang memelas.
"Jadi kamu mengaku bahwa perasaanmu itu cuma pura-pura agar aku memutuskanmu dan itu sudah aku lakukan. Sekarang untuk apa kau mengajak aku balikan." Tak dapat meredam amarah.
"Waktu itu kau tidak mendengarkan apa yang mau ku katakan setelah pengakuanku. Sebenarnya bukan kata putus itu yang aku harapkan-"
"Sudahlah untuk apa balikan kau juga tidak pernah menyukaiku. Dari semua gelagatmu sudah terbaca jelas kau tidak pernah peduli padaku hanya aku...." Menyeka air matanya.
"Ya hanya aku yang terlalu mencintaimu, dan juga aku yang-"
Tiba-tiba Redro langsung mencium bibir Siska hingga membuat perkataannya terpotong.
Redro a-apa yang kau lakukan, ya ampun aku belum siap mana belum sikat gigi lagi untung lauk hari ini bukan makanan terfavoritku jengkol. Dari banyaknya pria yang aku pacari kenapa cuma dia yang langsung menyosor padahal dia sangat pendiam. Batin Siska dengan mata memelotot kaget serta tubuhnya yang semula tegak menjadi bersandar.
Redro tersadar dengan apa yang ia lakukan. Ia pun menjauhkan tubuhnya dari Siska, Siska yang tadinya tampak menikmati berpura-pura memasang muka marah. (Munaroh amat si Siskaπ π π ).
"Maaf aku tidak bermaksud menciummu, aku hanya merasa panik melihatmu menangis karena kelakuanku, maafkan aku." Merasa bersalah.
"Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi. Pulanglah aku ingin tidur siang hari ini sangat gerah," ujar Siska dengan wajah jutek.
Ah jangan pulang dong, lanjutkan yang tadi saja tanggung banget efek belum pernah berciuman nih, atau jangan-jangan nafasku bau lagi atau.... Batin Siska.
"Jadi hubungan kita-"
"Pergilah aku sedang tidak ingin membahasnya." Mengalihkan pandangan.
Padahal....
__ADS_1
Jika kau menciumku lagi aku akan langsung menerimamu, gila aku ketagihan nih. Batin Siska lagi.
"Baiklah maafkan aku yang sudah menyakitimu. Aku harap kau mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku," ujar Redro kemudian bangkit dari duduknya.
"Eeh tunggu dulu siapa yang menyuruhmu pulang?" Membentangkan tangannya membuat Redro kembali duduk.
"Bukannya kau yang menyuruhku pulang dan kau juga sudah menolakku." Menatap bingung pada Siska.
"Kapan aku bilang begitu hah? Kasihan ganteng-ganteng kok budek beli tuh korek kuping uang banyak tapi telinga enggak dibersihkan, ckckck." Berusaha mengulur waktu.
"Tadi kamu bilang sendiri kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi dan menyuruhku pulang saja. Dan saat ini aku tidak bisa berkata apa-apa lagi jadi untuk apa aku disini?" Memancing reaksi Siska.
"Kamu menyalahkan aku lagi. Kamu carilah bahan yang mau dibicarakan aku akan mendengarkanmu." Melipat kedua tangannya.
"Maaf aku pulang saja aku tidak punya bahan pembicaraan apapun. Jadi, terima kasih dan permisi." Redro mulai berjalan keluar.
Hap!
Tangan nakal Siska meraih pinggang Redro dari belakang dan berusaha menahan tubuh bidangnya.
"Iya-iya aku maafin tapi janji jangan diulangi lagi. Aku sangat menyukaimu tapi tolong jangan mempermainkan aku, itu sakit banget tahu." Menyandarkan pipi kanannya ke punggung Redro.
"Aku janji, aku akan buktikan kalau aku tulus padamu." Memeluk tubuh Siska, Merekapun tersenyum malu.
***
Di depan sebuah toko perhiasan.
"Kamu masuklah dulu, aku ingin mengangkat telepon seseorang, nanti aku akan menyusul pilih cincin yang paling kamu suka." Tersenyum lalu menunjuk ke arah toko perhiasan yang mewah.
Dengan sedikit ragu Lyra melangkah masuk ke dalam toko tersebut. Di dalam ia dibuat takjub dengan toko yang berdesain Eropa tersebut.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang karyawati.
"Ah saya mau melihat cincin yang paling murah disini ada enggak Mbak," jawab Lyra.
"Hmmm, semua harga pasti ada yang murah kok Mbak, mari saya tunjukkan." Tersenyum sambil mengajak Lyra ke sebuah Lemari stainles untuk memperlihatkan cincin yang ia maksud.
"Ini cincin emas putih dengan batu permata biru yang dikirim langsung dari Swiss, silahkan dicoba Mbak. Melihat ukuran jari Mbak sepertinya cocok." Memberikan cincin tersebut ke tangan Lyra.
__ADS_1
"Wah cincinnya bagus saya mau yang ini dong Mbak." Seorang wanita mengambil cincin tersebut dari telapak tangan Lyra.
Lyra yang terkejut karena cincin itu diambil pun menoleh ke arah wanita tersebut.
"Lho Mbak Yessi, apa kabar Mbak?" Tersenyum senang pada wanita tersebut yang ternyata Yessi (si pemilik NM ENTERTAINMENT).
"Mbak kenal sama Mbak Yessi ya. Dia ini pelanggan setia kami lho." Tersenyum melihat ekspresi Lyra.
"Iya kami-"
"Maaf saya tidak kenal, kamu siapa ya? Apa kita pernah bertemu." Tersenyum remeh pada Lyra.
"Saya temannya Reyhan Mbak, kita sudah dua kali bertemu yang pertama waktu-"
"Maaf siapa Reyhan itu? Saya juga enggak kenal jangan ngaku-ngaku deh. Pasti karena saya pelanggan tetap disini jadi kamu pura-pura kenal saya biar dapat gratis iya, kan?" Memelotot pada Lyra.
Lyra tak bisa berkata apa-apa, ia berusaha terlihat setegar mungkin ia takut Reyhan murka begitu melihatnya menangis.
"Dengar ya, semiskin apapun saya, saya tidak akan melakukan hal rendahan seperti itu. Dan juga bukannya saya yang pura-pura kenal sama situ tapi situ yang sedang berpura-pura tidak mengenali saya. Hah, umur sudah tua tapi kelakuan seperti anak yang baru lahir. Eh tidak! Kau seperti orang gila yang tidak tahu etika dan sopan santun sama sekali." Menatap Yessi dengan sinis.
"Apa kau bilang beraninya mengataiku." Mulai melambungkan tangannya hendak menampar namun ditangkap oleh tangan Lyra.
"Maaf jangan buat keributan disini nanti harga diri toko ini jatuh," ujar salah satu karyawati toko tersebut.
"Kau berani menyuruhku diam, kau sudah bosan bekerja disini ya!" teriak Yessi.
"Bu-bukannya begitu maaf saya hanya-"
"Kau tunggulah papaku akan datang kemari bukan hanya kau tapi semua teman-temanmu yang bekerja disini akan aku depak." Sambil mengetikkan beberapa kalimat pada ponselnya.
"Kau hanya berani mengandalkan orang tua dasar manja. Jika kau benar-benar seorang wanita berderajat tinggi hadapi aku dong jangan pakai main
mengadu segala." Menatap kesal pada Yessi.
"Kenapa? Apa kau takut? Dengar ya, itulah gunanya punya orang tua yang kaya. Jadi, urusan apapun akan beres. Kita bisa saja menjadi teman tapi itu tidak akan sebanding karena sungguh sangat disayangkan kau terlahir menjadi orang miskin." Menatap sinis pada Lyra.
"Apa?"
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir jangan lupa hujatannya ya gaesss πππ