
Uni Emirat Arab. DUBAI
12.40
"Hoammm!" Siska menghembuskan napas panjangnya menahan kantuk yang tak tertahan selama di dalam pesawat. "Ini di Dubai ya, hah akhirnya kita menginjakkan kaki juga di sini!" seru Siska sambil membentangkan kedua tangannya ke atas. Dan tentu saja orang-orang yang berlalu lalang menatap aneh ke arahnya.
"Siska, kamu terlihat senang banget ya," sahut Lyra sambil menyantap roti yang baru ia beli.
"Erick mana, Ra?" Memperhatikan di sekitar mencari sosok Erick.
"Lagi pesan tiket, duduk dulu nanti pinggangmu sakit lho," ujar Lyra sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.
"Hidung orang-orang di sini mancung-mancung ya, sampai-sampai salah satu mata mereka tak nampak jauh berbeda dengan kita yang mini, hahaha." Siska terkekeh dengan cukup heboh.
"Hush! Jangan berisik nanti kita ditegur lho. Aku dengar hukum di sini sangat sensitif." Lyra memperingati Siska.
"Erick lama banget sih, hampir lima belas menit lho," gumam Siska mulai kesal karena merasa bosan.
"Maaf Nona-nona menunggu lama, kita sudah dapat tiketnya tapi...."
"Tapi, apa?" tanya Lyra.
"Biasa delay dua jam, jadi daripada kita merasa bosan di sini, lebih baik bersihkan diri masing-masing. Aku sudah memesan dua kamar singgah di sekitar sini. Ayo ikuti aku." Beranjak pergi diikuti Lyra dan Siska dari belakang.
Selama di perjalan Lyra dan Siska dibuat kagum dengan suasana pemandangan Dubai yang rapi serta sekumpulan mobil yang bahkan mereka tidak pernah melihatnya di Indonesia. Belum lagi gedung-gedung pencakar langit yang membuat mereka takjub sekaligus ngeri saking tingginya.
"Ah akhirnya sampai juga, lumayan lelah nih badan. Aku sudah tua Ra," ujar Siska yang sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk penginapan.
"Aku mandi dulu ya, kita gantian oke." Lyra meraih handuk putih yang terlipat rapi di atas meja mini.
"Mandi bareng yuk!" seru Siska bertujuan menggoda Lyra.
__ADS_1
"Apaan sih, dasar gila," ujar Lyra berjalan cepat menuju kamar mandi.
"Hahaha! Aku jadi curiga kau pasti sering mandi bareng Reyhan, kan?!" teriak Siska disertai tawa nakalnya.
"Diam kau!" teriak Lyra dari dalam kamar mandi.
****
Washington DC. AMERIKA SERIKAT
07.00 AM
"Bagaimana keadaan di Indonesia? Apakah masih ada gangguan?" tanya Reyhan sambil menatap ke luar jendela mobil.
"Hmmm, tidak Den." Jawaban singkat Redro membuat Reyhan mulai frustasi namun berusaha ia sembunyikan.
"Bagaimana reaksi mama begitu kau mengantar bik Na ke apartemennya?" tanya Reyhan lagi.
"Dimana tempat pertemuan dengan Mr.Rudolf?"
"Dia mengajak Aden ke perusahaan miliknya ingin menunjukkan performa untuk meyakinkan Aden."
"Dari yang kau baca kemarin, apa kau melihat adanya kejanggalan?"
"Sebenarnya ada sedikit celah, Den. Saya merasa dia orang yang cukup rakus. Terlihat bagaimana ia memanjakan anaknya dengan barang-barang bernilai fantastis. Dan menurut beberapa mata-mata ia digadang-gadang akan bangkrut karena beberapa hari ini pihak bank mendatanginya."
"Oh? Ternyata orang yang bermain belakang lagi toh."
"Apa Aden berniat membatalkannya?"
"Tidak! Jangan terburu-buru aku paling suka berhadapan dengan orang seperti dia. Kita akan membuat hasil akhir yang mengejutkannya nanti." Reyhan tersenyum sinis.
__ADS_1
Mobil melaju dengan kecepatan sedang hingga sampailah mereka ke tempat perusahaan One milik Mr.Rudolf. Reyhan dan Redro dibuat cukup terkesan melihat megahnya perusahaan tersebut.
"Wah Anda sudah sampai Tuan muda Reyhan Almirza," ujar seorang pria paruh baya dengan kepala yang sudah mulai botak serta rambut yang sebagian sudah beruban.
"Halo Mr.Rudolf perkenalkan saya Reyhan Almirza. Senang bertemu denganmu," jawab Reyhan lalu membungkukkan punggungnya.
"Ah masih sangat muda sekali. Tuan muda seumuran putri saya sama-sama delapan belas tahun. Tapi bedanya putri saya masih bersenang-senang menikmati masa-masa remaja sedangkan Tuan sudah menjadi pemimpin di perusahaan nomor satu, aku iri sekali." Menepuk pelan punggung Reyhan.
"Mr.Rudolf terlalu menyanjungku. Itu perusahaan kedua orang tua saya. Saya hanya ingin melanjutkannya saja," jawab Reyhan dengan senyum tipis di wajahnya.
"Tuan sangat tampan sekali, pasti banyak yang mendekati Anda. Aah Tuan Reyhan memiliki paket komplit impian sejuta umat. Ditambah lagi keramahan yang membuat Anda terlihat cukup sempurna," ujar Mr.Rudolf yang terus-menerus melempar pujiannya kepada Reyhan.
Bersenang-senanglah Tuan, Anda belum tahu sedang berhadapan dengan siapa! Batin Redro sambil berdiri tegap di belakang Reyhan.
Mr.Rudolf menunjukkan detail produk yang dihasilkan oleh perusahaannya yaitu bahan bakal berjenis kulit sintetis. Dengan serius Reyhan mendengarkan apa yang para staf jelaskan. Semua karyawan dibuat takjub dengan sosok Reyhan yang membuat hati meleleh ketika melihatnya tanpa tahu perilakunya.
Waktu terus berjalan, pembahasan tentang perusahaan one sudah selesai.
"Terima kasih sudah berkunjung tidak terasa malam sudah tiba," ujar Mr.Rudolf sambil berjabat tangan dengan Reyhan.
"Iya, Anda bisa atur kapan kerjasamanya akan dimulai. Saya akan selalu menerimanya dengan senang hati," jawab Reyhan.
"Secepatnya Tuan, tapi bisakah Tuan menyempatkan diri untuk singgah ke rumah saya. Berkas-berkasnya saya simpan di rumah. Saya was-was kalau di sini karena sebelumnya telah terjadi kebakaran dan itu membuat kami mengulang laporan dari awal. Itu benar-benar melelahkan." Senyuman teduh tampak di wajah Mr.Rudolf membuat Reyhan tampak bersemangat menghadapi lawannya, klien pertama.
"Tentu saja, Redro bersiaplah menyetir kita akan pergi menuju rumah Mr.Rudolf."
"Baik Den." Beranjak pergi menuju mobil.
****
__ADS_1