
Marta tersenyum menyeringai, ia mendengar jelas gumaman Jason mengenai ayah tirinya yang kaya.
Kita lihat saja anak sombong sampai dimana keangkuhanmu itu. Kau berani mengusik putriku, ampunan untukmu tak akan pernah ada. Kujamin itu.
"Di mana putraku?" Terdengar suara wanita ribut dari luar kantor polisi.
Klak!
"Ya, ampun siapa yang membuat anakku seperti ini?" Menyentuh wajah Jason.
Bahasa Inggris dan aksen yang buruk. Kenapa tidak memakai bahasa Indonesia saja sih.
Jason memberi kode pada ibunya untuk segera menoleh ke belakang.
Ibu Jason pun menoleh dan menghampiri, "oh jadi ini orangnya! Berani kau membuat putraku seperti itu sudah bosan hidup ya?"
"Bicara yang jelas, bahasa Inggrismu payah, pakai bahasa Indonesia saja," ujar Marta santai.
Ibu Jason mengerutkan dahinya, bertambahlah amarahnya. "Aku nggak butuh saranmu itu. Tapi, tanggung jawab pihak kalian yang telah membuat putraku menjadi seperti ini."
"Oh begitu, kau peduli pada putramu tapi bagaimana dengan putriku yang menjadi korban?" Dingin dan santai begitulah suara Marta terdengar.
Ibu Jason tertawa kuat, "putraku yang berharga harus bebas dan yang lain aku tak peduli. Berapa yang kau minta? Berapapun itu, suamiku yang kaya akan memberikannya."
"Benarkah? Aku tidak butuh uangmu. Yang sangat aku butuhkan, putramu mendekam di penjara kalau perlu sampai membusuk."
Wajah ibu Jason memerah, ia semakin marah. "Lancang kau menunjuk putraku." Melayangkan tangan hendak menampar Marta.
Tangan ibu Jason ditangkap sama salah satu anggota kepolisian. "Tunjukkan etikamu, kalau kau tidak mau dihukum dengan alasan kekerasan."
Klak!
Masuklah seorang pria dengan kepala plontos memakai setelan jas lengkap.
"Eh, Sayang sudah datang?" Ibu Jason menghampiri pria itu yang ternyata suaminya.
"Hemmm...." Nampak malas melihat istrinya yang berlebihan.
"Saya, Wilson Slaker ayahnya." Menatap tajam ke arah Jason. Jason yang ditatap memakai wajah santai, semua akan beres jika Wilson sudah turun tangan begitulah dipikirannya.
Para polisi yang menangani kasus itu menjelaskan panjang lebar cerita yang sebenarnya. Wajah Wilson merah padam, ia berbalik saat ia melihat Marta ia terkejut.
"Sayang, selesaikan secepatnya aku sudah tidak tahan berlama-lama di sini sangat panas." Mengibas-ngibaskan tangannya.
Wilson menghindar saat tangan istrinya itu menyentuh pundaknya. "Tutup mulutmu!"
Bagaimana bisa, anak itu berurusan dengan grup Almirza?
Ya, Wilson sangat mengenal grup Almirza. Dan dia berusaha tidak memiliki hubungan dengan mereka. Tetapi, sekarang apa yang terjadi? Tanpa disengaja ia harus bersitatap dengan Marta sang pemimpin grup yang sangat ia hindari itu. Dan sang anak tiri lah biang keroknya.
Dengan kaki yang bergetar, Wilson menghampiri Marta.
__ADS_1
Ibu Jason tersenyum menyeringai, "hah, tinggal menghitung detik semuanya beres."
Begitu juga dengan Jason, keangkuhannya semakin terlihat dan jelas.
Brugh!
"Apa yang-" Jason dan ibunya serentak terkejut melihat Wilson yang tiba-tiba bersujud.
"Nyonya, maafkan kami sudah mengganggu keluarga Nyonya." Wilson terus menunduk tak berani menatap wajah Marta.
Marta mengulum senyum, "aku tidak ada urusannya denganmu tapi dengan putramu yang angkuh itu!" Kali ini ucapan Marta terdengar lantang.
"Kenapa diam saja di sana, cepat minta maaf!" teriak Wilson menatap istrinya serta anak tirinya itu.
Dengan langkah tertatih serta mulut kelu, ibu Jason ikut bersujud "tolong maafkan kami, Nyonya," ucapnya sambil menangis sejadi-jadinya.
Jason tak bergerak pikirannya melayang kemana-mana. Tiba-tiba bayangan Rania memenuhi kepalanya.
Bagaimana bisa, dia yang sederhana begitu ternyata seorang putri yang kaya raya. Bagaimana bisa satu kampus tidak ada yang tahu? Dia bahkan tak mengendarai mobil yang semua orang di kampus membawa mobil mereka masing-masing.
Kacau sudah pikiran Jason, wajah angkuhnya berubah takut. Takut dipenjara dan takut ibunya dicampakkan.
"Ma-maafkan saya Nyonya!" Akhirnya lelaki itu buka suara, kini Marta yang memasang wajah angkuhnya.
"Kalau kau meminta maaf pada putriku langsung, aku yakin dia akan memaafkanmu. Karena itu, aku juga harus memaafkanmu, bukan. Tetapi, hukuman tetap harus berjalan benar kan Pak Polisi?" Berjalan, meninggalkan keluarga yang sedang bersujud itu.
"Baiklah, untuk masalah ini sampai di sini. Kita akan bertemu lagi di pengadilan, aku yang akan mewakilinya karena kupikir dia akan sangat jijik bertemu denganmu." Menatap Jason tajam.
Jason mengusap air matanya, "saya mohon Nyonya, tolong ringankan hukuman saya."
Marta sengaja tak membawa bodyguard untuk melihat sosok keluarga si pelaku tak disangka ia malah menonton drama yang sangat menggelikan.
Wilson bangkit, "masalah ini, kalian saja yang urus dan teruntuk dirimu.... " Menunjuk istrinya.
Wilson mendesah, "aku menceraikanmu." Beranjak pergi dari sana.
Ibu Jason meraung-raung sejadi-jadinya, ia pun memukuli Jason si biang kerok. Para polisi yang berada di sana seketika memisahkan keduanya.
*************************
Marta menarik napasnya, ia hendak melangkah masuk ke dalam kamar tempat Rania dirawat.
"Tante." Suara Erick menghentikannya.
Marta menoleh, "iya Rick," sahutnya singkat.
"Aku mau jenguk Rania, boleh?" tanya Erick lembut.
Marta tersenyum lalu mengangguk, "sebentar lagi jadwal Rania makan siang. Tante titip Rania dulu ya, kebetulan tante juga harus segera ke perusahaan ada jadwal meeting dengan klien, soalnya."
"Iya, Tante hati-hati ya," ucap Erick yang dibalas dengan lambaian tangan Marga yang sudah beranjak.
__ADS_1
Dengan langkah berat dan ragu-ragu, Erick masuk ke dalam kamar. Di dalam ternyata Rania sudah bangun. Ketika melihat wajah Erick, tatapannya berubah masam. Erick hanya bisa tersenyum.
"Hai, gimana perasaanmu sekarang?" tanya Erick sambil duduk di kursi penjenguk di dekat Rania.
"Mau ngapain Kakak ke mari?" tanya Rania balik tanpa menjawab pertanyaan Erick.
Erick tergelak, "memangnya ada undang-undang aku dilarang datang," jawabnya pelan.
Rania tidak menjawab, Erick mengambil buah apel yang sudah dikupas dan dipotong menjadi beberapa bagian.
"A... a... a....!" Menyuapkan apel itu dengan garpu.
Rania membuang muka ke arah tempat lain, "nggak mau!" jawabnya tegas.
"Makan atau kucium," ujar Erick.
Rania terkejut, bagaimana tidak perkataan Erick terdengar serius jauh berbeda dari biasanya. Ia menyerah, menerima apel suapan Erick lalu mengunyahnya.
"Kenapa sih kamu memaksakan diri jalan sama orang gila itu?"
Rania menghembuskan napasnya, "aku, sebenarnya aku.... "
"Sudahlah! Aku nggak mau bahas itu!" Kembali memasang wajah masamnya.
Erick menyentuh tangan Rania. Gadis itu tentu terkejut tetapi, enggan untuk menghindari, hatinya justru tenang dan terjaga.
Kak Erick tangannya halus dan jauh lebih putih dibandingkan denganku. Ah malunya....
Drrrrrrtttttttt............. Drrrrrrrrrrrttt........... Drrrrrrttt
Melihat kontak yang menghubungi ponselnya, Erick malas untuk menanggapinya.
"Angkat aja Kak, siapa tahu Kareena kangen Kakak," ujar Rania, jelas wajahnya menunjukkan rasa cemburu.
Erick melirik, "beneran nih, kamu nggak cemburu?" godanya.
Rania berdecih, "siapa yang cemburu?" Tetapi wajahnya jelas memasang wajah cemburu.
"Kareena, terlalu manja sih. Tapi, kan aku butuh kebebasan, nggak harus 24 jam dengan dia terus."
Rania menghentakkan tangannya dari genggaman Erick. "Aku jijik sama Kakak sehabis meniduri Kareena, Kakak mencampakkan dia begitu saja. Kalau Kak Reyhan tahu dia pasti akan menghadapi habis-habisan!"
"Aku? Meniduri Kareena? Dari mana, kamu-"
Rania membuang napas kasar, sebulan yang lalu aku datang ke apartemenmu, karena kukira terjadi sesuatu sama Kakak. Ternyata, apa yang kudapatkan? Sebenarnya, aku cukup jijik sama Kakak tetapi, mengingat status hubungan kita aku hanya merasa itu bukan urusanku dan mungkin bagimu itu sangat wajar. Tetapi, tetap saja sebagai sesama perempuan Kakak jahat banget habis meniduri Kareena Kakak membuangnya! Aku nggak habis pikir sama bajingan seperti Kakak!"
Erick tertegun, panjang kali lebar perkataan Rania kali ini cukup menusuk hingga ke ulu hatinya. Si introvert di depannya ini benar-benar marah. Yang biasanya hemat bersuara kini melebihi pendakwah handal.
"Kamu tahu nggak Kareena itu siapa?"
Rania berdehem, "nggak tahu dan nggak mau tahu! Itu bukan urusanku."
__ADS_1
"Ini sudah jadi urusanmu!" Dengan cepat Erick menimpali perkataan Rania.
Mereka saling beradu pandangan, sama-sama tajam dan menyesakkan.