MY BERONDONG

MY BERONDONG
REYHAN VS FARDAN....


__ADS_3

"Kak Fardan." Memelotot kaget disertai gugup.


"Ada apa ini? Lepaskan dia," perintah Fardan.


Pria itu melepaskan tangan Lyra.


"Dia menguping pembicaraan Bos di telepon tadi." Pria itu menjelaskan.


"Ehm apa benar yang dikatakannya, Lyra?" tanya Fardan ramah.


Lyra terdiam wajahnya seketika berubah menjadi pucat pasi.


"A-aku..., tidak-


"Dari cara bicaramu sudah kelihatan kalau kamu itu telah mendengar semua yang percakapanku tadi, sekap dia di rumah."


"Apa tidak dibunuh saja Bos daripada harus repot mengurusinya apalagi perempuan," ujar pria itu sambil menahan tangan Lyra yang terus bergerak-gerak berusaha melawan sekuat tenaga.


"Kalau kau membunuhnya kau beserta keluargamu akan ku habisi dengan tanganku sendiri." Memelotot marah.


"I-iya Bos." Pria itu pun membius Lyra dengan obat bius kadar rendah.


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Lyra kemana sih? Dari tadi nggak balik-balik. Lho itu kak Fardan, kenapa dia nggak bareng sama Lyra?"


"Eh Siska, ada apa kok ngelihatnya gitu amat." Berjalan mendekati Siska.


"Nggak kok Kak, dari tadi Lyra belum balik katanya sih mau nyari Kakak, lah kenapa Kakak kesininya sendirian? Kan aneh."


"Lyra ya, berarti dia sedang mencariku dong tadi aku sih lihat. Cuma kok agak sedikit buru-buru dan lagi pula aku lihat dia pergi naik mobil, mungkin temannya kali."


"Hmmm begitu ya Kak, dia nggak ngasih kabar sama sekali Kak makanya aku bingung. Aku mau pulang aja deh siapa tahu dia sudah di rumah." Merapikan barang-barangnya.


"Aku juga lagi ada urusan di rumah, aku duluan ya Sis, maaf nggak bisa bantu kamu bawa barang-barangnya." Tersenyum lalu berjalan pergi.


"Lho ini kan kertas yang Lyra bawa tadi tapi kata kak Fardan mereka nggak jumpa tapi kok ada di dia. Dan lagipula dari tadi aku nggak lihat kertas ini sampai kak Fardan datang. Bodo ah aku mau pulang saja." Menenteng barang-barang lalu berjalan meninggalkan kantin.


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


Lyra membuka matanya secara perlahan terlihat samar-samar ruangan kamar yang asing baginya. Terlihat cat dinding serta benda-benda tersebut menggunakan serba warna putih.


"Ouch, dimana ini?" Memegangi kepalanya yang masih pusing disertai denyutan dahsyat.


"Sudah bangun?" tanya Fardan yang ternyata sedari tadi duduk memperhatikan Lyra.


Lyra terkejut melihat sosok Fardan, segera ia bangkit dan berlari menuju pintu lalu membukanya namun gagal dikarenakan pintu tersebut telah dikunci oleh Fardan.


"Kak Fardan? Tolong biarkan aku pulang, aku tidak tahu apa-apa aku janji akan tutup mulut." Masih berusaha memengangi gagang pintu berharap datangnya keajaiban.


Untuk saat ini sepertinya aku hanya bisa mengemis, aku tidak mau terlambat kalau Reyhan lengah sedikit saja sudah pasti langsung akan diserang oleh suruhan kak Fardan. Batin Lyra.


"Untuk apa terburu-buru, kamu tidak pernah ke rumahku lagi kan. Lihatlah Lyra aku membangun rumah dengan warna kesukaanmu bukankah seharusnya kamu suka dan betah tinggal disini. Lyra aku membangun ini susah payah hanya untukmu." Tersenyum lalu berjalan mendekati Lyra.

__ADS_1


Lyra semakin bingung gerakannya semakin menjadi-jadi, panik dan takut bercampur aduk.


"Tinggallah disini selamanya. Sekarang ini rumahmu juga, ini rumah kita berdua." Menyentuh rambut Lyra dengan lembut.


"Ta-tapi kita nggak ada ikatan apapun, nanti apa yang akan dikatakan orang Kak."


"Oh masalah itu gampang, aku tinggal memanggil penghulu kemari dan kamu akan resmi menjadi istriku kita akan menikah malam ini juga." Memelotot seperti orang kerasukan.


"Kakak sudah minum obat belum? Kakak kelihatannya sedang tidak sehat." Merasa gugup dan ketakutan.


"Hahaha obat itu ya, sudah tidak perlu aku tidak sakit dan tidak pernah sakit Lyra. Jangan ingatkan aku hal yang akan membuatku gila itu." Menatap Lyra tajam.


Tubuh Lyra bergetar, mulutnya seolah terkunci karena melihat perubahan sikap Fardan yang mengerikan.


"Tepat pukul delapan malam ingatlah aku menunggumu, Lyra kita akan menikah hahaha." Tertawa bahagia.


"Aku mohon lepaskan aku Kak, aku belum siap menikah."


"Belum siap atau kamu masih memikirkan pacar kamu itu, Lyra tolong jangan membuat aku mengasarimu kalau itu terjadi aku tidak akan tahu apa yang akan aku lakukan padamu!"


"A-aku...."


Fardan membuka sebuah pintu yang ternyata terdapat sebuah ruangan yang berisi foto-foto Lyra yang sebagian dia ambil sendiri.


"Lihatlah! Lyra betapa aku menginginkanmu," ujar Fardan.


Lyra masuk ke dalam ruangan tersebut dan memperhatikan potret dirinya terpampang memenuhi dinding ruangan tersebut.


"Kalau saja kamu tidak setia menemaniku ke psikiater dan berusaha memberiku semangat hidup mungkin aku tidak akan segila ini padamu, Lyra kamulah yang memulai."


Lyra terus menyusuri poto-poto tersebut tiba-tiba ia dibuat terkejut dengan sebuah potret dirinya dan tampak Reyhan yang sedang memandanginya dari kejauhan.


Kamu dimana sekarang? Apa kamu khawatir padaku, Rey jika kita berjodoh kita akan bertemu lagi dan saat itu terjadi aku hanya ingin bilang betapa aku mencintaimu. Batin Lyra disertai bulir air mata mengalir dikedua pipinya.


"Kamu lihat poto ini, saat itu aku baru saja bilang pada papa kalau aku ingin menyatakan cinta padamu, tahu nggak dia senang banget tapi dua hari kemudian dia dijemput polisi dan satu bulan kemudian ibuku bunuh diri dan itu ulah bocah tengik itu. Dia merebut kebahagiaanku dengan kejam dia harus terima balasannya dariku, dia harus mati ya Reyhan Almirza harus mati!" teriak Fardan.


Bak tersambar petir, alangkah terkejutnya Lyra ketika nama kekasihnya disebut.


"Ingat tepat jam delapan malam aku akan kembali lagi, tolong menurutlah, aku tidak akan menyakitimu bahkan seujung kuku pun, aku mencintaimu." Fardan meraih rambut Lyra lalu menciumnya dengan lembut.


Ia pun berjalan keluar ruangan dan mengunci pintu kembali. Lyra terjatuh tubuhnya lunglai air matanya bercucuran ia menangis sejadi-jadinya ia teringat sering menyangkal perkataan Reyhan yang berkali-kali menyuruhnya menjauhi Fardan, namun ia anggap hanya sekedar cemburu buta.


Tolong keluarkan aku dari sini, aku tidak mau disini aku tidak mau, Reyhan tolong aku!


___________________________


Tok-tok.


Siska berjalan menuju pintu.


"Lyra kenapa nggak langsung masuk sa-ja, lho Reyhan dimana Lyra?" Melihat ke sekeliling Reyhan.


"Aku kemari justru ingin mencari Lyra tadi sewaktu pulang dari sekolah aku menunggunya dan teleponnya juga nggak aktif sama sekali."

__ADS_1


"Hah, jadi Lyra kemana dong? Tunggu sebentar aku hubungi Vanes dulu."


"Halo ini Siska, Lyra ada disana. Enggak ya, oh makasih ya Nes."


"Nggak ada Rey, jadi gimana dong?" Mengerutkan dahinya serta mata yang mulai berkaca-kaca karena khawatir kejadian lalu terulang kembali.


"Halo Redro, berkumpullah di halaman rumah pastikan semua lengkap." Reyhan menelepon Redro yang berada di seberang.


Begitu nama Redro disebut wajah Siska seketika berubah menjadi cemberut, kekesalan menggerogoti batinnya.


"Kakak mau ikut atau tidak?" tanya Reyhan.


"Ikut tapi bukan karena ada Redro ya, ini semata-mata karena Lyra." Berjalan lalu masuk ke dalam mobil Lyra.


Aku tidak tahu seberapa sabarnya Lyra menghadapi kak Siska. Batin Reyhan.


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Hoammm, sebenarnya ada apa sih lu manggil-manggil ganggu orang tidur aja," ujar Erick sambil menutup mulutnya.


"Lyra hilang."


"Apa? Lagi, kok hobby nya asyik hilang mulu ya. Kak Siska bukankah kalian selalu bareng kemanapun tapi kok bisa dia menghilang." Menggaruk kepalanya.


Siska hanya menatap Erick dengan tatapan tajam, karena teringat video porno kiriman Erick yang ia dan Lyra tonton tadi malam.


Erick yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menatapnya bingung dengan tingkah Siska. Tiba-tiba Redro melintas tepat di depan mereka membelah tatapan antara Siska dan Erick. Siska langsung mengalihkan pandangannya dari Redro seolah muak melihat wajahnya.


"Bukankah dari tadi nona Lyra berada di sekolah dan tiba-tiba menghilang saya curiga Fardan dibalik semua itu," ujar Redro.


"Apa? Kak Fardan, tadinya aku juga curiga sama dia karena sebelumnya kan Lyra mencarinya mau memberikan tugas kampus yang diberikan pak Hasa pada mereka berdua. Tapi Lyra nggak balik-balik malah kak Fardan yang datang tapi dia bilang nggak bertemu Lyra sama sekali, dan waktu dia pamit kertas yang tadinya Lyra bawa sudah ada di atas meja padahal tadinya nggak ada, aku pikir kak Fardan jumpa di jalan atau-


"Dimana rumah Fardan? Ayo kita kesana sekarang!" Tatapan tajam Reyhan seolah menceritakan kekhawatirannya pada Lyra.


"Baiklah ayo kita kesana."


Mereka semua pun bergegas masuk ke dalam mobil.


"Naiklah," ujar Redro.


"Tidak, aku mau di samping Reyhan saja." Berjalan menuju pintu depan mobil.


"Eits, ini tempatku, maaf ya Kak Siska aku nggak biasa duduk di belakang." Tersenyum lalu masuk ke dalam mobil.


"Sudah naiklah nanti telat pasti nona Lyra ketakutan disana," ujar pengawal lainnya.


"Iya-iya." Berjalan masuk ke dalam mobil.


Kalau bukan karena Lyra, aku ogah duduk dekat dia nyebelin banget. Batin Siska.


BERSAMBUNG


Terima kasih sudah membaca jangan lupa like, komen dan vote ya luv u readers.

__ADS_1



__ADS_2