MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Keserakahan (2)....


__ADS_3

"Saya memang belum cukup umur untuk hal yang sangat sensitif ini. Tapi apakah umur itu bisa menjamin kematangan dan pantasnya seseorang menjadi pemimpin? Kalau ada yang jawab "iya" tunjuk tangan ayo kita beradu kepintaran di sini sekarang juga," jawab Reyhan sambil tersenyum membuat para pemegang saham tercengang dan saling melirik satu sama lain.


"Nak! Kami bukannya tidak pandai, tapi mengingat usia kami yang sudah mulai bau tanah ini terasa aneh kalau kamu mengajak adu kepintaran di sini. Bagaimana kalau anakku Bobby Marelo yang akan menjadi sainganmu?" Tersenyum sinis.


"Hmmm Bobby Marelo dan Roise Noe. Kalian menginjakkan kaki kemari lumayan cukup berani sekali." Reyhan tersenyum semringah sambil ia menatap kedua lelaki tersebut.


"Apa maksudmu?" tanya mereka memelotot kaget.


"Hotel 102, perlukah kuperjelas di sini?" Reyhan memasang tatapan tajamnya membuat dua orang itu mendadak gemetar hebat. Para pemegang saham menyaksikan situasi yang tiba-tiba tegang itu dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.


"Kau! Siapa kau?" tanya Bobby dengan sedikit gugup.


"Aku Reyhan Almirza, kau cukup tuli rupanya. Ingatlah namaku Reyhan..., Almirza." Tetap tersenyum.


"Ada apa ini? Bobby ceritakan pada papa apa yang terjadi dan apa maksudnya dengan hotel 102?" Memelotot bingung melihat wajah anaknya yang ketakutan saat Reyhan menyinggung angka tersebut.


"Papa! Maaf, aku mundur." Beranjak pergi dari ruangan tersebut. Orang-orang tak kalah hebohnya melihat situasi tersebut.


"Bobby!" teriak Pria paruh baya tersebut namun anaknya sudah tak terlihat lagi.


Wajah yang semula sombong itupun seketika berubah berganti menjadi malu.


"Ayah aku juga. Mundur, maafkan aku." Roise Noe pun mengikuti cara Bobby yang langsung meninggalkan ruangan tersebut. Kedua orang tua itu menatap Reyhan dengan kebingungan dan sedikit seperti menyelidiki pribadi Reyhan.


"Bagaimana? Apa masih ada yang ingin menantangku?" tanya Reyhan yang disambut dengan diam oleh para pemegang saham tersebut.


"Aku yang akan menantang anda tuan muda Reyhan Almirza." Dengan keberanian serta percaya diri yang cukup kuat Vica pun berdiri. Orang-orang melihatnya dan mulai memuji keberanian perempuan muda itu.


"Baiklah tantangan seperti apa yang kau inginkan?" tanya Reyhan dengan sinis. Vica menatapnya cukup lama, matanya mulai berkaca-kaca setelah mendengar Reyhan memanggilnya dengan sebutan "Kau" karena biar bagaimanapun bukankah mereka sahabat?


"Ini mengenai visi dan misi perusahaan ini, sebagai anak dari pemilik perusahaan, saya ingin tahu apa visi dan misi anda tuan muda Reyhan Almirza?" tanya Vica yang disambut tatapan dingin Reyhan.

__ADS_1


"Bolekah saya tahu apa visi dan misi anda terlebih dahulu sebagai anak pemegang saham terbesar?" tanya Reyhan balik.


"Saya ingin memajukan perusahaan dengan baik dan juga akan menaikkan gaji para karyawan. Saya sangat ingin membuat grup Almirza menjadi lebih baik lagi," jawab Vica dengan sedikit gugup ketika Reyhan berdiri menatap serius ke arahnya. Getaran-getaran membuat napasnya seketika berubah menjadi sesak.


"Anda yakin itu visi dan misi anda?" tanya Reyhan sambil terus menatap Vica yang seperti tidak mengenalnya sama sekali.


"Iya, bagaimana dengan anda sendiri tuan muda?" tanya Vica yang mulai berbicara normal gugupnya perlahan menghilang.


"Visi dan misi saya adalah visi dan misi papa saya Reygan Almirza yang tidak pernah ada kalimat umbar janji di dalamnya. Semua dengan pembuktian sampai ia telah tiada pun visi dan misi ini dipakai oleh Mama saya Marta Arnelita yang sampai sekarang terbukti membuat Almirza bertahan di peringkat utama. Dan masalah karyawan saya sudah mendapati komentar positif yang selalu merasa bangga bekerja di sini bukan pendapatan besar yang mereka inginkan tapi dengan menghargai mereka lah membuat mereka selalu semangat bekerja di sini." Jawaban bijak Reyhan disambut dengan tepuk tangan meriah. Berbeda dengan Marta yang tampak mengeluarkan setetes bulir bening terharu begitu Reyhan mengakuinya sebagai mama.


Vica terdiam, ia tahu kalau Reyhan memang akan selalu menang darinya. Sewaktu mereka masih menjadi sahabat Vica selalu di bully karena IQ nya yang di bawah rata-rata. Akan tetapi Reyhan selalu ada memberinya semangat dan tak gentar mengajarinya. Namun perasaan tak terduga tumbuh di dalam hati Vica, ia menyukai Reyhan dan Fero selaku sahabat Reyhan memperhatikan hal itu hingga membuatnya menjauhi Reyhan karena ia menyukai Vica. Namun saat Reyhan menanyakan tuduhan Fero tersebut Vica justru menepisnya dan berbohong kalau ia menolak Fero dikarenakan ia mengidap penyakit mematikan agar Reyhan tidak menjauhinya.


::::::::::::


Jakarta, INDONESIA


23.50 WIB


Lyra dikejutkan dengan suara ponselnya yang menandakan sebuah pesan masuk. Dengan segera ia raih ponselnya lalu membukanya berharap dari Reyhan. Dan benar saja, Reyhan mengirimkan potret dirinya yang memakai setelan jas membuat Lyra semakin merindukannya.


"Dia ganteng banget sih, aku jadi bertambah kangen. Ah apalagi dengar cerita masa kecilnya. Ingin rasanya aku memeluknya erat," gumam Lyra sambil menggenggam erat ponselnya.


Drrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrt...


Panggilan masuk ke ponselnya yang ternyata dari Reyhan dan melalui video call.


"Ehmmm, kalem Lyra. Jangan tunjukin kesedihanmu jangan buat dia cemas." Lyra menghela napasnya lalu memencet tombol terima tampaklah Reyhan yang sedang tersenyum senang di layar ponselnya.


"Kenapa belum tidur?" tanya Reyhan menatap bingung.


"Ah aku tadi sudah tidur tapi kamu menelepon, ya aku angkatlah," jawab Lyra sambil terus menatap ke layar ponselnya.

__ADS_1


"Jadi, aku sudah mengganggumu ya. Maafkan aku? Aku cuma-"


"Enggak kok, aku kangen kamu," jawab Lyra keceplosan.


"Apa? Kamu merindukanku?"


"Iya, aku sangat merindukanmu. Jaga kesehatanmu dan bekerjalah yang rajin jangan mengecewakan orang tua kita," jawab Lyra lirih. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Kamu menangis, apa ada yang mengganggumu? Maaf aku meninggalkanmu aku juga merindukanmu dan juga aku akan segera kembali sabarlah ini tidak akan lama kita akan bersama-"


CUP!!!


Lyra mengecup layar poselnya air matanya menetes begitu derasnya. Cerita bik Sumi memenuhi pikirannya. Ia tidak bisa menahan kesedihannya saat menatap wajah suaminya yang terlihat bingung dengan sikapnya saat ini.


"Sudah malam, aku tidur dulu ya." Tersenyum ke arah layar ponselnya.


"Tidak! Tunggu sebentar. Katakan padaku apa yang terjadi, kenapa kamu menangis?" tanya Reyhan.


"Aku terlalu merindukanmu. Biasanya malam begini ada kamu menemani tapi sekarang..., aku sangat merasa kesepian." Berusaha tersenyum meskipun air matanya semakin deras.


"Besok aku pulang. Tunggulah akan ku pesan tiket tolong jangan terlalu sedih dan berhentilah menangis bisa gila aku jika melihatmu begini," jawab Reyhan mulai frustasi.


"Jangan, ini hal biasa saja. Selesaikan pekerjaanmu dengan baik disana jangan melakukannya setengah-setengah bertanggung jawablah Rey. Jangan buat aku terlihat seperti menantu durhaka. Aku tidak mau Rey," jawab Lyra.


Reyhan terdiam, ia tidak mau melihat Lyra menangis karena terlalu merindukannya tapi di sisi lain ia juga memiliki tanggung jawab yang besar di perusahaan tersebut.


"Aku akan menunggumu Rey, satu pintaku. Setialah, aku mencintaimu suamiku sayang. Bekerja keraslah emmuachhh semangat," ujar Lyra lalu memutuskan panggilan tersebut.


Lyra kembali melihat poto yang Reyhan kirim, ia tersenyum lalu menciumi poto tersebut berulang-ulang.


"Kau tahu Rey, bertemu denganmu ibaratkan sebuah mimpi indah, memiliki hubungan denganmu anugerah terindahku dan menjadi istrimu adalah sebuah keajaiban bagiku. Betapa sayangnya Tuhan padaku mempersatukan kita berdua." Mengusap-usap potret Reyhan lalu meletakkan ponselnya di samping bantal dan melanjutkan tidurnya yang terhenti.

__ADS_1


__ADS_2