
"Setelah lulus sekolah ayo kita menikah," jawab Reyhan.
"Apa?"
"Setelah aku lulus sekolah ayo kita menikah." Reyhan mengulangi perkataannya.
"Kamu sadar enggak sih bicara apa, menikah itu bukan untuk-
"Bukan untuk main-main menikah itu sesuatu yang sakral. Aku tahu itu tapi saat ini aku sudah tidak bisa menahannya lagipula aku lelaki yang sudah berusia 18 tahun bisa untuk menghidupimu dan aku juga bisa memberikan anak yang sebanyak yang kamu mau meskipun aku belum terbilang cukup dewasa paling tidak ini pembuktianku bahwa cintaku nyata adanya," ungkap Reyhan berusaha meyakinkan Lyra.
Oh ya ampun dia bicara terlalu blak-blakkan tapi yang dia katakan memang benar adanya. Batin Lyra.
"Baiklah, boleh aku tahu alasannya?" tanya Lyra dengan tenang.
Reyhan terdiam pikirannya berkecamuk bingung cara menjelaskannya.
Haruskah aku mengatakan kalau aku sudah tidak tahan melihat bibirnya yang seakan memanggilku untuk mengecupnya, hah kebodohan apa ini. Batinnya.
Lyra tersenyum melihat wajah bingung Reyhan walaupun ia tidak tahu alasan Reyhan yang selalu mengajaknya menikah tetapi ia berusaha berfikir positif kalau Reyhan hanya ingin melindunginya.
"Ya sudahlah, begini saja kalau kamu meminta menikah muda mungkin aku bisa pikirkan karena aku juga takut kalau-kalau pacarku yang tampan ini akan direbut orang rugi dong aku-nya," ujar Lyra membuyarkan kegelisahan Reyhan.
Reyhan tersenyum wajahnya memerah ia mengeratkan menggenggam tangan Lyra.
"Bagaimana kabar mereka? Aku dengar dari Siska kamu menyekap mereka di gudang?" tanya Lyra.
"Iya benar. Apa kamu marah?" tanya Reyhan balik.
"Ya enggak lah, mulai sekarang apapun yang kamu lakukan ingatlah aku akan selalu mendukungmu," jawab Lyra.
"Termasuk menikah?" tanya Reyhan.
"Oke, siapa takut," jawab Lyra spontan, dan dengan cepat ia menutup mulutnya sendiri terkejut dengan jawaban yang baru saja ia lontarkan itu.
Reyhan tersenyum. "Aku pegang kata-katamu, Lyra kamu akan menjadi milikku selamanya," bisik Reyhan membuat Lyra berbinar-binar.
"Permisi, Mas saya akan memeriksa Istri Anda, bisa tunggu di luar," ujar dokter Rudi.
Reyhan menoleh lalu beranjak keluar. Sementara itu, Lyra tampak bingung sekaligus linglung.
"Maaf, kenapa Dokter menyebut saya sebagai Istrinya?" tanya Lyra.
"Mbak enggak mungkin amnesia, kan? Mas tadi yang bilang sendiri kalau Mbak ini istrinya," jawab dokter Rudy sambil tersenyum.
Lyra terkejut wajahnya semakin bingung, namun ia berusaha mencairkan keadaan.
"Hah, hahaha aku memang sedikit pelupa, maaf ya Dok," ujar Lyra sedikit malu.
Sampai segitunya mengaku sebagai suamiku hanya karena dokter ini seorang laki-laki, Reyhan cemburumu sampai segitunya. Batin Lyra bergejolak.
"Baiklah, sudah selesai ingat untuk selalu istirahat yang cukup. Dan untuk hari ini menginap disini saja, lain kali berhati-hatilah jangan sampai hal ini terjadi lagi ya, Suster tolong panggilkan suaminya," ujar dokter ramah.
Suster mengangguk, lalu beranjak keluar memanggil Reyhan, tak lama kemudian Reyhan pun masuk dengan wajah paniknya, khawatir penyakit Lyra semakin parah.
"Istri Anda tidak apa-apa saya sudah periksa setelah menyentuh tulang punggung bawahnya jadi tidak perlu di rontgen lagi, semua normal dan untuk menghindari hal seperti ini usahakan kejadian hari ini tidak pernah terjadi lagi." Dokter menjelaskan.
"Maaf maksud Dokter menyentuh tulang punggungnya yang bagaimana Anda menyentuh bokongnya begitu?" tanya Reyhan serius.
Dokter Rudi tersenyum sedikit nakal mengerti psikologis Reyhan yang cemburu.
"Ehm itu sudah menjadi tugas saya, selama dia dalam pemeriksaan saya seluruh tubuhnya di bawah kendali saya," jawab dokter Rudi santai.
"Dokter!" teriak Reyhan sambil mengangkat kerah baju Dokter Rudi.
"Saya yang sentuh, Mas dokter Rudi hanya menyimpulkan saja karena Dokter Rudi tahu tipe seperti Mas sangat cemburuan," ujar Suster.
Reyhan melepaskannya, dokter Rudi pun tersenyum melihat tingkah Reyhan yang berlebihan, lalu segera beranjak keluar. Reyhan melihat ke arah Lyra yang ikut tersenyum melihat tingkah konyolnya.
"Aku tidak cemburu, jangan senyum seperti itu," ujar Reyhan salah tingkah.
"Aku ini Istrimu ya, kapan kita menikah?" goda Lyra, membuat Reyhan semakin malu.
Di sisi Lain...
__ADS_1
"Aku merasa cinta Lyra dan Reyhan ada saja yang mengacaunya. Bagaimana menurutmu?" tanya Siska.
Redro hanya menganggukkan kepalanya.
"Oh ya kamu punya pacar enggak?" tanya Siska.
"Tidak Non," jawab Redro singkat.
"Hmm kalau gebetan ada enggak?" tanya Siska lagi.
Redro mengangguk membuat Siska heboh.
"Wah benarkah? Penasaran orangnya gimana," ujar Siska.
*Perasaan yang akhir-akhir ini ditemui Redro cuma aku dan Lyra enggak mungkinkan Lyra tapi enggak mungkin aku kan tapi kalau itu aku gimana nih. Batin Siska berandai-andai.
"Kamu sudah makan belum?" tanya Siska.
"Belum Non," jawab Redro.
"Kita makan yuk, aku yang traktir deh tapi jangan di restoran ya auto bangkrut aku," ujar Siska.
Redro mengangguk setuju.
"Oke! Nanti belok kiri ya ada rumah makan sederhana, kita kesana!" seru Siska.
Redro membelokkan mobilnya di persimpangan mengikuti instruksi dari Siska. Mereka pun sampai di rumah makan yang dimaksud Siska tampak sederhana dan rumah makan itu pernah didatangi Reyhan dan Lyra di kencan pertama mereka. Persis seperti Reyhan, Redro melihat ke sekelilingnya karena itu pertama kalinya dia mampir di rumah makan Sederhana, berbeda dengan Siska yang tampak menikmati suasananya yang sejuk dan ramai pengunjung tersebut.
Seorang Pelayan pun mendekati mereka dan memberikan list menu.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Siska.
Redro melihat menu makanan yang harganya paling mahal berkisar 25.000 tersebut.
"Saya pesan ikan bakar cabai ijo dan 3 mineral," jawabnya.
"Kalau aku pesan ayam gulai saja deh Mbak minumannya jus jeruk dan 1 mineral ya," ujar Siska.
"Oke ditunggu ya Mbak, Mas," jawab si Pelayan ramah.
"Lumayan Non," jawab Redro sambil memainkan ponselnya.
Siska tersenyum, tak lama kemudian sang pelayan pun datang membawa pesanan Redro dan Siska, Siska tampak sangat bersemangat, tiba-tiba sepasang suami istri mendekati mereka.
"Siska?" sapa pria itu sedikit terkejut.
"Hadi," jawab Siska tak kalah terkejutnya.
"Lu kemari sendirian aja mana si Lyra?" tanya Hadi.
Pandangan mereka tertuju pada Redro yang duduk di hadapan Siska.
"Eh kamu bawa pacar ya, mana ganteng lagi." Wanita itu berbisik membuat Siska salah tingkah.
"Maaf Bang kita berdua ini teman Siska dan Lyra waktu SMA tapi kita enggak lanjut kuliah dan memilih menikah muda," ujar Hadi.
Redro berdiri membuat Hadi dan Istrinya terkejut melihat betapa tingginya tubuh Redro. Redro mengulurkan tangannya.
"Kenalin saya Redro," ujarnya.
"Duduk dulu dong," ajak Siska dan kedua suami istri itu pun menurutinya.
"Ini Tika istrinya, dulu mereka berdua ini korban comblang. Tamat SMA eh ternyata beneran jadian dan bahkan langsung menikah. Lucu enggak sih!" seru Siska.
"Haha lu ingat aja kalau yang begituan mah. Oh ya Abang kenal sama Siska dimana? Dia ini mulutnya doang yang soek tapi hatinya mah baek beda sama Lyra lembut banget," ujar Hadi membuat Redro tersenyum.
"si Lyra kemana Sis? Biasanya kan kalian kemana-mana bareng?" tanya Hadi.
"Dia di puskesmas Kartini," jawab Siska singkat.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu, dia hamil ya?" tanya Tika.
"Hush, orang belum nikah juga sudah main hamil aja, lu kira Lyra itu perempuan gampangan gitu," ujar Hadi menegur Tika.
__ADS_1
"Panjang deh ceritanya kalau ada waktu jengukin dong," jawab Siska.
"Jadi ehm hubungan kalian berdua sebagai apa nih," sindir Hadi membuat Redro dan Siska sama-sama tersedak.
"Yah mereka tersedak berarti-
"Ah kalian ini bicara apa, Redro ini pengawalnya Reyhan," jelas Siska.
"Reyhan, siapa lagi si Reyhan ini?" tanya Tika memelotot penasaran.
"Dia pacarnya Lyra," jawab Siska singkat.
"Lyra punya pacar, dan pacarnya punya pengawal berarti anak konglomerat dong," ujar Hadi tidak percaya.
Siska langsung menendang kaki kedua pasangan tersebut, dan mereka mengerti maksud Siska.
"Kalau begitu kami permisi dulu deh Sis kasihan anak-anak nungguin maklum status sebagai orang tua yang diutamakan anak. Permisi Bang lain kali kita ngumpul bareng yak," ujar Hadi sambil mengulurkan tangannya.
Redro pun berdiri dan membalas uluran tangan Hadi, senyum hangat terlukis di wajahnya membuat jantung Siska berdetak tak menentu.
MashaaAllah, senyumannya tulus banget. Batin Siska.
"Eh Sis ngapain bengong gitu, ingat kalau lu nikah ntar jangan lupa undang kita, oke," ujar Hadi membuyarkan lamunan Siska.
Siska menganggukkan kepalanya.
"Oh ya Lyra di kamar nomor berapa?" tanya Tika.
Siska menunjuk dengan 2 jarinya pertanda nomor 2.
"Oke, sampai ketemu lagi!" teriak mereka sambil melambaikan tangannya.
Siska dan Redro kembali duduk dan melanjutkan makan yang tertunda.
SEMENTARA ITU....
"Buka mulutnya lebar," kata Reyhan.
"Aku bisa sendiri Rey, tanganku masih sanggup kalau cuma makan doang," jawab Lyra.
"Sudah jangan membantah." Reyhan memaksa untuk menyuapi Lyra dan dengan terpaksa ia mengikutinya.
Lyra tersenyum melihat Reyhan yang dengan pelan menyuapinya.
"Ada yang lucu dengan wajahku?" tanya Reyhan.
"Tidak, aku hanya penasaran kenapa kamu menyukaiku. apa kamu bisa menjawabnya?" tanya Lyra balik.
"Bagiku itu bukanlah pertanyaan yang harus dijawab, karena rasa suka itu tumbuh dengan sendirinya jadi siapa pun tidak akan tahu jawabannya," jawab Reyhan.
"Baiklah kapan kamu mulai punya rasa padaku?" tanya Lyra lagi.
"Dari awal aku melihatmu menahan Fero untuk tidak memukulku, walau hanya sekilas tapi terasa jelas aku punya rasa padamu dan aku benar-benar yakin dengan perasaanku saat aku melihatmu dekat dengan Fardan dan aku benci itu," jelas Reyhan.
Dimana perginya Reyhan yang dingin dan kejam, saat ini dia terlihat polos dan membuatku semakin menyukainya. Batin Lyra.
"Kalau kamu?" tanya Reyhan.
"Saat kamu memberikan tumpangan padaku dan waktu itu kamu memasang sabuk pengamanku saat itu kamu terlihat sangat peduli padaku," jawab Lyra.
"Kapan itu? Apa aku sebaik itu?" tanya Reyhan pura-pura lupa karena malu.
Lyra menarik Reyhan dan mendekatkan wajahnya membuat Reyhan memelotot terkejut.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR