
Aroma apa ini? Kenapa sangat harum? Ah! Tenang sekali rasanya. Dan apa ini kenapa bantalku rasanya seperti daging empuk banget. Batin Siska sambil memaksakan membuka matanya. Alangkah terkejutnya dia sesuatu yang empuk itu bukanlah bantalnya melainkan otot-otot six pack milik Redro yang tak sengaja ia raba.
Mati aku! Kenapa aku bisa ada di sini? Apa aku mengigau sambil berjalan. Kenapa aku lupa mengunci pintu kamar tadi malah. Hah Redro akan terkejut histeris bila tahu aku di dalam kamarnya. Harus keluar sekarang. Batin Siska sambil bergerak pelan menjauh dari tubuh Redro.
Saat akan berdiri tiba-tiba tangan Redro menarik piyama Siska membuat wanita itu terkejut hingga hampir terjatuh ke lantai. Dengan cepat Redro menariknya hingga tubuh Siska berada di atas tubuh bidangnya.
"Hai Beb, aku enggak sengaja masuk. Aduh bagaimana menjelaskannya? Jujur aku seorang pengigau dan itu sedari aku kecil. Makanya aku dan Lyra tidur terpisah. Jadi, sekarang aku enggak sengaja masuk kemari. Kamu lanjutkan tidurnya aku akan kembali ke kamarku," ujar Siska menjelaskan.
"Ke kamar? Kamar mana yang kamu maksud?" tanya Redro menatap heran pada Siska.
"Ah itu tentu saja kamar sebelah. Sudah ya, masih banyak waktu untuk tidur. Kamu lanjut saja aku akan-
"Kita sudah menikah. Jangan bilang kamu lupa kalau sekarang aku suamimu," ujar Redro mengingatkan.
"Hah? Iya kamu benar. Kenapa aku bisa lupa, aku kira itu hanya mimpi yang sekedar lewat. Tetapi aku...."
Apa yang akan kita lakukan? Hah sangat membingungkan sekali. Ekspresinya tampak sangat datar. Batin Siska sambil tersenyum canggung.
"Tidurlah! Sudah malam," ujar Redro sambil menepuk-nepuk sisa tempat tidur di sebelahnya. Lalu membalikkan badannya memunggungi Siska.
Dengan sedikit ragu dan pelan Siska pun menaiki ranjang tersebut lalu berbaring membelakangi Redro.
Ya untungnya dia mengantuk berat aku takut sekali. Kalau tiba-tiba dia marah. Ah kamarnya harum sekali. Harumnya sangat enak. Tidur di sini sangat betah beda dengan kamar sebelah yang rasanya biasa saja. Batin Siska sambil menarik selimut hingga menutupi lehernya.
Tiba-tiba Redro berbalik dan memeluk Siska dari belakang. Siska terkejut bukan main matanya membulat sempurna rasa mengantuknya hilang seketika.
"Apa kamu sudah tidur?" tanya Redro dengan napas yang beradu di telinganya.
"Ah enggak. Rasa mengantukku hilang mungkin karena tidur lebih awal. Kalau kamu?" tanya Siska terbata-bata.
"Dari tadi aku tidak bisa tidur," jawab Redro singkat.
"Kenapa kamu enggak tidur. Apa karena aku mendatangimu?" tanya Siska menahan geli karena napas yang keluar dari mulut Reyhan masuk ke telinganya.
"Tidak! Aku menunggu istriku untuk datang kemari. Akan tetapi, dia tidak kunjung datang jadi aku menjemputnya sendiri," jawab Redro jujur.
"Hah, jadi kamu yang mengangkat aku kemari?" tanya Siska memastikan pendengarannya.
"Iya, apa kamu marah?"
"Enggak! Aku 'kan berat pasti otot-ototmu sakit," jawab Siska sambil memanyunkan bibirnya.
"Ya, apa boleh buat. Istriku tidak menemuiku. Mau tidak mau aku harus menjemputnya. Lagipula tubuhmu tidak terlalu berat dibandingkan sekarung kapas," jawab Redro.
"Berarti aku ringan dong." Siska tersenyum senang.
"Sekarung kapas basah," lanjut Redro membuat Siska emosi dan langsung membalikkan tubuhnya mengarah ke Redro.
"Bicara sembarangan. Dengar ya beratku itu cuma 48-
Cup!
Redro mengecup bibir Siska membuat wanita itu berhenti bicara. Redro menghidupkan lampu mini yang berada di atas nakas. Siska dikejutkan dengan kelopak bunga yang bertaburan di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Kenapa aku sadar kalau ini kelopak bunga, bodohnya aku," ujar Siska sambil mengambil beberapa kelopak bunga tersebut.
Redro pun bangkit dan menyentuh pundak Siska. Disingkirkannya rambut yang menutupi wajah istrinya itu lalu mengulum bibir Siska dalam tempo pelan.
Bunga yang di tangan Siska pun terlepas hingga bertaburan di atas bantal. Tangan Siska sudah melingkar di pundak Redro dan perlahan-lahan Redro membaringkannya di sela-sela aktifitasnya itu.
Tangan Redro beralih pada pengait piyama yang membalut tubuh Siska. Dengan pelan Redro membukanya hingga membuat leher jenjang Siska terlihat. Redro pun menciuminya hingga Siska mengeluarkan erangan kenikmatan.
Tak cukup sampai disitu tangan Redro mulai bermain di atas benda kenyal milik Siska sambil terus menciumi lehernya. Kepala Redro pun mulai turun ke arah benda tersebut. Dengan cepat Siska menahannya lalu menutupinya kembali.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu," ucap Redro dengan lembut lalu mengecup kening Siska. Tangannya pun kembali bermain. Suara desahan Siska semakin terdengar jelas membuat Redro semakin bernafsu.
Pengantin baru itu pun menuntaskan kewajiban mereka di saat orang lain tengah bermimpi indah. Dan saat itu pukul 02.00 Dini hari.
****
Reyhan meraba-raba area tempat tidur di sampingnya. Ya, seperti biasa ia selalu membutuhkan tubuh Lyra di pagi hari. Namun tubuh istrinya tak kunjung ia dapatkan. Ia pun terbangun, lalu suara percikan air dari kamar mandi samar terdengar olehnya.
Dengan cepat Reyhan bangkit lalu membuka pintu kamar mandi. Samar terlihat tubuh Lyra yang sedang menikmati shower yang membasahi tubuhnya.
Reyhan pun mengetuknya membuat Lyra menoleh. Saking terkejutnya, Lyra langsung menutupi tubuhnya dengan handuk.
"Kamu ini, pagi-pagi mengetuk membuatku kaget saja," ujar Lyra sambil berjalan keluar.
Reyhan menarik handuk yang langsung ditahan Lyra agar tidak terbuka.
"Mau kemana?" tanya Reyhan membuat Lyra menghela napas karena kesal.
"Pagi ini kamu telah membuat kesalahan. Kamu mandi sendiri tanpa mengajakku. Lyra aku sudah pernah bilang kalau kita wajib mandi bareng. Jangan pernah lupakan titah suamimu atau dosa mu akan bertambah," ujar Reyhan membuat Lyra merasa bosan mendengar kalimat itu.
"Baiklah, maafkan aku sayangku. Lain kali aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Tetapi berhubung aku sudah mandi acara mandi barengnya ditunda ya," jawab Lyra sambil tersenyum manja.
"Tidak ada lain kali. Itu berbeda masuk ulangi mandinya. Aku akan bersiap-siap," ujar Reyhan sambil membuka bajunya.
"Ah kamu enggak masuk akal sekali harus mengulanginya. Ingin aku mati menggigil ya, aku enggak mau!" Lyra pun berlari dari dalam kamar mandi namun tidak disangka Reyhan mengejarnya dan langsung menyambar tubuh Lyra hingga terjatuh di atas ranjang.
"Rey, lepaskan aku. Apa yang kamu lakukan? Aku sangat kedinginan Rey, aku-
"Ssst! Beri waktu 10 detik aku ingin memelukmu," jawab Reyhan sambil memeluk tubuh Lyra.
Akhirnya Lyra berhenti memberontak. Tubuhnya pun merasa nyaman di dalam pelukan Reyhan. Reyhan menatap mata Lyra lalu melukiskan segaris senyuman di wajahnya.
"Terima kasih sayang," ucap Reyhan lalu bangkit dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Hah kata-katanya manis sekali. Batin Lyra.
Lyra pun bangkit dan segera mencari setelan yang akan dia pakai. Tubuhnya sedikit menggigil dan sesekali ia menggertakkan giginya saking kedinginan.
Reyhan pun keluar membuat Lyra memelotot terkejut.
"Kenapa cepat sekali? Biasanya kamu paling lama kalau urusan mandi," tanya Lyra heran.
"Dingin! Tapi kalau kamu mau menemani aku bersedia mandi lagi bahkan 100 kali aku masih sanggup," jawab Reyhan sambil tersenyum nakal.
__ADS_1
Lyra tidak menjawab, ia memilih untuk mencari baju yang akan dia pakai. Reyhan mendekatinya memperhatikan setiap inci wajah Lyra membuat istrinya itu salah tingkah.
"Kamu lagi apa sih? Lemarimu 'kan ada di sana. Apa kamu mau mencoba memakai pakaianku?" tanya Lyra bingung.
"Tidak! Kamu cantik, sangat cantik," jawab Reyhan sambil mengelus lembut kepala Lyra.
Sebenarnya dia ini kenapa sih. Dari semalam dia terus mengumbar kata-kata manis. Biasanya dia selalu datar dan tidak berekspresi. Batin Lyra menatap punggung Reyhan yang berjalan mendekati lemarinya.
"Pakai baju yang bagus ya. Hari ini kita akan jalan-jalan," ujar Reyhan.
"Jalan-jalan. Hah akhirnya kita liburan juga," jawab Lyra seperti orang yang merasa bebas.
"Memangnya selama ini kamu ingin liburan. Kenapa enggak pernah bilang? Kenapa harus menahannya?" tanya Reyhan sambil menyentuh pipi kanan Lyra.
"Aku tidak mau mengganggu konsenterasimu saat bekerja," jawab Lyra sambil menyentuh pipi Reyhan balik.
"Aku sudah bilang pekerjaan itu tidak penting. Aku bosnya aku yang mengatur semuanya. Aku sedang marah sekarang," ujar Reyhan sambil berbalik dan duduk di sudut tempat tidur.
"Sayang. Maafkan aku. Aku enggak bermaksud berbuat begitu. Jangan marah lagi dong." Lyra berusaha membujuk Reyhan.
"Aku enggak marah sama kamu. Aku marah pada diriku yang tidak pernah peka. Seandainya aku bisa membaca pikiranmu, mungkin akan terasa lebih indah. Aku sangat payah!" Reyhan mengusap rambutnya.
Cup!
"Sekarang kamu sudah tahu. Ayo bersiap-siap, aku sudah enggak sabar menghirup dunia luar," jawab Lyra sambil membelai lembut kepala Reyhan.
Reyhan pun mengangguk lalu mulai mencari setelan untuk ia pakai begitu juga dengan Lyra.
Beberapa menit kemudian mereka pun selesai dengan acara dandannya. Lyra menggandeng tangan Reyhan. Mereka pun berjalan menyusuri lorong apartemen.
Seluruh pandangan tak luput dari pasangan suami istri tersebut. Bahkan sang resepsionis yang terkenal sangat galak melemparkan senyuman kepada mereka yang langsung dibalas oleh Lyra. Berbeda dengan Reyhan yang hanya memasang wajah datar karena baginya senyumannya hanya tercipta untuk Lyra. Bila dipaksa tersenyum dengan orang lain bukankah itu sangat munafik? Itu menurut Reyhan.
***
Lyra menikmati pemandangan dari luar mobil. Mulutnya tak berhenti mengoceh pada apapun yang ia lihat. Reyhan hanya tersenyum karena melihat tingkah riang istrinya itu.
"Ye..., ye..., ye! Terima kasihku kuucapkan pada suamiku yang tulus." Lyra mendendangkan sebuah lagu yang membuat Reyhan terkekeh.
"Bagaimana bisa kamu mengganti lirik lagu yang seharusnya diperuntukkan untuk para guru. Lyra, bukankah kamu salah satu guru. Dimana wibawamu?" tanya Reyhan merasa lucu dengan alunan lagu yang dinyanyikan Lyra.
"Pahamilah aku tidak hapal lagu-lagu pop yang bertema cinta. Mengingat tentang profesiku, aku tidak menyangka menikah dengan siswa ku sendiri. Hahaha! Aku gurumu Rey," ujar Lyra sambil tertawa.
"Dari tadi pagi kita tidak memakan apapun. Kita cari tempat makan yang sederhana di sekitar sini saja. Pasti cacing di perutmu sedang demo minta makan." Sambil memperhatikan jalanan.
"Iya kamu benar sekali bukan hanya berdemo mereka terus melompat di dalam sana," jawab Lyra sambil memanyunkan bibirnya membuat Reyhan tertawa merasa lucu.
Tibalah mereka di sebuah Restoran mewah yang memiliki dua tingkat serta tiang yang menjulang tinggi.
"Ini, bagian mananya yang sederhana?" tanya Lyra sambil mengangkat kepalanya melihat bagian atas restoran tersebut.
"Bagiku ini sangat sederhana kalau yang mewah hanya aku pemiliknya," jawab Reyhan sambil menarik tangan Lyra untuk masuk.
"Apa?" Lyra memelotot terkejut dengan perkataan sombong Reyhan.
__ADS_1