
"Itu aku?" Siska bingung menjawabnya.
"Kebetulan saya tidak suka gula Non jadi cuma ditambah teh celup saja," ujar Redro.
Siska menatapnya dan semakin merasa bersalah.
Redro ada apa denganmu sejak kapan kamu enggak suka gula kamu menangis berteriak saat aku menyuruhmu minum teh diet dan sekarang kau bilang tidak suka gula. Batin Reyhan tatapannya semakin tajam pada Redro.
"Bagus dong enggak suka pakai gula karena bisa terhindar dari diabetes iya kan Siska?" Lyra menyenggol Siska pela.
"Baiklah karena kalian yang sudah memasakkan untuk kami biar kami yang mencuci piringnya," ujar Reyhan sambil menyusun piring kotor di atas meja dan membawanya ke dapur lalu diikuti oleh Redro dengan piring kotor lainnya.
"Ini semua kau yang bersihkan," ujar Reyhan.
Redro memelotot kaget dan hanya bisa mengikuti perintah Reyhan.
"Ini hukuman untuk orang yang telah berbohong di hadapanku," sambung Reyhan lagi yang dibalas oleh Redro dengan anggukan.
Setelah semua selesai Reyhan dan Redro pun pamit pulang dengan menyetir mobil masing-masing.
"Ehm sepertinya Redro sangat baik padamu hingga rela berbohong begitu," ujar Lyra.
"Bohong dari mananya?" tanya Siska.
"Masalah tidak suka gula, aku mulai curiga sahabatku yang imut ini pasti punya rasa yang beda untuk Redro ayo ngaku." Lyra merangkul bahu Siska yang membuat Siska salah tingkah.
"Sejak kapan sahabatku ini mulai kepo," ujar Siska sambil berlari masuk.
Malam pun berlalu....
Â
-------------
Â
"Enggak terasa ya senin nanti kamu sudah harus masuk," ujar Siska.
"Iya aku jadi merasa bersalah karena aku, Reyhan mogok sekolah hingga 2 minggu, aku takut dia enggak lulus Sis," jawab Lyra.
"Tenang saja, kamu pikir Reyhan itu kaleng-kaleng ya dia itu tercipta sebagai orang pintar lho jadi jangan sepele." Siska mencubit pelan pinggang Lyra.
"Ini bekal kamu, dan yang ini untuk aku dan Reyhan walau cuma sosis saja sih," ujar Lyra sambil memberikan bekal yang dibuat olehnya untuk Siska.
"Kamu memang sahabat di atas sahabat, gajian nanti aku traktir deh," puji Siska.
"Sudah ayo pergi sebelum mereka sampai!" seru Lyra.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Siska.
"Ini hari terakhir Reyhan pemotretan dan hari ini waktunya cair," jawab Lyra.
"Yeay makan enak dong kita!" seru Siska.
__ADS_1
"Eits itu bukan uang kita tapi itu hasil kerja keras Reyhan jadi-
"Iya iya kita enggak berhak menggunakannya, sudah cepat keluar, pintunya mau dikunci nih," ujar Siska mengulangi perkataan Lyra padanya kemarin.
"Kita bangunnya terlalu pagi ya Sis jadi mereka belum nyampe juga," kata Lyra sambil mendongak ke kanan dan kiri.
"Kamu tuh belum adzan shubuh sudah teriak-teriak padahal ayam aja masih molor," jawab Siska.
Mobil Reyhan berhenti tepat di halaman rumah mereka disusul oleh mobil Redro. Lyra dan Siska langsung bergegas menghampiri mereka kemudian masuk ke dalam mobil.
Lyra melihat Reyhan yang seperti biasa terlihat tampan dan rapi membuatnya tersenyum senang setiap hari.
"Hari ini hari kedua pemotretan jadi besok tidak ada lagi," ujar Lyra.
"Mereka bilang 5 poto tapi kemarin mereka mengambil lebih dari 20 poto apa menurutmu aku akan diam saja dengan kebohongan seperti itu?" tanya Reyhan.
"Mungkin itu masih tahap editing kali," jawab Lyra.
"Aku tahu jelas mereka sama sekali tidak mengedit poto ku dan semuanya sudah tersimpan sekarang mereka memintaku untuk melakukan pemotretan lagi," ujar Reyhan.
"Setampan-tampannya orang pasti kalau dalam pemotretan pasti akan ada proses editing, contohnya Cha Eun Woo aktor tampan dari Korea pasti ada proses editingnya bukan sembarangan apa lagi kamu yang orang biasa," jelas Lyra.
"Mahluk seperti apa lagi yang kamu bicarakan, aku dan dia itu jelas berbeda," jawab Reyhan.
"Iya sih, tapi sudahlah biarkan saja mereka seperti itu toh kamu enggak rugi juga 'kan." Lyra menyentuh tangan Reyhan yang mengepal.
"Aku hanya akan terpaksa mengikuti permainan kotor dan kebohongan yang paling aku benci, aku bukanlah orang yang bisa bermurah hati seperti itu," ujar Reyhan sinis.
Aku lupa dia paling benci dibohongi, dan aku harusnya senang bukan. Batin Lyra.
Reyhan melihat ke arah Lyra yang biasanya tidak tega kepada orang lain tapi kali ini ia justru mendorong Reyhan tanpa membujuknya.
"Sejak kapan kamu berubah menjadi kejam?" tanya Reyhan.
"Seperti yang kamu bilang aku juga tidak suka dengan kebohongan, ayo kita basmi mereka!" seru Lyra membuat Reyhan tersenyum senang.
Di Sisi Lain....
"Terima kasih ya sudah membantuku tadi malam," ujar Siska.
Redro tidak menjawab pandangannya terfokus pada jalanan yang berada di depannya.
"Kamu marah ya?" tanya Siska.
"Tidak Non berhentilah membahas hal kemarin saya berharap Nona tidak ceroboh seperti itu lagi," jawab Redro.
Siska terdiam dan sedikit merenggut tidak senang dengan jawaban Redro yang kembali dingin seperti semula.
"Sudah sampai," ujar Redro.
Tanpa berkata apa-apa Siska langsung turun dan berjalan menuju ke sekolah akan tetapi baru beberapa langkah ia balik lagi menghampiri Redro.
"Nanti pulang sekolah kamu enggak usah jemput aku lagi," ujarnya dengan sedikit kesal lalu kembali berjalan ke sekolah.
__ADS_1
Redro hanya diam dan mulai melajukan mobilnya kembali.
***
"Hai Reyhan kamu sudah datang, seperti biasa kamu terlihat tampan," sapa Mely dibarengi dengan pujian.
Reyhan mengabaikannya dan justru memberikan Lyra kursi dan menyuruhnya untuk duduk. Mely menatap tidak suka.
Dasar perempuan munafik. Batinnya.
"Aku masuk sebentar ya, tetap tunggu aku," ujar Reyhan lembut.
Lyra mengangguk membuat Mely semakin tidak suka.
"Ehm enak ya diperlakukan seperti tuan putri. Tapi aku salut sama Reyhan yang tahu balas budi karena kau selalu sabar mengikutinya kemana pun," sindir Mely.
Lyra mengabaikannya pandangannya terfokus pada majalah cover milik peresuhaan tersebut lalu membuka lembaran-lembaran yang berisikan sekumpulan potret para model dan itu membuat Mely semakin gusar.
"Hei kamu dengar enggak sih apa yang aku katakan tadi. Berhentilah menjadi perempuan murahan!" teriak Mely sambil merebut majalah tersebut dari tangan Lyra memancing tontonan para kru dan staf yang bekerja.
"Kalian lihat dia wajahnya biasa saja mati-matian mengejar Reyhan yang tampan, sebagai sesama wanita itu sangat menyedihkan bukan!" teriak Mely lagi.
Para kru tak berani berkomentar kecuali saling berbisik pelan ke sesama mereka.
"Bicaralah Lyra jangan berpura-pura menutupi aib kotormu itu. Aku ingin mereka mendengar betapa mengerikannya kau sebagai wanita," ujar Mely.
"Bagian mananya yang mengerikan, kau mengajakku bersaing untuk mendapatkan Reyhan yang dari awal sudah menjadi pacarku. Harusnya aku mengatakan hal itu padamu tapi karena aku terlanjur kasihan padamu jadi aku mengurungkannya. Mimpimu untuk mendapatkannya perlahan pupus karena dia sama sekali tidak pernah melirikmu, dan karena itu kau malah melampiaskannya padaku. Sekarang aku tanya diantara kita siapa yang murahan kamu atau aku?" Lyra tak kuasa menahan emosinya yang sedari tadi berusaha ia pendam.
Mely tertawa keras bak orang keserupan menganggap semua yang dikatakan Lyra itu bohong belaka.
"Dasar perempuan aneh pake mengaku sebagai pacarnya Reyhan lagi, dimana rasa malumu?" tanya Mely remeh.
Lyra tersenyum ia kembali duduk dan membuka lembaran majalah yang sebelumnya ia lihat. Merasa sakit hati karena tak di respon amarah Mely pun memuncak dicampakkannya majalah tersebut lalu menarik Lyra dari duduknya hingga membuatnya terperojok dan tersungkur tepat di depan para kru dengan cepat mereka membantu Lyra untuk kembali bangkit.
"Ahhh!" jerit Lyra kesakitan karena luka yang di punggungnya belum pulih harus merasa hentakan yang luar biasa.
Reyhan yang mendengar jeritan Lyra, langsung keluar dari tenda betapa marahnya dia ketika melihat Lyra yang meringis kesakitan ia berlari cepat ke arah Lyra dan langsung menggendongnya menuju mobil setelah mendudukannya Reyhan segera bergegas membawanya ke rumah sakit.
Lyra terus menggeliat kesakitan membuat Reyhan semakin panik.
"Sabar sebentar lagi kita akan sampai," ujar Reyhan.
Dikarenakan letak rumah sakit yang masih jauh Reyhan menghentikan mobilnya tepat di depan puskesmas terdekat. Bergegas menggendong Lyra menuju ke dalam puskesmas.
"Suster, tolong!" teriaknya mengudang perhatian semua orang yang berada disana.
Para suster meletakkan Lyra diatas ranjang lalu membawanya ke dalam ruangan untuk diperiksa. Reyhan dilarang masuk dan wajah paniknya semakin menjadi-jadi, diambilnya ponsel dari saku lalu menghubungi Erick.
"Tepat di Kota Srengseng hancurkan semua yang sedang melakukan Syuting dan pemotretan lainnya buat mereka menghadap padaku," ujarnya penuh amarah.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Yuk mari guys😅😅😅😅