
Lyra dan Reyhan memasukkan beberapa setelan pakaian mereka ke dalam koper. Mereka bersiap-siap bertandang ke kampung halaman Siska.
Setelah dirasa cukup, mereka pun turun menghampiri Redro dan Siska di lantai bawah. Tampak Marta yang terus menepuk pundak, menatap Redro dengan penuh arti. Wanita paruh baya itu dengan berat hati tidak bisa ikut mengingat perjalanan yang melelahkan sepulang dari Amerika.
Setelah pamit, mereka kemudian beranjak pergi. Di dalam mobil tampak Redro yang terus menunduk berusaha tidak melihat Reyhan. Ya, pengawal Reyhan itu sedang gugup sekarang.
"Di sana ada sungai lho, Ra. Dulu, aku sering mandi di sana biasa sambil mencuci." Siska dengan suara hebohnya melanjutkan cerita suasana di kampungnya.
"Wow! Aku belum pernah mandi di sungai. Sudah nggak sabar aku, Sis," sahut Lyra, dengan kegembiraan.
Kedua sahabat itu terus bercengkerama tentang keseruan hidup di kampung. Reyhan dan Redro yang di belakang hanya diam dan mendengarkan cerita tersebut.
"Kamu tahu nggak, dulu itu aku kucel banget maklumlah anak sawah, hehehe...tapi aku sempat naksir seorang anak laki-laki namanya Angga," kenang Siska.
Syuttt!
Mobil mengerem hebat, dan tentu saja itu ulah Redro yang tak sadar tersulut cemburu. Reyhan meliriknya kemudian tersenyum licik merasa lucu pada ekspresi sang pengawal.
"Kenapa, Beb? Haus ya?" tanya Siska, sedikit panik.
Reyhan terkekeh, "sepertinya kau beneran haus. Aku mau menggantikanmu sejenak," sindirnya.
Redro menggelengkan kepalanya. Mobil kembali melaju. Tibalah mereka di bandara, setelah mobil dipastikan aman mereka berempat beranjak masuk.
Reyhan terus menggenggam tangan Lyra, kehebohan orang-orang yang berada di sana jangan ditanya lagi. Namun, Lyra yang biasanya minder sudah mulai berubah tenang.
"Sayang, rambutmu sedikit berantakkan," ujar Lyra seraya membantu merapikan rambut Reyhan. Para pramugari berbisik heboh.
Reyhan tersenyum manja, ia tahu istrinya itu sebenarnya tengah cemburu. "Aku suka ekspresimu saat ini," bisiknya dengan wajah nakal.
Lyra tertawa canggung, mengerti maksud perkataan Reyhan.
Di dalam pesawat, tampak Reyhan yang mengulum kesal karena harus duduk di bagian ekonomi. Tidak hanya itu, Siska yang tak berhenti bicara malah menyuruh Lyra dan Redro untuk berganti tempat duduk. Lelaki itu bahkan menatap tajam pada Redro karena Lyra terus diajak mengobrol oleh Siska.
"Permisi, ini minuman anda Tuan," ujar seorang pramugari.
Reyhan membuka kacamatanya, dan...
Prang!
Nampan yang berisi minuman jatuh dari pegangan sang pramugari. Membuat para penumpang lain berteriak kaget.
Pramugari itu masih diam, hanyut dalam lamunan.
"Jelita, ada apa denganmu?" Seorang teman sesama pramugari membuyarkan lamunannya.
"Maaf, aku tidak sengaja." Jelita mengusap-usap pakaian Reyhan yang basah.
Redro yang mulai sigap tiba-tiba terhalang oleh tangan Lyra yang menahan tangan si pramugari.
"Permisi, biar saya saja," ujar Lyra.
Lyra mengedipkan matanya, bermaksud menyuruh Redro untuk beranjak ke tempat duduknya semula.
"Mengapa masih di sini?" tanya Lyra, memelototi pramugari yang masih berdiri.
Si pramugari menunduk dan berjalan pergi.
"Sayang, pasti dingin banget ya. Mau pakai selendang dulu nggak?" tanya Lyra seraya menyodorkan selendang miliknya.
Reyhan menggeleng, "kenapa kamu menyuruh pramugari tadi pergi? Ini kan kesalahannya. Seharusnya dia yang bertanggung jawab."
"Oh, jadi kamu ingin dia menyentuhmu?" tanya Lyra dengan wajah yang memerah.
"Ya, bukankah itu konsekuensi bagi seseorang yang-"
"Tidak! Aku nggak akan mengijinkan siapa pun menyentuhmu. Apalagi hanya masalah sepele begini," potong Lyra.
"Kenapa? Apa kamu cemburu?" Reyhan menatap penuh harap.
Lyra terdiam, wanita itu menarik napasnya sejenak. "Sayang, sudah berulang kali kukatakan aku selalu cemburu jika ada wanita lain di sampingmu."
__ADS_1
"Jadi, kenapa tadi duduk dengan kak Siska bukannya denganku?"
"Itu karena dia...kamu tahu lah, sekarang kami jarang mengobrol jadi kami-"
"Ya, aku tahu karena aku bukan teman yang bisa diajak mengobrol, begitu kan?" Reyhan memakai kembali kacamatanya, kemudian menyenderkan tubuhnya.
Lyra terus menatap Reyhan yang selalu ingin dimanja. Lyra menyenderkan kepalanya di bahu Reyhan. Menyentuh jemarinya dan sesekali menciumnya.
"Marah?" tanya Lyra singkat.
"Enggak." Dan Reyhan menjawab tak kalah singkat.
"Tanganmu halus sekali, seperti bayi," ujar Lyra seraya menyentuh garis telapak tangan Reyhan.
Reyhan tersenyum geli, lalu mengecup dahi Lyra. "Kita sering bertengkar hanya hal kecil seperti ini, ya. Setelah itu, kita akan berbaikan dan kembali mesra."
"Mesra? Apanya yang mesra dengan ini?" tanya Reyhan.
Lyra kembali duduk, "iya kamu benar. Ini tidak mesra, baiklah aku akan melakukan sesuatu yang mesra."
Reyhan menatap heran, "maksud kamu?"
Lyra menutupi kepala mereka dengan selendang. Kemudian Lyra membuka kacamata Reyhan.
"Kamu pikir aku anak-anak yang suka petak umpet?" tanya Reyhan.
Lyra menghela napasnya, "siapa yang mengajak petak umpet?"
"Jadi ini, apa?"
"Aku ingin berciuman," jawab Lyra keceplosan.
Kedua mata Reyhan membulat sempurna. Lelaki itu tak bisa berkata-kata lagi.
"Ehmmm...lakukanlah," ujar Reyhan sembari menunduk.
Lyra tersenyum melihat wajah malu Reyhan yang membuatnya gemas.
"Kenapa mempermainkan aku?" Reyhan memelotot kesal.
Lyra memanyunkan bibirnya, "kurasa ini bukan waktunya yang tepat."
Reyhan menyentuh pipi Lyra. "Selama kita berdekatan dan saling berkomunikasi tidak akan ada penghalang bagi kita melakukannya. Cepatlah, aku menunggu."
Dia, bisa-bisanya malah semangat. Dan kenapa justru aku yang malu sekarang?. Lyra membatin seraya menatap canggung wajah Reyhan yang bersiap menerima ciuman darinya.
Cup!
Ciuman selintas mendarat ke bibir Reyhan, Lyra segera menjauhkan diri. "Ada apa?" tanya Lyra pada Reyhan yang masih terdiam.
"Lakukan yang benar," ujar Reyhan, memegangi kedua pipi Lyra lalu mengulum bibirnya. Cukup lama bibir itu menyatu.
Pemberitahuan untuk mendarat pun terdengar, barulah Reyhan melepaskan ciuman itu. Ia mengusap bibir Lyra yang basah.
"Kita sudah sampai," ujar Reyhan.
Lyra menunduk mengiyakan.
"Ayo kita turun," ujar Reyhan lagi.
Lyra menggelengkan kepalanya.
Kenapa ketika sudah merasa nyaman malah berakhir begitu saja. Benar-benar membuat kesal.
Mereka sudah menginjakkan kaki di bandara. Perjalanan yang lumayan menyita waktu itu telah usai. Siska tak henti-hentinya bersorak membuat Redro kehabisan kata, tak berdaya menghadapi istrinya yang heboh.
"Taksi," panggil Siska, dan supir taksi mendatangi mereka.
"Ciawari, berapa?" tanya Siska.
"Hmmm...empat orang dua ratus," jawab si pak Targo, nama si supir yang tertera di seragamnya.
__ADS_1
Siska mengeryit, "mahal banget, Bapak? Seratus lima puluh lah. Sesama Tasik jangan gitu dong."
"Tapi, Neng-"
"Sudahlah, ayo kita naik," potong Redro seraya menarik kopernya dan koper Siska.
"Beb, jangan itu kemahalan tahu." Siska masih berusaha menahan namun pasrah ketika Reyhan dan Lyra mengikuti Redro.
Taksi pun melaju ke tempat asal Siska, yaitu Ciawari. Siska memandangi suasana luar jendela mobil sambil menceritakan seluk beluk yang mereka lihat.
Sementara itu, Reyhan yang berada di sudut tertidur pulas kelelahan. Siska menggenggam tangan Lyra ketika taksi memasuki gang ke arah rumahnya. Ada ketakutan yang tersirat di wajahnya.
"Semua akan baik-baik saja, Sis." Lyra berusaha meyakinkan sahabatnya itu.
Siska menatap penuh harap, "semoga saja, Ra."
Taksi berhenti tepat di sebuah rumah yang terbilang paling kecil diantara rumah lainnya. Tak hanya itu, bahkan terlihat lubang-lubang kecil di dindingnya.
"Ini rumahnya, Neng." Sang supir taksi yang ragu, bertanya memastikan.
"Iya, Pak." Siska membuka pintu mobil, begitu pun Redro.
Sementara Lyra masih sibuk membangunkan Reyhan yang tertidur pulas.
"Neng ini dari Jakarta ya?" tanya sang supir.
Siska mengangguk mengiyakan.
"Oh...ada kerjaan nggak di sana? Anak lajang saya sampai sekarang masih menganggur. Pusing saya, Neng."
Siska tersenyum canggung, ia bingung harus memberi jawaban apa.
"Ini kartu nama saya. Katakan padanya untuk mendatangi perusahaan ini ketika sudah di Jakarta." Reyhan memberikan kartu nama miliknya, membuat Lyra, Siska dan Redro tercengang.
Sang supir tertawa riang, "terima kasih, Nak."
Bagaimana aku tidak jatuh cinta melihat suamiku yang memiliki sifat yang di luar dugaan ini. Batin Lyra seraya menatap bangga.
Siska memasuki halaman rumah yang telah lama ia tinggalkan. Rumah itu masih terbilang bersih terdapat bunga-bunga yang menghiasi.
Tok! Tok! Tok!
"Sebentar." Mendengar sahutan tersebut, membuat Siska tak kuasa menahan air mata.
Pintu terbuka, wanita paruh baya dengan rambut putih yang hampir memenuhi kepalanya pun keluar.
"Ibu," ujar Siska seraya mencium tangan ibunya.
"Ndok...."
BERSAMBUNG...
HAI SEMUA...LUV U READERS YANG BAIK HATI SEMOGA SEHAT SELALUπππ
Ini visual mereka di bandara, guys....
Reyhan Almirza
Lyra Nayra
Redro Aldwin
Siska Rahma
__ADS_1
Stay tune terus ya manteman... perkiraan tinggal 2 Episode lagi menuju tamat. Jangan lupa jaga kesehatan. Karena kesehatan mahal harganya. ππ