MY BERONDONG

MY BERONDONG
Erick dan Rania....


__ADS_3

Erick tak menjawab pertanyaan Rania. Namun, "aku akan menikah," pungkasnya,


Rania memelotot, "benarkah? Bukankah Kakak harus menamatkan kuliah dan-"


Erick mendesah, "aku didesak mengurus perusahaan dan usiaku tanpa disadari sudah menginjak 23 tahun. Bagi keluargaku usia itu sudah cukup matang,"


Rania terdiam seribu bahasa, hatinya bagaikan disayat. Sudah pupus harapannya, semuanya telah berakhir. Dengan getir, senyumannya muncul di permukaan sudut bibirnya.


"Hari ini temani aku mencari cincin ya," ujar Erick lembut.


Hanya mendengarnya saja hati Rania sudah seperti disayat-sayat. Apalagi. menyaksikan pernikahannya langsung.


"Bagaimana denganmu?" tanya Erick.


"Hah, apa? Maksudnya...."


"Ah lupakan saja! Kamu kan harus kuliah ya. Baik-baiklah, belajar yang benar agar tante Marta dan Reyhan bangga.


Sebenarnya, apa arti pertanyaan Kak Erick. Seolah-olah dia mengajakku... Ah sudahlah! Mungkin otakku eror karena hatiku yang terlalu sakit sekarang.


...****************...


Pelajaran telah usai, para mahasiswa dan mahasiswi beserta penghuni kampus lainnya berlalu lalang kesana kemari. Tampak Erick yang tengah menunggu Rania di parkiran mobil. Beberapa mahasiswi mendekatinya, sekedar menyapa dan memujinya.


Segera ia melambaikan tangan, ketika menangkap sosok Rania yang berjalan ke arahnya.


"Yo, para Ladies sudah saatnya kalian pergi. Karena yang aku tunggu sudah datang." Mendorong mereka untuk segera pergi


"Tapi, Erick sayang-


"Aku bilang enyahlah!" Memasang tatapan tajam.


Mereka pun segera membubarkan diri.


"Hai! Ayo, aku sudah nggak sabar," ujar Erick sembari membukakan pintu mobil untuk Rania.


Erick berlari ke pintu mobil di bagian kemudi dan segera mengemudikan mobilnya.


"Kak, Kakak serius akan menikah?" tanya Rania masih tidak percaya.


"Nilai kuliahku tidak seberapa jadi hanya akan berakhir sia-sia saja. Sementara, papa menyuruhku mengurus perusahaan dan syarat menjadi pemimpin perusahaan yaitu harus berstatus menikah. Oleh karena itu, aku harus menikah kan?"


Rania tertegun tidak bisa berkata-kata lagi. Akan bertambah sakit jika mereka membahasnya.


"Apa Kakak juga nggak akan ada waktu lagi bertemu denganku?" Rania menatap jalanan dengan kosong.


Erick terkekeh, "bicara apa sih, tentu harus bertemu dong!"


Rania tersenyum yang jelas sangat dipaksakan.


Baiklah, lepaskan dia, bahagiakan dirimu.


Kini, Erick dan Rania sudah berada di dalam toko perhiasan. Erick sangat bersemangat sementara Rania hanya menatap heran, matanya seperti tengah nencari sesuatu.


"Kak, Karina di mana?" tanya Rania, wajahnya sangat terlihat kebingungan.


"Dia di apartemenku," jawab Erick singkat.


Saat seperti ini kenapa malah bahas Karina sih.


Seorang karyawan toko tersebut membawa kotak kaca dengan hati-hati. Kemudian meletakkannya di atas meja tempat Erick dan Rania duduk.


"Sesuai, pesanan Tuan cincin dua warna. Disiang hari berwarna biru dan malam berwarna putih," jelas karyawan tersebut.


Erick mengangguk, ia pun mengambil cincin tersebut lalu memasangnya ke jari telunjuk Rania.


Bukankah gadis ini terlalu biasa untuk Tuan hebat ini?


"Aku sudah menduganya akan cocok," ujar Erick dengan semangat.


Berbeda dengan reaksi bahagia Erick, Rania justru terkejut dan melepaskan cincin tersebut dari jemarinya.


"Loh Kak, bukannya ini untuk calon istri Kakak, kenapa malah memakaikannya untukku?" Meletakkan cincin tersebut ke dalam kaca.


Erick tertawa kencang, "postur badannya sama sepertimu bahkan tinggi kalian saja sama, 165 CM," tutur Erick sembari memperhatikan detail cincin tersebut.


Rania tertegun, ia mendesah pasrah mengikuti arahan Erick hari ini.

__ADS_1


Saat ini, mereka sudah berada di dalam toko pakaian gaun terkenal di Washington. Erick dan Rania duduk menanti sang karyawati menunjukkan gaun pesanan Erick. Ya, Erick merancang gaun untuk pengantinnya. Sedangkan Rania, disibukkan dengan makanan yang sedari tadi ia kunyah. Erick memang memesan banyak makanan untuk adik sahabatnya itu. Karena, untuk menghilangkan sikap Rania yang introvert. Bahkan toko itu pun sengaja ia minta satu karyawan saja yang melayani agar tidak mengganggu Rania.


Rania memelotot luar biasa terkejut melihat penampakan gaun yang diperlihatkan oleh sang karyawan.


Ini persis yang aku impikan.


"Cantik," ucap Rania spontan.


Erick meliriknya, "bagaimana? Apa kamu suka?" tanyanya.


Rania menatap Erick, is pun mengangguk.


"Aku yang merancangnya, kamu boleh memakainya ketika kamu menikah nanti. Makanya harus semangat belajarnya." Erick menarik ujung hidung Rania, seketika membuat jantung gadis itu semakin berdebar. Jarak mereka sangat dekat,,dan tatapan mereka semakin lekat.


"Ehm, Tuan apa bisa segera dicoba saja. Karena ada beberapa hal lagi yang akan kita bahas," ujar Sang Karyawan pemecah suasana.


"Oh iya, ayo kita coba." Mengulurkan tangannya.


Rania mengangguk, ia pun menerima uluran tangan Erick.


Bisa-bisanya tangan kami berdua sama-sama dingin.


Erick pun masuk di ruang ganti pria begitu juga dengan Rania yang berjalan ke ruang ganti wanita.


Tak berselang lama, Erick keluar dengan setelah jas putih ia pun berdiri di depan cermin besar sembari menunggu Rania keluar.


Srek!


Tirai terbuka, muncullah Rania dan karyawan. Gadis itu telah dirias dan dipakaikan mahkota yang luar biasa indahnya. Erick terpaku, bibirnya kelu tak bisa berkata-kata.


"Kak, apa aku terlihat aneh?" tanyanya sedikit panik pasalnya gadis itu tak pernah berdandan sama sekali.


Erick mendekat, menyentuh mahkota Rania. "Agak miring, hehehe," jawabnya.


Sangat cantik.


"Apa telinga Kakak sakit, merah banget!" Menyentuh telinga Erick, namun dengan sigap Erick menepisnya.


"Adik manis jangan sembarangan menyentuh telinga laki-laki ya. Akibatnya sangat fatal," bisik Erick membuat Rania bergidik.


Mereka ini, hubungannya sebagai apa sih?


Erick mengambil ponselnya, "ayo ambil beberapa poto, jarang-jarang melihatmu cantik begini," ujar Erick.


Rania mengerucutkan bibirnya, "iya-iya tahu kok aku jelek," jawabnya setengah kesal.


Erick tak menggubris, "sini lebih dekat." Menyentuh pinggang Rania.


Rania menatap Erick begitu juga Erick. Tak sengaja lelaki itu justru mengambil foto pertama dengan pose seperti itu. Lalu mereka pun membuat beberapa pose dan memotretnya.


Erick tersenyum nakal, ia pun mengirim semua poto tersebut yang ditujukan pada Reyhan. Lalu, ia pun tertawa keras memenuhi ruangan. Untungnya tak ada siapapun, karena Rania dan karyawan tersebut tengah berganti gaun.


"Pengantinku, memang cantik tanpa riasan pun dia sudah sangat cantik. Cantiknya sangat alami," human Erick sembari mengusap salah satu poto di ponselnya.


Kini, mereka sudah berada di dalam mobil. Rania menyenderkan tubuhnya yang lelah. Bagaimana tidak, ia memakai 3 gaun secara bergantian. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.


"Apa begitu lelahnya?" tanya Erick.


Rania mengangguk, "iya, Kakak harus membayarnya," jawab Rania.


"Hahaha, baiklah katakan apa yang kamu minta. Kakak ini akan mengabulkannya," ujar Erick.


Bisakah aku meminta Kakak agar tidak menikah?


"Nanti aku pikir-pikir dulu," jawab Rania sembari menutup kedua matanya.


Tak menunggu lama, mobil pun berhenti tepat di depan rumah Marta.


Rania membuka pintu mobil namun tak bisa. Erick tertawa, lagi-lagi lelaki itu mengerjainya.


"Ih Kakak, usil banget sih.... " Memasang wajah kesal.


Erick tertawa, ia lalu mengambil sebuah bingkisan dari belakang mobil. Lelaki itu pun keluar membukakan pintu mobil untuk Rania.


"Ini nanti malam pakailah. Aku nggak mau kamu datang dengan wajah lusuh dan pakaian biasa. Bisa-bisa, pengantinku kabur nanti." Memberikan bingkisan tersebut.


"Bisa nggak sih aku nggak usah datang rasanya-

__ADS_1


Sakit banget!


"Capek banget!" ujar Rania lemas.


"Kamu itu adikku satu-satunya orang yang kupercaya. Papa sibuk nggak mungkin kan aku bawa Tante Marta," jelas Erick.


"Tapi kan Kakak banyak-"


"Nggak ada tapi-tapi, bye... jangan lupa nanti malam. Dandan yang cantik, siapa tahu ketemu seseorang yang ikut melamarmu di sana!" teriak Erick sembari berlari masuk ke dalam mobil.


Seseorang yang ikut melamarku? Ngaco, banget dah!


Rania memperhatikan bingkisan yang ia bawa, ia pun membuang napas kasar. Ia berjalan masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju kamar.


Gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke kasur, "hari ini capek banget, capek badan capek hati."


"Apa ini pertanda aku harus segera melupakan perasaanku terhadap Kak Erick? Aku memendamnya cukup lama. Mungkin sudah saatnya melepaskannya. Inikah yang dinamakan takdir?"


"Dia anak orang kaya sedangkan aku hanya anak angkat. Dan dia jelas-jelas melihatku sebagai adik sahabatnya yang berarti hanya sekadar menganggapku adik juga tidak lebih dari itu."


Lagi dan lagi Rania hanya bisa memendam dan berakhir terisak.


...****************...


Erick menyemprotkan parfume ke pergelangan tangannya lalu mengusapnya ke belakang lehernya. Hari ini, rambutnya yang biasa memakai poni, namun tidak malam ini.


"Huh! I'm so nervous but excited," gumamnya sembari lari di tempat dengan tempo pelan.


Padahal bertemu setiap hari, kenapa sangat gugup? Apakah ini pertanda aku akan ditolak? Tapi, setelah dipikir-pikir dia terlihat biasa saja dan nyaman ketika denganku. Oh, apa dia menganggapku seperti Kakak laki-laki? Dan bagaimana jika dia menolakku dengan alasan fokus belajar? Sifat introvertnya itu membuatku bingung pada perasaannya padaku. Makanya aku harus memakai cara ini untuk mengikatnya. Agar dia nggak kemana-mana lagi. Cukup aku, laki-laki di hatinya.


Malam itu, Rania bertekad untuk menyemangati Erick melamar kekasihnya dengan tulus. Ia benar-benar akan melupakan Erick dari hatinya. Ia pun berdandan untuk tidak membuat malu Erick.


"Eh, lupa! Momen begini bagusnya sih buat video pakai kamera digital saja." Mengambil kamera Canen dari lacinya.


"Setelah sekian lama, akhirnya kamu berguna juga." Ya, itu hadiah pertama yang ia dapatkan dari sang mama angkat, Marta.


Gadis itu pun bergegas kala, ia mendengar suara mobil Erick berhenti di depan rumahnya.


"Cantik." Erick menggumam, ketika sosok Rania berlari menghampirinya.


"Sangat tepat waktu," ujar Rania sembari menunjukkan jam tangannya.


"Oke! Itu artinya kita harus berangkat. Tapi, kenapa kamu bawa kamera?" tanya Erick sembari menyentuh kamera yang bergantung di leher gadis itu.


"Ya mau menyimpan kenangan Kakak melamar pacar Kakak dong. Entar kalau sudah punya anak, bakal aku tunjukkin. Begitu.... " Memasang wajah serius.


Erick terkekeh, "untuk apa sih? Nanti di sana juga bakal ada yang ambil video. Lagipula kan tugasmu hanya menerima apau meno-


"Ah sudahlah, ayo kita berangkat!" Seru Erick sembari melajukan mobilnya.


Malam itu, langit tampak masih cerah dengan bintang-bintang yang bertaburan serta sinar bulan sabit yang terang. Angin yang berhembus mesra, terasa menusuk di kulit.


Erick dan Rania telah sampai. Tepat, di tepi pantai dihiasi lilin-lilin serta rangkaian bunga-bunga mawar di sepanjang jalan. Rania menatap takjub, ia turut bahagia dengan romantisme tersebut.


Namun, di mana gadis yang beruntung itu? Rania memperhatikan di sekitarnya. Tampak sepi, dan hanya ada dirinya dan Erick saja.


"Di mana Kareena?" tanya Rania.


Erick tak menjawab.


Jangan-jangan....


Rania membalikkan badannya mengarah pada Erick.


Tepat di hadapannya, Erick berlutut, "will you marry me?" tanyanya sembari menyodorkan cincin yang tadi dipakai Rania.


Rania shock, ia melihat ke sekeliling. "Kak, enggak lagi akting kan? Ini nggak lucu loh?"


"Jawab dong keburu kram ini!" ujar Erick.


"Tapi, Kakak nggak nge-prank kan?" Rania masih tidak percaya.


"Aduh! Aku ngaku deh aku suka sama kamu sudah lama dan sekarang melamarmu menjadi istriku, Rania Tania Putri Almirza...."


Sebulir air mata membasahi pipi Rania.


"Mau nggak ini?" tanya Erick.

__ADS_1


Rania masih menangis haru, lalu ia mengangguk mengiyakan. Melihat respon Rania, Erick segera menyematkan cincin tersebut ke jemari Rania.


Erick pun bangkit lalu memeluk Rania yang terisak.


__ADS_2