MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-MASALAH...


__ADS_3

Reyhan terus menggandeng tangan Lyra. Sedari tadi ia melambungkan senyumannya. Sementara itu, Lyra tampak malu-malu.


"Sayang, coba kamu berdiri di sana," ujar Lyra melepaskan tangan Reyhan.


"Untuk apa?" tanya Reyhan kebingungan.


"Aku ingin memotretmu, ayolah!"


"Tidak! Aku tidak mau," jawab Reyhan sambil menarik tangan Lyra kembali.


"Ayolah! Aku mohon," jawab Lyra memelas.


"Aku tidak suka dengan-


Cup!


"Mau ya, aku ingin memiliki banyak fotomu," kata Lyra berusaha membujuk Reyhan.


"Hmmm! Satu kali saja ya," jawab Reyhan sambil mengacungkan jari telunjuknya.


"Iya! Siap, 1, 2, 3!


Cekrek!



"Wah! Benar-benar tampan sekali. Apa kamu mau melihatnya?" tanya Lyra yang langsung dijawab Reyhan dengan gelengan kepala.


"Nanti kalau kita punya anak. Dia akan melihatnya dan pasti terus memujimu. Ayahku tampan ayahku tampan sekali," sindir Lyra.


"Terserah mau bilang apa," jawab Reyhan sambil menarik kembali tangan Lyra.


"Suasana di sini sangat berbeda dari Indonesia ya. Jadi kangen banget," ujar Lyra.


"Sabarlah sebentar urusan di sini tidak akan lama lagi kok," sahut Reyhan sambil mengelus kepala Lyra.


"Iya-iya." Tersenyum sambil memegangi pinggang Reyhan.


Mereka pun menyusuri gedung tempat wisata kota terbesar di Amerika tersebut.


***


Siska memandangi Redro yang tengah sibuk memasak makanan untuknya. Tingkah laku Redro membuat Siska tak berhenti tersenyum.


Lihatlah pria ku ini. Di balik wajah dinginnya ternyata tersimpan kelembutan. Ah, indahnya tadi malam ingin rasanya terus mengulanginya. Batin Siska.


"Sudah selesai, habis makan kita akan berbelanja. Bagaimana menurutmu?" tanya Redro.


"Aturlah aku ikut saja, kemana pun kamu pergi. Aku 'kan istrimu," jawab Siska.


Redro tersenyum, wajah datarnya menghilang bak ditelan bumi.


"Oh ya, apa kamu mau bulan madu? Aku dengar ada sebuah pulau yang sangat indah di sana. Kita bisa-


"Aku enggak mau! Pasti mereka memakai setelan pakaian terbuka. Pokoknya aku enggak mau. Lagipula apartemen ini jauh lebih nyaman. Kita hanya perlu untuk keluar jalan-jalan tanpa harus ke pantai, pulau atau laut," jawab Siska dengan kecepatan maksimal.


Redro tersenyum, ia mengelus kepala Siska dengan lembut.


"Baiklah! Kita akan jalan-jalan. Segera habiskan makanannya ya," ujar Redro dengan pelan.


"Beb, terima kasih. Kamu sangat berbeda dari yang dulu. Sekarang sangat menggemaskan," kata Siska.


"Pacar itu ibarat teman. Istri adalah belahan jiwa. Jika aku menyakiti istriku, jiwaku juga akan ikut tersakiti," jawab Redro.


So sweetnya suamiku! Batin Siska sambil tersenyum malu.


***

__ADS_1


Lyra memandangi langit yang dihiasi bintang-bintang. Reyhan menghampiri lalu memeluknya dari belakang.


"Lyra bolekah aku jujur akan satu hal?" tanya Reyhan dengan berbisik.


"Kamu pernah berbohong ya? Kayaknya enggak pernah deh," jawab Lyra sambil membalikkan tubuhnya menghadap Reyhan.


"Bohong sih enggak, cuma ini terdengar seperti pengakuan," jelas Reyhan membuat Lyra semakin penasaran.


"Pengakuan? Jangan bertele-tele dong. Bicara saja langsung," ujar Lyra tidak sabar.


"Ehm kamu ingat dengan 15 enggak?" tanya Reyhan dengan serius.


"Oh iya teka-teki 15. Aku benar-benar melupakannya. Kamu sih, menyuruhku berpikir aku mana bisa menebak yang begituan," jawab Lyra sambil mencubit pinggang Reyhan.


"Aku tahu. Makanya aku ingin memberitahumu, mau dengar tidak?" tanya Reyhan.


"Ya tentu saja. Aku penasaran banget tahu," jawab Lyra sambil melingkarkan tangannya ke bahu Reyhan.


Reyhan menghembuskan napasnya. Jantungnya berdetak kencang. Sementara itu Lyra menyunggingkan senyumannya, bersiap-siap mendengarkan.


"15 itu adalah...."


"Apa?"


"Jangan dipotong dulu," ujar Reyhan kesal.


"Habis kamu membuatku semakin penasaran sih," jawab Lyra tak kalah kesalnya.


"Suka-suka aku bagaimana. Tugasmu hanya mendengarkan saja. Selebihnya terserahku," jawab Reyhan sambil membesarkan matanya.


"Oke! Aku enggak mau dengar lagi. Persetan dengan itu!" teriak Lyra sambil melepaskan tangannya.


"Kok jadi kamu yang marah-marah?" tanya Reyhan menarik tangan Lyra yang menjauhinya.


"Kamu seperti ibu-ibu datang bulan ribet banget. Kalau enggak mau bilang. Ya sudah aku enggak peduli lagi," gerutu Lyra sambil menepis tangan Reyhan.


"I5 itu adalah..., jumlah hutang kamu," lanjut Reyhan.


"Hah! Hutang? Hutang yang bagaimana? 15 ribu maksud kamu." Memelotot heran.


"Kamu ini sangat susah sekali menangkap perkataan orang," ujar Reyhan bingung cara menjelaskannya.


"Kamu yang enggak jelas. 15 itu hutangku, masalahnya hutangku yang mana perasaan semua berawal dari...," Lyra menghentikan perkataannya. Otaknya mulai berpikir keras.


"Apa kamu mengerti sekarang?" tanya Reyhan.


"15 yang kamu maksud mungkinkah jumlah berhubungan?" tanya Lyra pelan.


Reyhan mengangguk, segera Lyra menghujaninya dengan berbagai pukulan membuat Reyhan menjerit kesakitan.


"Rasakan ini. Kamu sangat mesum!"


"Aku suamimu jadi wajar!" teriak Reyhan.


"Nakal sekali. Tidak tahu malu kamu-


Belum selesai Lyra bicara Reyhan langsung meraih bibir wanita itu dan mengulumnya.


***


Lyra memandangi Reyhan yang terlihat bergetar. Berulang kali ia bolak-balik di depan kamar berharap dokter segera memberitahukannya keadaan Marta yang sedang tidak sadarkan diri.


"Sayang tenanglah sedikit." Menarik pelan tangan Reyhan. Reyhan pun menurutinya.


"Lyra, dia tidak apa-apakan? Dia pasti bangunkan? Dia masih bisa 'kan menemaniku. Dia-


"Dia akan baik-baik saja," jawab Lyra memotong perkataan Reyhan yang merasa gelisah.

__ADS_1


"Aku belum sempat mengatakan apapun padanya. Setelah sekian lama aku menunggu, apakah semua sampai di sini saja?" Reyhan memegangi kepalanya, tubuhnya bergetar. Lyra memeluknya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Tenang sayang mama enggak akan se-egois itu. Dia akan hidup lebih lama lagi. Dia pasti bisa menahannya." Mencoba menenangkan Reyhan.


"Lyra!" Terdengar suara Siska dengan wajah cemas.


"Bagaimana keadaan nyonya?" tanya Redro.


Lyra menggelengkan kepalanya. Siska dan Redro mengerti mereka pun ikut duduk di dekat Lyra. Sedangkan Reyhan masih berada dalam pelukan Lyra.


"Keluarga nyonya Marta?" Terdengar suara yang ternyata seorang dokter, membuat mereka segera bangkit.


"Bagaimana keadaan...."


"Bagaimana keadaan mama saya Dok?" tanya Reyhan memotong perkataan Redro.


"Ibu Tuan sedang kritis. Kanker otak yang ia derita, sudah memasuki stadium akhir," jawab sang dokter.


Reyhan meninju dinding. Penyesalannya semakin menjadi-jadi.


"Bolekah kami melihatya?" tanya Redro.


"Boleh tetapi dikarenakan kondisinya. Hanya boleh seorang saja," jawab sang dokter.


"Sa-saya yang akan masuk," jawab Reyhan sambil berjalan masuk. Sang dokter pun beranjak pergi.


Reyhan berjalan pelan mendekati Marta yang terbaring kaku di atas ranjang.


"Bagaimana perasaanmu? Apa kau bahagia? Setelah menjauhiku bertahun-tahun, kini kau ingin meninggalkan aku. Katakan padaku, apa artinya aku bagimu? Apakah hanya persinggahan belaka? Begitukah hargaku bagimu? Apa aku semurah itu?" Air mata tak henti-hentinya mengalir di pipinya.


"Bangunlah, aku akan memaafkanmu. Bangunlah anakku masih membutuhkan seorang nenek. Bangun atau aku akan membencimu seumur hidup. Dengar tidak? Aku tidak ingin dicuekin seperti ini." Air mata kian menderasi pipinya.


Reyhan menyentuh tangan Marta yang dingin. Hidung sembab serta suara sesenggukan kini melandanya.


"Apakah itu sakit? Kenapa menahannya sendiri? Kenapa begitu egois? Jangan pergi, kumohon jangan tinggalkan aku. Cukup papa yang tidak mau menemaniku. Tinggallah bersamaku. Kita pergi bersama!" teriak Reyhan kemudian isak tangisnya ikut meledak kembali.


***


Lyra tampak serius memperhatikan pintu ruangan tempat Marta dirawat. Menanti kabar dari sang suami yang tak kunjung keluar. Sementara itu, Siska terus mengusap punggung sahabatnya agar tetap tenang.


"Ada masalah di kantor. Aku tinggal tidak apa-apa 'kan?" tanya Redro dengan wajah serius. Lyra menganggukan kepalanya. Redro pun bergegas pergi.


"Cobaan apa ini? Tante Marta sakit, kantor bermasalah. Aku khawatir, Ra," ujar Siska dengan wajah cemas.


"Aku enggak tahu, Sis. Tetapi penyakit mama sangat serius. Reyhan pasti sangat sedih. Sekuat apapun dia, mama Marta tetap menjadi kelemahannya," jawab Lyra sambil menyeka bulir-bulir air matanya.


"Sabar Ra, masalah apapun pasti akan segera berlalu. Kapan itu tiba, kita tidak akan tahu. Tetapi satu hal yang pasti jika Tuhan akan selalu mendengar doa hambanya." Manarik Lyra ke dalam pelukannya.


***


"Saya sebagai salah satu pemegang saham, sangat merasa kecewa. Bagaimana bisa seorang pemimpin asal memilih klien? Mr.Rudolf terkenal dengan kerakusannya. Sekarang semua ada di bawah kendalinya. Bagaimana Anda menjawabnya Tuan Redro?" tanya seorang pria paruh baya.


Redro hanya terdiam menanggapi pertanyaan pria itu. Jemarinya sibuk menyentuh keyboard sambil terus memandangi monitor laptop. Para pemegang saham mulai saling berbisik mengomentari perawakan suami Siska tersebut.


"Tuan sampai kapan Tuan diam seperti itu? Kami membutuhkan jawaban dari Anda. Tolong peka lah ini hal yang sangat serius," ujar si pemegang saham lainnya.


"Jawaban yang bagaimana Anda butuhkan, Tuan Alex Noe?" tanya Redro sambil memasang tatapan tajamnya.


"Ah itu, tentang kerjasama dengan Mr.Rudolf. Kami menunggunya," jawab Alex.


"Jawaban itu. Bukankah seharusnya Anda sudah tahu?" Menyenderkan tubuhnya di atas sudut kursi.


"Apa?"


BERSAMBUNG...


__ADS_1


__ADS_2