
Siska menatapi pemandangan ruang tamu yang kosong tanpa adanya sosok Redro. Berulang kali wanita itu lewat dari kamar pria tercintanya itu akan tetapi, tetap saja batang hidung Redro tidak ia temukan.
Siska beralih ke arah dapur berharap ada sesuatu yang bisa dimakan olehnya. Akan tetapi baik Redro dan makanan tetap saja tidak ia temukan. Ia pun mengusap rambutnya kasar. Beberapa kerutan muncul di area keningnya.
"Apa-apaan ini? Kenapa Redro tidak ada? Jangan-jangan dia marah karena kemarin aku berbohong padanya untuk membantu Lyra. Tapi bukankah itu kekanakan?" Siska bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengelak kesalahan berasal dari dirinya.
"Padahal pernikahan tinggal beberapa lagi. Tapi malah muncul masalah seperti ini. Redro, kenapa kamu harus menyebalkan sih? Kenapa kamu suka mengambek? Padahal badan gede begitu juga," gumam Siska lagi.
Ting! Tong!
Bel rumah berbunyi, dengan segera Siska membuka pintu setengah berharap bahwa yang sedang berada di balik pintu tersebut adalah sosok kekasihnya.
"Oh hai!" Wajah Lyra mengagetkan Siska, tangannya membawa dua bingkisan makanan. Harapan Siska tadi pun seketika buyar.
"Sepertinya kamu enggak suka kalau aku datang berkunjung. Aku pulang saja deh," ujar Lyra sambil berbalik.
"Bukan begitu! Aku kira kamu Redro, dari tadi aku mencarinya tapi enggak ketemu. Dan enggak ada kabar juga. Dia masih ngambek, Ra," jawab Siska sambil duduk di atas sofa.
"Itu sih salah kamu sendiri sudah tahu Redro paling anti dibohongi tapi kamu malah memancing amarahnya, jadi tanggunglah akibatnya," jawab Lyra sambil membuka bingkisan yang ia bawa
Siska mengerutkan dahinya, wajah kesalnya tak dapat ia sembunyikan. Sementara itu Lyra dengan santainya memakan sarapan bagiannya dengan santai.
"Makanlah sarapan itu perlu. Jangan menambah pikiran Redro, jadilah wanita yang tidak menyusahkan," ujar Lyra sambil menyodorkan bagian sarapan untuk Siska yang masih dengan mata yang memelotot kepada sahabatnya itu.
"Bagaimana bisa kamu sesantai itu? Kamu lupa ya, kalau aku bohong juga karena kamu, tahu," kata Siska tidak terima dengan pernyataan Lyra.
Lyra menghembus napasnya pelan, ia pun beranjak ke dapur mengambil minuman yang tidak Siska sediakan.
"Aku berterima kasih karena membantuku. Akan tetapi, aku tidak pernah berpikir berbohong itu dapat menyelesaikan masalah. Jadi, tetap saja kamu harus berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Itu dosa Sis, biar bagaimanapun itu sangat dilarang," ujar Lyra sambil kembali duduk dan mengunyah sarapannya.
"Tapi, Ra aku-
"Enggk ada tapi-tapi, coba kalau seandainya Redro mengaku bekerja tapi dia malah memesan hotel dengan wanita lain. Sakit enggak kamu begitu tahu kalau Redro berbohong!" Kali ini kesabaran Lyra menasehati sabatnya itu benar-benar diluar batas. Bagaimana dengan Siska? Matanya semakin memelotot perkataan Lyra barusan bagaikan petir kuat yang menghentak seluruh tubuhnya.
"Jangan bilang begitulah, bohongnya jelas berbeda," jawab Siska menyangkal.
"Tapi tetap saja namanya bohong, kan Siska Rahma," ujar Lyra.
"Huaaaa! Kamu benar, Ra. Aku harus bagaimana ini? Aku enggak mau itu terjadi. Sakit banget, Ra." Siska melambungkan senyumannya bayangan perkataan Lyra barusan membuatnya seolah ketakutan.
"Tapi aku percaya kok itu enggak bakal terjadi kalau kamu minta maaf dengan tulus," ujar Lyra sambil mengelus rambut panjang Siska.
"Kamu yakin?"
"Iya, sangat yakin. Jadi, sekarang kamu lanjutkan makannya nanti kalau ketemu Redro minta maaflah dengan tulus. Dia pasti akan memaafkanmu," jawab Lyra dengan senyum simpul terlukis di area wajahnya.
***
Reyhan menatap Redro yang sedang menunduk sambil mengunyah sup yang dibuatkan Lyra untuk mereka berdua.
Reyhan pun bangkit dari duduknya. Wajahnya kali ini terlihat kesal kepada pengawal yang sudah seperti saudaranya itu.
"Berapa usiamu?" tanya Reyhan sambil kembali duduk.
"32 tahun Den," jawab Redro singkat.
"Hah? Apa pantas usia segitu masih ngambek?" tanya Reyhan sambil memelotot ke arah Redro yang sudah selesai makan.
__ADS_1
"Saya hanya ingin dia tahu bahwa berbohong itu tidak pernah menghasilkan akhir yang baik," jawab Redro sambil mengusap bibirnya dengan tisu.
"Iya, kau benar! Tapi bohongnya tidak sebesar itu Redro. Hanya karena masalah itu, kau datang kemari dan membuat istriku harus turun tangan. Kau terlalu kekanakan," ujar Reyhan sambil mendorong pelan dahi Redro. Membuat pria yang selalu dibanggakannya itu tak berkutik.
Redro terdiam, ia pun bangkit dari duduknya menuju wastafel untuk mencuci mengkuk yang baru ia pakai. Setelah itu, ia pun kembali ke tempat duduknya semula.
"Kau pintar dalam banyak hal, aku bangga itu. Akan tetapi, kalau kau lebih pintar dalam memperlakukan wanita aku akan merasa lebih bangga lagi. Pernikahanmu beberapa hari lagi, kau tahu 'kan itu hal yang sakral. Ketika kau membuat airmata istrimu terjatuh karena ulahmu, ketauhilah rezeki tidak akan berpihak padamu. Aku berbicara seperti ini, karena aku lelaki yang sudah menikah. Masih berusaha membahagiakan istriku karena aku merasa masih kurang. Kau akan tahu betapa berharganya senyuman yang mereka tunjukan dengan ulahmu dan betapa menyedihkan air mata yang mengalir jika kau menyakitinya. Aku sarankan berpikirlah yang jernih, kak Siska sangat mencintaimu. Dia berbohong juga untuk membantu sahabatnya, tapi itu bukanlah kebohongan yang besar. Maafkanlah dia, jangan sampai dia meninggalkanmu karena tingkahmu yang suka memperparah keadaan. Kau mencintanya, bukan?"
Redro menganggukan kepalanya, membuat Reyhan tersenyum simpul. Ia pun mendekati Redro lalu menepuk punggungnya.
"Pulanglah! Dia pasti sedang menunggumu dengan wajah yang merasa bersalah serta mulut yang menyimpan seribu kata permintaan maaf," ujar Reyhan sambil menyenderkan tubuhnya serta melipat kedua tangannya.
Redro pun bangkit dari duduknya. Kemudian ia menundukkan kepalanya. Saat ia mulai melangkahkan kakinya...
"Tunggu sebentar!" Reyhan membuat langkah Redro terhenti.
"Bisakah kau lebih peka lagi?" tanya Reyhan membuat Redro memelotot heran, tidak mengerti maksud Reyhan.
"Aish! Pernikahanmu tinggal beberapa hari lagi. Apa kau sudah pernah melamarnya? Maksudku pernahkah kau membuat suasana yang romantis untuknya?" Rentetan pertanyaan dari Reyhan membuat Redro diam tidak mengerti.
"Kau ini, masih tidak mengerti ya. Ajak kak Siska dinner dengan suasana romantis seperti yang orang lain lakukan untuk kekasihnya. Redro, bisa tidak kau pintar sedikit. Haruskah masa percintaanmu aku harus ikut tangan?" tanya Reyhan sambil mengerutkan dahinya.
"Sebenarnya saya sudah menyiapkannya, Den," jawab Redro.
"Benarkah? Kenapa kau enggak bilang?" tanya Reyhan memelotot kesal.
Redro menghembuskan napasnya, sementara Reyhan masih terperogok heran kepada pengawalnya itu.
"Karena Aden cerewet sekali," jawab Redro.
***
Siska menatap jam dinding yang sedari tadi berdetak. Sesekali ia mengganti gaya duduknya sambil menatap ke arah pintu.
Tring!
Sebuah pesan dari Redro pun masuk ke ponselnya. Dengan segera, ia membukanya.
Turunlah, aku mengirim seseorang untuk menjemputmu. Ada yang ingin aku katakan. Maaf aku tidak bisa menjemputmu.
"Dia menyuruhku keluar dan tidak menjemputku secara langsung. Jangan-jangan dia..., ingin memutuskan aku. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau kehilangannya," gumam Siska.
Siska pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar. Ia mulai merias wajahnya dengan dandanan yang tipis, namun tetap terlihat cantik.
"Kalau jodoh enggak akan kemana. Melihat sikap Redro kepadaku. Tidak mungkin dia tidak menyukaiku. Baiklah Siska, sekarang turunlah jika Redro memutuskanmu buka bajunya dan paksa dia untuk membuat anak denganmu, kalau perlu perkosa dia," gumam Siska.
"What perkosa dia? Yang benar saja. Apa-apaan itu dimana harga diriku. Ah lebih baik aku turun saja orang itu pasti sudah menungguku," gumam Siska sambil bangkit dan berlari kecil menuju keluar dari apartemen.
Dan benar saja orang kiriman Redro sedari tadi bolak-balik menunggu Siska. Pria paruh baya dengan rambut pirang yang sudah mulai memutih itu menyunggingkan senyuman ramahnya dikala sosok Siska berjalan mendekatinya. Dengan segera ia membukakan pintu mobil untuk Siska, setelah memastikan wanita itu masuk barulah ia menuju kemudi mobil. Mobil pun mulai bergerak keluar dari area apartemen.
"Kemana si bapak supir ini membawaku? Sial aku gak bisa bicara bahasa Inggris. Diam sajalah nanti juga sampai dan tahu sendiri," gumam Siska.
Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya Siska pun tiba. Matanya terbelalak heran menatap ke sekeliling sambil berpikir tempat apa yang ia datangi itu. Ia berjalan pelan, karena heels yang ia kenakan memiliki tumit yang tinggi. Sang supir pun pergi, suasana gelap yang tanpa ada siapa-siapa itu membuat Siska tak berhenti mengucap doa di dalam hati.
"Kenapa Redro menyuruhku datang kemari? Apa dia ingin membuangku? Tidak, tidak mungkin!" gumam Siska sambil terus menatap ke sekeliling. Jantungnya mulai berdetak kencang, ia sangat ketakutan.
Tak tahan dengan situasi yang ia alami. Siska pun mengambil ponselnya berniat menghubungi Lyra. Dengan tangan yang setengah bergetar serta mimik wajah yang panik, Siska berusaha mencari kontak Lyra.
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah layar tancap hidup. Rekaman perilaku Siska beberapa hari ini terlihat pada layar tersebut. Seperti berusaha mengintip pintu kamar Redro, ingin membuka pintu kamar Redro bahkan mnghentakkan kakinya karena kesal. Tak lama kemudian hiduplah lampu-lampu yang berkelap-kelip. Siska terkejut wajah paniknya perlahan memudar.
"Hei Siska! Ini aku Redro. Aku tidak tahu caranya bagaimana berbuat hal yang romantis untukmu. Dan setelah memikirkannya beberapa hari. Ini adalah ide yang benar-benar konyol. Tapi, aku melakukannya. Entah kenapa rasanya sangat lega. Aku pria dewasa yang tidak bisa merangkai kata-kata puitis tetapi bisakah kamu mengandalkan aku di hidupmu? Aku ingin menjadi pria beruntung yang mendapatkanmu." Rekaman suara Redro terputar. Dengan memakai setelan jas abu-abu dan tampak begitu serius.
"Siska!" Suara Redro membuat Siska menoleh ke arah suara tersebut. Terlihatlah Redro sambil berlutut serta sebuah kotak mini berisikan cincin.
"Aku melamarmu. Maukah kamu menikah denganku? Bersediakah kamu mendampingiku?" tanya Redro dengan wajah yang penuh ketulusan.
"Sudah jangan banyak bicara. Pakaikan cincinnya sekarang!" Siska menyentuh pipi Redro dengan lembut.
Redro pun menurutinya, setelah menyematkan cincin di jari manis Siska. Mereka pun berpelukan.
"Terima kasih! Untuk semuanya, aku sangat bahagia. Aku pikir kamu akan meninggalkan aku, tahu enggak! Aku takut itu terjadi aku sayang sama kamu," ujar Siska sambil mengeluarkan air matanya.
"Maaf aku tidak sengaja, aku-
"Kamu enggak salah. Intinya terima kasih! Ini sangat manis sekali," ujar Siska sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh Redro.
Tiba-tiba hujan datang dengan derasnya. Bukannya menghindar mereka justru menikmatinya. Kali ini, seluruh tubuh mereka benar-benar basah.
"Kamu tahu enggak?"
"Enggak!"
"Waktu hujan tadi, sebenarnya aku kebelet. Untung deras jadi bisa aku keluarkan deh. Hehe!"
"Oh!"
"Oh doang!"
"Apa lagi? Bukannya kamu terbiasa akan hal itu?"
"Lah kamu enggak merasa risih gitu memiliki calon istri aneh sepertiku?"
"Enggak! Karena aku suka yang aneh-aneh."
"Ah Redro! Jadi makin cinta. Untuk pak bule itu tidak mengerti bahasa kita. Jadi, aku enggak malu deh." Menggandeng tangan Redro.
"Siapa bilang dia enggak bisa bicara Indonesia?"
"Dia bisa ya."
"Ya, tentu saja."
"Kamu pasti bohong 'kan."
"Coba kamu tanyakan saja pada orangnya lansung."
"Ehm! Bapak bisa bicara bahasa Indonesia?" tanya Siska sedikit ragu.
"Saya asli orang Jogja Nona," jawab pak supir.
Siska tidak berkutik wajahnya merah padam. Wanita itu benar-benar malu, sangat malu. Dan mobil yang tadinya ramai karena ocehan Siska seketika berubah menjadi sepi kembali.
BERSAMBUNG...
__ADS_1