MY BERONDONG

MY BERONDONG
BERTEMU......


__ADS_3

"Maksud Nona apa? Saya tidak mengerti." Redro mengerutkan dahinya bingung dengan perkataan Siska.


"Ah sudah ku bilang jangan panggil nona, namaku Siska dan panggil aku beby. Masa kamu enggak tahu artinya itu. Apa benar kamu alumni dari universitas Amerika?" Siska tak kalah bingung dengan kepolosan Redro.


"Sepertinya itu sangat berlebihan, dan lagi pula kita-


Cup!!!


Belum selesai Redro berbicara, Siska dengan santainya malah mengecup pipi kiri Redro lalu beranjak keluar dari mobil.


Ah memalukan sekali, dia terlalu imut sih. Membuatku tak bisa menahannya, oh ya ampun aku sangat senang sekali. Batin Siska sambil tersenyum senang.


***


Selang beberapa menit kegiatan ujian pun selesai. Rasa lega dan tegang tampak menyelimuti wajah para siswa-siswi berbeda dengan Reyhan yang masih memikirkan kabar ponselnya. Bukan tanpa sebab, poto Lyra yang ia jadikan sebagai walpaper itu adalah penyemangat terbesar baginya. Dengan cepat ia keluar menemui pengawalnya dan benar saja ponsel yang membuat dia gelisah itu telah selesai diperbaiki dan pengawalnya menjamin tidak ada lecet sedikitpun.


Reyhan langsung melihat poto Lyra membuat senyumnya mekar kembali, ia pun mulai mengetikkan beberapa kalimat yang ditujukan untuk Lyra debaran di hatinya tak dapat ia hempas mengingat kerinduan yang ia tahan selama 3 hari itu.


Apa kamu sudah menyiapkan hadiah untukku, aku ingin menerimanya hari ini.


Selang beberapa menit balasan pesan dari Lyra pun masuk ke ponselnya.


Bukankah tunggu lulus dulu?


Reyhan mengerutkan dahinya.


Itu beda lagi, lulus nanti hadiah untukku adalah dirimu ingat janjimu untuk menikah denganku.


Reyhan menunggu pesan dari Lyra yang tak kunjung membalas pesannya.


Kenapa belum dibalas? Apa dia tidak memberikanku hadiah. Aku tidak berharap mewah asalkan itu darinya bagiku itu akan lebih berharga dari sebuah berlian. Batin Reyhan.


Tepat di taman aku menunggumu di tangga, datanglah.


Bagaikan durian runtuh betapa senangnya Reyhan begitu pesan dari Lyra masuk ke ponselnya.


***


"Akhirnya aku datang ke tempat ini, bukankah ini konyol? Lyra pikiranmu memang sempit." Lyra mengumpat pada dirinya sendiri.


"Dasar si Reyhan seperti gak punya apa-apa lagi sampai harus mengemis hadiah dariku. Dan ini ah tak bisa ku bayangkan kalau begitu dia melihat hadiah dariku justru seperti ini. Tapi ya sudahlah salah sendiri siapa yang menyuruhku menyiapkan hadiah, aku belum pernah memberikan hadiah untuk laki-laki pernah juga baru sekali waktu Hadi ulang tahun itupun cuma teraktiran biasa." Berjalan bolak-balik setengah gugup menunggu Reyhan yang tak kunjung datang.


Lyra mengeluarkan kaca berbentuk mini dari dalam tasnya ia memperhatikan setiap inci wajahnya.


"Apa aku pantas berpakaian seperti ini, enggak tahu nanti ekspresinya seperti apa?" Merapikan rambut dan pakaiannya.


Tiba-tiba dia melihat Reyhan dari jauh yang berjalan ke arahnya, dengan cepat ia bersembunyi. Degup jantungnya terdengar seperti suara langkah kaki terasa begitu kencang dan sesak.


Sudah lama enggak ketemu semakin putih dan tampan, ya Tuhan aku ingin memeluknya tak akan kulepas sampai besok malam. Batin Lyra sambil mengendap di persembunyiannya.


Reyhan menghentikan langkahnya tepat di depan tangga yang Lyra duduki tadi. Celingak-celinguk ke kanan-kiri namun tanda-tanda Lyra tidak ia temukan.


Ia pun mencoba menghubungi ponsel Lyra tiba-tiba...


"Reyhan." Tersenyum manis di tangga teratas.


Reyhan tidak bisa berkata-kata dengan apa yang dia lihat di depannya membuat Lyra merasa malu dan salah tingkah.


"Sepertinya aku memang sangat konyol tunggu sebentar akan aku ambilkan jaket di bagasi motor," ujar Lyra.


"Tidak usah menutupinya, penampilanmu seperti ini aku sangat menyukainya, kamu cantik." Tersenyum senang melihat kekasih yang ia rindukan berada di depan mata.

__ADS_1



Wajah Lyra memerah menahan malu dengan pujian yang Reyhan lontarkan. Reyhan menaiki anak tangga menghampiri Lyra yang berada di atas.


"Dimana hadiahku?" Membungkukkan punggung dan mendekatkan wajahnya membuat rona di wajah Lyra semakin memerah.


"Iya sebentar tak perlulah terlalu dekat seperti ini, membuat aku susah bergerak." Dengan sedikit ragu mengeluarkan sebuah kotak berukuran mini dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Reyhan.


Reyhan menatap bingung pada benda yang berada di tangannya.


"Ini sangat ringan, Lyra apa kamu memberiku sebuah kapas?" Mengibas-ngibaskan benda tersebut, penasaran dengan isinya ia pun membukanya.


"Pin? Buaya? Lyra coba kamu jelaskan untuk apa kamu berikan aku benda seperti ini." Tatapan tidak percaya dengan hadiah yang diberikan Lyra.


"Ah maaf, aku bukannya bermaksud merendahkanmu dengan membelikan barang murah, yang aku tahu kamu 'kan sangat suka buaya, jadi aku pikir itu cocok untukmu." Mengerutkan dahi sedikit canggung.


Mungkin karena aku memelihara buaya jadi dia berpikir aku suka buaya beneran, ya sudahlah dia juga sudah tulus memberikannya, apalagi yang aku harapkan. Batin Reyhan sambil terus menatap pin buaya pemberian Lyra.


"Kalau kamu tidak mau berikan aku saja." Merebut pin dari tangan Reyhan.


"Apa aku ada bilang tidak mau, ini milikku jangan mengambilnya seperti itu, kamu sangat tidak sopan." Merebut kembali lalu memasukkannya ke dalam ransel miliknya.


Lyra tersenyum melihat Reyhan menghargai pemberiannya yang tadinya ia ragu memberikannya.


"Dan ini seragam siapa yang kamu pakai?" tanya Reyhan.


"Haha ini seragam milik Vanes, aku ingin terlihat seimbang denganmu seorang remaja SMA yang merayakan hari ujian yang melelahkan," jawab Lyra.


"Sebenarnya kamu enggak perlu seperti ini dalam hal apapun kita terlihat sejajar, jangan memandangku lebih, aku ini Reyhan Almirza si manusia biasa yang menyukai Lyra Nayra si wanita cantik." Menyentuh lembut tangan Lyra.


Lyra mengangguk lalu tersenyum.


"Jadi apakah seragam ini cocok untukku?" tanya Lyra.


"Kamu bilang apa?" Bertanya menguji pendengarannya yang ia anggap sedikit bermasalah.


"Itu, kamu terlihat seperti remaja SMA lainnya, oh ya dari tadi aku tidak melihat kak Siska, apa dia tidak masuk?" Mengalihkan pembicaraan.


"Memang guru PPL 'kan diliburkan dan kalian ujian diawasi oleh guru dari sekolah lain. Jadi untuk apa guru PPL masuk," jawab Lyra.


Fardan ternyata cara mainmu cukup terang-terangan seperti itu, hah aku semakin penasaran ayo kita lanjutkan permainan ini. Batin Reyhan.


"Kenapa memangnya? Oh iya aku lupa tadi waktu si Berlian mengirim poto kepada Siska sepertinya aku melihat ada guru PPL masuk tapi seragamnya beda, dia masuk enggak ke kelas kamu potongan rambutnya seperti kak Fardan dan-


"Jangan sebut nama itu membuat kupingku panas." Mengerutkan dahi serta melipat tangannya.


Lyra tidak melanjutkan pertanyaannya karena dia tahu Reyhan sedang dilanda rasa cemburu.


"Apa kamu lapar?" tanya Lyra sambil menepuk punggung Reyhan.


Reyhan tidak menjawab, membuat Lyra merasa bersalah karena menyinggung nama Fardan. Ia pun berhenti menepuk punggung Reyhan dan sedikit menjauh.


"Tiga hari ini apa kamu merindukanku?" bertanya dengan nada serius.


"Ha?"


"Aku merindukanmu, sangat rindu." Mendekati Lyra lalu memeluknya.


Lyra yang sedikit terkejut dengan serangan Reyhan yang tiba-tiba itu terdiam dan perlahan-lahan menepuk pelan punggung Reyhan seperti memanjakan bayi kecil.


"Aku kira kamu mau menjauhiku selamanya," kata Lyra.

__ADS_1


"Aku ingin belajar yang lebih baik lagi, mendapatkan nilai yang bagus saat lulus nanti itu sangat berperan penting pada hal yang pernah kamu janjikan." Melepaskan pelukan.


"Maksud kamu?" Mengerutkan dahi bingung.


"Setelah mendapatkan nilai yang bagus. dengan bangga aku akan melamarmu. Ingatlah kamu sudah mengiyakannya kemarin." Tersenyum bangga.


"Oh masalah itu lagi ya, hahaha aku kira kamu sudah melupakannya." Tertawa canggung.


"Lyra ingatlah ini, semua tentangmu melekat jelas disini kamu bagian rencanaku untuk hidup. Jadi jika suatu hari aku hilang ingatan samar tapi pasti aku tetap akan mengenalimu. Jadi kamu tak bisa berbuat apa-apa lagi karena kamu juga sudah terikat disini, kita akan jadi satu. Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri aku tidak akan pernah melepaskanmu." Tatapan tajam.


"Ah iya-iya aku tidak akan kemanapun jadi kamu tenanglah. Aku akan rugi kalau kabur darimu. Pangeran tampan, pintar dan kaya sudah di depan sangat bodoh jika aku mengabaikannya." Tersenyum senang.


Please dong tatapannya dikondisikan itu sangat menggoda sekali, lama-lama aku enggak bisa tahan ini. Batin Lyra.


"Baiklah kalau begitu sekarang kita cari makan bukankah kamu lapar setelah mengoceh dari tadi?" Mulai berjalan pelan.


"Aku mengoceh katamu, bukankah kamu yang dari tadi bicara dengan cerewet. Hei tunggu aku." Berlari mengejar Reyhan.


"Rey, jangan lewat dari situ aku malu pakai ini, lagipula kita 'kan saat ini diam-diam berhubungan kalau tiba-tiba anak lain lihat gimana pasti mereka curiga." Menarik tangan Reyhan.


"Peduli apa aku tentang itu kecuali...." Berhenti sejenak menatap Fardan dari kejauhan.


"Kenapa?" Bingung melihat tingkah Reyhan.


"Kamu tahu jalan lain yang orang tidak bisa melihat kita?" Menatap Lyra.


"Hmm, kemarilah itu keahlianku." Menarik tangan Reyhan dan berbalik arah.


Selama perjalanan Lyra yang menarik Reyhan berjalan dengan tempo cepat. Reyhan memperhatikan tangan Lyra yang mulai sedikit berisi ia pun tersenyum dilepaskannya tangan Lyra lalu digenggamnya kembali.


Dia ini memang enggak mau kalah ya dalam hal ini pun masih berusaha terlihat sempurna. Batin Lyra.


"Kamu bertambah berisi, aku menyukainya." Menatap datar ke depan sambil tersenyum.


"Bukankah aku mirip sapi bunting? Wah Rey, kamu melupakan perkataanmu waktu itu." Menatap tajam ke arah Reyhan.


"Persiapkan tenagamu menikah nanti ya, aku akan membuatmu menjadi sapi bunting sungguhan." Tetap berjalan tanpa melirik ke arah Lyra.


Ha, apa maksudnya itu? Sapi bunting? Lyra semakin bingung dan mulai merinding.


"Apa kamu serius ingin menikah?" Mengerutkan dahi.


"Apa aku terlihat seperti bercanda?" Tetap fokus berjalan.


"Kapan kamu akan mengenalkan aku dengan ibumu?"


Reyhan menghentikan langkahnya, terdiam sendu kehabisan kata-kata.


"Haruskah aku mengenalkannya padamu?" Menatap lembut pada Lyra.


"Aku ini akan menjadi menantunya bukankah aku terlihat durhaka tanpa mengenal mertuaku sendiri." Mimik wajah mulai serius.


"Maaf tapi sepertinya itu tidak perlu." Sedikit canggung menatap sayu pada Lyra.


"Kenapa? Apa kamu malu?" Melepaskan genggaman tangan Reyhan.


"Bukan begitu, aku dan dia sudah tidak saling kenal." Menunduk sedikit tertekan.


"Apa?" 😮


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN VOTE JUGA BOLEH KOK HEHHEHE***....



__ADS_2