
Lyra masuk kedalam kawasan yang ditumbuhi banyak pepohonan besar dan tak ada 1 pun rumah yang terlihat.
Kok jadi seram begini ya. Batin Lyra.
Tiba-tiba 2 pria mengendarai motor melintas dari depan Lyra dan mereka pun menghentikan motornya.
"Hai cantik? Mau kemana nih," goda salah satu mereka.
"To-tolong biarkan saya lewat," jawab Lyra dengan suara terbata-bata.
"Abang temanin ya biar seru," goda Pria yang 1 lagi.
"Tidak perlu, tolong jangan mengganggu atau aku akan berteriak," ancam Lyra.
"Hahaha enggak salah Neng ini tuh hutan. Lagian jam segini mana ada yang lewat, ya enggak Bro." Terkekeh
"Yoii, sudahlah ayo kita bersenang-senang jangan buru-buru pulang ini malam yang panjang."
Mereka pun mulai memaksa Lyra masuk ke dalam hutan tersebut Lyra berusaha meminta tolong.
"Tolong-tolong!" teriak Lyra.
"Ssst jangan buang tenagamu sayang mending dipakai untuk melayaniku nanti hahaha," kata pria itu sambil tertawa jahat lalu memaksa menarik tangan Lyra.
"Kalian bisa ambil uang ini, tapi tolong lepaskan aku," kata Lyra dengan sangat ketakutan.
"Kalau bisa dapat uang sama pemiliknya sekaligus untuk apa pilih salah satu."
Mereka pun menyeret Lyradan berhenti tepat di bawah pohon besar. Salah satu dari mereka menahan tangan Lyra sedangkan yang satu lagi mulai membuka resleting celananya sendiri. Lyra yang ketakutan mulai meronta-ronta berusaha melawan.
"Hmm semakin kamu bereaksi seperti itu semakin aku bersemangat untuk menikmatimu."
Lyra menendang arah vital pria tersebut dan....
"Ah! Beraninya menendangku rasakan ini!" teriak pria itu mendaratkan tamparan keras tepat di pipi Lyra.
"Ini akibatnya sudah berani menolakku, aku akan menjilati seluruh tubuhmu tanpa tersisa hahaha!"
teriak pria itu disertai tawa bejatnya.
Lyra terkulai lemas dan tak berdaya air matanya seakan habis bahkan napasnya yang tersenggal-senggal seakan menghilan. Tiba-tiba tangan Pria itu memaksa membuka kancing baju Lyra.
Tuhan tolong hamba, Reyhan maafkan aku yang kotor.
Batin Lyra pasrah.
Tiba-tiba...
"Bugh-bagh."
Seorang lelaki muda menendang pria tersebut hingga tersungkur jauh dari tempat semula. Pria yang memegang tangan Lyra tampak terkejut dan langsung membantu temannya untuk bangkit.
Lyra membuka matanya tepat di atas tubuhnya samar-samar dia melihat wajah Reyhan.
Apa ini mimpi, tidak mungkin itu dia. Tolong jangan berlalu aku mohon biarkan aku melihatnya lama. Batin Lyra.
"Jangan biarkan mereka berdua lolos sebelum dikirim ke penjara, potong tangannya terlebih dahulu!" teriak Reyhan.
__ADS_1
"Baik Den, kalian semua kejar mereka!" perintah pak Sidiq (security).
Reyhan membungkukkan tubuhnya lalu menggendong tubuh Lyra yang lemas dan tak sadarkan diri.
"Jalan ke rumah," perintah Reyhan.
"Baik Den" sahut pak Mat.
Sesampainya di rumah...
Reyhan berusaha menggendong Lyra tampak keringat serta sorot mata yang penuh amarah di wajahnya.
Tak seorang pun dari mereka yang berani membuka suara.
Reyhan menghentikan langkahnya.
"Bik Sum, tolong bantu saya mengurusnya,"
ujar Reyhan.
"Ba-baik Den," jawab bik Sum sambil berjalan cepat menghampiri Reyhan.
Reyhan meletakkan Lyra diatas sebuah ranjang dengan motif bunga mawar.
"Bik, hubungi dokter Fiona suruh segera kemari,"
perintah Reyhan.
Dengan sigap Bik Sum menghubungi Fiona, seorang dokter pribadi sekaligus sahabat mendiang ayah Reyhan semasa kuliah.
Reyhan mengusap-usap kepala Lyra yang tak sadarkan diri itu, tak lama kemudian dokter Fiona pun datang.
Reyhan mengangguk lalu beranjak pergi dari kamar tersebut.
Sepertinya aku pernah bertemu dengan gadis ini tapi dimana ya. Batin Fiona.
Reyhan terduduk lemas tepat di depan pintu kamar. Sesekali dia mengusap rambutnya dengan kasar dari raut wajahnya terlihat wajah yang penuh amarah dan penyesalan. Tak lama kemudian, dokter Fiona pun keluar dari kamar.
"Kamu tenanglah, dia baik-baik saja. Dia hanya kelelahan cukup istirahat dan lebih baik bersihkan tubuhnya pakai air hangat jangan dimandikan," ujar Fiona.
"Terima kasih, saya pamit masuk dulu," jawab Reyhan.
"Tunggu sebentar! Kalau boleh tahu siapa dia?" tanya Fiona.
"Sayangnya anda tidak perlu tahu. Permisi," jawab Reyhan lalu berjalan masuk dan langsung menutup pintu.
***
Didalam Reyhan memperhatikan Lyra yang terbaring.
"Apa begitu berat bagimu mendengarkanku, aku tak butuh apa-apa aku hanya ingin sering-sering melihatmu. Tapi kenapa begitu susah bagimu untuk mengerti," gumam Reyhan.
"Permisi Den, mereka sudah tertangkap dan sekarang berada di gudang," kata pak Sidiq.
"Bik Sum tolong bersihkan tubuhnya dengan air hangat dan sarankan dia beristirahat kalau dia bangun nanti,"
ujar Reyhan.
__ADS_1
"Baik Den."
Reyhan dan pak Sidiq pun berlalu.
Di dalam gudang.
"Dimana ini, siapa kalian ?!" teriak kedua pria itu serentak.
"Oh hampir 1 jam lumayan lama juga pingsannya dasar pria lembek," sahut Reyhan.
"Siapa loe, lepasin! Kami enggak kenal sama loe!"
teriak pria itu.
"Mau melepaskan kalian hah! Setelah apa yang kalian lakukan, tidak segampang itu!" teriak Reyhan.
"Itu tidak ada urusannya sama loe, terserah kita mau buat apa jangan ikut campur loe bocah!" teriak pria itu.
"Aku rasa percakapan hari ini cukup sampai disini saja, Pak Sidiq habisi mereka jatuhkan ke kolam buaya di kebun belakang," ujar Reyhan sambil bangkit dari duduknya.
"Tunggu sebentar! Loe enggak bercanda kan kolam buaya? Hahaha apa loe sekaya itu," ejek 2 Pria itu.
"Hmm permisi," kata Reyhan dengan senyum yang sinis.
"Hei tunggu toloooooong!" Teriakan 2 pria itu pun pecah minta tolong.
Bik Sum membersihkan tubuh Lyra dengan sebuah kain yang dibasahi air hangat dan itu membuat Lyra terbangun.
"Maaf, saya dimana?" tanya Lyra.
"Oh syukurlah Neng sudah bangun den Reyhan khawatir banget Neng."
"Reyhan? Dimana dia?" tanya Lyra sambil melihat ke sekelilingnya.
"Den Reyhan masih ada urusan tadi dia berpesan agar Neng istirahat saja."
Apa dia tidak mau bertemu denganku, dia pasti sangat membenci aku yang bodoh ini. Batin Lyra.
"Dulu den Reyhan sosok yang periang. Keluarganya sangatlah bahagia akan tetapi sejak ayahnya meninggal semua hilang seketika nyonya tidak pernah pulang atau menanyakkan kabarnya dia hanya memberikan fasilitas kemewahan tapi tidak dengan kasih sayang, menurut den Reyhan nyonya sangat membencinya," kenang bik Sum.
"Dia membenci Reyhan? kenapa?" tanya Lyra.
"Karena menurutnya den Reyhan penyebab tuan meninggal karena saat itu tuan sedang mengajari den Reyhan mengendarai motor tak disangka sebuah mobil oleng dan terjadilah kecelakaan tersebut," jawab bik Sum.
"Hah,apa itu masuk akal takdir itu sudah ditentukan kenapa harus menyalahkan yang tidak bersalah ?" tanya Lyra menyayangkan sikap Mama Reyhan.
"Tapi tetap saja pandangan kita berbeda dengan nyonya dia sangat membenci den Reyhan, nyonya bahkan tidak pernah mengangkat telepon dari Indonesia untuk mendengar kabar apapun terutama dari den Reyhan. Oleh karena itu dia sering menghabiskan waktunya belajar dan belajar di kamar. Sebanarnya itu menurut pandangan den Reyhan sendiri benar tidaknya kami tidak tahu. Tapi menurut bibik pribadi nyonya adalah sosok yang penyayang."
*O*h jadi itulah alasan kenapa dia menjadi murid yang sangat pintar. Batin Lyra.
"Akan tetapi sekarang den Reyhan perlahan-lahan berubah menjadi ceria semenjak bertemu neng Lyra, dia jadi sering keluar rumah bahkan sering tersenyum dan menyapa kami dengan ramah kami sangat berterima kasih sama Neng," ucap bik Sum sambil menggenggam tangan Lyra.
"Apa? karena saya?" Mata Lyra tampak berbinar-binarπ³
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Hai terima kasih sudah membaca maaf up nya akhir-akhir ini lama. Smoga sehat selalu readers ππ