
"Eh Mbak Yessi sudah sampai kemari ya? Maaf kenalin ini Lyra dia teman dari model baru kita," kata Mely lembut.
"Oh, jadi dimana model baru kita?" tanya Yessi, wanita yang tadi menyenggol Lyra.
Mely menunjuk ke arah Reyhan sontak saja membuat Yessi terkejut.
"Maaf dia Reyhan yang kemarin kita pernah-
Yessi mengangkat tangannya pertanda menyuruh Lyra berhenti bicara.
"Baiklah yang kemarin itu biarlah kemarin yang sekarang saya dan teman kamu sedang bekerja sama jadi tidak baik mengungkit itu lagi, ok," ujar Yessi sambil tersenyum.
Lyra mengangguk senang, berbeda dengan Mely yang terlihat kebingungan dan penasaran dengan pertemuan mereka sebelumnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Oh ya Mely katakan kepada model baru kita, saya ingin bicara empat mata di tenda dua," perintah Yessi.
"Siip Mbak," sahut Mely.
Yessi kembali memakai kaca mata hitamnya lalu beranjak pergi.
"Hei! Kenapa kalian bisa saling kenal kamu berteman dengan mbak Yessi ya?" tanya Mely penasaran.
"Seperti yang kamu dengar, kemarin itu biarlah kemarin tidak baik untuk diungkit lagi," jawab Lyra lalu beranjak menghampiri Reyhan.
Jangan sampai mereka kenal dekat. Kalau benar dekat sudah jelas aku akan kalah darinya untuk mendapatkan Reyhan. Batin Mely.
Reyhan yang sudah selesai pemotretan berjalan menghampiri Lyra yang juga berjalan ke arahnya. Hingga mereka bertemu tepat di pertengahan jalan. Lyra mengeluarkan sapu tangan miliknya, Reyhan pun membungkukkan tubuhnya pertanda meminta Lyra menghapus keringatnya, Lyra tertawa kecil melihat tingkah manja Reyhan yang sederhana itu.
"Bagaimana perasaanmu? Apa kamu gugup?" tanya Lyra.
"Hal seperti itu tidak ada apa-apanya bagiku," jawab Reyhan.
"Anak pintar, bekerja keraslah," ujar Lyra sambil mengelus pelan kepala Reyhan.
"Bagaimana dengan hadiahku? Jangan bilang kamu melupakannya," tanya Reyhan antusias.
Hadiah ya? Kenapa harus meminta padaku dia kan sudah memiliki semua yang dia inginkan. Batin Lyra bergejolak.
Reyhan mendekatkan wajahnya dengan wajah Lyra membuat wanita itu salah tingkah.
"Iya aku tidak lupa, tapi kan belum waktunya tunggu kamu lulus nanti. Bersabarlah," jawab Lyra dengan nada suara cepat.
Reyhan tersenyum kemudian menyandarkan tubuhnya. Lyra menghela napasnya.
*P*andangan itu selalu menusuk jantungku berkali-kali dan itu terjadi setiap hari, Reyhan kamu ingin aku cepat mati karena serangan jantung ya. Batin Lyra lagi.
"Oh ya kamu ingat perempuan yang mobilnya hampir kita tabrak waktu itu enggak?" tanya Lyra.
Reyhan menggelengkan kepalanya.
"Masa sih kamu lupa yang itu lho kamu dan dia sempat adu mulut perempuan yang cantik itu." Lyra mencoba memutar ingatan Reyhan.
Reyhan tetap menggelengkan kepalanya. Lyra mengerutkan dahinya kesal karena ingatan Reyhan yang buruk.
"Hanya kamu yang aku anggap perempuan dan hanya kamu juga yang tidak pernah aku lupakan," jawab Reyhan.
Lyra menatap dalam pada Reyhan ia percaya dengan kata-kata yang dilontarkan Reyhan yang memang benar adanya.
"Reyhan aku-
"Permisi sebentar, maaf Reyhan Direktur kami mau bertemu kamu bicara empat mata di tenda nomor dua," ujar Mely yang datang tiba-tiba.
Reyhan menatap tidak suka.
"Pergilah pasti ada hal penting yang ingin dia bicarakan," ujar Lyra.
__ADS_1
Reyhan pun pergi hanya beberapa langkah ia pun sampai di depan tenda nomor dua, ia melihat ke arah Lyra yang melambaikan tangannya. Ia pun masuk.
"Permisi," sapa Reyhan.
Yessi yang sedari tadi menunggu membuka kaca matanya.
"Surprise!" serunya.
Reyhan hanya memasang mimik wajah datar ekspresinya tampak biasa saja.
"Kamu tidak terkejut sama sekali, kamu ingat aku enggak?" tanya Yessi.
"lTidak," jawab Reyhan singkat.
"Waktu itu kita hampir tabrakan dan -
"Katakan ada perlu apa kau memanggilku?" tanya Reyhan.
Yessi tertawa keras melihat tingkah dingin Reyhan terhadapnya.
"Kau tetap sama dengan sebelumnya terlihat dingin dan santai. Baiklah aku hanya ingin bilang selamat bergabung di NM ENTERTAINMENT, langsung saja ya ini perusahaan ayahku jadi jika kau punya kendala atau ada hal yang tidak kau suka katakan saja padaku, aku akan mendukungmu," jelas Yessi.
Reyhan tersenyum sinis menanggapi omongan Yessi yang baginya terkesan sombong dan pamer itu.
"Baiklah saya rasa kamu sudah mengerti, sekali lagi selamat bergabung," ujar Yessi sambil mengulurkan tangannya.
Reyhan tak bergeming sedikit pun, ia justru mengabaikan uluran tangan Yessi dan berjalan keluar.
Reyhan Almirza suatu hari aku akan membuatmu memandang ke arahku dan jatuh cinta padaku. Batin Yessi sambil memperhatikan kumpulan poto Reyhan hasil pemotretan tadi.
Di dalam mobil.
"Bagaimana kamu pasti sudah mengingatnya kan?" tanya Lyra penasaran.
"Kenapa kamu terus menanyakan orang lain padaku? Apa dia segitu pentingnya dariku?" tanya Reyhan mulai kesal.
Kenapa harus marah? Aku hanya ingin tahu ekspresinya saat mereka bertemu. Batin Lyra.
Tiba-tiba Reyhan kembali lagi dengan 2 cup es krim ditangannya.
"Maaf." Reyhan menutup matanya sambil menyuguhkan kedua es krim di tangannya, Lyra merasa gemas dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Buka matamu, ayo kita pulang," kata Lyra lalu mengambil es krim dari tangan Reyhan.
Reyhan tersenyum senang dipakainya sabuk pengaman lalu kembali menyetir mobil.
Lyra membuka cup es krim coklat kesukaannya lalu memakannya dengan riang.
"Kamu mau?" tanya Lyra sambil menyuguhkan sesendok es krim pada Reyhan.
Lagi-lagi Reyhan tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
"Ayolah ini enak banget mau ya, mumpung aku lagi baik nih," kata Lyra mencoba sedikit memaksa.
Reyhan mencondongkan kepalanya Lyra menyuapinya dengan lembut.
"Nah gitu dong, rasanya enak banget ukuran jumbo begini pasti harganya mahal kan?" tanya Lyra.
"Kebetulan itu lagi promo, jadi standarlah," jawab Reyhan.
"Wow jadi harganya berapa? Kapan-kapan mau beli lagi ah, Siska suka es krim juga," tanya Lyra.
"Biasanya 180.000 promo menjadi 160.000," jawab Reyhan.
"Apa? Jadi dua-duanya 320.000 dong, yang benar saja padahal ada yang harga 12.000 juga rasanya enggak kalah enak. Rey, ini mahal banget tahu," ujar Lyra sedikit kesal menuduh Reyhan boros.
__ADS_1
"Apa bagimu itu mahal?" tanya Reyhan.
"Sangat! Sangat mahal kamu tahu Rey dengan harga segitu sudah dapat puluhan es krim. Sedangkan ini cuma dapat dua cup berukuran sedang. Ah benar-benar tidak masuk akal," ujar Lyra berusaha meredam kekesalannya. Diletakkanya es krim tersebut dengan sedikit kasar lalu menyandarkan tubuhnya dengan melipat kedua tangannya.
"Jika bagimu itu mahal, itu pantas untukmu bahkan jika kamu meminta barang termahal di seluruh dunia sekalipun akan aku usahakan mendapatkannya karena kata maaf darimu lebih mahal harganya daripada itu semua," jelas Reyhan.
Lyra terdiam wajahnya memerah dia kembali mengambil es krim tersebut lalu memakannya lagi.
"Kamu mau?" tanyanya sambil menyuguhkan es krim pada Reyhan.
Reyhan tersenyum ia pun menerima suapan dari Lyra.
***
"Ah pasti Lyra tidak bisa menjemputku, dia kan menemani Reyhan pemotretan, angkot juga mana ada disini. Mau pesan ojek online jaringan lelet lagi." Siska terus menggerutu sambil berkali-kali memencet ponselnya berharap jaringan segera pulih.
"Siska belum pulang, mau bareng enggak," ujar Fardan sambil menghentikan motornya.
Kak Fardan, mau apa lagi dia? Ah malas banget berurusan sama dia yang ada buat aku makan hati dengan sifatnya yang berusaha mendapatkan Lyra. Batin Siska.
"Eh kok bukannya jawab, malah bengong mau bareng enggak? Ayolah kebetulan juga kita jalannya searah," ujar Fardan lagi.
Tiba-tiba mobil berwarna hitam melintas dan berhenti tepat di depan mereka. Sosok Redro pun keluar dan berjalan menghampiri mereka.
"Maaf saya sedikit terlambat tadi ada ma-
"Karena kamu sudah datang kita pulang sekarang yuk. Aduh Kak Fardan maaf ya enggak jadi nebeng sudah dijemput nih, aku duluan ya." Siska melambaikan tangannya dan berjalan ke arah mobil diikuti Redro dari belakang.
"Ah sialan! Siapa lagi pria itu? Sepertinya aku pernah melihatnya tapi dimana ya? Sepertinya aku harus menyelidikinya tapi sebelum itu aku harus mencari tahu informasi tentang Reyhan, ya benar sudah berapa banyak informasi tentangnya yang tidak aku ketahui kalau begini terus papa benar-benar akan membuangku lagi seperti waktu itu," ujar Fardan sambil mengepalkan tangannya.
Siska terlihat gugup sesekali ia melirik ke depan mencoba memulai pembicaraan pada Redro namun diurungkan olehnya.
"Nona mau kemana? Kerumah atau ada keperluan lain?" tanya Redro.
"Ah kita langsung kerumah saja deh," jawab Siska sedikit canggung.
Redro melajukan mobilnya.
Bicara lagi dong enggak enak banget rasanya diam-diaman seperti ini , ah aku lupa dia saudaranya beruang kutub di antartika sampai kapan pun akan bungkam kalau bukan kita yang mulai. Batin Siska.
"Reyhan beli mobil baru ya, beda warnanya biasanya kan silver ini kok jadi warna hitam aku sempat terkejut lihat kamu keluar dari mobil ini tadi." Siska mencoba sebisa mungkin berbicara sopan dan berharap Redro menjawabnya dengan jawaban yang panjang.
"Ini mobil saya pribadi. Kalau mobil yang biasa saya bawa kemarin itu milik den Reyhan, karena kebetulan pak Mat diistirahatkan jadi saat ini saya ditugaskan menjadi supir," jelas Redro.
"Wah baik banget Reyhan mengistirahatkan pak Mat." Siska berharap lagi Redro menjawabnya.
"Sudah sampai Non," jawab Redro.
Siska terkejut ia pun melihat ke sekeliling dan benar saja mereka sudah sampai tepat di depan rumahnya.
Redro turun dan membukakan pintu mobil untuk Siska. Dengan berat hati Siska pun turun, ia berjalan menuju rumahnya.
Dan aku pun kesepian lagi. Batinnya.
"Maaf bolekah saya berteduh sebentar?" tanya Redro.
Siska terkejut lalu menoleh ke arah Redro yang tepat di belakangnya.
"Apa ?" š®
Bersambung....
__ADS_1
Maaf kalau up nya lama , dalam beberapa hari ini saya lagi kurang enak badan. Jangan lupa like, komen dan vote ya kalau ada poinnya terima kasih readers .