MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2_Bertemu Anita....


__ADS_3

Reyhan memandangi bintang yang bertebaran di langit dengan serius. Bayangan ayahnya seolah terlihat dari benda langit yang berkelap-kelip itu.


Lyra datang membawa susu hangat beserta madu yang diberikan Marta untuknya.


"Sayang, duduklah dulu. Kemarilah kita minum bareng," ujar Lyra.


Reyhan menuruti panggilan Lyra dan duduk di kursi santai yang terletak di balkon.


"Apa kamu punya kenangan tentang bintang?" tanya Reyhan sambil mengaduk-aduk susu yang dibuatkan Lyra untuknya.


"Bintang? Tentunya ada dong. Almarhum ayah selalu bilang bintang itu ibaratkan sebuah impian. Butuh banyak rintangan untuk menggapainya," jawab Lyra simpul.


Reyhan menatap Lyra dalam. Matanya mulai berkaca-kaca mengingat kecelakaan tragis yang dia, ayah beserta kedua orang tua Lyra alami.


"Kamu tahu enggak Rey, dulu aku selalu ingin menjadi petinju. Karena ayah suka nonton tinju dan sebagai anak sejati aku pun turut ikut serta suka tinju, hahaha." Tertawa malu.


Reyhan tersenyum ia tidak menyangka Lyra yang ia kenal sangat pemalu itu justru memiliki impian yang lumayan ekstrim tersebut.


"Tapi setelah ayah meninggal, aku sadar bahwa mentalku untuk menjadi seorang petinju tidaklah kuat. Aku berubah menjadi ciut dan takut berbuat yang aneh-aneh," lanjut Lyra sambil mengalihkan wajahnya.


"Seandainya kita bertemu dalam situasi kamu seorang petinju dan aku seorang petinju. Musuh di atas ring akankah bisa saling memiliki perasaan?" tanya Reyhan membuat Lyra terkejut.


"Yang benar saja, masa ada olimpiade cowok lawan cewek. Tenaganya berbeda kali Rey," jawab Lyra menyangkal pertanyaan Reyhan barusan.


Reyhan tersenyum simpul, kini tatapannya mulai menatap Lyra dengan nakal.


"Kamu benar, itu enggak adil 'kan. Yang adil bertempur di atas tempat tidur, iya 'kan sayang," bisik Reyhan membuat Lyra memelotot kaget.


"Hahaha, wajahmu memerah begitu." Tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Lyra.


Lyra pun kesal, ia bangkit dari duduknya dan hendak pergi masuk ke dalam. Namun tenaga Reyhan yang super cepat berhasil meraih pinggang Lyra hingga membuatnya terperojok ke pangkuan Reyhan. Mereka pun saling bertatapn lama.


Ada apa ini? Kenapa jantungku berdetak kencang seperti ini? Padahal dia suamiku tapi, kenapa? Batin Lyra.


Reyhan mengusap lembut rambut Lyra lalu menenggelamkan wanitanya ke dalam pelukannya.


"Rey, turunkan aku. Nanti kakimu kram," ujar Lyra.


"Aku menolak," jawab Reyhan.

__ADS_1


"Terserah kamu sajalah, nanti kalau kram aku enggak tanggung jawab lho," ujar Lyra lagi.


Reyhan kembali menatap Lyra, di dekatkannya wajah istrinya itu hingga bertemu dengan wajahnya, Ia pun meraih setiap inci wajah istrinya itu dengan ciuman lembut.


****


Lyra tampak bingung memasangkan dasi Reyhan, Reyhan yang sedari tadi menundukkan badannya dengan sabar menanti istrinya selesai.


Drrrrrrrrrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrrrrrt


Mendengar ponsel Reyhan bergetar, membuat Lyra berhenti.


"Seseorang menelepon, angkatlah dulu," ujar Lyra.


"Ini tidak penting," jawab Reyhan sambil mematikan ponselnya.


"Sayang, aku benaran enggak mengerti cara pakaikan dasinya," gerutu Lyra.


Reyhan tersenyum, ia menarik hidung Lyra dengan lembut. Ia pun menempelkan bibirnya ke dahi Lyra yang mengeluarkan kerutan karena kesal pada dirinya sendiri.


"Sudah ya, aku berangkat dulu. Jangan kemana-mana tunggu aku pulang ya," ujar Reyhan.


"Tidak apa-apa, ini terlihat keren." Tersenyum senang dengan penampakan dasi yang Lyra pasang di lehernya.


Reyhan pun beranjak keluar dari apartemennya. Lyra kembali berbaring di atas ranjang king size empuk tersebut. Sesekali ia terbayang dengan wajah- wajah Reyhan yang selalu melemparkannya dengan senyuman.


"Kok kangen ya, padahal baru juga ditinggal." Menggerakkan kedua kakinya ke atas.


***


Reyhan dengan para staf yang mengikutinya dari belakang, tampak serius menatap para pekerja bagian proses pembuatan pakaian.


Para pekerja terlihat tidak fokus begitu mereka memandangi Reyhan yang sedang memeriksa keadaan ruang produksi.


"Ya Tuhan, kenapa mas ganteng ini harus datang sih. Pekerjaanku jadi teralihkan," ujar seorang operator.


"Iya, padahal dia masih di line lain tapi kita yang melihat dari kejauhan sudah mulai gugup. Enggak nyangka banget dia mau turun langsung melihat kita," timpal temannya.


"Dari dulu baru kali ini bos turun ke lokasi pengerjaan, padahal biasanya pak Jose saja jarang terlihat apalagi bos. Seperti bu Marta, belum tentu setahun sekali bisa melihat wajah cantiknya. Anaknya tampan banget lagi, benar-benar keluarga yang diberkahi."

__ADS_1


"Tapi, aku dengar dia sudah menikah. Benar tidaknya aku tidak tahu. Ah gosip itu benar-benar membuat aku penasaran."


"Iya, aku juga penasaran banget. Kalau gosip itu benar, aku yakin istrinya pasti kaya raya kalau enggak pasti cantik banget sejajaran model atau wanita karir. Orang tampan begitu juga beruntung banget yang jadi istrinya."


"Sudah gosipnya, kerjakan pekerjaan kalian. Dari kemarin gosipnya enggak kelar-kelar tentang bos besar melulu. Dia datang kemari karena perusahaan kita sedang ada masalah bisajadi itu quality dan quantity kerja kita. Jadi bekerjalah dengan baik." Seorang wanita paruh baya yang sudah cukup lama bekerja di perusahaan tersebut menegur mereka yang sedari tadi bercerita tentang Reyhan.


Tak lama kemudian Reyhan dan para staf menuju ke line mereka. Gugup, tentu saja. Wajah tampan Reyhan memang selalu menghipnotis para kaum wanita.


"Ini produksi apa Bu?" tanya Reyhan dengan ramah.


"Ini jaket anak perempuan, Pak eh Tuan...." Kebingungan mau memanggil apa.


Reyhan tersenyum ia mengerti situasi tentang dirinya yang menjabat sebagai bos besar di usia yang masih belum cukup matang, membuat para pekerja bingung memanggilnya apa.


"Panggil Reyhan saja, Bu." Tersenyum sambil memperhatikan jaket mini yang memiliki bulu-bulu lembut di bagian topinya.


Lyra seandainya kita memiliki seorang putri pasti memakai ini membuatnya terlihat imut. Batin Reyhan sambil tersenyum mengingat percakapannya dengan Lyra di pantai kemarin.


Reyhan dan para staf pun berjalan ke arah tukang gosip tadi. Mereka terlihat menunduk dan gugup terlihat jelas tangan mereka bergetar dikala Reyhan berdiri tepat di sekitar mereka.


Mengerti dengan kondisi yang sisebabkan olehnya, Reyhan pun berjalan pelan sambil terus memperhatikan pergerakan para pekerja. Tiba-tiba Reyhan berhenti, tepat di samping wanita paruh baya yang menegur para pekerja tadi.


"Bu Anita 'kan?" tanya Reyhan tanpa ragu.


Wanita itu menoleh, ia langsung memeluk Reyhan. Membuat para pekerja terkejut bukan main dengan drama tersebut.


Para staf mulai ambil tindakan mereka hendak melepaskan pelukan antara Reyhan dan ibu Anita tersebut. Akan tetapi Reyhan mengangkat tangannya mencegah aksi para staf.


"Kamu sudah besar sekarang, aku kira kamu lupa padaku," ujar Anita sambil mencubit pelan pinggang Reyhan. Reyhan pun melepaskan pelukan Anita.


"Kenapa ibu masih disini, bukannya di Indonesia sudah punya banyak rumah dan tanah, Erick juga berada disini."


"Tuan Erick, kalian masih berteman ya. Indonesia sudah menjadi negara asing bagiku, karena empat belas tahun itu bukanlah waktu yang singkat dan juga aku merasa nyaman untuk melakukan pekerjaan ini. Dari pertama kali tuan Ricko mengirim saya untuk menjadi karyawan tuan Reygan saya sudah merasa ini akan menjadi pekerjaan saya hingga akhir," jelas Anita.


Reyhan tersenyum, ingatan Anita benar-benar tajam. Anita adalah salah satu ART senior di rumah Erick akan tetapi Ricko, ayah Erick mengirimnya untuk membantu usaha Reygan yang saat itu baru dirintis.


Mengenai jabatan, ia memilih menjadi operator karena baginya memproduksi benda untuk menutupi tubuh itu sangat menyenangkan.


__ADS_1


__ADS_2