
Lyra terduduk diam di sudut kamar, wajahnya dipangku oleh kedua lututnya matanya tampak sembab, ia kelelahan setelah lama menangis. Akan tetapi bayangan tingkah Reyhan kembali membuatnya menangis.
Kriett....
Seorang perempuan pun masuk ia tampak seumuran dengan Reyhan wajahnya tergolong masih remaja, Lyra meyakininya sebagai orang suruhan Fardan untuk mendandaninya karena terdapat sebuah gaun serta selendang berwarna putih di tangannya. Dan benar saja wanita itu seorang Make Up Artist.
"Hai namaku Rania, aku kemari disuruh mendandanimu. Kemarilah tolong kerja samanya," ujar Rania.
Lyra tidak menggubrisnya, ia masih tak bergerak dari duduknya. Hanya terdengar suara ringisan yang berasal dari hidungnya yang mulai tersumbat.
"Ini kan hari bahagiamu kenapa kamu menangis seperti itu?" Menatap heran pada Lyra.
Ternyata pertanyaan Rania justru malah mengundang air mata Lyra yang perlahan semakin deras, suaranya terbungkam karena tenggorokannya yang mulai kering.
"Astaga bibirmu sampai pecah seperti ini. Berapa lama kamu menangis?" Mengelap air mata Lyra.
"A-aku." Suara serak membuat dada Lyra sesak dan semakin ia memaksanya semakin terasa sakit.
"Ya Tuhan, kamu minumlah dulu. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah, cerita ada apa sebenarnya kenapa kamu sedih begini?" tanya Rania pelan.
"Aku dipaksa menikah dengan dia, aku tidak mau aku ingin kabur tolonglah aku!"
"Harusnya kamu bahagia dong, dia kaya dan tampan juga. Kalau alasan cinta sih itu akan tumbuh dengan sendirinya seperti novel yang lagi buming Terpaksa Menikahi Tuan Muda awal ceritanya juga terpaksa tapi berujung manis coba deh kamu baca." Mencoba menenangkan Lyra.
Lyra menggelengkan kepalanya, matanya terlihat semakin membengkak.
"Kalau masalah tampan, pacarku jauh lebih tampan dan kalau kaya juga dia jauh lebih kaya dari ini, kalau kamu mau menolongku aku akan-
"Oh begitu? Ternyata kamu punya pacar ya, aku kira single karena dalam novel tersebut pemeran utama wanita tidak punya kekasih sama sekali. Oh tidak bisa dibiarkan ini, tenang saja aku akan membantumu."
Ternyata dia terobsesi pada novel yang hanya cerita fiktif belaka, kelihatannya dia cukup baik dan tampak tulus karena memikirkan perasaanku dibandingkan dengan pekerjaannya. Batin Lyra.
"Kamu dandani aku sekarang." Sambil memberikan peralatan Make Up pada Lyra.
"Ja-jadi rencanamu untuk mengelabui mereka seolah-olah kamu adalah aku begitu, kan." Dengan suara tersendat-sendat Lyra mencoba meyakinkan bahwa tebakannya benar.
"Seratus buat kamu, ayo cepat sebelum jam delapan malam. Nanti mereka curiga lagi jangan lupa buat tebal-tebal biar mereka semakin gampang tertipu." Memegangi cermin.
__ADS_1
Lyra mengangguk lalu tersenyum di sela ketakutannya, karena melihat tingkah lucu Rania yang apa adanya.
"Umur kamu berapa sih?" tanya Rania.
"Aku 25 tahun, kalau kamu?" tanya Lyra balik.
"Serius? Ups maaf aku nggak sopan habis wajahmu eh wajah Kakak tampak seperti seumuranku." Mengerutkan dahi merasa bersalah.
"Tidak apa-apa terima kasih pujiannya karena secara tidak langsung kamu sudah mengatakan kalau aku ini awet muda."
"Tapi beneran lho wajah Kakak mulus banget pakai perawatan apa sih? Pasti itu yang buat Kakak disukai lelaki kaya dan tampan 'kan. Beda sama aku, boro-boro di dekatin dilirik dari jauh saja mungkin orang ogah."
"Karena kamu masih kecil tapi kalau kamu sudah dewasa sepertiku barulah orang akan memuji Rania yang cantik, percayalah." Tersenyum tulus pada Rania.
Rania membalas senyuman Lyra.
"Jadi tidak sabar menunggu dewasa, semoga aku punya kisah yang sama dengan Kakak," pungkasnya.
"Kamu lucu pasti orang tuamu bahagia punya anak sepertimu."
"Ayah dan ibuku sudah tidak ada mereka meninggalkanku dengan nenek di kampung. Akan tetapi, nenekku yang malang malah sakit-sakitan dan merindukan orang tuaku yang tidak ada rasa peduli itu. Kami pun datang ke Ibu Kota tapi sosok mereka tak kunjung kami temui. Semua uang dan ponselku hilang begitu saja tapi beruntunglah dengan kemampuanku dalam merias membuat seseorang yang baik hati datang untuk membantuku dan memberiku pekerjaan dengan gaji yang lumayan. Cukuplah untuk memenuhi kebutuhan obat serta makanan untuk nenek, aku sudah sangat bersyukur Kak." Berusaha menahan air matanya.
"Hah itu sudah tidak ada dalam pikiranku, semua cita-cita yang sangat ingin kuraih hilang begitu saja. Fokus hidupku hanya untuk nenek kalau dia sudah tiada untuk apa juga aku hidup." Bulir bening jatuh menyapu riasan yang sudah Lyra aplikasikan ke wajahnya.
"Tenanglah, pasti akan datang keajaiban untuk kita. Ingatlah Tuhan mengirimmu untuk membantuku dan siapa tahu esok giliranku, pasti ada rencana indah dibalik pertemuan kita." Memeluk Rania erat dan mengusap-usap kepalanya.
Ya Tuhan ternyata kesedihanku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hidup Rania yang rela mati hanya untuk neneknya. Jika kami benar-benar berakhir bahagia tolong berikan keajaiban disaat detik menit dan hari ini juga. Batin Lyra yang ikut mengeluarkan air mata.
"Baiklah Kak lanjutkan meriasnya waktu kita sudah tidak banyak." Melepaskan pelukan Lyra.
Lyra pun mulai mengaplikasikan riasan Make Up ke wajah Rania.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Reyhan, Siska, Erick, Redro beserta pengawal lainnya mengamati rumah Fardan yang tampak gelap dan tak berpenghuni.
"Sepertinya memang tidak ada siapa-siapa disini," ujar Erick.
__ADS_1
Reyhan yang sudah tidak bisa menahan amarahnya pun menendang pintu yang begitu gampangnya terbuka setelah berkali-kali para pengawal mencoba mendobrak namun kegagalan yang mereka dapatkan.
"Hah kenapa dia bisa sekuat itu? Kenapa kalian tidak bisa sekuat dia dan kamu juga badan doang yang besar tapi tenaga juga nol." Menatap remeh pada Redro.
"Aku belum sempat melakukan apa-apa tapi den Reyhan sudah mengawalinya." Redro yang sedari tadi berusaha diam pun mulai angkat bicara.
"Untuk apa aku membawa kalian semua!" teriak Reyhan dari dalam.
Para pengawal yang masih bengong dengan pertunjukan Reyhan tadi pun tersadar. Mereka masuk dan beberapa menit kemudian mereka kembali keluar dengan hasil yang nihil karena tak seorang pun yang berada dalam rumah tersebut.
"Jadi kemana lagi kita akan mencarinya." Tangisan Siska pun pecah dan tidak sadar ia memeluk tubuh Redro yang berada di sampingnya.
Reyhan tampak lemas tubuhnya terjatuh tak berdaya tepat mengenai aspal. Tiba-tiba sebuah mobil melintas lalu berhenti tepat di depan mobil Reyhan.
Keluarlah Marta yang berlari menuju Reyhan, ia memeluk anaknya yang terlihat lemah dan kehabisan daya untuk berpikir.
"Pelukan ini." Reyhan memelotot kaget.
"Tenanglah mama disini Nak," ujar Marta.
"Tidak perlu, lepaskan! Aku tidak butuh simpatimu!" teriak Reyhan.
"Maafkan aku, kata pak Mat kalian semua mencari Lyra yang berada di tangan Fardan aku tahu dimana rumahnya." Mencoba meyakinkan Reyhan.
"Apa Anda kira aku akan percaya? Tidak akan, tidak akan pernah." Menyangkal perkataan Marta.
"Reyhan biar bagaimana pun dia itu mama kamu. Wanita yang dengan susah payah melahirkan kamu!" teriak Siska yang seketika membuat Reyhan teringat pada Lyra yang sering mengingatkannya pada kalimat yang sama dengan yang diucapkan Siska.
"Baiklah, katakan dimana tempatnya?" tanya Reyhan berusaha lembut.
"Ayo kita pergi bersama, aku juga ingin melihat calon menantuku juga." Marta berjalan lalu membukakan pintu mobil untuk Reyhan.
Reyhan yang masih berdiri hanya menatapnya dengan bingung memperhatikan sifat Marta yang berubah dan menyebut Lyra sebagai calon menantunya.
Bersambung
Terima kasih sudah mampir .
__ADS_1