MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Lima belas?...


__ADS_3

"Apartemenmu cukup klasik juga minimalis sesuai dengan karaktermu," ujar Reyhan sambil menatap Marta yang duduk di depannya. Namun, dibalas senyuman oleh Marta.


"Aku sadar kamu sangat dewasa sekarang, tapi di mataku kamu masih Reyhan kecil yang dahulu popoknya masih kuganti dengan tanganku sendiri," jawab Marta mengenang cuplikan masa kecil Reyhan.


"Hmmm maaf aku menyusahkanmu, seandainya kalau aku bisa memilih aku ingin lahir dengan kaki yang bisa berjalan langsung," jawab Reyhan membuat Marta terkekeh mendengar jawaban anaknya yang menurutnya cukup lucu.


"Kalau kamu bisa berjalan langsung, memangnya kamu bersedia aku gendong?" tanya Marta sambil tersenyum semringah.


"Entahlah."


"Baiklah ini berkas-berkas yang aku katakan tadi, kamu harus mempelajarinya. Oh ya aku dengar Vica jadi kepala desain. Apa itu benar?"


"Iya, dia meminta pekerjaan dan aku memberikannya bukankah sudah impas," jawab Reyhan.


"Tapi sepertinya dia tidak suka bagian itu, pasti kamu tahu itu kan? Biar bagaimanapun dia sahabatmu Rey," jawab Marta.


"Itu cocok untuknya, dan juga dia bukan sahabatku lagi. Dia berkhianat! Menjadi sahabatnya adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan selama hidupku," jawab Reyhan sedikit sinis.


"Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, aku permisi dulu dan sampai jumpa di kantor rapat. Ingatlah untuk selalu menjaga kesehatanmu dan hiduplah paling tidak bantu aku menjaga cucumu kelak..., Mama," tambah Reyhan yang sontak membuat Marta terkejut mendengar Reyhan memanggilnya dengan sebutan mama.


"Maaf, kalau aku masih kaku. Bersabarlah aku akan berusaha memanggilmu mama," ucap Reyhan lagi yang langsung disambar oleh pelukan Marta.


"Begini saja sudah cukup bagi mama Nak, terima kasih sudah berbaik hati memanggilku sebutan mama. Mama janji akan menjaga kesehatan dan akan merawat cucu-cucu mama nanti. Terima kasih Nak!" Tangis Marta pecah dipelukan hangat anaknya itu.


"Maaf sudah waktunya aku pergi, hari ini aku sangat semangat untuk melihat wajah-wajah serakah yang berusaha merebut alih perusahaan papa dariku," ujar Reyhan sambil melepaskan pelukan Marta dengan pelan.


"Baiklah, maaf aku terlalu bahagia terima kasih untuk hari ini. Berhati-hatilah, menghadapi mereka itu harus punya mental baja, aku harap kamu bisa melewatinya," jawab Marta memperingati Reyhan.


Reyhan tersenyum simpul lalu bergegas pergi meninggalkan Marta yang masih hanyut dalam pelukan hangat Reyhan.


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa aku ini terlalu tampan?" tanya Reyhan memelotot heran melihat Redro yang sesekali meliriknya lewat cermin kecil di dalam mobil.


"Tidak Den," jawab Redro singkat.


"Hari ini pengalihan kepemimpinan perusahaan grup Almirza, menurutmu apa aku cukup pantas?" tanya Reyhan sambil menyenderkan tubuhnya.


"Pantas tidak pantas itu tergantung kinerja Aden sendiri, bukan penilaian orang lain. Karena ada sebagian orang yang tidak suka melihat kita meskipun pekerjaan kita melebihi standar baik," jawab Redro.


"Ya, kau benar. Ternyata kau cukup bijak juga."


Mobil pun melaju cukup kencang. Dari kejauhan terlihat jelas gedung menjulang tinggi yang terlihat sangat mewah, Reyhan mengamati detail bagian atas gedung itu, ia mengagumi kerja keras papanya yang membangun perusahaan hingga menjadikannya urutan pertama.


Sampailah mereka ke halaman perusahaan mewah tersebut, lamunan Reyhan pun buyar ketika ia melihat karpet merah sebagai penyambutan kedatangannya. Disana sudah berdiri para pemegang saham dan para karyawan yang sudah berbaris rapi. Tak lama kemudian mobil Marta pun berhenti tepat di belakang mobil Reyhan, ia langsung keluar menyaksikan penyambutan putranya itu.


"Baiklah, orang kita tunggu-tunggu sudah sampai. Terlebih dahulu saya memperkenalkan diri dulu, nama saya Sudarji orang tertua diatara pemegang saham lainnya. Sebenarnya di usia saya yang mulai senja ini sudah seharusnya saya pensiun. Akan tetapi mengingat kerja keras tuan Reygan dulu, membuat saya berusaha tetap berdiri tegak kalau bisa sampai akhir nyawa pun saya tetap berada disini," ujar salah satu pemegang saham tertua.


Perkataan lelaki yang cukup tua itu disambut dengan tepukan tangan yang meriah dari para pemegang saham serta para karyawan lainnya.

__ADS_1


"Kemarin saya tidak bisa datang karena harus istirahat di rumah, maklumlah badan sudah cukup tua jadi penyakit dimana-mana hehehe. Saya baru bertemu dengan nak Reyhan ini ganteng juga ternyata. Hmmm tidak jauhlah dengan saya dulu, hahaha," tambahnya disertai tawa kelakar membuat orang-orang yang mendengar terkekeh.


"Hai Nak Reyhan, selamat datang. Aku disini ingin mengucapkan selamat atas pengangkatanmu di usiamu yang terbilang sangat muda cukup membuatku bangga. Pesanku untuk Nak Reyhan jadikan para karyawan baik dengan jabatan tinggi maupun rendah sebagai keluarga besar. Sayangi mereka Nak dan tetaplah menjadi pribadi yang baik buat papamu dan kami semua yang berada disini bangga. Oke!" lanjut pria itu sambil mengacungkan jempolnya yang kemudian dibalas oleh Reyhan dengan acungan jempol juga.


Semua mengagumi sosok Reyhan baik itu wajah dan perawakannya yang cukup cool.


"Tampan banget," bisik salah satu karyawan.


"Iya benar, ada ya orang setampan itu," balas salah satu karyawan tersebut.


"Enggak heran sih, wong bu Marta juga cantik ditambah lagi pak Reygan yang tampan meski aku lihatnya dari poto di lobby sih," sahut salah satu karyawan lainnya.


"Sudah kaya, tampan, muda lagi. Ahhh lengkap sudah."


"Tapi dengar-dengar dia sudah beristri lho."


"Hah masa sih? Enggak percaya ah."


"Aku juga."


"Sebenarnya aku pun nggak percaya sih, itu masih rumor belaka doang kok."


"Ye...."


"Baiklah perhatian semua, saatnya acara yang paling dinanti yaitu pengguntingan pita. Nak Reyhan kemarilah!"


Reyhan pun berjalan mendekat membuat semua orang semakin terpesona dengan fisiknya.


"Kenapa, Nak? Kenapa tidak langsung digunting?" tanya lelaki tua itu.


"Maaf bukannya menggurui, bukankah tadi Bapak mengatakan akan menghitung mundur? Tetapi tadi saya dengar Bapak justru menghitung maju," jawab Reyhan dengan tatapan serius.


"Wah ternyata se-detail itu nak Reyhan ya, memang jiwa pemimpin itu harusnya begini, sekarang kita hitung mundur tiga, dua, sa...,tu!" teriak pria tua itu lagi.


Dan Reyhan pun langsung menggunting pita pink itu dengan cepat. Setelah itu, ia pun disambut dengan tepuk tangan yang meriah. Tak lupa juga para pemegang saham menjabat tangan Reyhan serta memberi selamat untuknya. Meski sebenarnya Reyhan tahu itu hanya sebagian drama tapi ia sangat menikmati acara yang tidak pernah ia rasakan itu.


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


Lyra tampak memegangi pakaian mini milik bayi yang tergantung di hanger. Ya, untuk membuang kebosanan Lyra dan Siska memutuskan untuk pergi shooping.


"Kenapa gitu banget ngeliatnya Neng? Sudah nggak sabar punya baby ya?" goda Siska terus melirik ke arah Lyra yang sibuk memperhatikan pakaian-pakaian mungil tersebut.


"Sebagai seorang istri tentu saja aku ingin menjadi seorang ibu. Aku sedang membayangkan jika aku memiliki seorang putri yang mirip dengan papanya yaitu Reyhan. Pasti dia sangat cantik, Sis," jawab Lyra sambil memeluk erat gaun mini tersebut.


"Tentu saja cantik. Mata indah, hidung mancung serta lesung pipi yang berbentuk di kedua pipinya. Aah jadi tidak sabar cepatlah datang tante Siska menunggumu." Mengelus-elus perut Lyra. Lalu mereka berdua pun tertawa geli.


Tring!!!


Sebuah pesan masuk ke ponsel Lyra. Dan tentunya itu dari Reyhan, suami tercintanya.

__ADS_1


Reyhan: Lagi dimana?


Lyra : Shooping, bosan di rumah mulu.


Reyhan: Dengan kak Siska ya?


Lyra. : Iya.


Reyhan: Hari ini adalah hari pengangkatanku.


Lyra : Jadi?


Reyhan: Tidakkah ada hadiah untukku?


Lyra : Tapi kita berjauhan.


Reyhan: Kalau kita berdekatan, memangnya mau


berikan apa?


Lyra : Akan aku pikirkan.


Reyhan: Sebenarnya aku menginginkan sesuatu.


Lyra : Katakanlah!


Reyhan: 15


Lyra : Maksudnya?


Reyhan: Pikirkan baik-baik! Ingatlah aku menunggu.


Lyra berhenti membalas pesan Reyhan yang menurutnya sedikit aneh.


Lima belas? Sebenarnya maksud dia apa sih? Aduh suami kecilku ini benar-benar deh. Selalu membuat aku frustasi. Batin Lyra sambil terus menatap pesan dari Reyhan dan berusaha mencerna apa yang dimaksud oleh suaminya itu.


"Ada apa? Apa kamu mengantuk?" tanya Siska sambil membawa beberapa potong pakaian ditangannya.


"Tidak, sudah belanjanya?" tanya Lyra balik sambil memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.


"Hmmm ya ini sih sudah lumayan, kalau kamu? Masa nggak beli apa-apa." Berjalan ke arah kasir.


"Bajuku masih banyak, Sis. Mama Marta sudah memberikan pakaian bagus di dalam lemariku jadi untuk apalagi aku membelinya?" Tersenyum semringah.


"Enak ya punya mertua se-royal tante Marta. Aaah beda banget sama aku yang tidak punya calon mertua sama sekali." Memanyunkan bibirnya.


"Sudah jangan mengeluh lagi. Ayo pulang." Setelah membayar pakaian tersebut mereka berdua pun berjalan keluar.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


Hy terima kasih sudah baca jangan lupa like n hujatannya. Terima kasih vote dukungannya. Kalian keluarga online q penyemangat di sela-sela keterpurukanku. Maaf up nya lama, sebagai manusia biasa tak selamanya kesehatan berpihak padaku.



__ADS_2