
WARNING : INI DIPERUNTUKKAN UNTUK YANG SUDAH BERUSIA +21 KE ATAS. YANG BELUM DIHARAPKAN JANGAN DEH, BAHAYA DAN KALAU TERUNTUK JOMBLO NO KOMENLAH... πΈπΈπΈπΈ
"Reyhan dan Lyra kalian tidurlah ini sudah sangat malam, oh ya tidurlah di kamar lantai 3 paling ujung, mama sudah lama menyiapkan kamar itu untuk kalian. Mama mau keluar dulu ada yang mau diurus. Kalian istirahatlah," ujar Marta sambil tersenyum manis melihat wajah anak dan menantunya yang masih malu-malu.
"Iya Ma hati-hati di jalan jangan pulang terlalu larut," jawab Lyra lembut, berbeda dengan Reyhan yang hanya mengangguk mulutnya masih terbungkam kaku terhadap Marta.
Marta tersenyum ia mengusap lembut wajah Lyra lalu berjalan menuruni anak tangga dan keluar dari rumah.
"Ayo kita ke atas," ajak Reyhan sambil mengulurkan tangannya.
Lyra mengangguk lalu membalas uluran tangan Reyhan, merekapun menaiki satu-persatu anak tangga sambil berbicara mencairkan suasana yang abstrak. Maklum masih malu-malu kuciang guys πΈ
"Apa kamu pernah ke taman safari?" tanya Lyra mulai berbicara.
"Tidak, dari dulu aku tidak ada waktu untuk itu," jawab Reyhan pelan.
"Bagaimana kalau lain kali kita ke sana, aku ingin melihat kelinci kembar katanya mereka terlihat sangat menggemaskan jadi pengen meluk," ajak Lyra.
"Apa harus ya kamu memeluknya?" tanya Reyhan.
Dia ini di saat tegang begini pun masih sempat cemburu itu kelinci Rey bukan manusia. Batin Lyra.
"Kita sudah sampai," ujar Reyhan.
Lyra melirik kamar Marta yang tidak sadar telah mereka lewati tadi.
"Ada apa?" tanya Reyhan.
"Tidak, aku cuma ingat pernah masuk ke kamar itu, saat itu mama sedang mabuk berat," jawab Lyra sambil menunjuk kamar Marta.
"Kamu cukup fasih menyebutnya mama, aku jadi merasa terkesan setiap kali mendengarnya," ujar Reyhan.
"Entahlah mungkin aku sudah lama tidak punya ibu jadi aku merasa sedikit rindu untuk memanggil seseorang dengan sebutan mama, maafkan aku." Menunduk sedih mengingat kepergian ibunya beberapa tahun lamanya.
"Ti-tidak maksudku bukan seperti itu. Aku hanya menyayangkan diriku yang sampai sekarang belum menghormatinya sebagai seorang ibu."
"Aku yakin suatu saat kamu pasti bisa. Cobalah pelan-pelan dia ibumu bukan orang lain kalian sedarah aku yakin cepat atau lambat kamu akan menerimanya kelak." Tersenyum meyakinkan Reyhan.
"Ayo kita masuk." Reyhan membuka pintu kamar tersebut.
Lyra maupun Reyhan seakan terhipnotis melihat detail pada kamar tersebut terlihat sangat luas dan mewah bernuansa warna putih terdapat 2 buah kursi jepara dan satu kulkas mini serta kolam renang yang lumayan luas di balkonnya. Dan kamar mandi serta toiletnya tak kalah menarik perhatiannya semua dijadikan menjadi 1 melebihi kamar hotel mewah.
Di atas meja tepatnya di bawah lampu mini terdapat sebuah amplop berisikan surat yang ditulis tangan oleh Marta untuk mereka berdua.
Hai Reyhan selamat ya nak maaf mama tidak bisa memberikan kamu lebih. Karena kamu sudah memiliki semuanya. Mama minta maaf belum menjadi sosok ibu yang sempurna untukmu. Oh ya kamar ini papa kamu yang mendesainnya untukmu. Awalnya itu kamar impian kami tapi waktu itu kami kesulitan dalam keuangan. Jadi, dia mengatakan agar kamar itu untukmu jika kamu sudah menikah kelak. Dan aku sedikit demi sedikit melanjutkan pembangunan kamar yang masih setengah jadi hingga sempurna seperti sekarang ini. Selamat menikmati ya Nak kami sangat menyayangimu. Oh ya maaf mama enggak bisa menemani kalian lebih lama, mama sudah mendapatkan panggilan dari Amerika nanti kalau sudah beres mama akan kembali. Maaf mama tadi enggak pamit mama tidak mau mengganggu kalian. Katakan pada Lyra mama juga menyayanginya dan jaga kesehatan kalian berdua.
Air mata Reyhan perlahan jatuh setelah membaca isi surat dari Marta. Rasa penyesalan menggorogotinya. Lyra mencoba menenangkan Reyhan ia terus mengusap punggungnya lalu mengarahkan Reyhan ke dalam pelukannya.
"Kita belum terlambat kita bisa kok menyusulnya," ujar Lyra sambil tersenyum.
__ADS_1
"Apa kamu benar-benar akan ikut?" tanya Reyhan.
"Iya, aku 'kan istrimu, jadi kemana pun aku akan ikut denganmu. Baiklah sekarang kamu mandi gih nanti aku akan menyusul mandi juga kita bergantian," ujar Lyra mencoba menenangkan Reyhan.
Reyhan mengangguk ia pun berjalan menuju kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya. 15 menit berlalu, Reyhan keluar dari kamarnya aroma mint dari tubuhnya menyeruak di hidung Lyra seolah menariknya untuk menciumnya lagi dan lagi.
"A-aku akan mandi." Bangkit dari tempat tidur, berlari menuju kamar mandi. Reyhan yang sedang mengusap rambutnya dengan handuk menatap heran pada tingkah laku Lyra. Ia pun duduk di sudut tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
"Semoga dia sudah tidur dan tidak menungguku. Hah hampir saja tadi aku menyentuhnya, dada bidangnya begitu sexy. Bagaimana aku bisa tahan? Ah ternyata malam pertama itu benar-benar menyiksa apalagi harus menghadapi suami tampan seperti dia," gumam Lyra sambil merendamkan tubuhnya ke dalam bath up kamar mandi.
Lyra keluar dari bath up ia pun memperhatikan pantulan wajahnya di cermin lalu memakai lotion yangsudah disediakan ke tubuhnya.
"Aromanya sangat harum ternyata bunga lily sebagai bahan utamanya. Dan ini produk Amerika mama Marta memang sangat perfeksionis pantas saja Reyhan terlihat sempurna di setiap penampilannya. Aaah aromanya sangat menenangkan sekali," ucap Lyra sambil terus mencium tangannya yang telah dibalurkan lotion.
Tok! Tok!
"Aah terkejutnya aku." Lyra terjatuh ke lantai terkejut mendengar ketukan pintu dari luar.
"Lyra mau sampai kapan kamu di dalam?" tanya Reyhan dari luar.
"Iya sebentar lagi aku akan keluar!" teriak Lyra.
Aku sengaja berlama-lama di sini menunggumu tidur tapi kamu malah datang menghampiriku, Reyhan apa kamu tidak pernah lelah bahkan sedikitpun. Batin Lyra sambil menarik napas dalam-dalam, kemudian bangkit lalu berjalan keluar.
"Apa di dalam situ lebih nyaman hingga membuatmu betah berlama-lama?" tanya Reyhan sambil memainkan ponselnya.
"Ah bukannya begitu, tadi aku sedang membersihkan tubuhku agar bersih sebersih-bersihnya. Lagipula ini 'kan sudah malam kenapa kamu belum tidur?" tanya Lyra sambil memegangi pinggangnya.
Pake nanya lagi, ini karena ulahmu tahu. Seandainya kamu tidak mengetuk pintu itu, mungkin sekarang aku bisa santai tanpa merasa sakit begini. Batin Lyra memelotot kesal.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa aku punya salah padamu?" tanya Reyhan kebingungan.
"Tidak, Den Reyhan tidak pernah salah kok," jawab Lyra menahan kekesalan.
"Kenapa kamu bicara formal? Lyra aku ini suamimu yang sah. Apa kamu lupa yang dikatakan pak penghulu tadi pagi? Hmmm hormati suamimu dengan sebaik-baiknya jangan pernah merahasiakan apapun darinya. Itulah salah satu kunci surga untuk suami dan istri," ujar Reyhan sembari mengulangi perkataan pak penghulu setelah ijab kabul tadi pagi.
"Hah, kamu benar tapi sudahlah jangan dibahas enggak penting juga mungkin ini efek usia kali," jawab Lyra, enggan menyalahkan Reyhan.
"Berbaringlah." Menunjuk sisa kasur yang di dekatnya.
"Ah, aku belum mengantuk Rey, kamu tidurlah dulu." Duduk di salah satu kursi jepara yang terletak di sudut sambil tersenyum canggung.
Jika itu dilakukan malam ini. Aku takut kalau aku belum siap. Dilihat dari gelagatmu yang sekarang sepertinya kamu sangat bersemangat, ah pinggangku pakai sakit segala lagi. Batin Lyra.
"Kenapa kamu lebih memilih untuk duduk di sana ketimbang denganku? Apa aku begitu menakutkan bagimu?" tanya Reyhan lalu meletakkan ponselnya.
"Tidak, bukannya begitu Rey, aku rasa ingin melakukan sedikit pemanasan terlebih dahulu sebelum tidur, aku sering melakukannya," jawab Lyra.
Pemanasan? Di malam pengantin? Apakah itu sama dengan yang Erick katakan waktu itu, mencium, menyentuh. Tapi Lyra bilang dia sering melakukannya sebelum tidur. Apa aku tidak salah dengar? Jika itu pemanasan biasa untuk apa ia lakukan? Toh itu hanya akan membuang-buang tenaga. Batin Reyhan lalu bangkit menghampiri Lyra yang berpura-pura menggerakkan tubuhnya pelan.
__ADS_1
"Apa kamu tidak lelah? Hentikan itu dan tidur bersamaku," ujar Reyhan sambil menatap wajah Lyra dengan jarak yang sangat dekat.
Lyra melihat leher Reyhan hingga ke bagian separuh dadanya yang tidak tertutupi oleh piyama.
Gluk
Lyra menelan air liurnya, bulu kuduknya seketika berdiri merasa merinding dengan tiba-tiba.
Jika aku yang menyerang terlebih dahulu, apakah bisa? Tidak aku ini seorang wanita meskipun aku sudah menjadi istrinya tapi tetap saja harga diri itu harus diperjuangkan. Batin Lyra.
"Lyra, kenapa kamu malah melamun? Apa aku menakutimu?" tanya Reyhan menatap heran dengan wajah Lyra yang bengong tanpa ekspresi sedikit pun.
"Aku mau tidur," jawab Lyra sambil berlari ke arah ranjang.
Reyhan dibuat kebingungan setengah mati oleh sikap Lyra yang tiba-tiba seolah sedang menghindarinya. Ia pun menghampiri Lyra yang sudah berbaring dengan selimut menutupi tubuhnya.
"Apa kamu sedang menghindariku?" tanya Reyhan lalu naik di atas kasur.
"Tidak," jawab Lyra singkat yang membelakangi Reyhan.
"Tapi tingkahmu sepertinya membenarkan perkataanku," ujar Reyhan.
"Aku bilang tidak ya tidak, jangan berspekulasi sendiri," jawab Lyra.
"Bukannya aku mau berspekulasi sendiri tapi kamulah yang tidak mengakuinya," ujar Reyhan.
"Terserahlah!" Lyra yang mulai kesal pun menjawab dengan suara sedikit meninggi.
"Hah, Lyra kalau kamu belum siap untuk melakukan itu denganku tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksanya, aku akan menunggu setahun, dua tahun atau bahkan se-abad lamanya, asalkan kamu denganku kamu hanya milikku seorang. Baiklah sekarang sudah malam selamat tidur aku sangat mencintaimu semoga mimpi indah. Aku akan-"
Belum selesai Reyhan berbicara, dengan cepat Lyra bangkit dan duduk di hadapan Reyhan, ia mencium bibirnya dalam tempo yang pelan serta dengan mata tertutup, Reyhan memelotot kaget tubuhnya tersender pada back board tempat tidur perlahan tapi pasti ia mulai menerima dan menikmati permainan bibir yang istrinya lakukan terhadap bibirnya.
Tak tanggung-tanggung Lyra mengeluarkan lidahnya hingga membuka bibir Reyhan yang tadinya tertutup rapat perlahan terbuka, merekapun saling beradu. Napas merekapun mulai terdengar sesak.
Tanpa ragu, Reyhan mulai membuka piyama yang dipakai Lyra. Seakan tak mau kalah Lyra juga membuka piyama milik Reyhan. Dan terlihatlah mereka bugil setengah badan, Reyhan mulai membaringkan Lyra di tengah kasur dan mulai mencium bibirnya kembali. Lalu ke lehernya sesuai yang Erick ajarkan padanya beberapa waktu yang lalu.
"Ah Rey, ahhh." Lyra mendesah kenikmatan begitu ia merasakan Reyhan sedang menciumi lehernya lalu memainkan payudara Lyra dengan jarinya.
Paham akan desahan Lyra, Reyhan mencium bibirnya kembali. Semakin Lyra berdesah semakin Reyhan bersemangat melanjutkan aksinya. Lyra merasakan kenikmatan menerima serangan demi serangan yang Reyhan berikan padanya. Namun itu tidak berlangsung lama. Saat Reyhan mulai turun ke bagian bawah tubuh Lyra.
Krekk
"Ah pinggangku Rey, ahh sa- kit nyeri banget oh Rey!" teriak Lyra.
Dan saat itu sudah pukul 01.58 wib.
BERSAMBUNG...
Terima kasih yang sudah membaca, jangan lupa like, komennya guys eh di vote juga boleh kok. Senang hati malah Luv u Readers semoga sehat selalu jangan bosan-bosan yaπ
__ADS_1