MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Menghadiri Pesta...


__ADS_3

Lyra membuka channel tv yang hampir semuanya membuat dia depresi. Ia pun berjalan ke dapur mengambil air minum. Tak lupa juga dia menyiapkan segelas susu untuk Reyhan suami tercintanya yang sedang fokus memandangi laptopnya di ruang kerja.


"Sayang, minumlah dulu. Pekerjaan memang penting, tapi jangan sampai lupa jaga kesehatan juga," ujar Lyra sambil meletakkan susu tersebut di atas meja, lalu berbalik hendak keluar, namun tiba-tiba Reyhan menarik tangannya dan meletakkan tubuh istrinya itu di pangkuannya.


"Sayang, jangan seperti ini! Aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu." Berusaha turun dari pangkuan Reyhan.


"Aku lelah, biarkan lima menit seperti ini." Memeluk pinggang Lyra sambil memejamkan matanya.


Lyra berhenti melawan pandangannya beralih pada tablet yang terletak di meja. Ia terkejut melihat walpaper tablet tersebut potret dirinya.


"Sayang, aku tahu pekerjaan ini sangat membuatmu lelah. Disaat orang seusiamu masih memikirkan materi pelajaran, kamu justru sudah memikul beban orang-orang dewasa. Aku salut padamu!" Mengusap rambut Reyhan.


"Kalau salut, apakah ada hadiah?" tanya Reyhan membuka matanya.


"Hadiah? Kamu selalu meminta hadiah padaku. Padahal kamu punya semuanya. Aneh ya," jawab Lyra heran.


"Tapi hadiahnya hanya ada pada dirimu." Tersenyum tipis.


"Jangan mesum ih. Dasar tidak tahu malu," ujar Lyra yang mulai salah tingkah.


"Kenapa malah mengatakan aku mesum. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Reyhan.


"Habisnya kamu bilang ada pada diriku, apalagi coba kalau bukan itu." Mengerutkan dahinya membuat Reyhan terkekeh merasa gemas.


"Kamu menuduhku mesum, tapi otak kamu sendiri yang mesum. Aku cuma butuh dukungan darimu dengan cara tetap berada di sekitarku seperti sekarang ini. Aku tidak ingin kita berjauhan seperti kemarin, itu sangat menyiksaku." Menatap dalam pada Lyra.


"Reyhan kamu tampan dan kaya. Aku bingung kenapa kamu memilihku? Padahal diluar sana banyak yang rela mati demi mahluk sepertimu."


"Lantas kenapa juga kamu memilihku. Apa karena aku tampan dan kaya?" tanya Reyhan balik.


"Tidak."


"Lalu karena apa?" tanya Reyhan membuat Lyra terbungkam.


"Kamu enggak bisa menjawabnya, kan? Lyra, saat pertama kali aku mengenalmu, aku percaya itu bukanlah sebuah kebetulan. Aku sempat menyangkal bagaimana bisa aku menyukai Lyra si gadis biasa yang bahkan usianya lebih tua dariku. Tidak ada yang bisa aku andalkan dari seorang Lyra. Tapi yang namanya perasaan tidak bisa dibohongi. Aku adalah remaja yang tidak mudah bergaul dengan perempuan. Aku dikenal dingin dan sombong. Tapi setiap kali aku bertemu denganmu, aku tidak bisa menahan perasaanku, karena tulang rusuk tetaplah tulang rusuk." Memasang tatapan serius membuat Lyra termangu.


"Sayang, bukankah seharusnya kita bersiap-siap menghadiri pesta rekan bisnismu?" tanya Lyra sambil mengusap-usap wajah Reyhan.


"Sebenarnya aku malas, apa kamu benaran ingin pergi?" tanya Reyhan.


"Dia rekan bisnis ya bukankah seharusnya kita menghormatinya dia mengundang selama tidak ada halangan kita harus datang, kan." Tetap mengelus lembut wajah Reyhan.


"Dari tadi kamu mengelus wajahku. Segitu sukanya ya?" Tersenyum tipis.


"Aku sadar wajah lembut yang seperti bayi ini adalah suamiku. Rona wajahmu sangat bagus aku sebagai wanita sangat merasa iri." Mengelus-elus wajah Reyhan yang memerah.


"Dekatkan wajahmu, aku mau lihat seberapa mulus wajah istriku," ujar Reyhan menyentuh dagu Lyra. Dengan wajah polos Lyra menuruti perkataan Reyhan ia mendekatkan wajahnya ke arah suami kecilnya itu.


Cup!!!


Reyhan mengecup bibir Lyra, membuat gadis itu memelotot kaget namun tetap di posisi itu, Lyra tidak menjauhkan wajahnya.


"Kamu punya bibir yang indah dan manis, dan aku sangat iri karenanya. Seandainya aku pemilik bibir ini pasti aku akan dihujani kecupan bertubi-tubi darimu." Tersenyum tipis sambil mengusap lembut bibir Lyra.


Lyra mendekatkan bibirnya, ia mengulum pelan lidah Reyhan dengan tempo yang lembut. Lyra melingkarkan tangannya di pundak Reyhan sedangkan Reyhan mencengkram pelan pinggang dan paha Lyra.


****


"Sayang, bagaimana penampilanku?" tanya Lyra setelah merias wajahnya. Reyhan terdiam dia terpukau melihat betapa cantiknya penampilan Lyra.


"Kenapa? Jelek ya. Ah padahal akhir-akhir ini aku sudah belajar dari media sosial." Memanyunkan bibirnya.


Reyhan mendekatinya sambil tersenyum.


"Sayang, kamu cantik. Ah aku tidak rela harus berbagi pandangan dengan para tamu disana," bisik Reyhan.


"Kamu ini paling bisa menghiburku," jawab Lyra malu.


"Berjanjilah untuk tidak memandangi pria lain selama disana." Sorot mata Reyhan berubah menjadi serius.


Ya ampun kenapa dia berubah menjadi serius begini. Batin Lyra sambil tersenyum aneh kepada Reyhan.


"Ayo kita pergi," ujar Reyhan sambil mengulurkan tangannya. Sambil tersenyum Lyra melingkarkan tangan kanannya ke tangan kiri Reyhan.


"Tunggu sebentar!" Reyhan menghentikan langkahnya dan juga membuat langkah Lyra berhenti.


"Apa? Kenapa? Ada yang tinggal ya?" tanya Lyra keheranan.


"Tentu saja ada," jawab Reyhan singkat.


"Apa? Oh hadiahnya ya?" Mulai panik.


"Hadiahnya ada di mobil, tapi dimana hadiahku?" tanya Reyhan.


"Hadiah? Untukmu. Maksud kamu apa sih?" Lyra dibuat kebingungan oleh Reyhan.


"Disini." Menunjukkan ke arah bibirnya.


"Hah? Enggak ada apa-apa kok." Menatap bibir Reyhan.


"Disana akan ada banyak wanita. Percaya atau tidak akan banyak yang menyindir dan berkata tidak baik padamu. Jadi kecup bibirku, ini akan membuatmu menjadi kuat," jawab Reyhan.

__ADS_1


"Hah? Hahaha hentikan bualanmu itu." Tertawa terpingkal-pingkal.


CUP!!!


Di sela-sela tawanya, Reyhan berhasil mencuri kecupan bibirnya.


"Ahh sayang! Bisa hilang lipstiknya." Menderah kesal.


"Enggak kok, aku lihat lipstikmu waterproof yang berarti anti air." Menyentuh bibir Lyra dengan jari jempolnya.


"Sejak kapan kamu mulai kepo dengan make up?"


"Semua yang berhubungan denganmu, aku harus tahu termasuk ukuran dadamu." Jawaban nakal Reyhan sontak membuat Lyra terkejut dan langsung mencubitnya pelan.


Mereka pun berjalan keluar dari apartemen dengan bergandengan tangan.


***


Lyra menyenderkan kepalanya ke sisi kursi mobil sambil memandangi pemandangan luar lewat jendela mobil. Ia dibuat takjub di sepanjang jalan dengan lampu yang berkelap-kelip.


"Wah, benar-benar pemandangan malam yang sangat bagus." Memelotot takjub memandangi setiap sudut jalan yang dilewatinya.


Reyhan menarik tangan Lyra dan menyuruh istrinya itu menyenderkan kepalanya di bahu Reyhan.


"Sebentar sayang pemandangannya sangat indah sekali. Aku tidak pernah melihat pemandangan yang-"


Perkataan Lyra terpotong karena tangannya ditarik oleh Reyhan lalu meletakkan kepalanya di bahu milik Reyhan.


"Duniamu ada disini bukan di luar jendela itu," ujar Reyhan sambil terus menggenggam tangan Lyra.


Itu hanya pemandangan Rey, kalau cemburu itu pikir-pikir dulu. Semua hal yang aku lihat dengan kagum pasti selalu membuatmu cemburu. Batin Lyra.


"We have arrived, Sir," ujar pak supir yang disewa Reyhan lalu berjalan membuka pintu mobil.


"Thank you. Don't go anywhere waiting for us here," jawab Reyhan sambil menggandeng tangan Lyra.


"Okay. With pleasure." Tersenyum ke arah Lyra dan Reyhan.


Lyra dan Reyhan pun berjalan memasuki gedung mewah yang disewa Mr.Rudolf untuk merayakan ulang tahun putri bungsunya, Cecil Rudolf.


"Wah mewah sekali. Ini benaran pesta ulang tahun ya?" tanya Lyra sambil melongo.


"Aku bisa buatkan pesta lebih besar dari ini jika kamu mau," jawab Reyhan.


Note: Dikarenakan ada salah satu pembaca mengatakan kalau dia pusing dengan tulisan yang berbau bahasa inggris karena dia harus bolak-balik cek google translet untuk menterjemahkan kalimat yang menggunakan bahasa asing itu. Sebagai penulis saya mohon maaf, saya juga tidak bermaksud membuat susah teman-teman semua. Oleh karena itu, mulai sekarang saya akan menulisnya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Terima kasih sarannya šŸ˜šŸ˜šŸ˜.


"Permisi Tuan, boleh tunjukkan undangannya," ujar seorang pria dewasa yang bertugas sebagai salah satu penerima tamu.


"Oh, jadi Anda yang bernama Reyhan Almirza. Maafkan saya, tadi Mr.Rudolf mengatakan bahwa Anda tamu spesial malam ini," jelas pria itu.


"Hmmm, baiklah jadi saya boleh masuk?" tanya Reyhan.


"Tentu boleh Tuan, tapi kalau tidak keberatanbm bersediakah Tuan beserta pasangan Tuan berfoto. Karena kami melakukan pemotretan dengan setiap tamu yang membawa pasangan." Tersenyum sambil menunjukkan ke arah sesi pemotretan yang ia maksud.


"Baiklah, dengan senang hati," sahut Lyra membalas senyuman pria itu.


Para tamu yang semula berlalu lalang tiba-tiba berhenti. Mereka terpukau melihat visual Reyhan.


"Sayang bagaimana posenya?" tanya Lyra bingung.


"Lakukan seperti ini saja." Seorang wanita yang bersiap mengabadikan potret mereka pun menunjukkan pose yang ia maksud.


"Ah haruskah seperti itu?" tanya Reyhan canggung.



"Ayolah Tuan, kalian berdua pasangan yang cantik," ujar mereka tidak sabar memotret Lyra dan Reyhan.


"Baiklah, kita lakukan saja. Kan enggak susah juga," bisik Lyra.



"Baiklah, kami akan melakukannya." Reyhan dan Lyra pun mulai menggerakkan tangannya meniru pose yang diajarkan wanita itu. Dengan segera mereka pun berbondong-bondong mengambil momen pemandangan indah tersebut.



"Bisakah Tuan mengucapkan selamat kepada Cecil Rudolf atas ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun ini." Memberikan mic kepada Reyhan, namun Reyhan langsung menengadahkannya ke hadapan Lyra.


"Oh sayang, aku mana bisa bicara pakai bahasa Inggris." Tersenyum canggung.


"Saya dan istri saya mengucapkan selamat kepada Cecil Rudolf yang telah memasuki usia tujuh belas tahun harapannya tetaplah hidup sehat agar bisa menikmati masa-masa indah hidup ini. Terima kasih," ucap Reyhan lalu mengembalikannya kepada si penerima tamu tadi.


"Anda sangat tampan sekali Tuan." Menatap takjub kepada Reyhan.


"Terima kasih. Bolekah kami masuk sekarang?" tanya Reyhan sambil tersenyum.


"Tentu saja Tuan, nikmati dan bersenang-senanglah!" seru pria itu.


Reyhan dan Lyra pun berjalan masuk. Reyhan menggandeng tangan istrinya tanpa memberi celah sedikit pun dan itu yang membuat Lyra semakin percaya diri.


"Sayang, aku haus. Aku ambil minum dulu ya," ujar Lyra sambil berjalan menjauhi Reyhan.

__ADS_1


"Tunggu! Aku-"


"Tuan muda Reyhan," sapa Mr.Rudolf yang berjalan menghampiri Reyhan sambil menggandeng putrinya, Cecil Rudolf.


"Anda benar-benar datang. Saya sangat senang sekali." Tersenyum semringah.


"Anda terlalu berlebihan Tuan. Saya hanya sebatas tamu undangan saja," jawab Reyhan tersenyum tipis.


"Ah, tadi haus banget kenapa sih pakai tegang segala, apa karena posisinya di tengah-tengah para bule kali ya. Lebih baik sekarang aku temui Reyhan kasihan dia menunggu lama." Meletakkan gelas kosong di atas meja berjalan menghampiri Reyhan.


Dikarenakan hak tinggi yang ia pakai memiliki tumit yang lumayan tinggi membuat Lyra berjalan dengan pelan dan hati-hati. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti, ia menatap ke arah Reyhan yang sedang mengobrol dengan Mr.Rudolf.


"Pasti itu rekan kerja yang Reyhan maksud lebih tepatnya tuan rumah ini. Tapi tunggu dulu remaja yang di sebelahnya itu, anaknya kan? Yang sedang ulang tahun. Gelagatnya kok genit seperti itu? Dan juga matanya seperti mau lepas saja." Menatap kesal.


"Ya Tuhan aku lupa kalau yang sedang ia tatap itu adalah suamiku. Tidak heran dan tidak bisa dibiarkan. Ayo Lyra gandeng suamimu sekarang jauhi dari PELAKOR jahanam." Seketika berjalan menghampiri Reyhan dengan tempo yang sangat cepat.


"Sayang, maaf sudah menunggu lama." Menggenggam erat tangan Reyhan.


"Maaf ini siapa ya?" tanya Cecil menatap bingung.


"Oh maaf. Ini Lyra istri saya dia baru tiba kemarin malam," jawab Reyhan.


"Apa? Kamu sudah menikah?" tanya Cecil.


"Ya. Sayang perkenalkan dia Mr.Rudolf rekan kerjaku dan ini putrinya," ujar Reyhan sambil menatap Lyra dengan penuh kasih.


"Hai senang bertemu denganmu Mr.Rudolf. Pestanya mewah sekali," ucap Lyra seraya menyunggingkan senyumannya.


"Istri Anda sangat cantik. Tuan sangat beruntung," ujar Mr.Rudolf sambil tersenyum tipis.


"Terima kasih. Tapi maaf, menurut saya sangat tidak sopan jika Anda memuji istri orang lain," jawab Reyhan dengan memasang tatapan tajamnya.


"Ah ternyata Tuan Reyhan ini termasuk sangat sensitif ya." Tersenyum canggung.


"Tapi bisakah aku berdansa denganmu? Anggap saja itu sebagai perkenalan pertama kita antara rekan kerja atau tamu undangan." Tersenyum nakal kepada Reyhan.


"Sayang, dia mengajakku berdansa. bagaimana menurutmu?" tanya Reyhan sambil memegang pinggang Lyra dengan lembut.


Lyra tersenyum pandangannya tertuju pada Cecil yang sudah sangat menunggu Lyra mengatakan 'iya'. Lyra pun merapikan jas yang dipakai Reyhan.


"Sayang, kamu sangat tahu dengan jelas kalau aku tidak suka milikku disentuh," ujar Lyra manja.


"Maaf istriku tidak suka kalau aku disentuh dan maaf juga meski tanpa persetujuan istriku aku tetap menolaknya. Karena biar bagaimanapun aku ini pria yang sudah menikah, bukankah begitu Mr.Rudolf." Menatap ke arah Mr.Rudolf.


"Anda benar Tuan, maafkan putri saya. Nak kita pergi yuk masih banyak tamu yang harus kita sapa," ujar Mr.Rudolf mulai malu karena perkataan Reyhan barusan.


"Tapi Ayah aku-"


"Maaf Tuan silahkan nikmati pestanya kami mau sapa tamu lain dulu," ujar Mr.Rudolf


"Dengan senang hati," jawab Reyhan.


Mr.Rudolf pun pergi memaksa Cecil untuk menjauh.


"Sayang, kamu benar-benar hebat," bisik Lyra.


"Apakah ada hadiah?" tanya Reyhan sambil tersenyum nakal.


"Apaan sih enggak nyambung deh kamu." Mengerutkan dahinya, merasa kesal.


"Aku serius," jawab Reyhan singkat.


"Setiap kali dipuji pasti yang disinggung hadiah. Sangat aneh sekali suami kaya meminta hadiah kepada istri miskin. Sangat tidak masuk akal," ujar Lyra.


"Karena hadiah yang dibutuhkan suami kayamu ini ada padamu, istri miskinku." Tersenyum nakal.


"Oh begitu ya? Baiklah sekarang katakan apa itu?" tanya Lyra mulai pasrah.


"Gampang saja kamu cukup diam saja. Menerima dan hanya menerima hilangkan rasa gelisahmu karena sekarang kamu Lyra istri dari seorang Reyhan Almirza."


Sebenarnya apa sih maksud Reyhan. Dia tiba-tiba menjadi aneh begini kesambet kali ya. Batin Lyra merasa bingung dengan tingkah laku Reyhan.


Tiba-tiba alunan musik romantis pun terdengar membuat para tamu yang berpasangan menunjukkan kehebatan dansa mereka masing-masing tepat di sekitar Lyra dan Reyhan yang saling menatap dalam.


"Apa yang mereka lakukan? Para pasangan lain berdansa kenapa mereka saling menatap? Apakah ada masalah?" Seorang salah satu tamu undangan bertanya pada tamu lain di sebelahnya.


"Aku tidak tahu tapi yang pasti mereka berdua terlihat sangat bersinar. Ya ampun aku sangat iri sekali," jawab tamu undangan lain.


"Ah jadi ingat mantan. Ya walaupun tidak rupawan seperti pria itu tapi dia sangat romantis," timpal tamu undangan lain yang di sebelahnya.


Lyra menggigit bibir bawahnya yang merasa sedikit gatal. Reyhan merapikan rambut yang menutupi mata Lyra dan itu membuat istrinya tiba-tiba merasa gugup.


"Aku mau hadiahku sekarang," ujar Reyhan.


"Iya tapi ap-"


Belum selesai Lyra bicara Reyhan langsung mengecup bibir istrinya itu membuat pasangan lain berhenti berdansa bahkan lampu panggung ikut menyoroti mereka yang tengah dimabuk perasaan yang penuh cinta di setiap harinya.


BERSAMBUNG...


Hy readers terima kasih sudah mampir maaf up nya lama. Semoga tidak bosan ya. Oh ya disini saya sebagai author ingin menyarankan untuk membaca novel yang dipromosi author lain di kolom komentar anggap saja sebagai pembuang jenuh sembari menunggu novel ini up. Terima kasih sudah setia. Luv u šŸ˜

__ADS_1



__ADS_2