
Lyra memperhatikan Reyhan yang sedang bercengkrama riang bersama seorang wanita cantik bergaun putih yang memunggunginya.
"Reyhan," panggilnya pelan.
Namun Reyhan hanya melemparkan sebuah senyuman ke arahnya dan kembali lagi bercengkrama dengan wanita tersebut.
"Rey-Reyhan." Dengan terbata-bata Lyra masih berusaha memanggil suaminya itu, tubuhnya melemah dikala wanita itu membelai rambutnya. Reyhan menatap dalam, mereka pun saling mendekatkan wajahnya. Akan tetapi wanita itu sekilas menoleh ke arah Lyra betapa terkejutnya Lyra mendapati wajah wanita itu mirip dengannya.
"Tidak! Rey, aku ini Lyra. Dia perempuan jahat menjauh darinya Rey. Jangan Rey!" teriak Lyra sejadi-jadinya.
"Ah," desah Lyra, ia lega ternyata itu hanya mimpi belaka.
Dipandangnya Reyhan yang sedang terlelap tidur sambil memeluknya. Ya, ketika ia tertidur lelap tadi, Reyhan menggendong tubuhnya kembali ke dalam kamar.
Lyra menyentuh setiap inci wajah suaminya itu dengan pelan, matanya berkaca-kaca tidak bisa ia bayangkan mimpi itu menjadi kenyataan. Ia benar-benar tidak akan bisa hidup tanpa laki-laki yang di hadapannya ini.
Rey, begitu banyak wanita lain yang menginginkanmu. Apakah aku yang seperti ini yang akan tetap menjadi pemenangnya. Tidak terlalu cantik dan tidak kaya, apakah aku yang akan tetap menjadi pemenangnya. Batin Lyra menjatuhkan bulir bening dari pipinya.
Reyhan membuka matanya perlahan mendapati istrinya tengah sedang menangis. Ia pun menghapus air mata itu hingga perlahan mengering.
"Lyra, kamu tahukan aku sangat mencintaimu. Tidak akan ada wanita lain di hatiku kecuali kamu," ujar Reyhan.
Lyra terkejut mendengar perkataan Reyhan yang seolah mendengar isi hatinya tadi.
"Mau secantik dan sekaya apapun mereka. Dimataku itu tetaplah tengkorak yang dialasi dengan daging, bagiku kamu yang pantas berada disisiku. Karena mataku diciptakan hanya untuk memandangmu bukan orang lain," tambah Reyhan.
"Tapi kenapa tadi kamu diamin aku enggak jelas? Kamu pikir itu enggak menyakitkan apa," ujar Lyra.
"Kamu duluan yang enggak ada kabar," jawab Reyhan.
"Pulsaku habis jadi gimana bisa mengirimmu pesan."
"Kak Siska dan mama 'kan ada. Itu bukan alasan Lyra."
"Aku lupa lho Rey."
"Sudah ku bilang itu bukan alasan Lyra."
"Kamu ngapain naik ke atas tubuhku?"
"Mau apa lagi? Tentu saja menghukummu."
"Menyingkir Rey, ini sudah tengah malam!!!"
Tepat pukul 02.00 malam itupun berakhir seperti malam-malam manis sebelumnya.
****
Lyra memperhatikan pantulan wajahnya di cermin kamar mandi ia terus mengerutkan dahinya berdecak kesal kepada suaminya yang tersulut nafsu setiap kali melihatnya.
"Bagaimana ini? Harus ditutupi apa ya? Biar bagaimanapun pasti hilangnya bakal lama. Reyhan kamu benar-benar keterlaluan," gumamnya sambil memperhatikan leher jenjangnya yang memerah jejak keganasan Reyhan tadi malam.
Ia pun membalut lehernya lalu beranjak keluar dari kamar mandi, dipandanginya Reyhan yang tanpa memakai piyama menampilkan tubuh atletisnya, masih tertidur lelap.
Lihatlah si sombong ini pasti sedang melayang-layang di surga. Hah! lebih baik aku menyiapkan sarapan dulu. Batin Lyra lalu beranjak keluar kamar menuju dapur.
Di dalam dapur ia mendapati makanan yang ia hidangkan sudah tertutup rapi bahkan sup yang sebaskom penuh kini tinggal tulang belulang.
__ADS_1
Dia memakannya habis, tanpa tersisa. Reyhan kamu seperti zombie saja. Batin Lyra lagi sambil membuang sisa sup tersebut ke dalam tong sampah.
"Mau masak apa ya?" Memperhatikan isi kulkas.
"Ada brokoli, daging cingcang dan wortel. Kalau steak masih sempat enggak ya?" Bergumam tak menentu.
"Baiklah masak saja dulu, sebentar lagi Reyhan bangun." Menghidupkan kompor listrik dan menggoreng daging yang berukuran persegi dengan menggunakan teflon.
Ia pun duduk di atas kursi sambil memotong-motong brokoli, mengiris bawang merah-putih dan menghaluskan jahe beserta rempah lainnya.
"Mantap ini, suamiku pasti sangat suka." Tersenyum sambil menghidupkan kompor yang satu lagi hendak menumis brokoli beserta wortel.
Tak lama kemudian Lyra pun selesai menghidangkan sarapan mewah untuk suami tercintanya. Ia pun kembali ke dalam kamar hendak membangunkannya.
"Sayang, bangun sudah pagi. Nanti kerjanya telat lho," bisik Lyra pelan.
Reyhan bergeliat namun tetap tidur, Lyra dengan sabarnya tetap membangunkannya.
"Sayang, sekarang sudah pukul delapan pagi lho," bisik Lyra lagi.
Reyhan pun membuka matanya, ia menarik istrinya itu tepat di atas dadanya. Mengunci tubuh Lyra dengan kaki panjangnya.
"Sayang, lepasin nanti kamu-"
"Aku bosnya, terserahku masuk jam berapa dan terserahku juga datang atau tidak," potong Reyhan.
"Jadi maksud kamu?"
"Aku tidak masuk, karena pekerjaan rumah lebih penting," jawab Reyhan enteng.
"Pekerjaan rumah? Maksud kamu?" tanya Lyra yang menggeliat berusaha melepaskan diri.
"Sayang, aku 'kan masih datang bulan jadi tahan dulu. Mending sekarang kamu kerja gih," jawab Lyra meyakinkan.
"Hahaha..., apa yang kamu pikirkan? Aku tidak menyangka istriku sudah berubah menjadi mesum sekarang." Tertawa mengejek Lyra.
"Ih kamu ini ya, sangat menyebalkan. Lepaskan aku!" teriak Lyra namun tetap tidak digubris oleh Reyhan.
"Apa ini? Kenapa kamu memakai handuk kecil untuk membalut lehermu?" tanya Reyhan sambil menunjuk handuk yang melingkar di leher Lyra.
"Jangan! Jangan dilepas." Menahan tangan Reyhan. Akan tetapi tenaga Lyra hanyalah sebatas batu kerikil dibandingkan dengan Reyhan. Ya, lelaki itu berhasil menyingkirkan handuk itu dari leher istrinya.
"Merah?" Mata Reyhan memelotot kebingungan sementara itu, Lyra hanya menahan malu.
"Ini aku...."
"Apa itu sakit? Setan mana yang berani mencubitmu? Tunggu dulu, sampai ke payudaramu?" Reyhan memelotot sambil memperhatikan ******-****** tersebut. Ia tidak tahu itu karena ulahnya sendiri.
Reyhan pun bangkit diambilnya ponsel lalu mulai mengotak-atik ponselnya.
"Halo! Datang ke apartemenku sekarang juga." Ia menelepon dokter pribadi Marta yang berada tidak jauh dari apartemennya.
Lyra memelotot kaget atas kepolosan suaminya yang tidak tahu apa-apa mengenai jejak bibirnya itu.
"Sayang, ini-"
"Sayang, tenanglah tidak apa-apa sebentar lagi kita akan tahu penyebabnya," ujar Reyhan memotong pembicaraan istrinya.
__ADS_1
Dia ini Reyhan 'kan? Batin Lyra sambil mengeryit kebingungan.
Ting! Tong!
"Tunggu sebentar, aku bukakan pintu dulu." Beranjak keluar kamar.
"Dokter Sherin tolong istriku!" teriak Reyhan sambil menarik tangan dokter yang usianya melewati 5o-an itu.
"Iya tenanglah dulu, aku ini sudah tua mana bisa ditarik kasar begini," ujar dokter Sherin.
Reyhan melepaskan tangannya, senyum dokter Sherin mengembang seolah mengerti dengan kepanikan pemuda di depannya itu. Dokter Sherin pun masuk ke dalam kamar dan mendapati Lyra yang duduk di sudut ranjang dengan wajah yang tersipu malu.
"Hai, jangan takut saya dokter Sherin dokter pribadi Marta, mamanya Reyhan," ujar dokter Sherin sambil tersenyum.
Lyra mengangguk pelan, ia benar-benar seperti orang yang kehilangan arah karena pernyataan dokter Sherin barusan membuatnya semakin malu.
"Katakan apa keluhanmu, sayang," ujar dokter Sherin sambil duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajah Lyra.
"Tolong suruh Reyhan keluar, Dok," bisik Lyra.
"Rey, kamu keluarlah dulu, nanti hasil pemeriksaannya saya kabari." Mendorong pelan tubuh Reyhan hingga keluar dari kamar.
"Nah, sekarang dia sudah keluar. Katakanlah apa keluhanmu, cantik." Mengelus kepala Lyra dengan pelan.
"Ini Dok, sebenarnya tidak serius tapi suamiku yang polos itu, tidak tahu apa-apa jadi dia merasa heboh sendiri dan membuat repot Dokter." Menunjukkan bekas-bekas di lehernya.
"Hahaha, karena ini toh. Ya ampun, Reyhan kenapa bisa seceroboh itu sih. Hahaha tapi ini lumayan parah juga sih, apa dia itu drakula hingga harus meninggalkan jejak kepemilikan sebesar dan sebanyak ini." Menyentuh pelan leher Lyra.
"Makanya Dok dia kira ini itu penyakit," jawab Lyra malu.
"Tapi ini juga bisa menyebabkan penyakit serius lho, stroke salah satunya," ujar dokter Sherin.
"Benarkah? Kok bisa Dok?" Memelotot kaget.
"Karena setiap gerakan kuat dan mendadak yang terjadi pada leher, seperti bersin, batuk, dan tak terkecuali ciuman ****** dapat menyebabkan kerusakan pada arteri karotid berupa robekan dan cedera. Hasilnya, darah akan membeku dan tidak bisa mengalir ke otak. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya stroke." Mengeluarkan salep dan obat penghilang rasa nyeri.
"Mengerikan sekali Dok, merinding saya." Mengerutkan dahinya.
"Ini kamu minum rutin dan oleskan salep ini
juga ya, semoga cepat sembuh. Untung saja tidak sampai lecet." Mengusap rambut Lyra.
"Baiklah ingat untuk rutin minum obatnya dan usahakan mengkonsumsi buah yang mengandung banyak air. Saya pamit dulu." Menggandeng tasnya lalu beranjak keluar.
Reyhan dengan wajah cemasnya berlari memegangi tangan dokter Sherin.
"Bagaimana Dok? Apa penyakit istri saya?" tanyanya.
"Kamu ini ya. Menyuruhku datang pagi-pagi buta hanya untuk melihat itu ya," ujar dokter Sherin.
"Maksud Dokter apa?" Reyhan kebingungan dengan perkataan dokter Sherin barusan.
"Hei anak nakal, kamu menghajar istrimu sangat ganas. Tenaga apa yang kamu pakai hingga meninggalkan jejak seperti itu?" Menepis tangan Reyhan.
Reyhan menunduk malu begitu ia mengerti apa yang dimaksud oleh dokter Sherin. Wajahnya benar-benar memerah seperti tomat matang membuat senyum dokter Sherin mengembang.
"Anakku cah bagus lain kali jangan keterlaluan seperti itu lagi ya, kasihan istri kamu. Nanti bisa menyebabkan penyakit serius lho." Mencubit pelan pinggang Reyhan.
__ADS_1
"Setelah keluar dari sini, jangan lupa pintunya ditutup." Reyhan langsung berlari pelan masuk ke dalam kamar.
"Hahaha...,Marta anakmu benar-benar polos." Tertawa lalu beranjak keluar dari apartemen Reyhan.