
Lyra menyenderkan tubuhnya ke pinggiran tempat tidur. Ia tengah menunggu sang suami yang tak kunjung selesai mandi.
Lyra mengeryit mendengar percikan air yang berasal dari kamar mandi, "sudah 50 menit Reyhan di dalam! Ketiduran kali ya? Nggak mungkinlah."
Tiba-tiba Reyhan ke luar bersamaan dengan aroma harum yang berasal dari tubuhnya. Lyra terpaku pada setiap inci tubuh kekar suaminya itu.
Ditambah lagi otot-ototnya yang berbentuk kotak-kotak.
"Kamu menatapnya cukup lama lho." Tak sadar, Reyhan sudah tepat di depan wajah Lyra.
Rintikan air dari rambut Reyhan membasahi Lyra. Wanita itu menatap lamat-lamat suaminya itu. "Hidung mancung, mata bulat dan bibir sedang. Aku yakin 100 persen dia pasti mirip kamu, " Menyentuh dagu Reyhan.
Reyhan heran, "dia, siapa?"
Lyra tersenyum, "bukan siapa-siapa." Membuang muka ke segala arah.
Reyhan tersenyum, "cantik."
Lyra kembali menatap suaminya itu. "Eh!" Terkejutnya Lyra ketika Reyhan menciumi lehernya.
"Dia juga cantik sepertimu." Bisik Reyhan seolah tahu maksud Lyra sebelumnya.
Lyra tersenyum, sambil menikmati sentuhan Reyhan.
Tak terasa sudah hampir 1 tahun mereka kembali ke Jakarta. Banyak kesibukan yang mereka jalani masing-masing begitu juga peristiwa namun, cinta. mereka tumbuh semakin kuat.
Akan tetapi, ada yang masih mengganjal dalam hidup Lyra. Diam-diam wanita itu memendamnya sendiri. Ia tidak mau Reyhan semakin kepikiran. Mengingat, Reyhan yang akan didaulat sebagai direktur di perusahaan sang orang tua.
Suatu hari di taman...
"Lyra, hello!" Jentikan tangan Siska membuat Lyra terkejut lalu terpaku.
"Delapan menit! Kamu sadar nggak sih sudah melamun se-lama itu?"
Lyra meminum jeruk hangat yang sudah sangat dingin, akibat tak ia sentuh sedari tadi.
"Reyhan, Sis dia aneh," kata Lyra setelah menegak habis minumannya.
Siska mengerutkan dahi, "aneh gimana?"
Lyra melihat Siska, "dia selalu bilang kangen, padahal aku selalu di sampingnya. Dan juga, banyak hal yang kami lakukan harus bersama. Misalnya, makan, mandi dan lain-lain. Kecuali, hari ini," jelas Lyra memasang wajah serius.
"Pantas saja dia menghubungi Redro, agar aku jaga kamu. Ternyata sampai sebegitunya, ya?"
Lyra mendesah, "melihatnya begitu, aku jadi salah paham dan aku jadi takut banget." Mengangkat kedua kakinya lalu mendekapnya.
Tring!
Sebuah pesan mendarat ke ponsel Lyra.
Sayang lagi apa? Aku kangen.
Kedua mata Lyra membulat, "tuh kan lagi-lagi. Padahal baru juga berpisah." Menunjukkan isi pesan dari Reyhan.
Siska berdehem, "aku jadi ikut takut, Ra."
Lyra meletakkan ponselnya ke atas meja.
Cukup lama Lyra dan Siska berdiam diri. Seolah tengah berpikir keras tentang Reyhan. Cuitan burung-burung yang melintas tak lagi mereka pikirkan.
"Sudahlah, Rak jangan terlalu dipikirkan kamu harusnya semakin mendekatkan diri dengan Reyhan dan menjaganya. Dan 1 lagi berdoalah untuk suamimu itu." Menepuk pundak Lyra.
"Kamu benar, makasih ya Dia," jawab Lyra. Wanita itu pun bangkit dari duduknya.
"Eh mau ke mana?" tanya Siska yang terheran dengan Lyra yang hendak pergi.
Lyra tersenyum, "mendekatkan diri dengan suamiku lah. Bye...." Melambaikan tangannya.
Siska membalas senyuman dan lambaian tangan Lyra. "That's my girl, semangat cintaku."
__ADS_1
Siska kembali menyenderkan tubuhnya. Ia pun menatap ponselnya yang sepi tanpa pesan dari Redro. "Hah, aku ini berharap apa sih." Mengetikkan pesan yang ditujukan pada Redro.
Beb, semangat! Aku kangen.
Setelah mengirim pesan, Siska meletakkan pendeknya ke atas meja.
Tring!
Satu pesan mendarat yang ternyata balasan dari Redro.
Terima kasih! Apa ada yang dipesan? Nanti akan kubawakan.
Begitulah Redro, lebih kaku dari Reyhan yang manja pada istrinya. Akan tetapi, itu bukan menjadi tolak ukur karena tujuan kedua laki-laki itu sama yaitu mencintai dan menghargai pasangan mereka masing-masing dengan cara yang berbeda.
****
Lyra menatap pantulan cermin mini yang ia pegang. Wanita itu menghembuskan napasnya, sedari tadi wanita itu menahan gugup yang menderanya.
"Sudah sampai, Neng," ucap Pak Mat.
Akhirnya aku datang kemari. Mana tanpa memberi tahu Reyhan, aduh dia marah nggak ya.
Lyra berbalik hendak mengurungkan niatnya.
Tapi, sudah terlanjur. Nggak apa-apa.
"Pak, sepertinya saya akan lama. Bapak bisa pergi kalau Bapak bosan, nanti saya hubungi kalau mau pulang atau butuh sesuatu."
Pak Mat sang supir mengangguk mengiyakan.
*Baiklah, Lyra temui suami tercintamu itu. Ah, sebenarnya aku nggak pede, 1 jam lebih belajar make up dari Yutub membuatku agak takut kalau riasanku tidak cantik dan hanya mempermalukan Reyhan.
Ah, persetan dengan semua pikiran orang lain, aku hidup bukan untuk mengikuti kemauan mereka*.
Lyra kini berdiri di depan gedung yang menjelang tinggi nan luas. Gedung itu salah satu cabang dari perusahaan Almirza grup yang kini sudah sangat dikenal luas. Dan gedung ini baru saja disahkan sebulan yang lalu.
"Maaf Mbak cari siapa?" tanya seorang satpam, matanya tampak menyelidik.
"Oh, Mbak ini siapa-
Lyra berdehem, "saya istrinya," potong Lyra, lagi-lagi masih gugup.
Sang satpam tersenyum, "mari, Bu silakan masuk."
Lyra dan satpam tersebut pun masuk. "Bu, Tunggu sebentar, saya akan menanyakan ruangan pak Reyhan dulu."
Lyra mengangguk lalu sepeninggalan sang satpam ia mengatur napas agar setenang mungkin.
"Permisi Bu, dia Siska bagian pelayanan tamu. Beliau yang akan mengantar Ibu," ujar Satpam ramah.
Siska? Nggak heran sih. Pasti banyak yang sama begitu juga dengan namaku.
Lyra mengangguk, "makasih Pak."
"Ayo Bu, mari," ajak Siska.
Lyra lalu berjalan mengikuti Siska.
Tiba-tiba...
"Lihat, wanita itu nggak? Dia istri pak Reyhan."
"Benarkah? Pantas Pak Reyhan sikapnya cuek gitu sama wanita di sini istrinya cantik banget."
Aku? Cantik?
15 menit kemudian.
"Ini ruangannya, Bu. Silakan masuk, sepertinya sebentar lagi Pak Reyhan datang biasanya mereka meeting berkisar 2 jam," jelas Siska.
__ADS_1
"Du, dua jam?" Lyra memelotot heran.
Siska mengangguk, "iya, Bu tapi sejauh ini karyawan tak ada yang mengeluh. Karena gaji kami juga nggak main-main dan juga itu hanya dilakukan setiap hari senin jadi tidak apa-apa. Apa Ibu butuh sesuatu?"
Lyra menggeleng, "tidak, terima kasih Siska," jawab Lyra lembut.
Siska terkejut, "wah, Ibu ingat nama saya? Senangnya.... "
Lyra membuka tas mini yang ia bawa, "ini untukmu." Memberikan cokelat yang kebetulan ia bawa.
Siska tertawa kegirangan, "terima kasih Bu, ini kan cokelat premium?"
"Baiklah saya masuk dulu. Maaf mengganggu pekerjaan kamu," ujar Lyra lalu masuk ke dalam ruangan Reyhan.
Lyra menghela napasnya yang sedari tadi gugup. Ia masih berdiri di depan pintu dan enggan masuk karena suaminya tidak ada di sana.
Klak! Pintu terbuka ternyata itu Reyhan. Lelaki itu pun mengunci pintunya.
"Kenapa nggak kasi kabar kalau mau datang?" Reyhan memeluk Lyra dari belakang.
Aduh kenapa aku gugup lagi sih. Padahal udah ketemu. Lyra, Reyhan itu suamimu loh.
"Maaf, aku-"
"Wangi." Reyhan mencium rambut Lyra yang lembab.
"Ah, Rey kamu... ini di kantor loh!" Lyra menggeliat ketika Reyhan menghujani lehernya dengan kecupan-kecupan masih dengan posisi dari belakang.
Wanita itu berusaha melepaskan diri dan akhirnya bisa ketika ia menggigit tangan Reyhan.
Lyra pun berbalik, "Rey kamu jangan membuat malu mama dong! Kamu ini kan pemimpin!" Memelototi Reyhan.
"Aku kangen," ucap Reyhan lalu mengecup tangan Lyra.
Lagi-lagi dua kata itu.
"A-aku juga." Menyentuh pipi Reyhan.
Reyhan tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya pada Lyra kemudian mereka pun berciuman dengan perlahan.
1 jam kemudian...
"Turunkan aku, Rey." Lyra meronta-ronta ketika Reyhan memangkunya.
"Kamu memakai make up?" tanya Reyhan sambil memperhatikan lamat-lamat wajah Lyra.
Aduh, kenapa dibahas segala sih?
"Iya, kenapa? Kamu nggak suka?" tanya Lyra.
Reyhan mengelus pipi Lyra. "Kamu cantik, tentu saja aku suka."
Lagi-lagi... Membuat aku berdebar.
"Tapi, aku tidak ingin berbagi," lanjut Reyhan.
Lyra mengeryit, "berbagi?"
"Sayang, aku ingin kecantikanmu ditunjukkan untukku saja. Aku tidak mau diperlihatkan pada orang lain. Kamu tahu kan, suamimu ini sangatlah percemburu." Lagi-lagi sikap manja Reyhan pun keluar.
"Aku cuma pengin terlihat saja, maksudku suamiku seorang Reyhan sedangkan aku hanya Lyra yang tak dianggap." Kini, Lyra tak kalah terdengar manjanya.
Reyhan pun menarik Lyra ke dalam pelukannya, lalu mengusap-usap rambut panjang istrinya tersebut. "Baiklah, maafkan aku. Lakukanlah apa yang membuatmu bahagia."
Lyra menutup kedua matanya menikmati usapan lembut suaminya itu.
Kamu terlalu cantik hingga membuatku salah tingkah setiap melihatnya ditambah riasan seperti ini. Dan tentu saja, aku juga tak ingin orang lain memperhatikanmu dan aku takut suatu hari nanti kamu berpaling dariku.
"Sayang, sebenarnya aku juga kangen sama kamu, makanya aku datang. Aku memakai riasan, agar orang-orang tahu istri Reyhan Almirza itu cantik dan tidak ada yang akan merebutmu dariku. Aku begini juga karena takut kamu akan berpaling."Lyra semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Perkataan Lyra berhasil membuat Reyhan terpana. Senyumannya mengembang, begitu pula dengan wajahnya yang memerah bersemu malu.