MY BERONDONG

MY BERONDONG
KEJUTAN UNTUK REYHAN......


__ADS_3

Siska bangkit mencoba meringankan tubuhnya yang bergetar dan kaku tanpa basa-basi diambilnya sabuk pengaman dan langsung memakainya, sementara itu Lyra hanya memelotot ke arahnya, masih tidak percaya dengan tontonan yang ia lihat tadi. Berbeda dengan Siska dan Lyra, Redro tampak tenang menyetir mobil seperti tidak ada yang terjadi.


Benar-benar di luar dugaan. Batin Lyra.


Sesampainya di sekolah setelah melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu Siska langsung menapaki kakinya keluar dari mobil tanpa mengucap salam ia pun berlalu. Lyra hanya memandanginya dari belakang mengerti bahwa sahabatnya itu tidak dalam mental yang stabil.


"Nona mau menemui den Reyhan ya?" tanya Redro melihat dari kaca mini yang berada di depannya. membuat Lyra berhenti melihat ke arah Siska.


Dengan sedikit gugup Lyra menganggukan kepalanya.


Aku rasa Siska benar-benar menyukainya. Batin Lyra sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil.


Drrrrrrrrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrrrrrt


Ponsel Lyra bergetar pertanda pesan masuk dan itu dari Reyhan.


Sudah bangun?


Lyra tersenyum. Dia enggak pernah mengirim pesan kata singkat, enggak mungkin kan dia enggak tahu soal itu. Batin Lyra.


Lyra sapi bunting bangunlah sudah pagi jangan sampai aku yang datang kesana. Kalau itu terjadi, kamu tahu 'kan aku tidak akan berbaik hati.


Ya ampun anak nakal ini membuat pikiranku kotor saja. Batin Lyra.


Lyra memutuskan untuk membalasnya.


Ada apa? Kamu rindu padaku ya?


Drrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrt


Panggilan telepon dari Reyhan membuat Lyra tak bisa berkata-kata, tanpa pikir panjang dia menolaknya.


Kenapa di reject?


Lyra kembali tersenyum ia mengelus-elus ponselnya bingung dibalas atau tidak pesan dari Reyhan tersebut dan akhirnya diabaikan olehnya. Tak lama kemudian Reyhan mengirimnya poto keadaannya saat ini.



Lyra melihat tak berkedip, dibukanya tas sandang miliknya lalu meraba-raba cermin mini yang biasa ia bawa kemana pun ia pergi.


"Ehm cowoknya ganteng ceweknya juga harus terlihat cantik bukan," ucapnya sambil merapikan rambutnya.


Hah kenapa jadi gugup begini padahal sudah sering ketemu harusnya terasa biasa tapi aku merasa hatiku seperti membeku. Batinnya sambil menggenggam erat ponselnya.


"Nona kita sudah sampai," ujar Redro ramah sambil bersiap akan membuka pintu.


Lyra langsung membuka pintu dan bergegas keluar.


"Lain kali jangan perlakukan aku secara formal seperti itu ya. Kita ini sama, saya dan Reyhan saja yang berbeda jadi tolong kerja samanya," ucap Lyra dengan senyuman yang terlukis di wajahnya.


Redro mengangguk, Lyra berjalan dari halaman ke dalam rumah Reyhan yang setiap langkahnya dipenuhi oleh debaran-debaran yang mengganggu.


"Neng Lyra, tumben pagi-pagi sudah datang kemari, silahkan masuk Neng." Pak Mat yang biasanya selalu duduk di ruang tengah menyambutnya dengan hangat membuat Lyra semakin tidak bisa mengendalikan rasa gugupnya.


"Pak, Reyhannya sudah bangun belum ya," bisik Lyra pelan.


Pak Mat tersenyum mengerti bahwa tujuan Lyra ingin memberikan kejutan kepada majikan kecilnya itu.

__ADS_1


"Aman Neng, langsung masuk saja den Reyhan masih molor. Ini kunci duplikatnya hati-hati ya jangan sampai ketahuan." Pak Mat membalas bisikan Lyra sambil mengacungkan jempolnya.


Lyra semakin bersemangat berhasil tidaknya kejutan ini membuatnya pasrah. Akan tetapi rasa gugupnya tak kunjung hilang, ia pun membuka pintu dengan memakai kunci duplikat yang diberikan oleh pak Mat. Lyra berhasil masuk ke dalam kamar Reyhan dilihatnya Reyhan dengan wajah polos serta laptop di sampingnya.


Reyhan memang seorang pelajar yang baik. Batin Lyra sambil menikmati sejuk dan harumnya kamar Reyhan, ia berjalan mendekatinya dan mengelus rambutnya akan tetapi tidak disangka Reyhan langsung menangkap tangannya dan membalikkan tubuh Lyra hingga berada tepat di bawah tubuhnya.


"Lyra." Reyhan menatap tidak percaya.


"Ah jantungku hampir saja mau copot lepaskan tanganku! Aku mau duduk," kata Lyra dengan suara yang dipaksa.


"Tidak segampang itu, pagi-pagi buta kamu masuk ke dalam kamar seorang pria. Lyra sejak kapan otakmu mesum seperti ini ?" tanya Reyhan sambil menahan tangan Lyra.


"A-aku datang cuma mau memberimu bekal enggak lebih. Sudah lepaskan aku dulu enggak baik kalau ada yang lihat," jawab Lyra sambil berusaha melepaskan tangan Reyhan.


"Kamu harus dihukum, baru aku lepaskan," ujar Reyhan.


"Apa? Baik hukum aku," kata Lyra sambil memejamkan kedua matanya bersiap mendapat hukuman dari Reyhan akan tetapi persepsinya terhadap Reyhan salah.


Reyhan melihat Lyra dengan mata yang masih berkedip membuatnya tersenyum ditepikannya rambut yang menghalangi wajah kekasih tercintanya itu.


Dia memakai riasan seperti ini untuk menemuiku, benar-benar cantik. Batinnya sambil melepas tangan Lyra.


Lyra membuka matanya menatap heran pada Reyhan.


"Kenapa enggak jadi? Tadi kamu begitu bersemangat mau menghukumku, takut ya," ejek Lyra.


"Takut, apa aku orang yang seperti itu? Hukuman yang pantas untuk seorang Lyra si penguntit tunggu nanti setelah kita menikah," jawab Reyhan.


Hah, lagi-lagi dia menggodaku. Batin Lyra.


"Kamu mau kemana?" tanya Lyra.


"Ih dasar mesum!" teriak Lyra sambil melemparkan bantal ke arah Reyhan.


Lyra berjalan menuruni anak tangga dengan pelan. Sesekali ia berhenti memperhatikan corak di pinggiran


tangga tersebut.


Enak ya jadi Reyhan udah kaya, pintar, ganteng lagi


tapi kenapa dia malah suka sama aku yang biasa dan enggak ada kelebihan sama sekali ya, gumam Lyra.


"Lagi mikirin apa?" bisik Reyhan berada tepat di belakang Lyra.


"Ahhh!" teriak Lyra.


"Ada lagi enggak teriakan yang lebih indah didengar. Telingaku sepertinya sudah terbiasa," ujar Reyhan.


"Siapa suruh mengagetkan aku. Karena kamu sudah selesai kita berangkat yuk, hampir telat nih," ajak Lyra sambil melirik ke arah jam tangannya.


"Bukannya kamu bilang tidak bisa menemaniku pergi?" tanya Reyhan kebingungan.


Lyra menghentikan langkahnya meletakkan tangan di dagunya sambil berpura-pura berpikir.


"Hmm kapan ya aku bilang begitu, sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Pacarku ada pekerjaan seperti ini, kalau aku bisa menemani kenapa enggak," jawab Lyra sambil menarik Reyhan.


"Tunggu sebentar, ada yang ingin aku bicarakan dengan Redro," kata Reyhan sambil berjalan ke arah Redro yang sedang berdiri di halaman depan.

__ADS_1


Selama berbicara dengan Redro Lyra memperhatikan mimik wajah Reyhan yang serius terlihat sangat berbeda di saat berbicara dengannya. Bahkan tatapan Reyhan pada Redro sangat tajam terlihat seperti sosok yang kejam. Tak hanya itu gaya berdiri Reyhan pun terlihat sangat berbeda, tampak tegap dan angkuh. Intinya interaksi Reyhan dengan orang lain sangat berbeda dengan interaksinya dengan Lyra.


Tampak 2 orang yang berbeda.


Di dalam mobil Lyra tak henti-hentinya melirik ke arah Reyhan yang sedang menyetir dan tentu saja Reyhan mengetahuinya.


"Apa ada yang mau kamu katakan?" tanya Reyhan mencoba menyadarkan lamunan Lyra.


"Hmm enggak tuh, memangnya kenapa?" tanya Lyra balik.


"Kamu menatapku seperti singa yang mencari peluang untuk menerkam mangsanya," jawab Reyhan.


Lyra mengerti, diahlikannya pandangannya ke depan sambil mengerutkan dahinya.


"Kamu marah?" tanya Reyhan.


"Buat apa, hanya akan menambah kerutan diwajahku saja, rugi dong." Lyra meraih minuman yang berada di depannya yang dengan cepat ditepis oleh Reyhan hingga minuman itu pun terjatuh.


"Kamu kenapa sih?" tanya Lyra terkejut melihat perbuatan Reyhan.


"Itu minuman Redro jangan disentuh," jawab Reyhan pelan.


"Iya kamu kan bisa mengatakannya dari awal," kata Lyra.


"Sejak kapan tanganmu menyentuh barang yang bukan milikmu?" tanya Reyhan sambil menghentikan mobilnya lalu berjalan keluar.


Kenapa jadi dia yang marah? Batin Lyra.


Tak lama kemudian Reyhan kembali dengan membawa minuman serta beberapa cemilan membuat Lyra memelotot heran.


"Minumlah! Lain kali hal seperti yang tadi jangan diulangi lagi." Reyhan memberikan minuman mineral pada Lyra.


"Terima kasih," ucap Lyra.


"Kedengarannya tidak cukup tulus," ujar Reyhan.


"Terima kasih ya Reyhan yang ganteng, yang baik dan suka menabung," ucap Lyra lagi.


"Mengatakan pujian seperti itu, apa kamu pikir pacarmu masih balita ya?" tanya Reyhan sontak membuat Lyra tertawa.


Tak terasa akhirnya Reyhan dan Lyra pun sampai ke tempat tujuan, Lyra yang sebelumnya tidak pernah melihat proses pembuatan film di belakang layar membuatnya kebingungan.


Reyhan dan Lyra menghampiri Mely yang sedari tadi menunggu mereka.


"Oh ya Tuhan. Aku pikir kalian enggak jadi datang," ujar Mely.


"Maaf tadi kami-"


"Nama kepanjangan kamu siapa sih ?" tanya Mely memotong perkataan Lyra.


"Reyhan Almirza," ketus Reyhan.


"Baiklah Reyhan Almirza ikutlah denganku. Akan aku kenalkan dengan sutradara dan fotografer pemotretan hari ini," ajak Mely seraya berjalan dan diikuti oleh Reyhan dan Lyra.


Reyhan menggenggam tangan Lyra dan itu pertama kalinya selama mereka pacaran, mereka sama-sama tersenyum dengan adegan saat itu.


Sesampainya di depan ruangan khusus sutradara, Mely menyarankan Lyra untuk menunggu di luar karena hanya yang bersangkutanlah yang wajib masuk. Dengan berat hati Lyra melepaskan genggaman tangan Reyhan dan mendorong paksa Reyhan masuk ke dalam.

__ADS_1



BERSAMBUNG......


__ADS_2