
"Redro, bisakah kau mengambil fotoku di sini," ujar Reyhan sambil berdiri di balkon apartemennya.
Redro terdiam sejenak, ia mencoba mencerna perkataan Reyhan barusan karena tidak mungkin seorang Reyhan menyempatkan diri untuk hal-hal seperti itu.
"Sampai kapan kau berdiri di sana? Kau tidak dengar perkataanku ya?" Memelotot heran melihat ke arah Redro yang tetap berdiri dengan tegapnya.
"Aden meminta saya ambil foto ya?" tanya Redro.
"Iya, kau beneran tidak dengar ya?" Menggaruk pelan kepalanya untuk menghilangkan rasa malu.
"Ah baiklah, akan saya ambilkan." Berjalan mengambil ponsel Reyhan yang tergeletak di atas meja.
"Katakan bagaimana posenya?" Mulai memilih gaya.
"Saya juga tidak tahu Den, karena saya tidak pernah mempelajarinya juga."
"Kau ini sangat kolot sekali, padahal selfi kan lagi tren di zaman sekarang." Menatap kesal pada Redro.
Den Reyhan, kalau tahu kenapa harus minta pendapatku. Batin Redro mulai frustasi dengan tingkah majikannya itu.
"Baiklah, kau poto sembarang saja, yang penting muka ku terlihat jelas dan jangan buram."
"Iya Den, saya akan beri aba-aba satu, dua, tiga."
Cekrekkk
"Coba aku lihat." Melambai tangannya menyuruh Redro berjalan mendekatinya.
Redro pun menunjukkan poto yang ia ambil tadi.
__ADS_1
"Hmmm, lumayan baiklah poto sekali lagi, ah! Ini sudah mulai panas aku duduk dulu. Ha mulailah mengambil poto." Duduk di atas kursi sambil mengatur pose.
"Satu, dua, tiga."
CEKREKKK
"Sudah Den, apa perlu mau dilihat lagi?" tanya Redro sambil memberikan ponsel Reyhan.
"Tidak, kau simpanlah dulu. Ayo kita berangkat akan kita basmi para petuah yang serakah itu." Bangkit dari duduknya kemudian berjalan masuk menuju lantai bawah dan diikuti oleh Redro.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Washington DC, AMERIKA SERIKAT
11.50 AM
"Nyonya Marta, kami sangat menghormatimu karena anda istri dari pemimpin pertama perusahaan ini. Tapi mengingat akan kesehatan anda ini sangat mustahil sekali bisa memimpin lebih lama lagi. Oleh karena itu kami semua sepakat untuk mencari kandidat baru." Seorang pria paruh baya mulai mengemukakan pendapatnya. Terlihat sekali ia begitu ambisius untuk menggeser posisi Marta selaku pimpinan Almirza grup.
"Jadi, apa kalian sudah memilih para kandidatnya?" jawab Marta lembut.
"Tentu saja, Bobby anak saya akan ikut serta menjadi kandidatnya," jawabnya sinis.
"Saya juga punya punya kandidat, anak saya sebentar lagi akan tiba ia baru saja menyelesaikan study S2 nya. Dan kebetulan juga dia mengambil jurusan manajemen bisnis, seratus persen saya sangat yakin dia baik untuk menggantikan Nyonya Marta," sahut salah pemegang saham lainnya. Ia juga terlihat tak kalah sombongnya, mendongakkan kepala ke atas merasa begitu hebatnya ketika ia menceritakan tentang anaknya.
Semua orang sibuk berbisik satu sama lain, hanya Marta yang terlihat tenang. Sebenarnya ia sudah tidak berharap lagi jika Reyhan yang menjalankan perusahaan, ia tidak mau memaksanya. Akan tetapi, mengingat hasil kerja keras Reygan suaminya sewaktu dahulu, membuatnya kembali diserang dilema perasaannya seakan diaduk bukan karena tak rela namun ia lebih percaya kalau Reyhan lah yang pantas menjadi penggantinya menjadi pimpinan grup Almirza selanjutnya.
Marta menyeruput minumannya hingga habis, lalu ia menyenderkan kepalanya ke sisi kursi kuasa tertinggi yang saat ini masih miliknya. Tak seorang pun dari para pemegang saham yang menegurnya karena merasa bahwa Marta akan turun tahta, dan mereka meremehkannya sekarang. Sebagian dari mereka seperti meliriknya lalu terkekeh, entah apa yang mereka bicarakan Marta sudah tidak peduli lagi.
Tiba-tiba seorang penjaga luar masuk lalu membisikkan sesuatu ke telinga Marta, ia memelototkan kedua matanya menanggapi perkataan penjaga tersebut.
__ADS_1
"Baiklah suruh mereka masuk!" perintah Marta. Sang penjaga pun keluar untuk menjalankan perintah dari Marta.
Tak lama kemuadian lima orang masuk ke dalam ruangan empat orang lelaki dan satu perempuan muda.
Sebagian dari mereka tampak tersenyum semringah. Hanya Marta yang hatinya sudah mulai cemas namun tetap ditutupi senyuman yang mulai canggung. Ia mulai menatapi wajah-wajah muda kandidat yang disarankan oleh para pemegang saham untuk menggantikannya sebagai pemimpin perusahaan.
"Nyonya Marta, ini anak saya yang saya bicarakan tadi namanya Roise Noe. Nilai tertinggi di dalam jurusan manajemen bisnis dan S2 nya akan dipastikan tahun ini selesai," ujar pria para paruh baya salah satu pemegang saham.
Lelaki yang dimaksud oleh pria paruh baya tadi pun berdiri dan menunduk memberi hormat kepada Marta serta yang ada di dalam ruangan tersebut. Ayahnya tersenyum bangga melihat perawakan yang ditunjukkan oleh anak lelakinya itu.
"Dan ini anak saya Bobby Marelo, sama seperti Roise Noe ia juga mengambil jurusan manajemen bisnis dan mereka berdua juga sama-sama dari columbia university. Hanya saja anak saya nilainya lebih tinggi di atas Roise Noe. Bukannya saya mau melebih-lebihkan sudahlah lupakan saja ha ha ha." Salah satu pemegang saham lainnya pun mengenalkan putranya dengan sedikit sombong dengan prestasi anaknya yang lumayan dibandingkan dengan putra temannya tadi. Dan keduanya pun mulai bersaing anak siapa yang akan menjadi penganti Marta Arnelita.
"Hmmm maaf mama saya tidak bisa hadir karena ada urusan sengit di Indonesia, halo semua saya Zavica Ardisyah putri tunggal dari almarhum Ardisyah dan dokter Fiona. Saya memang masih berusia 18 tahun tapi saya sudah mempelajari bisnis di sela-sela waktu jam sekolah saya. Jadi dibandingkan saudara-saudara yang tadi saya memang belum cukup matang tapi bukankah usia tidak mengukur kepintaran seseorang. Kita memang tidak bisa menjamin tapi, dalam hal ini saya tidak akan menyerah jadi, mohon dukungannya," ujar seorang perempuan muda yang disambut senyum masam dari para pemegang saham meremehkannya dari awal ia masuk. Berbeda dengan Marta yang termangu menatapnya cukup dalam karena ibu dari perempuan yang bernama Vica itu adalah sahabat dekatnya sewaktu SMA dan mantan kekasih Reygan Almirza. Tetapi Fiona justru menjadi dokter kepercayaan Reyhan anaknya dan menjadi sahabat kecil Vica putri Fiona. Kisah mereka memang terbilang cukup rumit namun itulah kenyataannya.
CEKLEK!!!
Sosok Redro membuka pintu dan masuklah Reyhan Almirza yang membuat orang-orang tersebut terkejut dan melongo menatap kagum dengan fisik Reyhan.
Marta tak kalah terkejutnya melihat kedatangan anaknya yang memakai setelan jas dilengkapi oleh dasi yang membuatnya cukup terharu.
"Maaf saya terlambat," ujar Reyhan membuyarkan lamunan mereka.
"Maaf Nak! Siapa kamu?" tanya salah satu pemegang saham.
"Oh memang tidak ada yang mengenali saya ya." Reyhan terkekeh.
"Perkenalkan! Saya Reyhan Almirza anak tunggal dari Reygan Almirza dan Marta Arnelita," tambah Reyhan sambil membungkukkan kepalanya.
Perkenalan Reyhan disambut heboh oleh para pemegang saham, sebagian dari mereka ada yang hanyut dalam lamunan memperhatikan setiap inci wajah Reyhan dan sebagian resah gundah gulana seolah tidak percaya sosok yang misterius yang selalu dirahasiakan fisik dari pewaris utama di perusahaan itu muncul secara tiba-tiba. Mereka mendapatkan kejutan yang luar biasa.
Vica menatap dalam ke arah Reyhan, ia merasa telah berkhianat kepada sahabat SMP nya itu. Tapi dibalik itu sebenarnya Vica memiliki alasan yang bersifat rahasia yang memilih dirinya untuk tetap bungkam dan tampak menjadi sangat kejam.
__ADS_1
"Maaf Nyonya Marta, bukannya saya tidak setuju dengan tuan muda Reyhan ini. Tapi dengan usia nya yang masih sangat muda belum pantas untuk memimpin perusahaan meskipun dia ahli waris dari tuan Reygan Almirza. Ini sangat mustahil sekali." Seorang pemegang saham pun memberikan komentarnya terhadap Reyhan. Berusaha untuk menghalangi pengangkatannya sebagai pemimpin utama.
Marta terdiam sejenak, ia mengerti apa yang dipikirkan oleh pria paruh baya itu. Akan tetapi, usia Reyhan memang tidak memungkinkan untuknya memimpin perusahaan.