
Reyhan memijat pelipisnya, sesekali ia menguap. Ia paksa matanya menatap komputer yang sedari tadi menyala. Lelaki itu tengah memantau perkembangan perusahaannya.
Lyra menghampiri suaminya itu sembari membawa segelas susu di tangannya. "Sayang, sudah malam bobo yuk!" Lyra mengelus kepala Reyhan.
Reyhan mengangguk sambil tersenyum. Wajahnya yang semula terlihat serius itu sirna ketika melihat istrinya.
Di dalam kamar, Reyhan berbaring di pangkuan Lyra. Lelaki itu mengelus lembut perut sang istri. "Hai, gadis kecil kelak tumbuhlah menjadi cantik seperti mama Lyra ya."
Lyra tertawa, "bagaimana bisa, kamu tahu dia perempuan usianya saja baru 5 minggu Rey."
"Tentu saja aku tahu, aku yang menabur benihnya."
Suara ketawa Lyra semakin keras, dan itu membuat Reyhan terkejut.
"Eh, maaf suaraku terlalu kencang ya. Kamu sih, tengah malam begini sempat-sempatnya melawak." Mengusap-usap kepala Reyhan.
"Teruslah begitu, teruslah tunjukkan wajah bahagiamu. Kamu terlihat cantik."
Wajah Lyra bersemu merah, wanita itu tengah salah tingkah sekarang. Reyhan bangkit, lalu mengecup puncak dahi istrinya itu. "Aku nggak akan pernah bosan mengatakan ini, Lyra aku mencintaimu. Cintaku akan bertumbuh besar setiap harinya."
Lyra memeluk Reyhan, "aku juga begitu, tapi aku terlalu kaku mengatakannya. Maafkan aku."
Reyhan tersenyum, "apa sudah mengantuk?" tanya Reyhan sembari melihat jam dinding. Jarum jam itu menunjukkan pukul 12.00 malam.
Sebenarnya, Reyhan sudah mengantuk berat. Akan tetapi, melihat istrinya yang tidak bisa tidur sama sekali membuatnya berinisiatif untuk menemaninya.
Namun, tetap saja Lyra tidak bisa tertidur. Kedua matanya masih membulat segar.
"Entah kenapa, aku ingin kamu menceritakan perasaanmu padaku. Perasaan saat kita pertama kali bertemu dan kapan perasaan sukamu tumbuh," ujar Lyra.
Reyhan tersenyum, baiklah, aku akan menceritakannya. Tapi, bisakah kita baring dulu?".
Lyra tampak bersemangat, ia pun berbaring. Reyhan menyelimuti istrinya itu, ia pun menyenderkan punggungnya ke headboard ranjang.
"Sebenarnya, pertama kali melihatmu aku merasa kalau kamu itu seorang perempuan yang keren," ujar Reyhan memulai ceritanya.
Sontak kalimat yang Reyhan lontarkan membuat tawa Lyra meledak. "Keren? Nggak salah itu!"
"Iya, disaat orang-orang menghindari tawuran kamu malah mendekat dan membantuku. Bagiku, itu keren."
Mendengar perkataan Reyhan, seketika Lyra bersemu malu. "Padahal waktu itu, sebenarnya aku kesal bisa-bisanya kalian tawuran menghambat pekerjaan orang-orang saja. Hai! Banyak pihak yang dirugikan, tahu kayak aku yang nggak bisa antar laundry pelanggan. Untungnya pelanggan itu bisa maklum itu pun karena paman memberikan layanan gratis."
"Benarkah? Aku jadi tidak enak hati."
Lyra tersenyum, "sudahlah, lagipula semua sudah terjadi lama juga."
Reyhan mengangguk mengiyakan. Ia terus mengusap puncak kepala Lyra membuat wanita itu merasa nyaman.
Malam semakin dingin, namun pasangan suami istri itu malah tidak semakin tidak bisa tidur.
"Kenapa waktu itu menerimaku? Padahal, sebelumnya perkataanmu cukup meyakinkan saat menolak perasaanku."
Lyra terkekeh, "gimana ya, sebenarnya aku itu sudah suka sama kamu. Gila banget, kalo aku nggak suka. Sekelas Reyhan masa sih ada yang nggak suka, ya kan?"
Reyhan mengerutkan dahinya, sedikit kesal saat Lyra terdengar meledeknya.
__ADS_1
"Aku menolakmu karena itu. Aku, tidak suka berhubungan dengan orang yang terlalu mencolok. Seperti kamu yang sangat populer." Suara Lyra kali ini terdengar begitu dalam.
Tiba-tiba suasana seketika berubah hening.
"Tapi, saat kamu tidak masuk sekolah, entah kenapa aku merasa kesepian. Aku langsung sadar saat itu aku benar-benar merindukanmu. Dan, saat aku menjengukmu, jantungku selalu berdegup kencang. Aku tak kuasa menahannya hingga tak sadar aku mengatakan itu."
Tiba-tiba bayangan Lyra yang mengatakan perasaannya muncul, membuat Reyhan tersenyum kecil.
"Jujur, aku sangat gugup kukira kamu akan langsung mengatai aku dan juga reaksimu cukup menyebalkan. Tapi, setelah mengatakannya lega banget rasanya. Sebenarnya, ada hal yang sangat kuyakini tentang hubungan kita."
"Apa itu?" tanya Reyhan, penasaran.
Lyra menyentuh hidung Reyhan, "hal yang kuyakini saat itu hubungan kita hanyalah sesaat saja. Karena, kukira kamu kan masih kecil dan populer juga. Jadi, kukira paling perasaanmu hanya bersifat sementara karena posisimu sebagai seorang remaja yang sedang mengalami masa pubertas." Kali ini tangan Lyra berpindah ke pipi Reyhan.
Kini, Lyra terlihat sudah mengantuk wanita itu beberapa kali terlihat menguap namun masih enggan untuk tidur.
"Oh, ya kenapa sih kamu menyukaiku?" tanya Lyra.
"Aku penasaran," jawab Lyra dengan suara memelas, karena terlihat jelas Reyhan malas menjawab pertanyaan Lyra.
Reyhan menghela, "pertama karena kamu menolongku. Jadi, aku punya alasan menyukaimu yang pertama baik hati dan juga kamu... cantik."
"Hahaha... kamu selalu saja mengatakan itu. Reyhan yang tampan, aku ini cantik darimananya sih?" Menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mendengar tawa Lyra yang sangat menggelegar membuat Reyhan tersenyum puas. "Tetaplah tertawa lepas seperti ini, kecantikanmu semakin terlihat berkali-kali lipat."
Suara tawa Lyra terhenti, "sudah ah, aku mau tidur dulu. Entah sejak kapan aku cantiknya."
Lyra bangkit dan berbaring kembali kali ini ia memakai bantal begitu juga dengan Reyhan yang ikut berbaring. Mereka saling berhadapan, Reyhan lagi-lagi mengusap lembut dahi istrinya itu. Kedua mata Lyra pun perlahan-lahan terpejam.
"Kamu cantik, sangat cantik apalagi saat itu... saat pertama kali aku melihatnya dengan jelas. Kamu tidak akan pernah tahu, karena itu berada di bawah alam sadarku. Ya, itu terjadi disaat aku mengalami mimpi basah pertama kalinya." Reyhan tersenyum teringat akan dirinya yang seperti remaja pada umumnya,, mengalami mimpi basah.
Reyhan tiba-tiba berada di sebuah istana yang luar biasa megahnya. Remaja itu, terus berjalan mencari arah pulang. Akan tetapi, lelah mencari namun jalan keluar tak ia temukan sama sekali.
"Tempat apa ini?" Reyhan bergumam.
Tiba-tiba, ada sesosok berdiri tengah memperhatikannya. Sosok itu, berdiri tepat di belakangnya. Reyhan menoleh, ia terkejut melihat sosok yang jelas ia kenal.
"Lyra," panggil Reyhan.
Lyra tersenyum, "hai Reyhan," jawabanya lembut.
Reyhan terpaku, Lyra terlihat sangat cantik. Wanita itu memakai gaun putih serta mahkota bak seorang putri. Lyra melangkah menghampiri Reyhan.
"Rey, aku suka kamu," ucap Lyra dengan senyuman manis.
Reyhan tertawa, "bukankah waktu itu kamu bilang, kalau-"
Lyra menutup bibir Reyhan dengan jari telunjuknya.
"Dari awal orang yang aku suka adalah kamu Rey," bisik Lyra. Lelaki itu tak bisa berkata-kata, ketika tiba-tiba Lyra mengecup area sensitif Reyhan yaitu telinganya.
"Lyra, kamu-"
Lyra mencium bibir Reyhan, awalnya Reyhan terkejut akan tetapi, perlahan ia menikmatinya. Lelaki itu mulai menciumi leher Lyra, membuat wanita itu mendesah
__ADS_1
Dan sesuatu yang semakin intim pun terjadi. Dan saat itulah, Reyhan terbangun dan menyadari peristiwa yang ia alami barusan adalah semua mimpi.
Kembali ke kehidupan sebenat
"Dan wanita itu, kini berada tepat di hadapanku. Wanita cantik ini sudah mencairkan hatiku yang beku dan mewarnai hidupku yang penuh dengan kegersangan." Mengusap lembut pipi Lyra, sekilas wanita itu tersenyum menikmati usapan tersebut.
Tiba-tiba Reyhan tersentak, ia terlihat mengingat akan sesuatu. Segera, ia ambil pendeknya lalu menghubungi Redro.
"Ya, apa sudah ada perkembangan? Di mana keparat itu! Bisa-bisanya dia mengelabui semua tim. Besok, kau suruhlah Siska kemari. Aku akan bergabung dengan tim." Setelah memutuskan panggilan, Reyhan kembali meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Sayang, kenapa belum tidur?" tanya Lyra dengan suara yang serak.
Reyhan menoleh, lalu tersenyum, "ini juga mau tidur, kenapa terbangun?" Menyentuh pipi Lyra.
"Hoam, aku haus," jawabnya dengan suara memelas.
"Sebentar, aku ambilkan minum ya." Reyhan bangkit kemudian mengambil air hangat dari atas meja.
Lyra segera meneguk minumannya hingga tandas lalu memberi gelas itu pada Reyhan kemudian kembali membaringkan tubuhnya.
Kini, mereka saling bertatapan Reyhan terus menyentuh pipi Lyra membuat wanita itu segera mendekatkan wajahnya.
"Sayang, hmm.... "
"Kenapa?"
"Entah, aku...."
"Kenapa?"
"Cium aku," jawab Lyra dengan suara manja yang tak Reyhan lihat sebelumnya.
Lyra mengerucutkan bibirnya, "aku mau ciuman," ujarnya.
Sungguh sosok Lyra terlihat jauh berbanding terbalik dari pada sebelumnya.
"Kamu sendiri loh yang minta." Reyhan mendekat lalu mereka pun berciuman.
***
Pagi itu, Reyhan dan Lyra tengah sarapan. Lyra memandangi leher Reyhan yang ditempel dengan plester.
Perasaan kemarin nggak ada plester kenapa aku baru melihatnya ya?
Denting sendok dan piring memecahkan kesunyian. Akan tetapi, Lyra hanyut dalam pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal.
Sementara itu, sadar akan dirinya yang diperhatikan sang istri, Reyhan menoleh dan lagi-lagi wajahnya memerah.
Tadi malam, sikap Lyra berubah aneh.... Tapi aku suka.
Lyra menyoroti pakaian Reyhan hoodi tebal yang menutupi sebagian lehernya.
Ini kan musim panas, kenapa dia malah pakai itu? Sebenarnya dia ini kenapa sih?
Kali ini, Reyhan menoleh lagi membuat mata mereka bertemu. Lyra melemparkan senyuman membuat Reyhan salah tingkah.
__ADS_1
Sungguh aku suka soalnya yang seperti ini. Sebelumnya juga suka, tapi entah kenapa dia terlihat sedang manja ini membuatku semakin bergairah.
***