
Alarm pagi membangunkan Reyhan. Ia meraba tubuh istrinya yang seperti biasa sudah tidak ada di sana. Mata sipit khas bangun tidur, ia paksa membulat.
Segera ia bangkit dari pembaringan beranjak ke dapur.
Langkahnya terhenti begitu ia melihat Lyra yang sedang sibuk dengan masakannya. Ia duduk di kursi meja makan sambil memperhatikan Lyra. Senyumannya mengembang ketika mendengar Lyra mengeluarkan nyanyian dari bibirnya.
Dia begitu bersemangat membuatkanku sarapan. Apa lagi yang kuharapkan itu sudah cukup sebagai bukti bahwa dia mencintaiku. Batin Reyhan menikmati nyanyian Lyra.
Lyra terdiam sejenak, ia menghela nafas panjang. "Tak terasa sudah lama menikah. Kenapa aku tak kunjung hamil juga ya? Sepertinya aku harus memeriksanya. Di kalangan orang kaya, keturunan sangatlah penting. Reyhan mungkin tidak mempermasalahkannya. Tetapi, bagaimanapun dia butuh keturunan yang sedarah dengannya. Aku harus memeriksanya," gumam Lyra.
Keturunan ya, aku belum pernah memikirkannya. Tetapi, keturunan di dalam keluarga untuk penerus perusahaan memang seperti sebuah kewajiban. Tetapi, aku tidak akan memaksanya karena bagiku cukup dengan cintanya sudah menjadi kebahagiaanku. Yang lainnya aku tidak peduli lagi. Batin Reyhan.
Reyhan bangkit, ia segera memeluk pinggang Lyra dari belakang menyandarkan kepalanya di bahu istri tercintanya itu.
"Ah sayang, jantungku hampir saja copot. Kamu bangun awal ya, tidurnya nggak enak ya?" tanya Lyra sambil mengelus pipi kanan Reyhan yang bertengger manja di bahu kirinya.
Reyhan menggeleng, "rambutmu harum, tadi mandi jam berapa?" tanya Reyhan balik sambil menciumi leher Lyra dengan lembut.
Lyra tersenyum menanggapi ke-manjaan Reyhan. Ia pun membalikkan tubuhnya. "Duduklah aku mau menyajikan makanan untukmu," ujar Lyra sambil mencubit batang hidung Reyhan.
"Bagaimana kalau sarapannya diganti saja? Pagi ini, kamu tampak menggoda, membuatku ingin segera melahapmu," jawab Reyhan membuat Lyra menggeleng melihat kenakalan suaminya itu.
Segera ia dorong tubuh Reyhan hingga tersender ke sisi meja makan.
Cup!
"Sayang, istrimu ini mau masak dulu ya. Diam dan tunggulah di sini." Lyra mengecup pipi Reyhan membuat remaja itu tak berkutik dan langsung menuruti perkataan Lyra.
Lyra bolak balik menyajikan sarapan. Sementara itu, Reyhan dengan setianya memperhatikan tanpa celah sedikit pun.
"Ah selesai, akhirnya..., ayo kita makan!" seru Lyra.
Reyhan masih terperangah melihat tingkah Lyra yang sedang berpura-pura bahagia untuk menutupi kesedihan darinya.
"Sayang kok bengong, dimakan dong. Nggak nafsu makan ya atau mau aku suapi?" Menatap Reyhan yang masih berdiam diri.
Reyhan menghembuskan nafas panjangnya, ia tampak sedih melihat istrinya yang ber-akting di depannya itu. "Lyra, aku mencintaimu. Setiap hari aku mengatakannya mungkin kamu pun sudah bosan mendengarnya. Tetapi, selain mama, kamu adalah hidupku. Aku mohon jangan pernah memikirkan hal lain selain aku, karena apapun yang terjadi aku lah yang harus kamu utamakan." Perkataan Reyhan membuat Lyra terkekeh.
"Iya tentu sayang, sudah ya mengocehnya. Kita makan dulu yuk! Tidak lama lagi waktunya ke kantor kan. Jadi, sarapan dulu ya," jawab Lyra sambil menyodorkan makanannya pada Reyhan.
Reyhan dengan polosnya membuka mulut menerima makanan dari sendok istrinya itu. Lyra tampak begitu bersemangat dan akhirnya ia fokus menyuapi Reyhan.
***
__ADS_1
Lyra memasangkan dasi ke lengan kemeja putih yang Reyhan pakai. Wajah Reyhan yang semakin tembem menjadi perhatiannya membuat tangannya bergetar.
Bagaimana bisa dia tampak begitu imut. Aku yang bertambah semakin menua sedangkan suamiku tampak seperti anak-anak remaja lainnya. Hah! Entah kenapa aku begitu khawatir. Banyak daun muda yang bertebaran dan tidak mungkin Reyhan akan mengabaikan mereka selamanya. Karena biar bagaimana pun dia tetaplah manusia biasa. Batin Lyra sambil memandangi wajah Reyhan yang juga sedang memandangnya.
Apa dia memikirkan keturunan lagi. Wajahnya tampak begitu sedih. Tidak, aku tidak mau dia terbebani dengan hal seperti itu. Batin Reyhan.
Reyhan menarik Lyra ke dalam pelukannya. Dielusnya rambut Lyra yang terurai. Sesekali ia mencium puncak kepala istrinya dan Lyra tampak menikmati.
"Sayang, nanti siang aku datangi kamu ke kantor boleh nggak?" tanya Lyra sambil melihat wajah teduh Reyhan.
Reyhan menggendong tubuh Lyra dan lagi-lagi Lyra hampir gila dibuat wajah tampan Reyhan. Tatapan mereka begitu dalam dan sendu.
"Dari tadi tatapanmu padaku tampak berbeda dari biasanya. Katakan, ada apa? Apa yang ada di dalam hatimu?" tanya Reyhan.
Lyra berdehem, "turunkan aku, aku pasti sangat berat," ujar Lyra dengan wajah yang bersemu merah.
Reyhan terkekeh, "tinggi hanya 165CM berat badan 50 KG. Bahkan aku bisa menjinjingmu." Perkataan Reyhan membuat Lyra tak berkutik.
"Sayang, sudah jam berapa? Nanti telat lho ke kantornya," ujar Lyra berharap Reyhan segera menurunkannya.
"Aku bos nya dan aku-"
"Aku tahu cinta, tetapi bagaimana coba karyawannya mau disiplin kalau bos nya saja nggak jelas begini," jawab Lyra.
Reyhan mengerutkan dahinya, "kamu panggil aku apa tadi? Cinta?" Memandang Lyra dengan serius.
Mengangkat kedua tangannya sambil tertawa begitu riang.
Reyhan yang wajahnya dihujani kecupan dari Lyra tampak ikut semangat menanggapi kebahagiaan Lyra.
Tetaplah seperti ini istriku, aku akan membenci diriku jika melihatmu terluka. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Biarlah yang sudah lewat, anggap saja kebahagiaanmu dimulai dari sekarang. Ya, mari kita mulai. Batin Reyhan sambil ikut tertawa melihat ke-riangan Lyra yang masih berada di gendongannya.
Reyhan duduk di sofa panjang, Lyra yang di pangkuannya mulai memberontak ingin turun. Tetapi tenaga yang dimiliki Reyhan jauh lebih besar hingga wanita itu pasrah.
"Rambutmu, sudah panjang. Aku ingat saat pertama kali aku melihatmu rambutmu hanya sebahu saja," ujar Reyhan sambil menyentuh ujung rambut Lyra.
Lyra terkekeh, "kamu masih ingat semuanya ya. Aku saja lupa dengan ukuran rambutku," jawab Lyra.
"Aku ingat semuanya tentangmu. Kamu tahu, saat tawuran terjadi tepatnya aku dikalahkan Fero, aku sengaja melakukannya."
"Alah, memang waktu itu kamu kalah kok, ngaku sengaja pula, dasar!"
"Aku serius, aku melakukannya sengaja. Saat itu aku berpikir tidak ada gunanya aku hidup. Di balik kekayaan yang aku miliki sebenarnya ada satu yang paling aku inginkan yaitu kasih sayang seorang ibu. Kamu tau, kan keadaanku dengan mama. Aku berpikir mungkin dengan kepergianku akan menumbuhkan rasa sesal di hidupnya. Aku hanya ingin melihatnya menangis karena mengabaikanku. Tak disangka takdir malah mempertemukan kita. Dan rambutmu yang sebahu itu terngiang-ngiang di kepalaku, untuk wajahmu masih samar bagiku," kenang Reyhan.
"Hahaha mungkin wajahku terlalu kumel untuk diingat oleh seorang Reyhan," jawab Lyra sambil tertawa keras.
__ADS_1
"Bisa jadi."
"Apa sih, Reyhan aku nggak jelek-jelek banget."
"Saat aku melihatmu mendorong motor juga, karena rambutmu bukan wajahmu."
"Iya-iya aku sadar aku ini jelek," ujar Lyra memanyunkan bibirnya.
Reyhan terkekeh, "bukan begitu, karena aku tidak pernah memandangmu dari fisik. Ada sisi lain yang bagiku sangat menarik dan juga bagiku wajahmu terlalu cantik untuk aku ingat. Kamu tahu nggak, aku melihat wajahmu jelas di mimpiku," jawab Reyhan.
"Waktu kita se-mobil kamu memimpikan aku?" tanya Lyra penasaran.
Reyhan mengangguk. "Malam itu aku memimpikanmu, lalu paginya aku..., aku...."
"Kamu kenapa?"
"Tidak jadi?"
"Apa sih, Reyhan bicara setengah-setengah," umpat Lyra kesal.
"Ini sangat memalukan," ujar Reyhan.
Lyra tertawa, membuat Reyhan menatap heran. "Ehm, aku tahu kamu mimpi apa." Menatap Reyhan dengan senyuman nakal.
"Apa?"
"Kamu mimpi basah, kan. Ayo ngaku?"
"Kok kamu tahu?"
"Aku kan guru, pasti tahu. Tapi, Rey kamu mimpiin apa memangnya?"
"Ya biasa lah seperti mimpi remaja yang lain."
"Aku tahu itu mimpi basah tapi isi mimpinya aku mana tahu," jawab Lyra penasaran.
"Aku mimpi tiba-tiba kamu datang ke kamarku sambil tersenyum, lalu merayuku dengan membuka pakaianmu lalu..., kita melakukannya," jawab Reyhan.
Lyra mengeryit, "kenapa kamu tidak menolak?"
"Aku tidak tahu, saat itu aku seolah terbuai dengan sentuhanmu jadi kuputuskan untuk menerimanya. Dan sejak itu, aku menyukaimu dan mulai mengincarmu," jawab Reyhan sambil menatap Lyra serius.
Lyra mengalihkan pandangannya, ia malu mendengar perkataan Reyhan barusan. "Lalu kapan kamu mulai menyukaiku?"
"Ah itu..., aku haus. Aku pergi dulu," ujar Lyra sambil beranjak pergi.
__ADS_1
Reyhan tertawa, ia tahu jelas bahwa istrinya itu sedang malu sekarang.